The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 60


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian ....


Xin Qian kini tidak lagi tinggal di dalam istana. Istana tersebut telah ia hancurkan dan ia memutuskan untuk mencabut gelarnya sebagai seorang Ratu di negeri Peacelavia.


Xin Qian ingin melupakan kenangan indah dan juga pahit selama ia berada di istana tersebut. Ia ingin memulai kehidupan baru bersama putra tercintanya.


Xin Qian sedang duduk termenung di samping sebuah danau. Tidak lama setelah itu, datang seorang anak laki-laki yang membawa setangkai bunga mawar di tangan kanannya.


Anak laki-laki itu memeluk erat Xin Qian dari belakang dan mencium pipinya.


"Lian? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Xin Qian dengan lembut.


"Seharusnya aku yang bertanya kepada Ibunda. Apa yang Ibunda lakukan di sini?" tanya Lian dengan wajah imutnya.


"Ibunda hanya duduk dan berdiam diri di sini."


"Apakah Ibunda sedang merindukan kekasih Ibunda dan juga Ayahanda?"


Xin Qian menundukkan kepalanya dan meneteskan air mata. Lian yang merasa bersalah karena telah mengingatkan Xin Qian dengan masa lalunya, ia lalu mengangkat dagu Xin Qian dengan pelan.


"Ibunda ... tolong maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuat Ibunda bersedih."


"Tidak, Lian. Kau tidak pernah membuat Ibunda bersedih, justru kau yang selalu membuat Ibunda merasa bahagia."


"Tapi Ibunda menangis setelah aku menanyakan hal itu kepada Ibunda."


"Kau membawakan bunga untuk Ibunda?"


Lian langsung tersenyum dan memberikan bunga tersebut kepada Ibundanya.


"Ini untuk Ibunda."


"Aku tidak ingin Ibunda merasa sedih. Aku ingin Ibunda selalu bahagia walaupun tidak ada kekasih ataupun Ayahanda di sisi Ibunda."


Xin Qian memeluk erat putranya, seakan ia tidak ingin melepaskan pelukan itu.


"Andaikan kau tahu, Putraku. Sampai saat ini Ibunda masih tidak bisa melupakan pria yang sangat Ibunda cintai. Walaupun dia bukanlah ayahandamu, tetapi dia adalah seseorang yang sangat penting dalam kehidupan Ibunda." Xin Qian membatin.


Lian tiba-tiba melepaskan pelukan itu dan membuat Xin Qian terlihat bingung.


"Jika Ibunda terus menangis, aku tidak akan memeluk Ibunda lagi."


"Lian ...."


"Aku tidak ingin melihat Ibunda menangis, karena hatiku terasa sangat sakit saat melihat air mata Ibunda menetes."


"Ibunda berjanji, mulai saat ini Ibunda tidak akan menangis lagi."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Tentu saja. Ibunda tidak mungkin berbohong kepadamu."


"Apakah Ibunda menyukai bunga yang telah aku bawakan untuk Ibunda?"


"Ibunda sangat menyukainya, terima kasih."


"Jangan ucapkan terima kasih kepadaku. Tapi ucapkanlah terima kasih kepada paman Ji Nian, karena paman Ji Nian yang telah memetik bunga mawar ini."


Setelah itu Ji Nian datang sambil menggendong kucing kesayangan Xin Qian, yaitu Zhulong.


"Ji Nian, mengapa kau memberikan bunga ini untukku?"


"Yang Mulia Ratu, aku hanya berusaha untuk mengurangi kesedihanmu. Aku tidak rela melihat wajah cantikmu itu dipenuhi dengan air mata."


"Terima kasih, Ji Nian."


Ji Nian membalas ucapan terima kasih dari Xin Qian dengan senyuman yang tulus.


"Paman, mengapa Paman selalu memanggil Ibundaku dengan sebutan Yang Mulia Ratu? Apakah Ibundaku adalah seorang Ratu?"


"Setiap wanita yang rela berkorban demi orang lain memang pantas disebut sebagai seorang Ratu."


"Memangnya Ibunda berkorban untuk apa, Paman?"


"Ibunda yang telah mengandung dan melahirkanku."


"Lalu mengapa kau menanyakan apa yang telah Ibundamu korbankan untukmu? Seorang Ibu bahkan rela mati demi anaknya, dan sebagai seorang anak kita harus selalu mencintai dan menghormatinya."


"Ibunda, aku sangat mencintai Ibunda lebih dari apapun."


