The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 14


__ADS_3

"Tidak. Batu permata itu tidak boleh jatuh ke tangan orang yang salah!" Xin Qiaan membatin.


"Dengan kekuatan empat penjaga langit, berilah aku kekuatan untuk melindungi batu permata. Bekukanlah! Bekukanlah!" Xin Qian melafalkan sebuah mantra.


Seketika segel yang hampir terbuka seluruhnya menjadi beku kembali, bahkan kekuatan pelindungnya empat kali lebih besar dari sebelumnya.


"Apa yang telah kau lakukan?? Kau telah membuat rencana ku gagal!!" Rong Peng berteriak dengan histeris.


Wajah Rong Peng memerah menandakan dirinya sangat marah kepada Xin Qian. Kuku tangan Rong Peng tiba-tiba saja memanjang dan hampir menggores tubuh Xin Qian.


"Aku tidak bisa melawannya dengan leluasa jika berada didalam ruangan ini. Aku harus membawanya ke luar istana," batinnya.


Xin Qian terbang menuju ke luar istana dan Rong Peng mengikuti di belakangnya.


"Mau lari kemana kau? Kau adalah gadis yang sangat menyebalkan! Aku akan membunuhmu!" ucap Rong Peng yang jengkel terhadap Xin Qian.


"Bibi, aku hanya--"


"Jangan memanggilku Bibi! Karena aku bukan Bibimu!"


Rong Peng mencakar lengan kiri Xin Qian hingga berdarah dan hal itu membuat Xin Qian sulit untuk menyerang balik. Zhang Pei datang dan menangkis tangan Rong Peng yang hendak mencakar Xin Qian kembali.


"Kurang ajar! Jangan ikut campur urusanku!"


"Aku tidak akan membiarkanmu melukai sang Putri."


"Satu ksatria telah aku kalahkan, dan sekarang ksatria lain datang untuk melindungi sang Putri. Apa kau juga ingin mengalami nasib yang sama sepertinya?"


"Jangan banyak bicara! Lawan aku jika kau berani!"


"Kurang ajar! Berani sekali kau menantangku?"


Tanpa banyak bicara, Zhang Pei langsung menyerang Rong Peng. Zhang Pei melilit tubuh Rong Peng menggunakan kain pengikat pinggangnya. Rong Peng kesulitan untuk bergerak, tetapi ia langsung melemparkan pedang apinya dan memotong kain itu.


Rong Peng terlepas dari lilitan itu dan mengambil kembali pedang apinya. Kemudian ia menyerang Zhang Pei menggunakan pedangnya, tetapi Zhang Pei menahan pedang itu menggunakan sihir.


"Kau tidak akan sanggup melawanku!" ucap Rong Peng yang menyalurkan energi murninya kepada pedang itu.


Zhang Pei semakin tertekan dan perlahan mundur. Xin Qian berdiri di belakang Zhang Pei dan ikut menyalurkan energi murninya menggunakan satu tangan.


"Putri, apa yang kau lakukan? Kau sedang terluka."


"Kau tidak mungkin melawannya sendirian."


Rong Peng terjatuh dan pedang apinya musnah.


"Aargghhh! Kurang ajar kalian! Aku akan kembali dan membawa kehancuran yang lebih besar bagi negeri ini." Tubuh Rong Peng perlahan menghilang.


"Gebrukk ...."


"Putri, kau tidak apa-apa?"


"Zhang Pei, tolong bawa aku ke kamar. Aku tidak bisa berdiri."

__ADS_1


"Baiklah, Putri."


Zhang Pei membopong Xin Qian lalu membawanya menuju kamar. Luka Xin Qian telah diobati dan dibalut oleh tabib istana. Raja Arlo duduk di sebelah kanan Putrinya dan menggenggam tangannya.


"Lieng, maafkan aku karena tidak dapat melindunginya Putri kita," ucapnya sambil mencium tangan Xin Qian, air matanya pun perlahan jatuh ke tangan kanan Xin Qian.


Raja Arlo mengelus rambut panjang Putrinya lalu mencium keningnya.


"Zhulong, tetaplah di sini menemani Putriku!"


Raja Arlo keluar dan menutup pintu kamar Xin Qian, sementara Zhulong menyentuh pipi halus Xin Qian lalu menggosokkan pipinya di sana.


*****


Keesokkan harinya, Xin Qian terbangun dan melihat Zhulong yang masih tertidur pulas di sampingnya.


