The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 20


__ADS_3

Jiang Li sedang berdiri di depan jendela ditemani oleh burung gagak kesayangannya. Ia mengelus sayap Bingjie dengan lembut.


Bingjie selalu ada untuknya saat susah maupun senang, tetapi mulai saat ini mereka akan terpisah karena Jiang Li harus menjalankan tugas yang diberikan oleh Ayahandanya.


"Tuan, apa yang sedang kau pikirkan?"


"Bingjie, mulai saat ini kita harus terbiasa hidup tanpa satu sama lain."


"Apa maksudmu berbicara seperti itu?"


"Aku harus ke negeri Peacelavia untuk menjalankan rencana yang telah disusun oleh Ayahanda."


"Berapa lama kau akan di sana?"


"Sampai tujuan kami tercapai, yaitu merebut kembali batu permata dan kekuasaan Peacelavia dari tangan Arlo."


"Semoga kau berhasil, Tuan. Jika kau membutuhkan bantuanku, panggil saja aku. Aku akan selalu ada untuk membatumu."


Jiang Li meninggalkan Bingjie di kamarnya. Bingjie masih menatap pintu kamar Jiang Li yang sudah tertutup kemudian ia terbang dan meninggalkan kamar itu.


Jiang Li berjalan dengan cepat untuk menemui Wang Shu. Di saat yang bersamaan, Lui Wei juga datang dengan membawa kantong berisi abu. Lui Wei memberikan kantong yang ia bawa kepada Wang Shu.


"Jiang Li, bawalah kantong berisi abu ini ke negeri Peacelavia."


"Tapi untuk apa, Ayahanda?"


"Ini adalah abu dari iblis yang telah mati. Jika kau menyebarkan abu ini di tanah Peacelavia, maka iblis yang telah mati akan kembali bangkit. Para iblis itu akan membuat dinding pelindung langit perlahan hancur, dan hal itu akan mempermudah Ayahanda untuk masuk ke negeri Peacelavia."


Jiang Li meraih kantong yang berada di tangan kanan Wang Shu.


"Baiklah, Ayahanda. Aku akan pergi sekarang."


"Berhati-hatilah, Putraku."


Saat Jiang Li hendak meninggalkan tempat itu, Lui Wei tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Jiang Li, aku akan sangat merindukanmu. Kau harus menyebarkan abu itu, agar aku dapat menemuimu."


Jiang Li melepaskan pelukan Lui Wei kemudian menatap Lui Wei dengan wajah datar.


"Aku harus pergi." Jiang Li melepaskan tangan Lui Wei dan meninggalkan tempat itu.


"Jangan khawatir, Lui Wei. Jika kau dapat membantu ku untuk merebut kekuasaan Peacelavia, aku akan menikahkan kau dengan Jiang Li." Wang Shu berjalan mendekati Lui Wei.


"Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Jiang Li, Yang Mulia Raja. Dengan senang hati aku akan membantumu."


"Bagus, Lui Wei."


Jiang Li telah keluar dari negeri Havocia dan kini ia harus melewati hutan es untuk menuju Peacelavia. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk melewati hutan tersebut, karena hutan itu dijaga oleh raksasa es yang sangat kuat.

__ADS_1


Raksasa itu diciptakan oleh Xin Qian untuk menjaga hutan es dari para penyusup yang hendak menuju Peacelavia.


Saat Jiang Li telah melewati setengah dari hutan es, tiba-tiba es yang dipijaknya bergetar dan menggoyangkan segala benda yang berada di atasnya.


Jiang Li yang sudah paham bahwa ini adalah pertanda akan munculnya makhluk lain dari balik es, ia terbang untuk menghindari makhluk tersebut.


Dan benar saja, seorang raksasa muncul dari balik bongkahan es. Raksasa itupun langsung menyerang Jiang Li dengan cara yang brutal. Ia merasakan bahwa Jiang Li merupakan ancaman bagi Peacelavia.


Dalam pertarungan itu, Jiang Li berhasil menghancurkan raksasa es tersebut. Jiang Li pun segera pergi meninggalkan tempat itu.


Jiang Li telah sampai pedesaan, ia kemudian bertanya dimana letak istana Peacelavia kepada seorang petani.


"Paman, bisakah kau memberitahuku dimana letak istana Peacelavia?"


"Istana Peacelavia berada tidak jauh dari menara tinggi di pinggir sungai. Kau berjalan saja lurus, maka kau akan menemukan sebuah sungai dan menara yang tinggi. Jika kau telah sampai di sana, kau akan melihat istana Peacelavia yang sangat besar dan indah."


