
Mereka berpindah tempat dan tiba di belakang taman istana. Saat mereka hendak masuk ke istana, Ji Nian memergoki mereka berdua dan menaruh curiga pada keduanya. Perasaan khawatir, cemburu, dan kesal bercampur aduk didalamnya.
Ji Nian ingin sekali memarahi Zhang Pei, tetapi ia memilih untuk menahannya karena ia tahu putri Xin Qian pasti akan lebih membela Zhang Pei.
"Ji Nian, kau di sini?" tanya Xin Qian.
"Putri, semua orang di istana sedang mencarimu, tetapi kau tidak ada di kamar. Apa yang sedang kau lakukan dengan siluman itu di sini?" Ji Nian alih-alih menatap Xin Qian lalu menatap Zhang Pei.
"Ji Nian, aku hanya mengantarkan Zhang Pei untuk melihat taman belakang istana. Dia murid baru Kakek Guru, jadi aku rasa aku harus mengenalkannya dengan lingkungan di istana."
"Tetapi mengenalkan lingkungan dengan orang baru bukanlah tugasmu, Putri. Kau bisa meminta Dayang atau Prajurit untuk mengajaknya keliling istana."
"Apa masalahnya jika putri Xin Qian yang mengantarkanku melihat-lihat isi istana? Lagipula putri Xin Qian tidak keberatan jika harus menemaniku."
"Mengapa master Lin harus menjadikan siluman sepertimu sebagai muridnya?"
"Ji Nian, jaga ucapanmu! Kau tidak boleh berbicara seperti itu kepada Zhang Pei. Dia adalah tamu kita yang harus dilayani dengan baik."
"Aku tidak mau melayani siluman seperti dia. Putri, ikut denganku!"
Ji Nian menarik tangan Xin Qian dan membawanya masuk untuk menemui sang Raja. Sedangkan Zhang Pei hanya berdiam diri dan menatap ke arah mereka.
"Putri, aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan siluman itu. Darahnya membawa bencana bagi dirimu dan juga negeri ini."
"Ji Nian, aku tahu jika kau tidak menyukai Zhang Pei, tapi tolong kendalikan amarahmu. Kau tidak seharusnya bersikap seperti itu kepada Zhang Pei. Walaupun dia memiliki darah setengah siluman, tapi bukan berarti dia adalah siluman yang jahat."
"Lain kali aku tidak ingin melihatmu bersikap seperti itu kepada orang lain. Kau adalah ketua di istana Peacelavia, kau seharusnya memberikan contoh yang baik untuk orang lain."
"Putri, aku hanya..."
Xin Qian meninggalkan Ji Nian sebelum Ji Nian menyelesaikan ucapannya. Di satu sisi Ji Nian merasa kesal karena Xin Qian dekat dengan Zhang Pei, tetapi di sisi lain ia merasa bersalah karena membuat Xin Qian kecewa dengan sikapnya.
"Xin Qian, kau ada di sini? Ayahanda mencarimu sejak tadi. Dari mana saja kau?" tanya raja Arlo yang tiba-tiba berada di belakang mereka.
"Ayahanda, aku sejak tadi berada di taman belakang istana."
"Apa yang kau lakukan di sana?"
"Putri, kau sudah di sini? Kami semua menghawatirkan keadaanmu," Master Pin berjalan menghampiri mereka.
__ADS_1
"Benar, Putri. Kami sangat cemas saat mengetahui kau tidak ada di dalam istana," balas master Yibo.
"Master Yibo, master Pin, aku sekarang di sini dan aku tidak apa-apa. Bisakah kita sarapan sekarang?"
"Apa kau sangat kelaparan, Putri?" Master Chen bergurau.
"Ayolah, kita sarapan sekarang. Jangan biarkan Putri cantik ini menahan rasa lapar," balas master Lin sambil tertawa lalu mengelus kepala Xin Qian.
***
Ketika mereka selesai sarapan, Ji Nian menghampiri Xin Qian untuk meminta maaf. Tetapi saat itu Xin Qian hendak pergi menuju desa untuk membagikan beberapa hasil perkebunan dari kerajaan kepada para rakyat.
