The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 38


__ADS_3

Xin Qian dan Zhang Pei pun memutuskan untuk kembali ke istana, karena dirasa usaha mereka untuk mencari pedang damaskus dan mengeluarkan batu permata dari tubuh Xin Qian telah sia-sia.


Mereka tidak menemukan pedang tersebut, dan tentang batu permata itu sepertinya memang telah menjadi takdir dari Xin Qian.


"Yang Mulia, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi setidaknya kita telah berusaha, walaupun usaha kita akhirnya sia-sia," ucap Zhang Pei yang mencoba untuk menenangkan hati Xin Qian.


"Aku tahu, Zhang Pei. Langit pasti telah merencanakan sesuatu yang baik untukku," balas Xin Qian sambil tersenyum kepada Zhang Pei. Walaupun hatinya sangat sedih, tetapi ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja di depan Zhang Pei.


Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke istana. Tetapi saat mereka masih berada di tengah-tengah hutan, tiba-tiba seekor burung gagak terbang menghampiri mereka dan membawa Xin Qian terbang.


Zhang Pei pun sangat panik melihat Xin Qian tiba-tiba dibawa terbang oleh burung gagak tersebut. Sedangkan Xin Qian sendiri berusaha untuk melepaskan dirinya dari cengkraman burung gagak tersebut.


Zhang Pei terbang dan mengikuti burung gagak tersebut, kemudian Zhang Pei menyerang burung gagak itu dan membuatnya terbang dengan tidak teratur. Xin Qian berteriak karena merasa ketakutan, ia juga tidak dapat melawan burung gagak itu.


Lui Wei yang melihat Zhang Pei sedang berusaha untuk menyerang burung gagak itu, ia berencana untuk membuat Xin Qian terjatuh lalu ia akan langsung melemparkan Xin Qian ke jurang yang curam.


Lui Wei pun menyerang Bingjie dari kejauhan dan membuat Bingjie tidak sengaja melepaskan Xin Qian.


Xin Qian berteriak dengan kencang, kemudian Bingjie pun mengeluarkan suara yang aneh. Suara itu digunakan untuk memanggil Jiang Li saat dia sedang dalam keadaan darurat.


"Yang Mulia, aku berharap kau dapat mendengarku dan datang kemari untuk menyelamatkan Yang Mulia Ratu," ucap Bingjie.


Zhang Pei yang melihat Xin Qian terjatuh, ia langsung terbang rendah dan meraih Xin Qian. Tetapi saat tangannya hendak meraih Xin Qian, tiba-tiba ada kekuatan yang menyerangnya dari belakang dan membuat Zhang Pei terjatuh.


Lui Wei pun menangkap Xin Qian dan langsung membawanya pergi.


"Lui Wei, lepaskan aku!" ucap Xin Qian.


"Diam! Aku akan membawamu pergi jauh sampai tidak ada seorangpun yang dapat menemukanmu, termasuk Jiang Li," balas Lui Wei, kemudian ia tertawa.


*******


Jiang Li mendengar suara aneh yang dikeluarkan oleh Bingjie, kemudian ia pergi ke sumber suara tersebut.


"Itu adalah suara Bingjie, pasti telah terjadi sesuatu dengan Xin Qian," batin Jiang Li.


"Prajurit, kalian pergilah untuk mencari sang Ratu ditempat lain!" seru Jiang Li kepada para prajurit.

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia," balas para Prajurit.


Setelah melihat para prajurit meninggalkan tempat itu, Jiang Li langsung berpindah tempat menggunakan ilmu teleportasi untuk mencari keberadaan Bingjie.


*******


"Lui Wei, kemana kau akan membawa ku?" tanya Xin Qian.


"Kau lihat jurang yang indah itu? Aku akan mengantarmu kesana, Yang Mulia," balas Lui Wei sambil menunjuk ke arah jurang yang curam.


Xin Qian sangat panik, kemudian ia menggigit tangan Lui Wei dan membuatnya terjatuh.


"Eehhh, kurang ajar!" ucap Xin Qian.


Lui Wei lalu menangkap Xin Qian menggunakan kekuatannya, Xin Qian pun melayang dan diarahkan ke jurang curam tersebut.


"Lui Wei, jangan lakukan itu!" seru Xin Qian.


"Kau tidak ingin aku lempar ke jurang itu?" tanya Lui Wei.


"Aku mohon, Lui Wei. Jangan lakukan hal itu!" Xin Qian memohon.


"Lui Wei, tolong. Aku akan melakukan apapun untukmu," balas Xin Qian.


