
Saat Xin Qian kembali ke desanya, ia melihat seorang wanita menangis sambil memohon kepada dua pria yang membawa sebilah pedang.
"Cepat ambil semua barang berharga miliknya!" ucap salah satu pria tersebut.
"Tuan, tolong jangan ambil barang milikku. Aku tidak memiliki apapun lagi, karena barang-barang milikku telah habis aku jual untuk membayar semua hutang." Seorang wanita memohon kepada pria tersebut.
"Aku tidak peduli! Jika kau tidak mau membayar hutangmu sekarang, maka aku akan membawa barang-barang yang berada di dalam rumahmu."
"Tuan, tolong. Aku tidak memiliki apapun lagi, jangan ambil barang-barang di dalam rumahku."
Pria itu mengeluarkan semua barang milik wanita itu, tetapi Xin Qian langsung menghentikannya.
"Mengapa kalian membawa barang-barangnya pergi?" tanya Xin Qian dengan lembut.
"Tidak usah ikut campur urusan kami! Dia telah berjanji akan melunasi hutang-hutangnya selama satu bulan, tetapi dia tidak juga melunasinya."
"Nona, aku memang berjanji akan melunasi hutang-hutangku selama satu bulan. Tetapi mereka tidak bilang sebelumnya jika mereka memberikan bunga yang besar setiap harinya."
"Itu hanya alasanmu saja agar kau dapat menghindar dari kami."
"Aku tidak berbohong, Nona."
"Tuan, seharusnya kau memberikan keringanan kepada masyarakat kecil. Apa kau tidak merasa kasihan kepadanya?"
"Diam saja kau! Kau ini sangat cantik, tapi mengapa kau ikut campur dengan urusan kami? Bagaimana jika kau ikut saja dengan kami?"
"Benar. Kami akan memberikan apapun yang kau mau, karena kami punya segalanya."
"Apa kalian tidak merasa malu? Kalian membanggakan harta benda yang kalian dapatkan dengan cara merampas milik orang lain."
"Berani sekali kau berbicara seperti itu kepada kami?"
"Apa kau tidak tahu siapa kami?"
"Jika kalian memang merasa hebat, hadapi aku sekarang!"
"Kurang ajar! Berani sekali kau menantang kami?"
Kedua pria itu meletakkan barang-barang yang mereka bawa dan mulai menyerang Xin Qian. Xin Qian melawan mereka berdua dengan sangat hati-hati.
Karena kemampuan bela dirinya yang tinggi dan juga kekuatan yang ia miliki, kedua pria itu pun berhasil ia kalahkan.
"Ampun, Nona. Maafkan kami."
"Kami berjanji tidak akan mengambil barang-barang milik orang lain lagi."
"Jangan meminta maaf kepadaku, tapi mintalah maaf kepada wanita itu!"
"M-maafkan kami. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
"Benar. Kami juga akan menganggap hutang-hutangmu itu lunas."
__ADS_1
"Apa kalian bersungguh-sungguh?"
"Tentu saja. Kami bersungguh-sungguh mengatakan hal ini."
"Terima kasih banyak."
"Sama-sama. Kalau begitu kami akan pergi dari sini."
Setelah kedua pria itu pergi, wanita itu menghampiri Xin Qian dengan hati yang bahagia.
"Nona, terima kasih banyak atas bantuanmu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku jika kau tidak menolongku."
"Aku senang bisa membantumu."
"Nona, ambillah salah satu barang milikku sebagai ucapan terima kasih dariku."
"Tidak perlu. Aku ikhlas menolongmu."
"Nona, aku juga ikhlas memberikan salah satu barang milikku untukmu. Tolong jangan menolaknya dan membuatku merasa sedih, ambillah salah satunya."
Xin Qian bingung harus mengambil barang yang mana, karena ia pikir jika semua barang yang berada di depannya sangat dibutuhkan oleh wanita itu.
Hingga akhirnya Xin Qian melihat sebuah seruling kecil yang indah. Ia mengambilnya dan menunjukkan seruling tersebut kepada wanita itu.
"Apa kau keberatan jika aku mengambil seruling ini darimu?"
