The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 22


__ADS_3

Malam pun tiba dan seluruh anggota istana berkumpul di ruang tahta untuk membicarakan ritual menyembah langit. Ritual ini dilakukan setiap tahun sekali sebagai bentuk rasa syukur kepada langit.


Semua orang sudah berada di sana kecuali Xin Qian, tidak lama kemudian Xin Qian datang dengan diikuti oleh Zhulong.


"Putri Xin Qian telah datang," ucap master Pin.


"Ayahanda! Master!" Xin Qian membungkuk memberi hormat.


Jiang Li terus menerus menatap Xin Qian karena terpesona dengan kecantikannya. Kemudian Xin Qian menatap balik Jiang Li karena merasa asing dengan wajahnya.


"Ayahanda, jika boleh tahu siapakah pemuda itu? Aku seperti belum pernah melihatnya."


"Xin Qian, dia adalah Jiang Li. Durid baru master Lin."


"Jiang Li, senang bertemu denganmu."


"Terima kasih, Putri. Aku juga senang dapat bertemu denganmu."


"Dengarkan aku semuanya!" seru raja Arlo.


"Besok adalah hari dimana kita semua akan melakukan ritual menyembah langit. Ritual ini biasa kita lakukan setiap tahun sekali. Dan dalam ritual ini kekuatan batu permata akan bertambah dua kali lipat." Raja Arlo menjelaskan.


"Sebelum ritual ini dilakukan, kita harus membangkitkan keempat elemen penjaga langit. Elemen air berwujud macan putih, elemen api berwujud naga qiulong, elemen angin berwujud burung kapinis dan elemen tanah berwujud kelabang merah. Mereka berada di empat sudut istana, dan kalianlah harus membangkitkan keempat elemen tersebut." Master Lin menambahkan.


"Xin Qian, kau adalah Putri mahkota di istana ini. Jadi kau yang akan mempersiapkan semuanya."


"Baik, Ayahanda."


"Dan kau Ji Nian, kau adalah ketua di istana ini. Kau yang akan menjadi pemimpin ritual menyembah langit besok."


"Baik, Yang Mulia."


"Kalian pergilah dan segera bangkitkan keempat elemen penjaga langit."


"Baik, Yang Mulia."


Para murid dari master Lin dan juga Xin Qian pergi ke menghampiri keempat elemen penjaga langit. Saat Xin Qian sedang menyalurkan kekuatan untuk membangkitkan macan putih, Shishi dengan sengaja menyenggolnya dan membuat kekuatan yang dikeluarkan Xin Qian meleset.


"Putri, maafkan aku. Aku tidak sengaja." Shishi menunduk dan berpura-pura meminta maaf.


"Lain kali kau harus berhati-hati, Shishi." Xin Qian tersenyum.


"Baiklah, Putri." Shishi kemudian menatap Xin Qian dengan wajah yang tidak suka.


Setelah mereka menyalurkan kekuatan kepada keempat elemen penjaga langit, mereka berkumpul dan melihat kekuatan yang mereka salurkan kini menjadi satu.


Jiang Li tidak percaya jika kekuatan Xin Qian sendiri mampu membangkitkan macan putih.


"Apa ini? Bagaimana bisa membangkitkan macan putih hanya dengan satu kekuatan?" Batin Jiang Li sambil menatap Xin Qian dengan tatapan yang tidak percaya.


"Jiang Li, apa yang kau pikirkan?" tanya Xin Qian.


"Aku hanya berpikir, bagaimana bisa kekuatanmu sendiri bisa membangkitkan macan putih?" Jiang Li penasaran.


"Jiang Li, putri Xin Qian adalah penerus kepemimpinan raja Arlo. Putri sendiri mampu mengendalikan empat elemen sekaligus," balas Ji Nian.


"Benarkah?" tanya Jiang Li.


"Itu benar."

__ADS_1


Mereka semua kembali ke dalam istana dan membiarkan kekuatan keempat elemen penjaga langit tetap mengalir. Shishi tidak ikut masuk ke istana dan ia malah kembali menghampiri macan putih.


Ia berniat untuk menarik kekuatan yang telah disalurkan oleh Xin Qian. Ia ingin Xin Qian mendapatkan masalah pada hari yang istimewa itu.


"Maafkan aku, Putri. Tapi aku harus melakukan ini, aku tidak ingin kau selalu disanjung orang lain," ucap Shishi.


*****


Keesokkan harinya, master Chen mencari Xin Qian ke kamarnya, tetapi Xin Qian tidak ada. Kemudian ia hendak kembali ke luar istana dan ia bertemu dengan Xin Qian juga raja Arlo, diikuti oleh Zhulong.


"Yang Mulia Raja! Putri!" Master Chen menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.


"Master, ada apa? Mengapa berjalan dengan tergesa-gesa?"


"Putri, bukankah kau yang membangkitkan macan putih tadi malam?"


"Benar, Master. Sebenarnya ada apa?"


"Putri, macan putih masih belum bangkit."


"Apa maksudmu, master Chen?"


"Benar, Putri. Hanya macan putih kini yang belum bangkit."


"Ayahanda, kita harus segera melihatnya."


Mereka bertiga keluar untuk melihat macan putih, di sana telah berkumpul para Master dan juga murid. Memang benar hanya macan putih yang masih menjadi patung dan belum bangkit.


