The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 79


__ADS_3

Xin Qian kemudian terbebas dari kekuatan Allen dan langsung memeluk Lu Xiang.


"Lu Xiang, aku sangat takut," ucap Xin Qian.


Lu Xiang kemudian mengelus rambut panjang Xin Qian.


"Tidak perlu takut. Aku di sini bersamamu," balas Lu Xiang.


Xin Qian kemudian menangis dihadapan Lu Xiang dan Yu Fei.


"Nona, mengapa kau menangis?"


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku jika kalian semua tidak datang."


"Nona, kami sekarang ada di sini bersamamu. Kau jangan khawatir."


"Nona, Master, aku harus pergi untuk membantu Ji Nian."


"Baiklah."


Lu Xiang kemudian mengangkat wajah Xin Qian agar menghadap ke arahnya.


"Xin Qian, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."


"Lu Xiang, apa yang ingin kau katakan?"


"Sebenarnya aku telah berbohong kepadamu."


"Berbohong? Berbohong tentang apa?"


"Aku mengatakan jika diriku adalah Lu Xiang, tapi pada kenyataannya aku Zhang Pei."


"Lu Xiang, mengapa kau berbicara seperti itu? Zhang Pei sudah tiada, tolong jangan ingatkan aku lagi dengan dirinya."


"Tidak, Xin Qian. Zhang Pei mu masih hidup, aku adalah Zhang Pei."


"Cukup, Lu Xiang! Kau sendiri yang mengatakannya kepadaku jika kau bukanlah Zhang Pei, tetapi Lu Xiang."


"Aku tidak berbohong kepadamu."


"Apa kau bisa membuktikan jika kau adalah Zhang Pei?"


"Aku akan membuktikannya untukmu."


Lu Xiang kemudian menggenggam kedua tangan Xin Qian. Ia mengajak Xin Qian berpindah tempat ke sebuah gua.


Di sana Lu Xiang menyimpan semua memorinya di masa lalu. Dan benar saja, Lu Xiang adalah Zhang Pei yang sangat dicintai oleh Xin Qian.


"Kau bisa melihat semua memori itu. Aku sengaja menyimpannya agar tidak ada satupun kekuatan yang bisa menghilangkannya dari diriku. Karena aku tidak ingin melupakan masa laluku ketika bersamamu."


Xin Qian kemudian menyentuh pipi Lu Xiang. "Kau ...."


Dengan air mata yang mulai jatuh, Xin Qian langsung memeluk tubuh Lu Xiang.


"Kau adalah Zhang Pei. Mengapa kau tidak mengatakan hal ini sejak dulu? Kau tidak tahu bagaimana aku harus berjuang untuk dapat hidup tanpamu. Aku tidak tahu jika dirimu yang sebenarnya adalah Zhang Pei."


"Xin Qian, langit telah menakdirkan kita untuk bersama. Aku sangat mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu, Zhang Pei."

__ADS_1


Xin Qian kemudian melepaskan pelukan itu dan memukul pelan perut Zhang Pei.


"Mengapa kau memukulku?"


"Apa itu sakit?"


"Tentu saja sakit."


"Tapi itu tidak sesakit yang aku rasakan selama ini. Mengapa kau berbohong kepadaku? Kita telah bersama dalam waktu yang cukup lama, tapi aku tidak tahu jika kau adalah Zhang Pei ku."


"Sekali lagi maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya."


Zhang Pei meminta Xin Qian untuk kembali memeluknya dan Xin Qian pun memeluknya.


"Jangan pernah tinggalkan aku, Zhang Pei. Aku mungkin tidak akan sanggup jika harus hidup tanpamu."


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, karena aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu dalam waktu yang sangat lama."


"Zhang Pei, apa kau juga mengajak Lian kemari? Bagaimana keadaannya?"


"Dia sudah bertambah dewasa. Dia juga sudah bisa mengendalikan batu permata itu."


"Zhang Pei, terima kasih. Kau pasti telah menjaganya dengan sangat baik."


"Bukan hanya aku, tetapi ketua Ji Nian yang terus memperhatikannya. Dia sangat menyayangi Lian."


*******


Melihat kekuatan yang dimiliki Allen dan Li Guan semakin membesar, Lian kemudian berencana untuk terbang dan menyerahkan batu permata kepada langit agar tidak ada lagi persaingan di dunia ini untuk mendapatkan batu permata.


Tetapi belum sempat ia mencapai puncak langit, Allen telah lebih dulu mengambil batu permata itu.


Allen tersenyum senang karena kini batu permata telah berada di tangannya. Ia berpikir dirinya akan bisa menguasai dunia.


"To Mu ...." ucap Lian.


To Mu kemudian menghampiri Lian dan memintanya agar naik ke punggungnya. Lalu To Mu memberikan batu permata itu kepada Lian.


