The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 39


__ADS_3

Tidak lama setelah itu, Lui Wei datang dan menyerang Xin Qian dengan tiba-tiba. Tetapi untungnya Jiang Li melindungi Xin Qian dari serangan itu.


"Lui Wei, apa kau sudah gila?" bentak Jiang Li.


"Untuk apa kau melindunginya? Aku hampir saja berhasil menghilangkannya dari dunia ini, tetapi kau malah menyelamatkannya, Jiang Li," balas Lui Wei dengan nada marah.


Lui Wei mencoba untuk menyerang Xin Qian, tetapi Jiang Li dengan sigap menyerang balik Lui Wei dan membuatnya merasa kesal.


"Aku tidak tahu apa yang telah wanita itu lakukan kepadamu, Jiang Li. Tetapi mengapa kau selalu melindunginya? Ingat, Jiang Li! Tujuanmu adalah membalaskan dendam kepadanya dan juga Ayahandanya, bukan jatuh cinta dengannya!" Lui Wei menegaskan.


Jiang Li hanya diam tanpa membalas ucapan Lui Wei. Kemudian ia menarik tangan kanan Xin Qian dan mengajaknya untuk pergi, tetapi Xin Qian menolaknya.


"Kau ingin membawaku kemana?" tanya Xin Qian. Ia menarik kembali tangannya dan membuat langkah kaki Jiang Li terhenti.


Jiang Li kemudian membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Xin Qian.


"Aku akan membawamu pergi dari tempat ini," balas Jiang Li dengan ketus.


"Tidak! Aku tidak ingin pergi denganmu, aku tidak mungkin meninggalkan Zhang Pei di sini," ucap Xin Qian sambil melepaskan tangannya dari Jiang Li.


"Oohh, jadi kau pergi dari istana tanpa meminta izin dariku karena kau pergi bersama Zhang Pei?"


"Sebenarnya aku tidak meminta izin kepadamu karena aku tahu jika kau tidak akan mengizinkanku untuk keluar dari istana. Lagipula aku adalah seorang Ratu, aku memiliki kebebasan sendiri di negeriku."


"Kau memang seorang Ratu, tetapi aku adalah seorang Raja sekaligus suami bagimu. Jadi sebagai seorang istri kau harus tunduk dan patuh terhadap perintahku!"


"Ikut denganku sekarang!" Jiang Li menarik tangan kiri Xin Qian.


Tiba-tiba Zhang Pei datang dan menarik tangan kanan Xin Qian.


"Tidak, Yang Mulia! Aku datang ke tempat ini bersama Yang Mulia Ratu, jadi lebih baik Yang Mulia Ratu kembali ke istana bersamaku. Lagipula aku tidak percaya jika Yang Mulia Ratu akan sampai di istana dengan selamat," ucap Zhang Pei kepada Jiang Li.


"Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Jiang Li.


"Maksudku adalah jika Yang Mulia Ratu kembali bersamamu juga Lui Wei, aku takut Lui Wei akan kembali menyakiti Yang Mulia Ratu," balas Zhang Pei dengan ketus. Zhang Pei menatap Jiang Li alih-alih menatap Lui Wei.

__ADS_1


"Dia akan tetap kembali bersamaku!" Jiang Li menegaskan, lalu ia menarik tangan Xin Qian dan meninggalkan Zhang Pei bersama Lui Wei.


Lui Wei berjalan mendekati Zhang Pei tetapi kedua matanya menatap ke arah Xin Qian dan Jiang Li yang mulai jauh meninggalkan mereka.


"Kau sama sepertiku, Zhang Pei. Hanya saja kita berbeda memilih jalan untuk mendapatkan seseorang yang kita cintai," ucap Lui Wei sambil tersenyum licik.


"Tidak, Lui Wei! Kita sangatlah berbeda. Yang Mulia Ratu mencintaiku sedangkan Jiang Li tidak mencintaimu," balas Zhang Pei sambil tersenyum.


"Kurang ajar! Berani sekali dia berkata seperti itu kepada ku?" batin Lui Wei.


"Zhang Pei, bagaimana jika kita bekerja sama untuk mengadu domba Yang Mulia Ratu dan Jiang Li? Karena aku tidak suka melihat mereka bersama, dan aku yakin kau pasti merasakan hal yang sama denganku, Zhang Pei." Lui Wei mencoba untuk membujuk Zhang Pei agar mau bekerja sama dengannya.


