The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 43


__ADS_3

Dua orang prajurit membawa seorang pria yang merupakan seorang kepala desa. Kepala desa tersebut meminta izin untuk bertemu dengan sang Raja. Kedua Prajurit itupun membawanya untuk mengahadap sang Raja di ruang tahta.


"Mohon ampun, Yang Mulia. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja," ucap salah satu Prajurit. Kedua Prajurit itu membungkuk dan memberi hormat.


"Siapa dia?" tanya Jiang Li kepada kedua Prajurit yang berada di depannya.


"Dia adalah seorang kepala desa, Yang Mulia," balas prajurit yang satunya.


"Yang Mulia, hamba kemari karena hamba ingin menyampaikan sesuatu, Yang Mulia."


"Apa yang ingin kau sampaikan?"


"Yang Mulia, sebenarnya para warga desa tidak memiliki cukup makanan pada musim dingin ini. Dan badai salju ini datang secara tiba-tiba, kami bahkan belum mempersiapkan segala sesuatunya. Bisakah Yang Mulia Raja membantu kami dengan menyumbangkan beberapa bahan pangan dari istana?"


"Untuk apa aku harus menyumbangkan bahan pangan istana untuk rakyat kecil seperti kalian?"


"Yang Mulia, tolong bantu kami. Jika kami kekurangan makanan maka kami tidak akan bisa melewati badai salju ini. Karena sangat sulit bagi kami untuk mendapatkan makanan dengan keadaan tanah yang dipenuhi dengan salju."


"Aku sama sekali tidak peduli dengan nasib para rakyat, karena satu-satunya hal yang aku pedulikan adalah kekuatan dan kekuasaan yang aku miliki."


"Yang Mulia, kau adalah seorang Raja di negeri ini. Hanya kau yang dapat membantu kami, Yang Mulia."


"Prajurit, bawa dia keluar dari istana ini! Dan jangan pernah kalian memberi bahan makanan kepadanya."


"Baik, Yang Mulia."


"Yang Mulia, saat raja Arlo masih menjadi seorang Raja di negeri ini, kami tidak pernah merasa kekurangan. Bahkan raja Arlo selalu mendahulukan kepentingan rakyatnya daripada kepentingan pribadinya. Tetapi mengapa kau tidak bersikap demikian, Yang Mulia?"


"Diam kau!! Jangan pernah membandingkan diriku dengan Rajamu yang sebelumnya. Aku bukanlah Putranya, jadi sifatku dan sifatnya sudah jelas berbeda."


"Prajurit, bawa dia keluar dari istana ini!"


"Baik, Yang Mulia."


"Yang Mulia, hamba mohon. Tolonglah kami, Yang Mulia."


"Ayo, cepat pergi dari sini!"


Kedua Prajurit itupun membawanya keluar dari istana.


Tanpa Jiang Li ketahui, ternyata Ji Nian mendengarkan pembicaraan antara Jiang Li dengan kepada desa.


"Dia benar-benar kejam. Dia bahkan tidak mau memberikan sedikit makanan untuk rakyatnya," batin Ji Nian sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


*******


Di kamarnya, Lui Wei sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu. Ia juga berbicara dengan dirinya sendiri dan memaki-maki Xin Qian.


"Jika aku hanya diam saja dan tidak melakukan apapun, kemungkinan besar Jiang Li memang akan jatuh cinta kepada Xin Qian. Bagaimanapun juga dia adalah manusia, dia pasti akan merasakan cinta ketika dia telah terbiasa bersama Xin Qian," ucapnya.


"Aku harus memikirkan cara yang lebih licik untuk menghancurkan Xin Qian."


"Aku tidak bisa menyingkirkan wanita itu, tetapi aku bisa membuatnya menderita. Aku akan membuatnya kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya," gumamnya sambil tersenyum licik.


Tiba-tiba terdengar suara pot jatuh dari luar kamar Lui Wei. Ia kemudian segera membuka pintu kamarnya, karena dia takut jika ada seseorang yang mendengar apa yang ia rencanakan.


"Siapa itu?" teriaknya.


Ternyata ada seorang Dayang yang sedang bersembunyi di balik tembok. Dayang itu tidak sengaja mendengar Lui Wei yang sedang berbicara seorang diri.