"Ya ya ya, tapi aku tidak ingin melihatmu tetap hidup, Yang Mulia. Karena jika kau tetap hidup, kau hanya akan menjadi penghalang bagiku untuk mendapatkan Jiang Li." Lui Wei langsung melepaskan Xin Qian dan membuat Xin Qian perlahan terjatuh.


"Xin Qian!!" panggil Jiang Li dengan panik.


"Jiang Li?" Lui Wei terkejut melihat kehadiran Jiang Li di sana.


Jiang Li pun langsung terbang ke arah Xin Qian dan meraih tangannya lalu membopongnya, tubuh Xin Qian sangat gemetaran dan dingin.


"Jiang Li?" ucap Xin Qian.


Jiang Li hanya menatap Xin Qian dengan wajah datar, tetapi sebenarnya Jiang Li sangat menghawatirkan keadaan Xin Qian.


Xin Qian memeluk erat tubuh Jiang Li, dia sangat ketakutan karena dia pikir dia akan terjatuh ke dalam jurang tersebut.

__ADS_1


Jiang Li mendarat lalu menurunkan Xin Qian.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Jiang Li dengan wajah datar.


"Aku tidak apa-apa. Terima kasih," jawab Xin Qian.


Jiang Li kemudian menatap ke arah lengan kiri Xin Qian, hanfu yang Xin Qian kenakan sobek dan kulitnya sedikit tergores. Jiang Li lalu memegang lengan kiri Xin Qian, tetapi Xin Qian merasa sedikit kesakitan.


"Apa yang terjadi dengan lenganmu?" Jiang Li menatap dalam mata Xin Qian.


Xin Qian membalas tatapan itu, tetapi kemudian dia menundukkan pandangannya.


"Apa yang dia katakan? Bukankah dia sendiri yang meminta burung gagak itu untuk membawaku pergi?" batin Xin Qian sedikit kesal dengan Jiang Li.


"Apa Bingjie yang telah melakukan hal ini kepadamu?" tanya Jiang Li.


"Bingjie?" tanya Xin Qian bingung.


Kemudian seekor burung gagak datang menghampiri mereka, burung gagak itu mengepakkan sayapnya.


"Yang Mulia, maafkan aku. Aku telah gagal menjalankan tugasku," ucap Bingjie.


"Bingjie, apa kau yang telah melukainya?" tanya Jiang Li dengan perasaan marah.


"Mengapa dia memarahi burung gagak itu? Bukankah dia sendiri yang meminta burung gagak itu untuk membawaku?" batin Xin Qian.


"Bukankah aku memerintahkanmu untuk membawanya ke hadapanku tanpa harus melukainya? Tapi mengapa kau malah melukainya? Dan kau lihat tadi? Lui Wei hampir menjatuhkannya ke jurang." Jiang Li benar-benar marah kepada Bingjie, karena Bingjie tidak dapat melakukan tugas yang ia berikan.


"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku benar-benar tidak berniat untuk melukai Yang Mulia Ratu, tetapi yang mulia ratu yang meronta-ronta dan memintaku untuk melepaskannya. Setelah itu nona Lui Wei menyerangku dari arah belakang dan membuat salah satu sayap ku sedikit terluka, sehingga Yang Mulia Ratu terjatuh." Bingjie menjelaskan.


"Jiang Li, jangan memarahinya seperti itu! Yang dia katakan itu benar, aku tidak tahu jika dia berniat untuk membawa ku kembali ke istana," ucap Xin Qian.


"Jangan membelanya! Aku memarahinya bukan karena aku menghawatirkan dirimu, tetapi aku tidak suka jika dia ceroboh dalam menjalankan tugasnya," balas Jiang Li ketus.


"Dia hanyalah seekor burung gagak, dia juga memiliki perasaan. Jika kau berkata seperti itu di depannya, kau mungkin akan melukai hatinya. Karena tidak semua makhluk di dunia ini memiliki hati yang keras seperti mu." Xin Qian menatap Bingjie alih-alih menatap Jiang Li.


Bingjie yang mendengar hal itupun merasa sedikit luluh dengan Xin Qian. Ia merasa jika selama ini dia telah salah jika menganggap semua manusia di negeri Peacelavia sebagai seorang musuh.

__ADS_1


Sedangkan Jiang Li merasa terhina dengan ucapan Xin Qian, ia sekali lagi memegang lengan kiri Xin Qian dan membuatnya merasa kesakitan. Lalu Jiang Li melepaskan tangannya dari lengan Xin Qian.


"Kau tidak apa-apa? Sebaiknya kita kembali ke istana sekarang," ucap Jiang Li dengan lembut.


__ADS_2