Zhang Pei menyeringai seolah meremehkan pendapat yang diucapkan oleh Lui Wei.


"Tawaran yang bagus, Lui Wei. Tetapi aku sama sekali tidak tertarik dengan tawaran itu. Aku akan mendapatkan Yang Mulia Ratu dengan caraku sendiri, dan mengadu domba orang lain bukankah cara yang bagus untuk mendapatkan seseorang yang kita cintai." Zhang Pei membalas tawaran Lui Wei sambil tersenyum ke arah Lui Wei. Kemudian ia pergi meninggalkan Lui Wei menggunakan ilmu teleportasi.


Raut wajah Lui Wei pun seketika berubah. menjadi sangat marah.


"Berani sekali dia menolak tawaranku?" batin Lui Wei.


*******


Saat Xin Qian dan Jiang Li sampai di pedesaan, Xin Qian melepaskan tangannya dari genggaman tangan Jiang Li.


"Jiang Li, lepaskan tanganmu dariku!" Xin Qian menghempaskan tangan Jiang Li.


Jiang Li hanya diam dan kembali menarik tangan Xin Qian, tetapi Xin Qian melepaskan tangannya kembali.


"Jiang Li, aku aku tidak ingin kau kau memegang tanganku dengan kencang dan membuatku merasa sakit. Aku akan kembali ke istana sendiri," ucap Xin Qian.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke istana seorang diri," balas Jiang Li.


Seorang petani tidak sengaja menabrak Xin Qian dan membuat lengan kiri Xin Qian yang terluka kembali mengeluarkan darah.


"Aahh! Sshhh!"

__ADS_1


Jiang Li langsung mendekati Xin Qian dan memarahi petani tersebut.


"Kau tidak tahu siapa kami? Apa kau tidak memiliki mata sehingga kau tidak dapat melihat jika ada kami berada di sini?" tanya Jiang Li kepada petani tersebut dengan sangat marah.


"Jiang Li, jangan berbicara seperti itu kepada orang tua!" balas Xin Qian dengan lembut.


"Dia telah membuat lenganmu berdarah. Dan dia seharusnya mendapatkan hukuman yang berat atas perbuatannya," ucap Jiang Li dengan nada marah.


Semua orang yang berada di sana kemudian berkumpul menghampiri mereka bertiga.


"Yang Mulia Ratu, hamba sungguh tidak sengaja menabrak Yang Mulia Ratu. Mohon ampuni hamba, Yang Mulia," ucap petani tersebut kepada Xin Qian.


"Jangan terlalu dipikirkan, Paman. Aku tidak apa-apa," balas Xin Qian dengan nada rendah.


"Dia harus mendapatkan hukuman. Prajurit, bawa dia ke istana dan penjarakan dia!" seru Jiang Li kepada para prajurit.


"Baik, Yang Mulia," ucap para Prajurit.


"Yang Mulia Raja, tolong ampuni hamba! Hamba tidak sengaja menabrak Yang Mulia Ratu. Tolong lepaskan hamba!" Petani itu meronta-ronta dan memohon agar dilepaskan.


"Tunggu apa lagi kalian? Cepat penjarakan dia!"


"Tidak, Jiang Li. Ini hanyalah masalah yang sepele dan kau membesarkannya. Lagipula Paman itu tidak sengaja menabrakku. Apa kau tidak melihat kaki kanannya? Dia tetap melakukan pekerjaannya meskipun salah satu kakinya sedang terluka. Tidak mudah baginya untuk berjalan dan membawa sekarung jagung dengan keadaan kaki yang seperti itu."


"Prajurit, lepaskan saja Paman itu. Dia tidak sengaja menabrakku."


"Baik, Yang Mulia Ratu."


Petani itupun dilepaskan dan mendekat ke arah Xin Qian.


"Tetapi, Yang Mulia. Lenganmu berdarah, aku sungguh minta maaf," ucap petani tersebut.


"Tidak apa-apa, Paman. Lenganku sudah terluka sebelum aku datang kemari."


"Sekali lagi terima kasih, Yang Mulia Ratu karena telah melepaskan hamba."

__ADS_1


"Sama-sama, Paman. Kalau begitu kami harus pergi."


"Baiklah, Yang Mulia."


__ADS_2