"Aku sungguh tidak keberatan. Hanya saja, kau adalah wanita dewasa. Tapi mengapa kau memilih seruling kecil itu?"
"Aku ingin memberikan seruling ini untuk putraku."
"Benar."
"Aku sempat berpikir jika kau ini masih lajang. Tapi kau terlihat sangat cantik dan anggun, walaupun kau telah memiliki seorang putra."
"Jangan berbicara seperti itu."
"Nona, mengapa kau malu mendengar ucapanku? Kau memang terlihat sangat cantik seperti seorang Ratu di negeri ini."
"Ratu?"
"Aku baru beberapa bulan tinggal di sini, jadi aku tidak ingat siapa namanya. Tetapi aku rasa wajahnya sama cantiknya denganmu. Apa kau tahu namanya?"
"Aku tidak tahu. Aku juga baru tinggal beberapa tahun di sini."
"Nona, maukah kau mampir ke rumahku?"
"Tidak perlu. Aku harus kembali pulang, karena aku pergi tidak memberi tahu Putraku."
"Lalu di mana suamimu?"
"Suamiku telah lama meninggal. Dan sekarang aku hanya tinggal bersama putraku, temanku dan juga para Master."
__ADS_1
"Di rumahmu pasti sangat ramai."
"Apa kau tidak memiliki keluarga di rumah?"
"Aku sekarang hanya hidup sebatang kara. Suami dan anakku telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang aku hanya menjalani hidup seorang diri."
"Jika kau mau kau boleh tinggal bersamaku."
"Tidak, Nona. Aku tidak bisa meninggalkan rumah ini, karena rumah ini memiliki banyak kenangan dari aku kecil hingga saat ini."
"Jangan bersedih seperti itu. Tidak ada yang abadi di dunia ini, kita pun nantinya akan mati menyusul keluarga kita. Harta benda dan segala sesuatu yang kita miliki akan lenyap dengan sendirinya. Tidak ada yang bisa di sombongkan di dunia ini."
"Nona, sepertinya masa lalumu sangat menyedihkan. Kau bahkan sampai mengeluarkan air mata membicarakan hal itu."
"Semua orang pasti memiliki masa lalu yang menyedihkan. Aku tidak pernah berpikir untuk melupakan masa laluku, karena hal itu tidak mungkin terjadi."
"Kau benar, Nona. Tidak ada seorangpun yang dapat melupakan masa lalunya. Dia hanya bisa menyembunyikan, tetapi tidak dapat menghilangkannya."
"Nona, jika aku boleh tahu. Apakah suamimu dulu adalah seorang ksatria atau Master?"
"Suamiku seorang ksatria. Memangnya ada apa?"
"Kakek buyutku dulu pernah berkata. Jika suami kita adalah seorang Master dan kemudian ia meninggal, kemungkinan besar ia akan hidup kembali."
"Bagaimana bisa hal itu terjadi?"
"Karena setiap Master itu memiliki banyak roh pelindung. Roh pelindung yang benar-benar mengabdikan diri mereka kepada Masternya, mereka akan bersatu dan membuat Master mereka kembali hidup."
"Aku tidak percaya dengan hal itu."
"Aku juga tidak percaya, karena aku sendiri belum pernah melihatnya. Tapi Kakek buyutku juga berkata jika tidak semua Master dapat hidup kembali, hanya beberapa orang yang terpilih saja yang dapat hidup kembali."
"Jika hal itu memang bisa terjadi, aku berharap Zhang Pei akan hidup kembali. Aku ingin kami kembali bertemu dan saling mencintai seperti dulu," batin Xin Qian.
"Nona, apa yang kau pikirkan?"
"Aku hanya sedang memikirkan ucapan Kakek buyutmu."
"Apa kau mulai mempercayainya?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku berharap hal itu memang benar-benar terjadi."
"Kau ingin suamimu hidup kembali?"
"Aku ingin pria yang aku cintai hidup kembali."
"Kalau begitu aku juga akan berdoa untukmu."
"Untukku?"
"Tentu saja. Pria yang kau cintai pasti sangat beruntung bisa memilikimu."
__ADS_1
"Terima kasih. Kalau begitu aku harus pergi."
"Baiklah, Nona. Aku juga sangat berterima kasih kepadamu."