
Xin Qian kembali ke istana dan disambut oleh beberapa prajurit juga dayang.
"Yang mulia ratu telah kembali. Segera beritahukan hal ini kepada yang mulia raja!" seru salah satu prajurit.
"Baiklah," balas prajurit yang lain.
"Yang mulia ratu, yang mulia ratu dari mana saja? Semua orang mencari dan menghawatirkan yang mulia," tanya salah satu dayang.
"Dayang, aku--" ucapan Xin Qian tiba-tiba terputus.
"Mengapa kau harus kembali ke istana?" tanya Jiang Li dengan ketus.
"Apa maksudmu?" Xin Qian bertanya balik.
"Kau selalu pergi tanpa meminta izin dariku, entah kemana tujuanmu. Kau tidak pernah sekalipun memberitahuku."
"Lalu apa masalahnya?"
"Kau masih bertanya apa masalahnya? Kau adalah istriku dan setiap hal yang kau lakukan harus mendapatkan persetujuan dariku."
"Aku adalah ratu di istana ini, aku juga memiliki kebebasan dalam menjalani kehidupanku."
"Tapi aku tidak suka jika kau pergi meninggalkan istana ini tanpa memberitahuku. Apalagi jika kau pergi dengan master bodoh itu?"
"Siapa yang kau maksud?"
"Maksudku adalah Zhang Pei. Aku sangat tidak suka jika kau pergi bersamanya. Aku tidak ingin melihatmu dekat dengan pria lain, karena kau adalah milikku."
"Aku rasa yang mulia raja benar-benar mencintai yang mulia ratu sekarang," bisik seorang dayang.
"Kau benar. Lihat saja sikap sang raja yang terlalu khawatir jika sang ratu pergi meninggalkan istana ini bersama master Zhang Pei," balas dayang yang satunya.
"Aku tidak ingin membicarakan masalah itu saat ini. Aku ingin pergi ke kamarku sekarang," Xin Qian melalui Jiang Li.
Jiang Li menarik lengan Xin Qian. "Aku ingin kau berjanji kepadaku."
"Beranji untuk apa?"
"Berjanji jika kau tidak akan meninggalkan istana ini sebelum kau meminta izin dariku."
"Aku tidak akan melakukannya!"
Xin Qian melepaskan lengannya dari genggaman Jiang Li lalu pergi menuju kamarnya.
"Dia benar-benar keras kepala," gumam Jiang Li.
Setelah Xin Qian sampai di kamar, tiba-tiba raja Wang Shu menghampirinya dengan wajah yang senang.
"Xin Qian, bagaimana keadaanmu dan juga bayi yang berada dalam kandunganmu?"
"K-kau?"
__ADS_1
"Mengapa kau terlihat sangat cemas setelah melihatku, Xin Qian?"
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Xin Qian, mengapa kau sangat ketus kepadaku? Aku adalah Ayah kandung dari suamimu, itu artinya aku juga Ayahandamu. Jadi kau harus bersikap hormat kepadaku."
"Bagaimana aku bisa bersikap hormat kepada orang yang telah membunuh Ayahandaku?"
"Oww, jadi kau telah mengetahui hal itu? Siapa yang telah memberitahumu?"
"Tidak penting aku mengetahui hal itu dari siapa. Tetapi sampai kapanpun aku tidak akan bersikap hormat kepadamu."
"Tenanglah, Xin Qian! Jangan meninggikan nada bicaramu kepada Ayahanda! Ayahanda tidak suka dengan hal itu."
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
"Aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia seperti yang kau inginkan, Xin Qian. Dan aku juga tidak akan membiarkan bayi yang berada dalam kandunganmu itu lahir ke dunia ini. Karena jika bayi itu sampai lahir ke dunia ini, Jiang Li akan kehilangan tahta dan juga kekuasaannya di negeri ini."
"Kau memang pria yang sangat kejam. Kau bahkan tidak pantas disebut sebagai seorang Ayah."
"Xin Qian!!" teriak Jiang Li.
"Berani sekali kau mengatakan jika Ayahandaku adalah orang yang kejam?"
"Dia memang orang yang kejam. Dia telah membunuh Ayahandaku, dia juga mengatakan jika dia tidak akan membiarkan bayi yang berada di dalam kandunganku ini lahir."
"Ayahanda, apakah benar Ayahanda mengatakan hal itu?"
