The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 46


__ADS_3

"Yang Mulia Ratu, mengapa Yang Mulia Raja tidak ikut bersama kalian untuk datang kemari?" tanya Nenek tua itu kepada Xin Qian.


"Dia tidak akan datang kemari," balas Ji Nian sambil menatap Xin Qian.


"Tidak akan datang? Apa maksud Ketua?" tanya Nenek tua itu dengan bingung.


"Maksudku adalah Yang Mulia Raja tidak akan pergi menemui rakyatnya, karena dia tidak memikirkan nasib rakyatnya. Dia hanya peduli dengan kekuatan dan kekuasaan yang dia miliki." Ji Nian menjelaskan.


"Ji Nian, jangan berbicara seperti itu!" bisik Xin Qian.


"Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Mengapa kau malah membelanya?"


"Aku tidak membelanya. Tetapi kau tidak harus mengatakan hal yang buruk tentangnya dihadapan para rakyat. Bagaimanapun juga dia adalah seorang Raja, Ji Nian. Jiang Li adalah pemimpin negeri ini, kita tidak mungkin membuat para rakyat membencinya."


"Yang Mulia Ratu, kami memang sering mendengar orang-orang mengatakan jika Yang Mulia Raja adalah Raja yang kejam dan tidak peduli dengan rakyatnya."


"Aku yakin kau mendengarnya, Yang Mulia. Rakyatnya sendiri yang mengatakan jika dia merupakan seorang Raja yang kejam."


"Yang Mulia, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu."


"Nenek tidak perlu meminta maaf. Yang Nenek katakan itu memang benar, bukankah begitu Yang Mulia Ratu?" Ji Nian menyela.


"Nenek, kami sudah terlalu lama di sini. Kami akan kembali ke istana sekarang," ucap Xin Qian.


"Baiklah, Yang Mulia Ratu. Terima kasih telah mampir ke rumah kecil kami dan mau mencicipi sup hangat buatanku, aku merasa senang sekali."


"Tidak, Nenek. Kami yang seharusnya berterima kasih, karena Nenek telah menghidangkan sup hangat yang sangat lezat untuk kami."


"Baiklah."


"Di mana Qing Ming dan Kakek? Aku ingin berpamitan dengan mereka."


"Sebentar lagi mereka akan datang."


Tidak lama setelah itu, Qing Ming dan Kakek datang. Qing Ming memeluk tubuh Xin Qian dengan sangat erat, seolah ia tidak ingin melepaskannya.


"Qing Ming, aku harus kembali ke istana. Kau jangan nakal ya! Rawatlah Kakek dan juga Nenekmu dengan baik!" ucap Xin Qian sambil menatap wajah anak kecil itu.


"Apa kau akan datang kemari untuk mengunjungi kami lagi?" tanya anak kecil itu.


"Tentu saja. Aku akan mengunjungimu lagi, Qing Ming," balas Xin Qian.

__ADS_1


"Ketua, tolong jaga Yang Mulia Ratu dengan baik. Jangan biarkan hal yang buruk terjadi kepadanya." Qing Ming menatap wajah Ji Nian.


"Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan hal yang buruk terjadi kepadanya." Ji Nian menatap Qing Ming alih-alih menatap Xin Qian.


"Yang Mulia Ratu, ketua Ji Nian, sekali lagi kami ucapkan terima kasih karena telah memberikan kami bahan makanan. Kami juga sangat senang karena kalian mau mampir ke rumah kami.


"Baiklah, kami pergi sekarang. Jaga diri kalian baik-baik."


Xin Qian dan Ji Nian pun keluar dari rumah itu dan menunggangi kuda mereka yang diikat di sebuah kandang pinggir rumah.


Xin Qian terlihat sedikit kesusahan saat hendak menaiki kudanya karena ia memakai jubah. Kemudian Ji Nian hanya tersenyum melihat sang Ratu tidak dapat menaiki kudanya.


"Ji Nian, apa kau hanya akan melihatku seperti itu? Kau tidak mau membantuku untuk menaiki kuda ini?" tanya Xin Qian dengan wajah yang kesal.


"Baiklah, Yang Mulia. Aku akan dengan senang hati membantumu," balas Ji Nian sambil tersenyum.


