
DI NEGERI PEACELAVIA
Xin Qian menarik anak panahnya dari busur, anak panah itu tepat mengenai angka sepuluh. Xin Qian tersenyum tidak percaya jika dirinya mampu melakukan hal itu.
"Zhang Pei, kau lihat itu?" Xin Qian melihat ke arah anak panahnya.
"Putri, kau cepat sekali belajar." Zhang Pei menatap wajah Xin Qian dan ikut tersenyum.
"Ini semua karenamu, terima kasih telah mengajariku." Xin Qian memberikan busur panahnya kepada Zhang Pei.
"Kau merasa senang?"
"Tentu saja."
"Putri, maukah kau meluangkan waktu untuk minum teh bersamaku?"
"Baiklah. Aku akan minum teh denganmu."
Mereka pergi ke pinggir danau di dekat istana dan menggelar sebuah tikar. Seorang Dayang membawakan teh untuk mereka. Mereka tertawa bersama dan saling bercerita tentang kehidupan yang mereka alami.
Ketika sedang mencari Zhang Pei, master Chen dan master Lin diberitahu oleh Dayang bahwa Zhang Pei sedang berada di pinggir danau untuk minum teh bersama putri Xin Qian.
Mereka pun pergi ke belakang istana untuk menyusul Zhang Pei dan Xin Qian. Sesampainya di sana, master Chen ingin menegur Zhang Pei karena tidak seharusnya ia terlalu dekat dengan sang Putri.
"Apa yang akan kau lakukan?" Master Lin menahan bahu master Chen yang hendak menghampiri Zhang Pei dan Xin Qian.
"Aku harus menegur Zhang Pei. Dia tidak seharusnya terlalu dekat dengan putri Xin Qian, karena siluman bisa saja hilang kendali saat energi murninya habis," balas master Chen yang khawatir dengan putri Xin Qian.
"Master Chen, Zhang Pei tidak akan melakukan hal yang buruk terhadap putri." Master Lin meyakinkan.
"Mengapa kau sangat yakin, master Lin jika Zhang Pei tidak akan melakukan hal yang buruk kepada putri?"
"Master Chen, apa kau lupa jika Zhang Pei juga memiliki darah manusia didalam tubuhnya? Lagipula, kita juga tidak pernah melihat putri Xin Qian tertawa lepas seperti ini setelah kepergian sang ratu."
"Kau benar, Master. Aku seharusnya memikirkan hal itu."
"Sebaiknya kita biarkan saja Putri menghabiskan waktu bersama Zhang Pei, kita juga harus melihat kondisi Ji Nian."
Zhang Pei dan Xin Qian bersulang lalu meminum teh dicangkir yang mereka pegang. Canda dan tawa menghiasi momen indah mereka.
Xin Qian merasa sangat senang karena ini adalah kali pertamanya ia dibuat tertawa lepas oleh seorang laki-laki.
Ji Nian memang sering membuatnya tersenyum, tapi entah mengapa Xin Qian lebih merasa nyaman ketika bersama Zhang Pei.
Angin sejuk bertiup ke arah mereka dan membuat rambut panjang Xin Qian menghalangi pandangannya. Suara yang tadinya ramai dengan candaan kini menjadi hening.
Zhang Pei mendekatkan wajahnya ke telinga Xin Qian. Ia pun mengangkat pelan tangannya dan menyisihkan rambut Xin Qian ke belakang telinganya. Mereka berdua saling menatap kemudian Xin Qian menundukkan pandangannya.
"M-maaf, Putri. Aku hanya--"
"Klekk ...."
Xin Qian berdiri dan melihat sekelilingnya karena ia mendengar suara seseorang yang menginjak ranting pohon.
__ADS_1
Xin Qian merasa ada yang sedang mengawasi mereka, ia kemudian mengeluarkan sebuah mantra. Tiba-tiba angin bertiup kencang dan menggoyangkan pepohonan yang ada di sana.
"Putri, apa yang kau lakukan?" Zhang Pei berdiri dan menghalangi dedaunan yang jatuh ke arahnya.
Seketika itu seorang prajurit yang sedang bersembunyi di balik pohon berjalan terombang-ambing ke arah Xin Qian. Ia jatuh tengkurap tepat di depan Xin Qian.
"Prajurit, apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sedang memata-matai kami?" tanya Zhang Pei dengan santai sambil menyodorkan pedangnya.
Xin Qian perlahan menurunkan pedang yang dibawa Zhang Pei.
"Prajurit, bangunlah!" ucap Xin Qian pelan.
Prajurit itu berdiri dan membungkukkan tubuhnya memberikan hormat kepada Xin Qian.
"Sekarang katakan apa yang kau lakukan di sini!" seru Xin Qian.
"Mohon ampun, Putri. Yang Mulia Raja ingin bertemu dengan Putri," balas Prajurit itu dengan menundukkan kepalanya.
"Lalu mengapa kau tidak memberitahukannya kepadaku secara langsung? Mengapa harus bersembunyi seperti itu?"