To Mu berusaha sekuat tenaga untuk mencapai puncak langit, tapi tiba-tiba Allen dan Li Guan menghadang mereka dari depan.


"Serahkan batu permata itu kepada kami!" seru Li Guan.


"Tidak akan! Aku tidak akan menyerahkan batu permata ini kepada iblis jahat seperti kalian!" balas Lian dengan lantang.


"Berani sekali kau menentang pengikut monster iblis!" ucap Allen dengan sangat marah.


Allen dan Li Guan kemudian menyerang Lian yang saat itu hanya seorang diri.


Mereka berdua terus membuat Allen kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Saat terjatuh, batu permata itu juga terjatuh dari genggaman Lian.


Kemudian Ji Nian menangkap Lian, sedangkan batu permata itu jatuh ke sebuah jurang.


Allen dan Li Guan segera terbang rendah dan berusaha untuk mendapatkan batu permata tersebut.


Xin Qian yang melihatnya tidak tinggal diam, ia juga pergi ke jurang tersebut untuk mengambil batu permata walaupun Zhang Pei sempat melarangnya.


Xin Qian pun berhasil mendahului Allen dan Li Guan untuk mendapatkan batu permata tersebut. Namun saat Xin Qian hendak kembali ke atas, tiba-tiba tangan Allen berubah menjadi sangat panjang dan mencekik leher Xin Qian.


Xin Qian pun sangat kesulitan untuk bernapas. Kemudian Zhang Pei pun hendak membantunya, tetapi Li Guan malah menyerangnya.

__ADS_1


"Berikan batu permata itu kepadaku!" ucap Allen dengan pelan.


"Tidak! Aku tidak akan memberikan batu permata ini kepada iblis jahat sepertimu!" balas Xin Qian.


Allen yang merasa sangat marah kemudian semakin mencekik leher Xin Qian dan membuatnya semakin sulit untuk bernapas.


"Allen, bukankah kau sangat mencintaiku? Mengapa kau melakukan hal ini kepadaku?"


"Aku menginginkan batu permata itu."


"Allen, jika kau mencintaiku kau pasti tidak akan menyakitiku."


Allen pun perlahan melepaskan kedua tangannya yang mencekik leher Xin Qian. Mereka berdua kemudian saling berhadapan.


"Xin Qian, apa kau mencintaiku?"


"Iya, Allen. Aku sangat mencintaimu."


Allen kemudian tiba-tiba melupakan tentang batu permata itu dan langsung memeluk Xin Qian.


Sebenarnya Xin Qian tidak benar-benar mencintai Allen. Ia hanya mengatakan hal itu karena ia ingin menjebak Allen.


Batu yang digenggam Xin Qian berubah menjadi pisau yang sangat tajam dan juga beracun.


"Xin Qian, aku sangat mencintaimu."


Kemudian Xin Qian perlahan menusukkan pisau tersebut ke punggung Xin Qian. Allen sudah merasa kesakitan, tetapi Xin Qian masih menusukkan pisau tersebut.


"A-pa yang k-kau lakukan?"


"Allen, maafkan aku. Jika aku membiarkan pengikut monster iblis sepertimu tetap hidup, kau akan mengacaukan dunia ini. Walaupun kau memiliki keinginan untuk menjadi baik, monster iblis tidak akan membiarkanmu meninggalkannya."


"Xin Qian, aku mencintaimu."


Allen pun terjatuh ke tanah dan perlahan tubuhnya menjadi abu. Kemudian Li Guan yang saat itu ingin menghabisi Ji Nian, dirinya juga perlahan berubah menjadi abu dan menghilang.


Xin Qian kemudian turun dan menyusul Lian juga Zhang Pei. Lian pun terlihat sangat senang karena bertemu kembali dengan Ibundanya.


"Ibunda ...." Lian memeluk Xin Qian dengan sangat erat.


"Lian, Ibunda sangat merindukanmu," ucap Xin Qian dengan lembut.


"Ibunda telah melenyapkan pengikut monster iblis itu. Ibunda sangat hebat."


"Tidak, Lian. Kita semua yang telah melakukannya."


"Yang Mulia, bagaimana keadaanmu?" tanya Ji Nian.


"Ji Nian, aku baik-baik saja," balas Xin Qian.


"Ibunda, sekarang sudah tidak ada lagi musuh. Bisakah kita kembali ke Peacelavia?"


"Tapi, Lian. Kita sepertinya tidak bisa lagi tinggal di sana di."


"Tapi apa alasannya, Ibunda?"


"Xin Qian, negeri kita adalah Peacelavia. Kau adalah Ratu terakhir di sana. Apapun yang terjadi, kau dan kita semua harus tetap tinggal di sana dan melindungi negeri kita."


Xin Qian kemudian tersenyum dan mereka semua kembali ke negeri Peacelavia dan hidup bahagia di sana.

__ADS_1


......~TAMAT~......



__ADS_2