"Ayahanda tidak dapat menerima perlakuan ini. Ayahanda sudah cukup menderita karena raja Arlo, dan sekarang putri kandungnya ingin membuat Ayahanda merasakan penderitaan lagi."
Wang Shu kemudian meninggalkan mereka berdua.
"Kau lihat itu? Ayahanda berusaha untuk bersikap baik kepadamu, tetapi kau malah bersikap buruk kepadanya."
"Semua yang dia katakan adalah dusta. Dia hanya bersikap baik ketika berada di hadapanmu, Jiang Li."
"Plak ...."
"Kau menamparku?"
"Aku tidak suka jika kau bersikap tidak sopan kepada Ayahandaku, Xin Qian. Kau harus menghormatinya seperti kau menghormati Ayahandamu."
"Tetapi dia bukanlah Ayahandaku, dia juga sangat membenciku. Aku tidak akan menghormatinya. Bahkan jika kau memaksaku, aku tidak akan berbicara lagi denganmu!"
Xin Qian kemudian masuk ke kamar dan diikuti oleh Jiang Li. Jiang Li menarik tangan Xin Qian, lalu memarahinya kembali.
"Kau tidak bisa bersikap seperti itu. Ikut denganku dan mintalah maaf kepada Ayahandaku," Jiang Li menatap Xin Qian dengan wajah marah.
"Aku tidak akan melakukannya!" seru Xin Qian.
"Xin Qian, ikut denganku!" bentak Jiang Li sambil menarik paksa tangan Xin Qian.
__ADS_1
"Aku tidak mau, aahh ... perutku sakit sekali."
"Xin Qian, apa yang terjadi denganmu?"
"Jiang Li, perutku terasa sangat sakit ...."
Jiang Li kemudian membawa Xin Qian ke ranjang dan mendudukkannya. Jiang Li melihat perut Xin Qian yang bergerak-gerak dengan cepat.
"Bayi itu bergerak di dalam perutnya, itu pasti terasa sangat sakit," batinnya.
Jiang Li kemudian mengelus-elus perut Xin Qian.
"Jangan nakal di dalam perut Ibunda ya. Ibunda merasa sangat kesakitan sekarang," ucapnya.
Lalu Jiang Li menciumi perut Xin Qian hingga beberapa kali, dan ajaibnya rasa sakit itupun seketika hilang.
"Dia telah menghilangkan rasa sakitku," batin Xin Qian.
"Apa sekarang masih terasa sakit?"
"Tidak."
"Maafkan aku jika tadi aku menampar dan memarahimu. Tetapi aku hanya ingin kau bersikap baik kepada Ayahanda, karena Ayahanda juga telah bersikap baik kepadamu."
"Dia tidak pernah sedikitpun bersikap baik kepadaku, bagaimana bisa kau memintaku untuk bersikap baik kepadanya?"
"Cukup, Xin Qian! Kau--"
Ucapan Jiang Li tiba-tiba terhenti karena melihat Xin Qian menutup kedua matanya.
"Maafkan aku," Jiang Li memeluk tubuh Xin Qian dengan sangat erat.
"Mengapa pelukanmu terasa sangat hangat, Jiang Li? Kau membuatku merasa sangat nyaman saat kau memelukku. Tetapi aku tidak bisa mempercayaimu, kau bisa saja berpura-pura mencintaiku agar kau dapat mematahkan hatiku."
"Jangan bergerak, Xin Qian! Aku ingin terus memelukmu seperti ini. Aku ingin menghabiskan seluruh waktuku bersamamu."
"Setelah bayi yang berada di dalam kandunganmu itu lahir, kita akan menjadi seorang raja dan ratu yang sangat bahagia."
Zhang Pei yang sedang lewat di depan kamar itu sengaja berhenti karena melihat Jiang Li sedang memeluk Xin Qian.
Zhang Pei langsung mengepalkan tangannya dan wajahnya berubah menjadi sangat marah.
"Berani sekali dia memeluk wanitaku?"
Zhang Pei hendak masuk untuk menghentikan Jiang Li, tetapi dari arah belakang ada seseorang yang menariknya.
"Apa yang ingin kau lakukan? Kau akan bertarung dengan Jiang Li dihadapan sang ratu?" tanya Ji Nian.
"Untuk apa kau menghalangiku?"
"Zhang Pei, aku juga masih mencintai sang ratu. Tetapi aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang ingin kau lakukan itu."
__ADS_1
Ji Nian kemudian meninggalkan Zhang Pei sambil tersenyum.