
Zhang Pei membungkukkan tubuhnya lalu memberi salam kepada putri Xin Qian dan para master. Zhang Pei meminta izin untuk kembali ke negeri Longyou, tetapi master Lin memintanya agar tetap tinggal di negeri Peacelavia.
"Master, bagaimana bisa kau meminta orang asing untuk tinggal di istana ini?" tanya Ji Nian yang tidak terima dengan keputusan master Lin.
"Karena aku tahu jika Zhang Pei memiliki darah setengah manusia dan setengah siluman."
"Jika Master tahu dia adalah siluman, mengapa Master memintanya untuk tinggal di sini?"
"Ji Nian, aku adalah kepala para Master di istana ini. Turuti saja perintahku!"
Zhang Pei tersenyum dan mengiyakan ucapan master Lin. Kemudian Xin Qian mengantarkannya menuju kamar yang akan Zhang Pei tempati. Tanpa mereka sadari, Ji Nian diam-diam mengikuti mereka dari belakang.
"Xin Qian!" panggil Zhulong yang berlari dari arah belakang mereka.
"Zhulong?" Xin Qian berhenti dan membalikkan tubuhnya.
"Kau telah melupakan makananku," ucap Zhulong kesal.
"Zhulong, maafkan aku. Aku akan segera membawakan makanan untukmu setelah aku mengantarkan Zhang Pei ke kamarnya," balas Xin Qian.
"Siapa dia? Apa dia lebih penting dariku?" tanya Zhulong ketus.
"Tidak begitu, Zhulong," balas Xin Qian pelan.
"Apakah kucing kecil ini peliharaan mu?" Zhang Pei mengangkat Zhulong dengan satu tangan.
"Hey, orang aneh! Turunkan aku sekarang! Atau aku akan menggigit mu?" Zhulong meronta-ronta.
"Gigit saja jika kau bisa."
"Dia ... dia bisa mendengar ucapanku? Xin Qian, apakah ini nyata?"
"Apa yang kau dengar adalah nyata. Aku dapat mendengar dan memahami ucapan semua hewan." Zhang Pei menurunkan Zhulong dan mengelus hidung kecilnya.
"Putri, aku adalah manusia setengah siluman, jadi aku dapat mengerti ucapan semua hewan. Tetapi tidak ada darah siluman yang mengalir di tubuhmu. Lalu mengapa kau dapat berbicara dengan hewan?"
"Aku tidak tahu, Zhang Pei."
"Dengar manusia setengah siluman! Xin Qian adalah gadis yang sangat istimewa, itu sebabnya dia dapat berbicara dengan hewan." Zhulong menegaskan ucapannya.
"Aku tahu jika putri Xin Qian adalah gadis yang sangat istimewa."
"Dia telah membuat ku jatuh cinta sejak pertama kali bertemu dengannya," batin Zhang Pei.
"Zhang Pei, ikutlah denganku!"
"Baik, Putri."
__ADS_1
Mereka berhenti di depan sebuah kamar yang pintunya terkunci. Xin Qian membuka kuncinya dan mempersilahkan Zhang Pei untuk masuk dan beristirahat.
Zhang Pei melihat seisi ruangan itu dan dia penasaran dengan sebuah kotak yang berada di atas meja. Saat ia membuka kotak itu, ia dikejutkan dengan segerombolan kunang-kunang yang keluar dari dalamnya. Xin Qian menatap wajah Zhang Pei yang sedang tersenyum kepadanya.
"Apa mereka semua adalah teman-temanmu?" tanya Zhang Pei sambil memandang segerombolan kunang-kunang yang terbang ke luar jendela.
"Benar," balas Xin Qian sambil tersenyum.
Zhang Pei masih tersenyum dan terus menatap wajah Xin Qian, sehingga membuat Xin Qian sedikit malu.
"Apa yang dia lakukan? Mengapa menatapku seperti itu?" batin Xin Qian menundukkan kepalanya.
"Apa yang kau pikirkan, Putri? Mengapa kau menunduk?" Zhang Pei mendekatkan wajahnya ke arah Xin Qian
"Zhang Pei, kau harus beristirahat. Aku akan keluar sekarang."
"Tunggu! Apa kau tidak ingin menemaniku sebentar di sini?"
"Apa maksudmu?"
"Aku berbicara dengan Zhulong, bukankah begitu?"
"Aku tidak mau. Aku ingin pergi bersama Xin Qian."
Xin Qian membuka jendela dan berdiri di depannya. Zhang Pei menyusulnya dan ikut berdiri di sampingnya. Zhulong melompat ke atas kasur dan berputar-putar di atas selimut lalu membaringkan tubuhnya.
"Baiklah." Zhang Pei menatap mata Xin Qian.