"Putri, sebenarnya hamba ingin memberitahu Putri secara langsung. Tetapi hamba melihat Putri dengan master Zhang Pei sedang ...."
"Sedang apa?"
"Kalian sangat dekat, jadi hamba tidak berani untuk menemui Putri."
Setelah mendengar ucapan Prajurit tersebut, Xin Qian dan Zhang Pei saling menatap dan merasa malu.
"Dengar, Prajurit! Zhang Pei hanya menyisihkan rambut yang menghalangi pandanganku. Jangan memikirkan hal yang lain! Aku dan Zhang Pei akan menemui Ayahanda."
Xin Qian mengajak Zhang Pei untuk masuk ke istana dan menemui sang Raja tanpa menatap wajahnya. Zhang Pei pun tersenyum dan mengikuti langkah Xin Qian.
*****
Setibanya Xin Qian dan Zhang Pei di ruang tahta, raja Arlo langsung berdiri dari kursinya di ikuti oleh para master. Xin Qian dan Zhang Pei membungkukkan tubuh memberi hormat kepada sang raja.
"Ada apa Ayahanda memanggilku?"
"Xin Qian, Ayahanda ingin mengenalkanmu kepada seseorang."
"Siapa Ayahanda?"
Raja Arlo meminta seseorang untuk datang menghadapnya agar Xin Qian dapat melihat orang tersebut.
Seorang wanita mengenakan hanfu berwarna ungu berjalan dari belakang Xin Qian dan Zhang Pei. Ia memberi hormat kepada semua orang yang berada di sana.
"Ayahanda, siapa dia?"
"Xin Qian, dia adalah Shishi. Dia merupakan putri dari teman baik Ayahanda, yaitu Wu Jing."
"Lalu dimana paman Wu Jing, Ayahanda? Mengapa tidak ikut kemari?"
"Xin Qian, Wu Jing telah meninggal dunia. Itu sebabnya Ayahanda mengajak Putrinya untuk tinggal di istana bersama kita. Kau tidak keberatan bukan jika Shishi tinggal di istana ini?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak, Ayahanda. Aku senang jika Shishi tinggal di istana ini bersama kita."
"Terima kasih, putri Xin Qian."
"Jangan berterima kasih kepadaku, berterima kasihlah kepada Ayahanda."
"Terima kasih, Yang Mulia Raja."
"Dayang!!"
"Hamba, Yang Mulia Raja."
"Antarkan Shishi ke kamarnya. Mulai hari ini dia akan tinggal di istana ini."
"Baik, Yang Mulia Raja."
Shishi mengikuti Dayang istana yang akan mengantarkannya menuju kamar. Sambil berjalan, Shishi melihat dinding-dinding istana dengan kagum. Hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah kamar.
"Nona, ini kamarmu. Silakan kau beristirahat."
"Terima kasih."
"Baik, aku pergi dulu."
"Tunggu! Ada yang ingin aku tanyakan."
"Apa itu, Nona?"
"Lelaki yang di belakang putri Xin Qian tadi, apakah dia kekasih putri Xin Qian?"
"Bukan, dia adalah master Zhang Pei. Master Zhang Pei memang dekat dengan putri Xin Qian."
"Baiklah, kalau begitu kau boleh pergi."
"Baik."
Shishi masuk ke kamarnya lalu mengunci pintunya, ia dibuat takjub saat melihat seisi kamar itu. Ia kemudian duduk di atas kasur dan teringat dengan ucapan Dayang tadi.
"Laki-laki tampan itu bernama Zhang Pei dan dia bukanlah kekasih putri Xin Qian. Itu artinya aku memiliki peluang besar untuk mendekatinya," gumamnya.
"Aku tidak kalah cantik dengan putri Xin Qian, aku pasti bisa mendapatkan Zhang Pei dengan sangat mudah," sambungnya.
Di ruang tahta Xin Qian masih berdiri di depan sang Raja. Raja meminta Xin Qian untuk menyebarkan kunang-kunang di wilayah pedesaan ketika malam tiba.
Keadaan rumah di pedesaan masih gelap dan para rakyat menggunakan lampu untuk penerangan karena pembangunan yang belum sepenuhnya dilakukan.
"Xin Qian, ini seharusnya tanggung jawab dari ketua Ji Nian. Tapi kita semua tahu bahwa ketua Ji Nian masih belum pulih, jadi aku serahkan tanggung jawab ini kepada mu." Raja Arlo berdiri dari tahtanya dan mengepalkan tangannya di belakang.
"Tidak apa-apa, Ayahanda. Aku sangat senang jika dapat membantu," balas Xin Qian tersenyum manis.
"Baiklah. Master Yibo dan beberapa prajurit akan menemanimu menuju pedesaan."
"Yang Mulia Raja, jika diizinkan hamba juga ingin pergi menemani putri Xin Qian." Zhang Pei melangkah ke depan dan berdiri di samping Xin Qian.
__ADS_1
"Baiklah, Zhang Pei. Kau boleh pergi menemani putri Xin Qian."
"Terima kasih, Yang Mulia."