Dayang itu sangat ketakutan, ia hanya berharap semoga Lui Wei tidak menemukannya. Dayang itupun mengintip ke arah pintu kamar Lui Wei, tetapi ia tidak melihat Lui Wei berada di sana.


"Kemana perginya nona Lui Wei? Apa dia telah masuk kembali kedalam kamarnya?" ucapnya sambil melihat ke arah pintu kamar Lui Wei.


Tidak lama setelah itu, ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia berpikir itu adalah Lui Wei, ia sangat ketakutan. Kemudian Dayang tersebut menoleh ke belakang dan ia sangat terkejut melihat orang yang berada di depannya adalah Xin Qian.


"Yang Mulia Ratu." Dayang tersebut membungkukkan tubuhnya memberikan hormat kepada Xin Qian. Dayang tersebut juga masih merasa ketakutan dan tubuhnya gemetar.


"Yang Mulia, hamba ...."


"Mengapa kau sangat gugup seperti itu? Katakan, apa yang kau lakukan di sini!"


"Yang Mulia, hamba ingin memberitahukan sesuatu."


"Apa yang ingin kau katakan kepadaku?"


"Yang Mulia, sebenarnya hamba tidak sengaja lewat sini dan hamba mendengar jika nona Lui Wei ...."


Belum sempat Dayang tersebut menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Lui Wei datang dari arah belakang Xin Qian. Dayang itupun langsung melebarkan matanya karena ketakutan melihat Lui Wei.


Lui Wei pun berjalan pelan dan berdiri di samping Xin Qian.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Lui Wei kepada keduanya.


"Tidak ada, aku hanya sedang lewat," balas Xin Qian dengan ketus.


"Dayang, kau belum melanjutkan ucapanmu."

__ADS_1


"Yang Mulia, sebaiknya kita pergi saja dari sini."


"Mengapa harus pergi dari sini? Mengapa kau tidak mengatakannya kepada sang Ratu di hadapanku? Apa sebenarnya yang ingin kau ceritakan kepada sang Ratu adalah aku?"


"Lui Wei, mengapa kau selalu ingin mengetahui urusan orang lain? Mengapa kau tidak mengurus dirimu sendiri saja?"


"Dayang, ikut denganku sekarang!"


"Baik, Yang Mulia."


"Dayang itu pasti ingin memberitahu Xin Qian tentang rencanaku. Kau pikir aku akan diam saja? Lihat saja nanti, aku akan membuatmu tidak dapat mengatakan apa yang sedang aku rencanakan," batin Lui Wei.


Setelah Xin Qian dan Dayang tersebut menjauh dari Lui Wei, Xin Qian pun meminta Dayang tersebut untuk menceritakan apa yang ia dengar dari Lui Wei.


"Dayang, sekarang tidak ada Lui Wei atau orang lain di sini. Sekarang kau bisa menceritakan apa yang telah kau dengar dari kamar Lui Wei tadi."


"Baiklah, Yang Mulia."


Lagi-lagi, sebelum Dayang tersebut menceritakan rencana Lui Wei kepada Xin Qian, tiba-tiba Ji Nian datang menghampiri mereka.


"Yang Mulia Ratu." Ji Nian memberikan hormat.


"Ji Nian, apa yang kau lakukan di sini?"


"Bisakah kau ikut denganku sebentar? Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."


"Tapi, Ji Nian. Aku sedang--"


"Ini sangat penting, Yang Mulia."


"Baiklah, Ji Nian."


"Dayang, aku harus pergi."


"Bagaimana ini? Jika Yang Mulia Ratu pergi bersama ketua Ji Nian, aku tidak akan bisa menceritakan rencana nona Lui Wei untuk membunuh Yang Mulia raja Arlo," batin Dayang tersebut.


"Tapi, Yang Mulia. Ini sangatlah penting."


"Dayang, aku harus berbicara dengan Yang Mulia Ratu sekarang. Kau bisa berbicara dengan Yang Mulia Ratu nanti."


"Baiklah, Ketua."


Ji Nian dan Xin Qian meninggalkan Dayang tersebut seorang diri.

__ADS_1


"Yang Mulia Ratu pergi bersama ketua Ji Nian, aku tidak bisa memberitahunya. Kalau begitu aku akan memberitahukan hal ini kepada master Zhang Pei," gumamnya.


__ADS_2