"Aku tidak terlalu suka dengan Zhang Pei, karena dia dekat dengan Xin Qian. Tapi entah mengapa ketika melihat mereka bersanding aku merasa jika mereka sangat cocok," ucap Zhulong sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.
Seeokor kupu-kupu datang menghampiri Xin Qian dan berbisik di telinganya. Kupu-kupu itu mengatakan bahwa para siluman sudah mulai kehabisan energi murninya, karena Xin Qian sempat nyaris kehilangan nyawanya setelah terkena racun dari seekor laba-laba.
Xin Qian ingin memberitahukan hal itu kepada Zhulong, tetapi saat itu Zhang Pei sedang berdiri di sampingnya dan ia melihat seekor kupu-kupu sedang berbisik di telinga Xin Qian.
"Bagaimana aku bisa memberitahu Zhulong tentang ini? Aku tidak akan membiarkan Zhang Pei ataupun orang lain mengetahui jika aku menyembunyikan siluman didalam istana," batin Xin Qian dengan raut wajah yang kebingungan.
"Putri, apa yang kau pikirkan? Apa yang kupu-kupu itu bisikkan kepada mu?" tanya Zhang Pei.
"Tidak ada. Kupu-kupu itu hanya memberikan hormat kepadaku."
"Lalu mengapa wajahmu terlihat sangat kebingungan?"
"Aku ingat bahwa aku belum selesai merapikan buku yang telah aku baca di perpustakaan. Jadi aku harus pergi untuk merapikannya."
"Tidakkah seharusnya kau meminta Dayang untuk merapikan buku-buku itu?"
"Aku tidak pernah meminta orang lain untuk merapikan buku-buku yang telah aku baca sebelumnya."
__ADS_1
"Tapi mengapa?"
"Entahlah, Zhang Pei. Aku hanya tidak menyukainya."
"Aku bisa membantumu."
"Tidak perlu. Aku tidak suka jika orang lain membantu ku merapikan buku di perpustakaan."
Ji Nian masih memantau mereka dari luar dan tidak sengaja menabrak seorang Dayang yang sedang membawa segelas air. Suara pecahan gelas pun terdengar sampai di kamar Zhang Pei.
"Maafkan aku, Ketua. Aku tidak sengaja menabrakmu," ucap seorang Dayang menundukkan kepalanya.
"Ji Nian? Apa yang terjadi?" Xin Qian menghampiri Ji Nian, diikuti oleh Zhang Pei dan Zhulong.
"Putri, aku sedang lewat sini dan tidak sengaja menabrak seorang dayang." Ji Nian memegang bagian yang basah dari hanfu nya.
"Apa ada yang terluka diantara kalian?" tanya Xin Qian.
"Tidak, Putri. Aku akan membersihkan pecahan gelas ini." Dayang tersebut mengumpulkan pecahan gelas.
"Ji Nian, kau harus segera mengeringkan baju mu," ucap Xin Qian menatap hanfu Ji Nian yang basah.
"Aku akan segera mengeringkannya," balas Ji Nian sambil tersenyum.
"Baiklah, aku harus pergi." Xin Qian melangkah meninggalkan tempat itu.
"Siluman! Apa kau menyukai putri Xin Qian?" Ji Nian berbisik di telinga Zhang Pei.
"Apa kau merasa tersaingi jika aku menyukai putri Xin Qian?" tanya Zhang Pei.
"Dengar! Aku tumbuh bersama dengan putri Xin Qian di negeri ini. Jadi aku lebih tahu selera putri Xin Qian." Ji Nian menegaskan.
"Tapi aku tidak peduli dengan hal itu." Zhang Pei meninggalkan Ji Nian dan menutup pintu kamarnya.
"Dasar siluman! Dia sama sekali tidak mau mendengarkan ku." Ji Nian menatap pintu kamar Zhang Pei yang sudah tertutup.
*****
Di perpustakaan Xin Qian masuk ke tempat para siluman bersembunyi. Alangkah terkejutnya Xin Qian ketika dia melihat pepohonan dan juga tumbuhan di sana yang mulai layu dan berguguran daunnya.
Air sungai di dalamnya sudah mulai surut dan berwarna sedikit coklat. Para siluman itu merasa takut jika mereka harus mati, itu artinya mereka tidak akan bisa mengabdi kepada Xin Qian untuk waktu yang lama. Salah seekor burung menghampiri Xin Qian dengan berjalan sempoyongan karena menahan tubuhnya yang sudah lemas.
"Xin Qian, tolong kami. Kekuatan murni kami akan segera habis."
"Xin Qian, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?"
"Bertahanlah. Aku akan memurnikan kembali energi kalian."
__ADS_1