Raja Arlo dan putri Xin Qian memang dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, mereka selalu membagikan hasil perkebunan kepada rakyat. Tidak heran jika semasa pemerintahan raja Arlo, negeri Peacelavia menjadi sangat makmur dan sejahtera.
Sikap Xin Qian berubah, kali ini ini ia tidak mengajak Ji Nian untuk pergi menemui rakyat. Xin Qian hanya menunggangi seekor kuda dan mengajak beberapa prajurit ikut untuk membawa upeti yang berisi buah-buahan.
Ji Nian yang selalu menghawatirkan keselamatan sang Putri, ia menunggangi seekor kuda dan mengikuti Xin Qian untuk menuju pedesaan.
"Putri, aku hanya ingin meminta maaf kepadamu. Tolong, maafkan aku." Ji Nian mengiring kudanya untuk berjalan disamping kuda yang ditunggangi Xin Qjan.
"Kau tidak perlu meminta maaf, Ji Nian. Aku sudah memaafkanmu." Xin Qian memperlambat langkah kudanya kemudian menatap wajah Ji Nian.
"Aku sempat merasa kesal padamu, jadi aku pikir lebih baik aku pergi sendiri."
"Putri, lain kali jangan pergi sendirian. Kau tidak tahu jika ada bahaya yang mungkin mengintaimu."
"Baiklah."
Sesampainya mereka di pedesaan, semua rakyat menyambut kedatangan mereka dengan sangat baik. Beberapa prajurit dari istana mengeluarkan hasil perkebunan dan membagikannya secara merata kepada rakyat.
Seorang anak kecil yang digendong Ibunya tiba-tiba menangis dan ingin sekali digendong oleh Xin Qian.
"Sayang, jangan bersikap seperti itu kepada sang Putri," ucap Ibu itu menenangkan tangis Putranya.
"Tidak apa-apa, Bibi. Aku akan menggendongnya." Xin Qian tersenyum.
Ia hampir saja terjatuh saat hendak menggendong anak itu, tetapi Ji Nian selalu sigap untuk menolong Xin Qian.
"Putri, maafkan aku jika Putraku telah merepotkan mu." Ibu itu menyerahkan anaknya kepada Xin Qian.
__ADS_1
"Aku senang Bibi jika bisa menyenangkan hati rakyat ku," balas Xin Qian tersenyum manis.
"Lihatlah! Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Dulu, ratu Lieng adalah seorang gadis yang sangat baik hati dan suka menolong orang lain. Sekarang putrinya juga tidak jauh berbeda dengannya, dia bahkan terlihat seperti seorang ratu," bisik salah satu rakyat kepada temannya.
"Kau benar. Raja Arlo juga seorang pemimpin yang baik, dia selalu memikirkan kehidupan para rakyat. Aku berdoa agar mereka selalu bahagia dan panjang umur," balas teman yang berada disampingnya.
"Siapa namamu?" Xin Qian bertanya kepada anak yang digendongnya.
"Putri, namaku Anming," balas anak kecil itu.
"Anming, apa kau menyukai sayuran?"
"Putri, tidak ada yang lebih aku sukai daripada kau dan juga Ibuku," ucapannya itu sontak membuat semua orang tertawa termasuk Ji Nian.
"Tetapi aku bertanya apa kau menyukai sayuran?"
"Tidak. Aku tidak menyukai sayuran."
"Apa alasannya?"
"Sayuran tidak begitu enak, aku tidak menyukainya."
"Putri, apakah pria tampan itu kekasihmu?" Menunjuk ke arah Ji Nian.
"Bukan. Dia adalah teman kesayanganku." Xin Qian menatap Ji Nian dan sedikit ragu mengucapkan kalimat itu.
"Putri, aku juga ingin menjadi teman kesayanganmu seperti pria tampan itu."
"Kau bisa saja menjadi teman kesayanganku jika mulai saat ini kau mau memakan sayuran."
"Benarkah, Putri?"
"Aku tidak mungkin membohongi anak kecil sepertimu."
"Baiklah. Ibu kau dengar itu? Mulai saat ini aku akan makan sayuran. Ibu pasti sangat senang bukan?
"Kau memang anak yang pintar."
"Terima kasih, Putri. Kau telah membuat Putraku mau makan sayuran."
__ADS_1
"Tidak masalah, Bibi."