"Terima kasih, Paman."


"Sama-sama."


"Paman, aku harus pergi."


"Berhati-hatilah engkau, anak muda."


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya ia sampai di sebuah sungai. Ia beristirahat sejenak dan mengambil air dari sungai untuk mencuci wajahnya. Jiang Li berdiri dan melihat ke sekelilingnya, orang-orang di sana hidup dengan damai dan penuh tawa.


"Orang-orang ini memang tidak memiliki rasa bersalah sama sekali. Mereka masih bisa tertawa bahagia setelah mencuri batu permata. Lihat saja, aku akan mengambil kembali batu permata itu dan membuat kalian semua hancur," gumamnya.


"Yang Mulia Raja, ada seorang pemuda yang ingin bertemu dengan Yang Mulia."


Jiang Li menghadap raja Arlo dan para master lalu membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


"Anak muda, siapa namamu?"


"Yang Mulia, namaku Jiang Li."


"Dari mana asalmu? Dan apa tujuanmu datang kemari?"


"Yang Mulia, hamba berasal dari desa terpencil di negeri ini dan hidup sebatang kara. Hamba ingin menjadi ksatria yang tangguh agar hamba dapat melindungi negeri ini dari para iblis dan siluman."


Master Lin berjalan mendekati Jiang Li lalu menggores jari telunjuknya sendiri hingga berdarah, lalu mendekatkan jari telunjuknya ke hidung Jiang Li.


"Maaf, Paman. Apa yang sedang Paman lakukan? Mengapa menggores jari Paman sendiri?" Jiang Li yang kebingungan dengan sikap master Lin.


"Apa kau sama sekali tidak tertarik dengan darah manusia?" Master Lin menurunkan tangannya.


"Apa yang sedang Paman bicarakan? Mengapa aku harus tertarik dengan darah manusia?"


"Jiang Li, aku tahu jika kau adalah manusia setengah siluman. Aku hanya ingin memastikan jika kau benar-benar tidak tertarik dengan darah manusia."

__ADS_1


Jiang Li sangat terkejut karena master Lin mengetahui jika dirinya merupakan manusia setengah siluman. Jiang Li langsung mengeluarkan pedangnya dan menyodorkan pedangnya ke dada master Lin.


Master lainnya berdiri karena terkejut saat Jiang Li menyodorkan pedangnya ke dada master Lin.


"Tenanglah, anak muda! Aku adalah master Lin, dan para master memiliki perasaan yang kuat terhadap para siluman."


"Paman, maafkan aku. Aku pikir hanya siluman yang dapat mengetahui hal itu, aku juga tidak tahu jika kau adalah seorang Master di istana ini."


"Jiang Li, mulai saat ini aku adalah Mastermu dan kau adalah muridku. Lain kali kau harus bisa mengendalikan emosimu."


"Baiklah, Master. Sekali lagi aku minta maaf."


Master Chen mengantarkan Jiang Li menuju kamarnya, saat itu juga mereka berpapasan dengan Ji Nian.


"Master Chen!" Panggil Ji Nian.


"Ji Nian, kau sudah sehat?"


"Seperti yang Master lihat sekarang, aku sudah lebih baik."


"Syukurlah."


"Ji Nian, perkenalkan ini adalah Jiang Li. Dia merupakan murid baru di sini."


Ji Nian dan Jiang Li memang sama-sama dingin dan juga tidak terlalu peduli satu sama lain. Ji Nian melihat Jiang Li dari bawah sampai atas, hal itu membuat Jiang Li tidak nyaman.


"Mengapa kau melihatku seperti itu?" tanya Jiang Li ketus.


"Tidak ada. Aku hanya berpikir mengapa Master Lin menerima siluman sepertimu sebagai muridnya."


"Apa maksudmu?"


"Apa kau juga berasal dari negeri Longyou?"


"Tidak."


"Baguslah. Aku pikir kau adalah teman dari siluman aneh itu."


"Siapa yang kau maksud dengan siluman aneh?"


"Jiang Li, maksud Ji Nian adalah Zhang Pei. Dia juga memiliki darah setengah siluman sepertimu, tetapi dia berasal dari negeri Longyou."


"Jadi, ada siluman selain diriku di istana ini?" batin Jiang Li.


"Ji Nian, jangan berbicara buruk tentang orang lain!"


"Master, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya."


"Aku harus pergi mengantarkan Jiang Li ke kamarnya."

__ADS_1


"Baiklah, Master."


__ADS_2