The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 48


__ADS_3

Xin Qian sangat khawatir mengetahui Ayahandanya yang tidak sadarkan diri dan wajahnya berubah menjadi hitam.


"Master, apa yang terjadi dengan Ayahanda?"


"Yang Mulia, Yang Mulia Raja telah meminum minuman yang terdapat racun di dalamnya."


"Bagaimana bisa? Siapa yang telah melakukan hal itu kepada Ayahanda?"


"Kami tidak tahu pasti, tetapi kami akan segera mencari tahu."


"Tabib, apa kau tidak bisa menolong Ayahandaku?"


"Maafkan hamba, Yang Mulia. Racun itu telah menyebar ke seluruh tubuh sang Raja, dan hamba tidak dapat melakukan hal apapun."


"Lalu, apakah tidak ada cara lain untuk menyembuhkan Ayahanda?"


"Tidak ada, Yang Mulia. Racun yang ada di dalam tubuh Yang Mulia Raja adalah racun mematikan, dan racun itu telah menyebar ke seluruh tubuh Yang Mulia. Akan sangat sulit bahkan tidak mungkin untuk membuat Yang Mulia Raja sembuh."


Xin Qian menghampiri seorang Dayang yang sedang membersihkan pecahan gelas tersebut.


"Dayang!"


"Hamba, Yang Mulia."


"Siapa yang memintamu untuk memberikan minuman kepada Ayahanda?"


Dayang itu sangat takut dan menatap ke arah Zhang Pei. Xin Qian pun ikut menatap ke arah Zhang Pei.


"Ada apa? Mengapa kau menatap ke arah Zhang Pei?" tanya Xin Qian dengan heran.


"Karena Zhang Pei yang telah meminta Dayang untuk membawakan minuman itu kepada Yang Mulia Raja." Lui Wei menyela.


Lui Wei mendekati Xin Qian dan menatapnya sambil tersenyum.


"Aku mengatakan hal yang benar, Yang Mulia. Master Zhang Pei yang telah meminta Dayang untuk membawakan minuman itu," ucap Lui Wei.


"Aku memang meminta Dayang untuk membawakan minuman kepada Yang Mulia Raja, tetapi aku tidak tahu jika di dalam minuman itu terdapat racun." Zhang Pei menjelaskan.


"Kau bisa saja membohongi semua orang, master Zhang Pei. Tetapi kau tidak bisa membohongiku. Aku tahu jika kau tidak suka melihat Yang Mulia Ratu menikah dengan Yang Mulia Raja Jiang Li. Dan kau melampiaskan kemarahanmu kepada raja Arlo."


"Itu tidaklah benar, Lui Wei. Aku tidak mungkin melakukan hal buruk seperti itu kepada Yang Mulia Raja."


"Kau bisa saja melakukannya."

__ADS_1


"Aku memang tidak suka melihat Yang Mulia Ratu menikah dengan Yang Mulia Raja Jiang Li, tetapi aku tidak mungkin melakukan hal buruk kepada orang lain apalagi kepada Yang Mulia Raja."


"Sudah cukup! Aku tidak ingin ada kekacauan di sini! Ayahanda sedang terbaring tidak berdaya, jadi tolong kalian tinggalkan tempat ini. Dan kau Ji Nian, kau adalah ketua di istana ini. Kau yang harus mencari tahu siapa pelakunya."


"Baik, Yang Mulia Ratu."


*******


Xin Qian sedang duduk di samping kolam ikan, di sana Jiang Li dengan sengaja bersembunyi dan mengintipnya. Semakin lama ia bersama Xin Qian, Jiang Li mulai merasa peduli dengan Xin Qian.


Ia hendak menghampiri Xin Qian dan menenangkannya, tetapi saat itu Zhang Pei telah lebih dulu menemui Xin Qian. akhirnya Jiang Li mengurungkan niatnya dan tetap memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Yang Mulia Ratu!"


"Zhang Pei?"


"Aku sungguh minta maaf kepadamu. Jika aku tidak meminta Dayang untuk membuatkan minuman itu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Tapi aku berani bersumpah, jika bukan aku yang mencampurkan racun itu."


"Zhang Pei, aku percaya kepadamu. Aku sangat yakin jika kau tidak akan melakukan hal itu."


"Ngomong-ngomong, kau dan ketua Ji Nian dari mana?"


