The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 32


__ADS_3

Xin Qian pergi ke ruangan tempat dikurungnya para siluman, tetapi sesampainya dia di sana para siluman itu tidak ada. Xin Qian sangat panik dan mencari-cari para siluman itu. Kemudian ia bertemu dengan Jiang Li dan menarik tangannya.


"Di mana kau sembunyikan teman-temanku? Cepat katakan padaku!" ucap Xin Qian kepada Jiang Li dengan nada marah.


Jiang Li tersenyum dingin dan hanya melihat Xin Qian yang sedang marah kepadanya.


"Jiang Li! Apa kau tuli? Mengapa kau tidak menjawabku?" Xin Qian menggoyangkan tubuh Jiang Li.


Xin Qian sangat geram karena Jiang Li tidak menjawabnya sama sekali, tetapi malah memandanginya dengan wajah yang datar. Xin Qian mengerutkan dahinya lalu melepaskan tangannya dari Jiang Li.


Jiang Li kemudian berjalan pelan mendekati Xin Qian hingga punggung Xin Qian menempel di tembok. Jiang Li mendekatkan wajahnya ke arah Xin Qian, kemudian Xin Qian mendorong wajah Jiang Li ke belakang.


"Ahh .... kau berani mendorongku?" tanya Jiang Li dengan nada yang tinggi.


"Jiang Li, katakan sekarang di mana teman-temanku!" balas Xin Qian.


"Bagaimana jika aku tidak mau mengatakannya kepadamu?" tanya Jiang Li kepada Xin Qian.


"Aku akan ...." Xin Qian mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Jiang Li. Jiang Li memegang tangan Xin Qian lalu menurunkannya.


"Aku telah memindahkan para siluman itu ke tempat lain," bisik Jiang Li ke telinga Xin Qian dengan pelan.


"Mengapa dia tidak marah saat aku mengarahkan telunjukku ke wajahnya?" batin Xin Qian.


"Di mana kau memindahkan mereka?"


Jiang Li menarik tangan Xin Qian lalu mengajaknya ke perpustakaan. Sesampainya di sana, Xin Qian melihat seisi perpustakaan tersebut dengan bingung.


"Untuk apa kau membawaku ke tempat ini?"


Jiang Li meminta Xin Qian untuk membalikkan rak buku tersebut, Xin Qian lalu membalikkannya. Tetapi setelah ia masuk ke dalamnya, ia tidak menemukan siapapun.


"Jiang Li, mengapa kau mengajakku ke tempat ini? Di sini tidak ada siapapun, di mana kau sembunyikan teman-temanku?" tanya Xin Qian marah.


"Tenanglah, Xin Qian! Teman-temanmu akan baik-baik saja. Aku tidak akan membunuh mereka selama kau mau tunduk dan menuruti semua perintahku." Jiang Li mengancam.


"Aku tidak akan tunduk kepadamu! Katakan di mana kau sembunyikan mereka, Jiang Li!" balas Xin Qian dengan ketus.


"Terserah kau saja, tapi jangan salahkan aku jika kau tidak akan bisa bertemu dengan para siluman itu." Jiang Li meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Jiang Li!" Xin Qian memanggil Jiang Li, tetapi Jiang Li tidak menoleh maupun menjawabnya.


"Jiang Li!!" Xin Qian terus memanggil nama Jiang Li dan mengikutinya.


Xin Qian menghadang Jiang Li dan memegang tangan kanan Jiang Li dengan pelan.


"Aku mohon, katakan kepadaku di mana kau sembunyikan mereka!" tanya Xin Qian dengan nada seperti orang yang ingin menangis.


"Mengapa aku merasa tidak tega jika melihatnya bersedih seperti ini? Mengapa para siluman itu sangat penting baginya?" batin Jiang Li.


"Jiang Li, aku mohon."


Belum sempat Jiang Li mengatakan sesuatu kepada Xin Qian, seorang Prajurit datang menghampiri mereka berdua.


"Tuan, raja Wang Shu memanggilmu," ucap Prajurit tersebut.


"Baiklah, aku akan segera datang," balas Jiang Li.


"Menyingkirlah! Aku harus pergi." Jiang Li melepaskan tangan Xin Qian dari tangannya.


"Jiang Li, katakan dulu ...." Xin Qian tidak sengaja menginjak hanfu Jiang Li yang membuatnya terpeleset.


"Entah mengapa setiap kali aku menatap wajahnya, aku merasa jika aku yang telah bersalah kepadanya," batin Jiang Li.