Ia mengelus kepala Zhulong sambil tersenyum. Kemudian seorang Dayang masuk ke kamarnya dan membawakan segelas susu juga makanan.


"Putri, maafkan aku. Aku masuk tanpa mengetuk pintu, karena aku pikir Putri masih belum sadarkan diri."


"Tidak masalah."


"Putri, aku membawakan segelas susu dan juga makanan untukmu. Makanlah agar kau lekas sembuh."


"Terima kasih, Dayang."


"Sama-sama, Putri. Aku permisi."


"Tunggu dulu! Bagaimana keadaan Ji Nian?"


"Baiklah. Kau boleh pergi."


Beberapa saat setelah dayang itu pergi, terdengar suara ketukan dari luar pintu. Ternyata itu adalah master Lin, ia membawa sebuah gelas kecil di tangannya.


"Kakek Guru?"


"Bagaimana keadaanmu?"


"Aku merasa lebih baik, Kakek Guru."


"Minumlah ramuan herbal ini! Kakek Guru membuatnya untukmu dan juga Ji Nian."


Xin Qian mengambil gelas itu lalu mencium bau tidak sedap dari dalamnya.


"Mengapa baunya sangat menyengat, Kakek Guru? Aku tidak mau meminumnya, rasanya pasti sangat pahit."


"Putri, ramuan ini mengandung bahan-bahan alami, jadi pantas saja jika baunya sangat menyengat. Tetapi setelah kau meminumnya, kau akan merasakan sendiri manfaatnya."


"Baiklah, aku akan meminumnya."


Xin Qian meminum habis ramuan itu sambil menutup lubang hidungnya. Kemudian ia lanjutkan dengan meminum air putih untuk menghilangkan rasa pahit. Master Lin tersenyum dan mengelus rambut Xin Qian.


"Makanlah! Aku akan pergi bersama Ayahandamu untuk menemui para rakyat."

__ADS_1


"Kakek Guru, apakah diantara mereka ada yang terluka?"


"Tidak. Hanya saja rumah dan perkebunan mereka hancur. Kami akan membawakan beberapa upeti berisi makanan dan juga membantu untuk membangun kembali rumah mereka."


"Bisakah aku ikut?"


"Raja tidak mungkin membiarkanmu ikut dengan keadaanmu yang seperti ini."


"Tapi aku juga ingin melihat keadaan mereka."


"Kau boleh menemui mereka setelah kau benar-benar pulih. Sekarang beristirahatlah!"


Xin Qian menghela napasnya dan kembali membaringkan tubuhnya. Master Lin tersenyum lalu menutup pintu kamar Xin Qian. Zhulong terbangun dan langsung menjilati wajah Xin Qian.


"Xin Qian, kau sudah bangun? Mengapa kau tidak membangunkanku?"


"Aku lebih suka melihatmu tertidur pulas."


"Maksudmu kau tidak suka melihatku bangun?"


"Tidak."


"Apa??"


"Bukan begitu. Maksudku kau terlihat lebih lucu saat kau sedang tertidur."


"Jadi maksudmu, saat aku tidak tidur aku tidak lucu begitu?"


"Mengapa aku jadi serba salah seperti ini?"


*****


Di kamarnya, Ji Nian perlahan membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya. Ia hendak meraih gelas yang berisi air di atas meja, tetapi tubuhnya masih sangat lemah sehingga ia membuat gelas itu jatuh dan pecah.


Xin Qian datang ke kamar Ji Nian dan melihat posisi Ji Nian yang hampir terjatuh dari kasurnya. Untungnya Xin Qian saat itu langsung menahan tubuh Ji Nian dan membantunya untuk berbaring.


"Ji Nian, apa yang kau lakukan? Kau hampir saja terjatuh."


"Aku ingin air, aku sangat haus."


"Ji Nian, tetaplah berbaring. Aku akan membawakan air untukmu."


Xin Qian pergi untuk mengambil segelas air dan meminta seorang Dayang agar membersihkan pecahan gelas di kamar Ji Nian.


"Ji Nian, aku sudah membawakan air untukmu. Minumlah!" Xin Qian membantu Ji Nian yang kesulitan untuk duduk.


"Glek ... glek ... glek ...."


"Terima kasih, Putri."


"Ji Nian, maafkan aku. Kau jadi seperti ini karena telah menyelamatkanku."


"Tugas utamaku adalah melindungimu, Putri. Aku tidak mungkin membiarkanmu terluka."

__ADS_1


"Terima kasih, Ji Nian."


__ADS_2