Ji Nian pun membantu Xin Qian untuk menaiki kuda tersebut dan menaikkan jubahnya.


"Terima kasih, Ji Nian."


"Sama-sama, Yang Mulia Ratu."


Ji Nian terus saja menatap wajah Xin Qian dan membuat Xin Qian merasa tidak nyaman.


"Baiklah."


Setelah cukup lama berjalan, tiba-tiba dahan dari pohon besar yang berada di samping Xin Qian bergoyang menandakan dahan tersebut akan tumbang.


Ji Nian yang melihat dahan itupun langsung mendorong Xin Qian dan kudanya menjauh. Dahan itupun hampir mengenai tubuh Ji Nian, tetapi Xin Qian menahan dahan tersebut agar tidak jatuh mengenai tubuh Ji Nian menggunakan ilmu telekinesis.


"Ji Nian, kau tidak apa-apa?"


"Terima kasih, Yang Mulia."


"Tidak, Ji Nian. Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Jika kau tidak mendorongku, dahan itu mungkin sudah menimpa ku dan juga kuda yang aku tunggangi."


"Tapi jika kau tidak menggunakan ilmu telekinesis untuk menahan dahan itu, dahan itu pasti akan menimpaku."


"Sudahlah, Ji Nian. Di sini udaranya sangat dingin, lebih baik kita segera kembali ke istana."


Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju ke istana sambil berbincang-bincang.

__ADS_1


"Yang Mulia, bolehkah aku menanyakan sesuatu kepadamu?"


"Katakan saja, Ji Nian apa yang ingin kau tanyakan."


"Apa kau sudah mulai mencintai Jiang Li?"


Xin terdiam sebentar lalu menatap ke arah Ji Nian.


"Mengapa kau menanyakan hal itu kepadaku?"


"Aku hanya ingin mengetahui bagaimana perasaanmu terhadap Jiang Li. Kau tadi membelanya saat aku berusaha mengatakan hal yang sebenarnya tentang dia."


"Ji Nian, aku berharap kau tidak akan menanyakan hal ini lagi. Aku membelanya bukan berarti aku mencintai Jiang Li, tetapi aku hanya ingin menjaga nama baiknya dihadapan para rakyat."


"Aku berharap kau tetap pada tujuan awalmu, Yang Mulia."


"Aku tidak tahu, Ji Nian. Melihat apa yang telah terjadi kepadaku, aku tidak yakin jika aku harus--" batin Xin Qian.


"Ji Nian, apa kau pernah berpikir jika Jiang Li dan Zhang Pei adalah saudara yang terpisah?" tanya Xin Qian sambil menatap ke depan.


"Yaa, aku pernah berpikir demikian. Tapi pikiran itu hilang setelah aku mengetahui jika Jiang Li adalah Putra dari monster iblis."


"Aku tahu, Ji Nian. Tetapi ini seperti tidak masuk akal."


"Apa maksudmu, Yang Mulia?"


"Wang Shu mengatakan jika istrinya adalah seorang manusia yang memiliki darah setengah siluman. Tetapi jika Jiang Li memang Putranya, seharusnya Jiang Li juga memiliki darah monster iblis. Dan aku juga pernah mendengar jika Wang Shu tidak pernah menikah dengan seorang wanita, bagaimana bisa dia memiliki seorang Putra?"


"Cukup masuk akal, tetapi sifatnya sama kejam dengan Wang Shu. Dia tidak peduli dengan hal lain kecuali kekuatan dan kekuasaan yang dia miliki."


"Kau benar, Ji Nian. Tapi aku harus mencari tahu tentang kebenarannya."


"Bagaimana jika Jiang Li bukan Putra kandung dari Wang Shu? Apa kau akan menaruh harapan kepadanya?"


"Ji Nian, mengapa kau menanyakan hal seperti itu lagi?"


"Maafkan aku, Yang Mulia. Tetapi aku hanya ingin mengetahuinya."


"Entahlah, Ji Nian. Kita belum tahu pasti tentang Wang Shu juga Jiang Li, aku tidak bisa memutuskan semuanya begitu saja."


"Baiklah, maafkan aku jika aku terlalu menekanmu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa."


__ADS_2