Jiang Li membantu Xin Qian berdiri lalu meninggalkannya sendiri. Xin Qian hanya bisa menatap Jiang Li yang kini telah berjalan jauh darinya.


*******


Seorang Dayang membawakan segelas susu hangat ke kamar Jiang Li. Dayang itu merasa sangat takut dan ragu memberikan minuman yang dibawanya kepada Jiang Li.


"Tuan, aku membawakan susu hangat untukmu. Minumlah susu itu selagi masih hangat," ucap Dayang tersebut.


Jiang Li meraih gelas itu, kemudian dayang itu langsung berjalan meninggalkan tempat tersebut.


"Tunggu!" Jiang Li menghentikannya.


Dayang itu menoleh sambil menundukkan pandangannya. Jiang Li mencium susu hangat tersebut, kemudian ia melempar gelasnya hingga pecah ke lantai.


"Apa yang kau masukkan ke dalam minuman itu?" Jiang Li menjambak rambut Dayang tersebut.

__ADS_1


"Aku tidak memasukkan apapun kedalam minuman itu, Tuan," balas Dayang tersebut.


"Aku mencium bau racun di dalamnya. Aku yakin ada seseorang yang memintamu untuk mencampurkan racun di dalamnya."


"Tidak, Tuan. Aku tidak mencampurkan racun ke dalam minuman itu."


Xin Qian, Lui Wei, Zhang Pei dan Shishi datang ke kamar Jiang Li karena mendengar suara ribut tersebut.


"Jiang Li, apa yang kau lakukan kepadanya?" Xin Qian melepaskan tangan Jiang Li yang menjambak rambut dayang tersebut.


"Kurang ajar! Dia telah mencampurkan racun kedalam minumanku." Jiang Li menunjuk ke arah Dayang tersebut.


"Tidak, Yang Mulia Ratu. Hamba tidak mungkin berani melakukannya," balas Dayang tersebut.


"Jiang Li, dia tidak mungkin melakukan hal itu." Xin Qian membela Dayang itu.


"Oohh, aku tahu sekarang. Kau lah yang sebenarnya telah mencampurkan racun itu kedalam minumanku."


"Tidak, Jiang Li. Aku tidak melakukannya."


"Aku tidak percaya denganmu! Kau ingin membalas dendam kepadaku, bukan? Karena aku menyembunyikan para siluman itu."


Lui Wei tersenyum senang karena panahnya kini tepat mengenai sasaran. Ia lah yang telah mencampurkan racun itu kedalam minuman Jiang Li.


Ia tahu bahwa para siluman sangat peka terhadap aroma sesuatu, dan ia sebelumnya melihat Xin Qian sedang memarahi Jiang Li. Dengan begitu Jiang Li akan berpikir bahwa Xin Qian yang telah mencampurkan racun tersebut.


"Aku tidak perlu melakukan hal besar untuk membuat Ratu itu menderita. Kau sangat cerdas, Lui Wei," batin Lui Wei.


"Jiang Li, aku bersumpah aku tidak melakukan hal itu. Aku memang sangat membencimu dan aku juga sempat marah kepadamu, tapi tidak pernah sekalipun terlintas di benakku untuk membunuhmu, Jiang Li."


"Tapi aku tetap tidak percaya kepadamu!"


"Aku percaya bahwa Yang Mulia Ratu tidak mungkin melakukan hal itu. Karena dia bukanlah manusia kejam sepertimu," ucap Zhang Pei kepada Jiang Li.


Jiang Li lalu memukul wajah Zhang Pei, kemudian Zhang Pei membalasnya. Xin Qian menghentikan perkelahian antara keduanya.


"Hentikan semua ini! Aku sudah mengatakannya kepadamu, Jiang Li bahwa aku tidak memasukkan racun kedalam minuman itu. Bukankah kau adalah seorang siluman? Kau seharusnya memiliki penciuman yang baik tentang siapa yang sedang berbohong di sini." Xin Qian lalu meninggalkan mereka semua.


Zhang Pei dan Shishi ikut pergi meninggalkan kamar Jiang Li.

__ADS_1


Lui Wei mendekati Jiang Li dan mencoba untuk menenangkannya, tetapi Jiang Li malah membentaknya dan memintanya untuk keluar dari kamarnya. Lui Wei sangat kesal dengan sikap Jiang Li kepadanya, lalu ia keluar dari sana dalam keadaan marah.


__ADS_2