"Ibunda juga sangat mencintaimu lebih dari apapun."


"Paman, apa kau juga mencintai Ibundaku? Bukankah paman juga seorang putra?"


"Tentu saja. Paman sangat mencintai ibundamu dan juga dirimu."


Lian melihat banyak anak kecil yang sedang bermain bola. Kemudian ia berlari menghampiri mereka tanpa meminta izin dari Xin Qian ataupun Ji Nian.


"Lian! Apa yang ingin kau lakukan?"


"Biarkan saja, dia masih anak-anak. Yang ada dalam pikirannya pasti hanya tentang bermain dan tersenyum. Dia masih sangat kecil, dia tidak boleh merasakan kesedihan apapun."


"Ji Nian, aku sangat khawatir kepadanya. Dia pasti akan tumbuh dengan sangat cepat. Aku takut jika dia juga akan pergi meninggalkanku."


"Dia tidak akan melakukan hal itu. Kau adalah cinta pertamanya, dia akan selalu bersamamu."

__ADS_1


"Lalu bagaimana jika dia menemukan wanita yang sangat dia cintai lebih dari dia mencintaiku?"


"Dia adalah anak yang baik. Dia pasti merasakan kesedihan yang kau alami jika kau jauh darinya. Kau harus percaya, walaupun Lian menemukan wanita yang dia cintai, dia akan tetap menjadikanmu sebagai wanita pertama yang sangat dia cintai. Karena cintamu yang begitu besar kepadanya, tidak ada cinta wanita lain yang bisa mengalahkannya."


Xin Qian berjalan mendekati Ji Nian dan mengelus bulu halus Zhulong.


"Sebesar apapun cinta yang aku miliki untuk orang lain dan jika langit telah menuliskan takdir untuk seseorang, aku tidak bisa melawannya. Aku hanya ingin dia tumbuh menjadi seorang ksatria yang memiliki hati baik dan selalu berpihak kepada kebenaran."


"Kau adalah wanita yang sangat hebat, Lian pasti sangat bangga memiliki Ibunda sepertimu."


"Ji Nian, dari pengalaman hidup yang aku jalani ... aku sekarang mengerti jika tidak ada yang abadi di dunia ini. Entah itu kekuatan, kekuasaan, paras, ataupun cinta."


"Tidak akan ada lagi ancaman bagi negeri ini. Sekarang negeri ini akan kembali damai seperti namanya."


"Yang Mulia, aku pernah berpikir jika Zhang Pei dan Jiang Li lebih beruntung dariku. Tapi ternyata aku salah, akulah yang sebenarnya lebih beruntung daripada mereka. Aku sangat bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk menjalani hidup bersamamu."


"Ji Nian, kau adalah pria yang sangat baik. Kau sangat tulus dalam mencintaiku, tapi entah mengapa aku tidak bisa membuka sedikit hatiku untukmu."


"Yang Mulia, aku memang sangat mencintaimu. Dan aku sangat bahagia jika melihatmu tersenyum bahagia."


Xin Qian memeluk Ji Nian yang masih menggendong Zhulong. Mereka berdua tersenyum bahagia dan bunga sakura di sekitaran danau berguguran, seolah mereka ikut bahagia melihat momen tersebut.


Dari kejauhan terlihat kelima master sedang memperhatikan Xin Qian dan juga Ji Nian. Mereka semua merasa sangat bahagia karena melihat Ratu mereka tersenyum bahagia.


"Semesta ini memang adil. Ia menyatukan dua insan yang saling mencintai, tetapi ia melukai hati insan yang lainnya. Lalu setelah itu, ia memisahkan dua insan yang saling mencintai, tetapi ia menggantinya dengan insan yang telah ia lukai hatinya."


"Kau benar, Master. Semua orang memiliki takdirnya sendiri dan semua orang berhak mendapatkan kebahagiaan."


Setelah percakapan tersebut, tiba-tiba sebuah bola datang menghampiri master Lin. Lalu Lian berlari menghampirinya.


"Master, aku tidak sengaja menendang bola itu ke arahmu. Maukah kau memaafkanku?"


"Mengapa kau terlihat takut seperti itu? Apa kau berpikir aku akan memarahimu?"


Lian menganggukkan kepalanya dan membuat semua Master tertawa.


"Bagaimana bisa aku memarahi anak kecil sepertimu?"


Master Lin mengambil bola tersebut dan memberikannya kepada Lian.


"Ini bolamu."


"Terima kasih, Master."


"Kembalilah bermain dengan teman-temanmu."


"Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2