"Aku dan Ji Nian telah membagikan beberapa bahan makanan kepada para rakyat tanpa sepengetahuan Jiang Li. Aku tidak tega jika harus melihat mereka kelaparan di tengah badai salju ini."


"Zhang Pei, badai salju ini akan segera berlalu. Para rakyat tidak akan merasa kelaparan lagi, mereka dapat mengambil makanan dari kebun mereka."


"Kau benar, Yang Mulia."


"Begitu banyak masalah datang menimpa negeri ini setelah penobatanku menjadi seorang Ratu, aku merasa sangat khawatir."


"Yang Mulia, langit telah memberikan takdir kepada kita dan kita sebagai manusia hanya dapat menjalankannya."


Saat Jiang Li sedang serius mendengarkan pembicaraan mereka, tiba-tiba seorang prajurit datang dan mengagetkan Jiang Li.


"Mohon ampun, Yang Mulia. Hamba datang kemari karena ada seorang pria tua yang dengan sengaja menghalangi kami untuk berburu di tengah hutan."


"Apa kau membawanya ke istana ini?"


"Benar, Yang Mulia."


"Baiklah, kalau begitu kau ikut denganku untuk menemuinya."


"Baik, Yang Mulia."

__ADS_1


Jiang Li dan prajurit tersebut pergi menuju ruang tahta. Jiang Li dengan tegas mengajukan beberapa pertanyaan kepada pria tua itu, Jiang Li kini telah sedikit berubah.


Ia yang dulunya tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain, kini mau mendengarkan penjelasan pria tua itu.


"Mengapa kau menghalangi para Prajuritku untuk memburu hewan di hutan?"


"Maafkan hamba, Yang Mulia. Tetapi para Prajurit itu memburu semua hewan di dalam hutan dan jika mereka terus melakukan hal itu, maka habitat hewan di hutan akan cepat punah. Hamba sudah lama hidup bersama hewan-hewan itu, dan hamba telah menganggap hewan-hewan itu seperti keluarga hamba sendiri, Yang Mulia."


"Lalu mengapa kau tinggal di dalam hutan? Apa kau tidak memiliki keluarga?"


"Dulu hamba hidup bersama istri dan juga kedua putra kembar hamba. Tetapi setelah pengikut monster iblis mengetahui jika hamba yang menemukan pedang damaskus, mereka berusaha membunuh hamba dan keluarga hamba. Istri hamba telah tewas di tangan monster iblis, kedua putra kembar hamba hilang entah kemana dan kini hamba seorang diri."


"Pedang itu adalah pedang yang di buat oleh dewa kematian untuk membunuh monster iblis, tetapi hamba tidak tahu di mana keberadaannya saat ini."


"Mengapa monster iblis mencari-cari pedang itu?


"Yang Mulia Raja, pedang damaskus adalah pedang ciptaan dewa dan kekuatannya sama besar dengan batu permata. Siapapun yang memilikinya juga pasti dapat menguasai dunia. Hamba sangat takut jika pedang tersebut jatuh ke tangan orang yang salah, dia pasti akan menggunakan pedang tersebut dengan sesuka hatinya."


"Yang Mulia, apakah Yang Mulia akan menghukum hamba karena hamba telah menghalangi mereka untuk memburu hewan di hutan?"


"Sebenarnya aku tidak tega jika harus menghukumnya, lagipula dia juga sudah tidak memiliki keluarga," batin Jiang Li.


Xin Qian dan Zhang Pei datang ke ruang tahta dan alangkah terkejutnya Xin Qian melihat paman Yu sekarang berada di istananya.


"Paman Yu!"


Semua orang menoleh ke arah Xin Qian.


"Paman, apa yang Paman lakukan di sini?"


Paman Yu tidak menjawabnya sama sekali karena takut dengan Jiang Li yang terkenal kejam.


"Paman, mengapa Paman hanya diam?"


Xin Qian lalu menoleh ke arah Jiang Li dengan tatapan sinis.


"Apa kau yang telah membawa paman Yu kemari? Apa yang akan kau lakukan kepadanya?"


"Aku mempersilahkanmu untuk tinggal di istana ini karena kau sudah tidak memiliki keluarga. Sang Ratu juga sepertinya sangat mengenalmu, jadi aku tidak akan memberikan hukuman kepadamu."


"Yang Mulia Raja, hamba sangat berterima kasih kepadamu."


Jiang Li tidak membalas ucapan terima kasih dari paman Yu dan meninggalkan tempat itu dengan wajah yang datar.

__ADS_1


__ADS_2