"Xin Qian, mengapa kau bisa ceroboh seperti ini?" tanya master Lin.


"Kakek Guru, tadi malam aku telah membangkitkan macan putih dan mereka semua juga melihatnya." Xin Qian menjelaskan.


"Master, kekuatan keempat elemen penjaga langit juga sempat menyatu dan kami membiarkan kekuatannya tetap mengalir. Kami melakukan semuanya seperti tahun-tahun sebelumnya, Master." Ji Nian menambahkan.


"Lalu bagaimana bisa macan putih tetap menjadi patung?" tanya master Lin.


"Aku rasa ada seseorang yang dengan sengaja menarik kembali kekuatan yang telah disalurkan oleh putri Xin Qian, Master," ucap Jiang Li.


"Master, itu mungkin saja benar," balas master Chen.


"Tapi siapa yang berani menarik kembali kekuatan itu?"


"Kakek Guru, aku akan menyalurkan kekuatanku kembali untuk membangkitkan macan putih."


"Baiklah, lakukan tugasmu dengan hati-hati."


"Baik."


Xin Qian kembali menyalurkan kekuatannya, sedangkan Jiang Li berpikir apakah ada orang jahat di negeri ini selain dirinya. Macan putih kini telah bangkit dan penjagaan langit kini bertambah kuat.


"Putri, apa kau telah mempersiapkan semuanya?" tanya Shishi.


"Aku telah mempersiapkan semuanya, Shishi." jawab Xin Qian.


"Baiklah, aku takut jika kau ceroboh lagi seperti tadi malam." Shishi seolah menyindir Xin Qian.


"Apa maksudmu berkata seperti itu kepada putri Xin Qian?" tanya Ji Nian jengkel.


"Aku hanya mengingatkan putri Xin Qian agar dia tidak mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya." Shishi menjelaskan.

__ADS_1


"Shishi, kau tidak seharusnya berbicara seperti itu. Putri Xin Qian telah mengatakan bahwa tadi malam dia telah membangkitkan macan putih dan kalian semua melihatnya sendiri. Soal siapa yang telah menyerap kembali kekuatan itu tidak ada yang tahu," ucap master Pin.


"Master, aku tidak memiliki maksud buruk terhadap sang Putri." Shishi mengelak.


"Shishi, segera minta maaf kepada Xin Qian!" seru master Lin.


"Maafkan aku, Putri."


"Tidak apa-apa."


"Kalian cepatlah bersiap karena matahari sudah sangat terik."


"Baik, Yang Mulia."


Mereka pergi ke dalam istana untuk bersiap-siap. Namun saat Xin Qian sedang berjalan, Shishi sengaja membuat guci besar yang berada didekat Xin Qian jatuh agar mengenai tubuh Xin Qian.


Jiang Li yang melihat jika guci itu akan segera jatuh, ia langsung menarik Xin Qian dan membuat mereka terjatuh dengan posisi Xin Qian berada diatas.


"Kurang ajar! Mengapa selalu ada orang yang melindunginya saat aku ingin membunuhnya?"


Mereka saling menatap, kemudian Xin Qian berdiri dan membantu Jiang Li untuk berdiri.


"Jiang Li, terima kasih kau telah menolongku."


"Tidak apa-apa, Putri. Aku senang dapat membantumu."


"Baiklah, Jiang Li. Aku pergi ke kamar dulu."


"Baiklah, aku juga akan pergi ke kamarku."


Raja Arlo, Xin Qian, dan para Master datang dengan membawa batu permata.


Mereka berbaris dengan posisi raja Arlo yang berada di depan. Raja Arlo membiarkan batu permata terbang diantara keempat elemen penjaga langit. Kemudian mereka bergantian meminta berkat dari langit.


Batu permata itupun perlahan turun dan menghampiri raja Arlo.


"Ritual menyembah langit telah usai, aku akan kembali menyimpan batu permata. Kalian juga telah meminta berkat dari langit, dengan berkat itu kekuatan kalian akan bertambah lebih besar. Aku harap kalian bisa menggunakan kekuatan kalian untuk kebaikan."


"Baik, Yang Mulia."


"Teman-teman, bagaimana jika hari untuk merayakan hari istimewa ini kita bermain bola saja?" tanya Ji Nian.


"Itu ide yang bagus, aku akan menjadi tim dari Zhang Pei," balas Shishi.


"Putri, apakah kau mau bergabung dengan timku?" tanya Zhang Pei.


"Apa-apaan kau ini? Putri Xin Qian tidak suka dengan permainan bola." Ji Nian menyela.


"Yang dikatakan oleh Ji Nian itu benar. Aku tidak menyukai permainan bola. Kalian bersenang-senanglah, aku akan pergi," balas Xin Qian dengan suara yang pelan.


"Putri, apa kau tidak ingin melihatku mengalahkan siluman ini?" Ji Nian mengambil sebuah bola.


"Tidak, Ji Nian."


"Baiklah."


"Jiang Li! Kau tidak ingin bergabung dengan timku?"


"Tidak, ketua. Aku masih ada urusan, jadi aku tidak bisa ikut dalam permainan ini."

__ADS_1


"Ahh, kau tidak bisa diajak bersenang-senang."


__ADS_2