
Di depan istana telah berkumpul master Yibo dan beberapa prajurit yang sedang menunggu Xin Qian dan Zhang Pei. Xin Qian dan Zhang Pei pun sampai di sana.
Zhang Pei membantu Xin Qian untuk menaiki kereta kerajaan. Setelah itu Zhang Pei naik ke atas kudanya dan mulai berjalan di depan kereta yang dinaiki Xin Qian.
Saat sedang dalam perjalanan, master Yibo yang berada di samping kereta Xin Qian terus menatap wajah Xin Qian yang terlihat murung.
"Putri, mengapa kau terlihat tidak bersemangat seperti itu? Apa ada yang sedang kau pikirkan?" Master Yibo membuka pembicaraan.
"Master, aku hanya sedang mencemaskan Ji Nian."
"Untuk apa kau mencemaskannya? Ji Nian sebentar lagi akan pulih, kau tidak perlu khawatir."
"Tapi Ji Nian jadi seperti itu karenaku. Aku merasa sangat bersalah kepadanya."
"Putri, berhentilah berpikir seperti itu! Ji Nian adalah seorang ketua, dan tugas utamanya adalah melindungimu. Jadi kau tidak perlu khawatir jika dia terluka karena menyelamatkanmu, karena itu merupakan tanggung jawabnya."
"Kau akan bertemu dengan para rakyat, jadi tidak pantas rasanya jika kau memasang wajah murung seperti itu."
Zhang Pei sedikit menoleh karena mendengar pembicaraan mereka. Sedangkan Xin Qian hanya terdiam kemudian tersenyum.
Mereka pun sampai di pedesaan, salah satu prajurit membantu Xin Qian untuk turun dari kereta. Para rakyat menyambut kedatangan mereka dengan hangat.
Tanpa banyak bicara, Xin Qian pun meminta salah satu Prajurit untuk membawakan kotak yang berada di belakang kereta. Kotak itu berisi segerombolan kunang-kunang yang akan ia sebarkan di langit pedesaan.
Xin Qian meraih kotak tersebut dan membukanya. Segerombolan kunang-kunang itu terbang di atasnya, ia lalu mengeluarkan sihir yang membuat kunang-kunang itu bersinar sangat terang. Segerombolan kunang-kunang itu kini menyebar dan menerangi langit Peacelavia.
"Putri, kami sangat berterima kasih kepadamu dan juga anggota kerajaan. Kalian selalu membantu para rakyat yang sedang kesusahan," ucap salah satu rakyat.
"Kami hanya menginginkan kedamaian, kami senang jika dapat membantu kalian," balas Xin Qian.
"Kunang-kunang ini akan menemani malam kalian dan mereka akan pergi dengan sendirinya ketika matahari terbit." Master Yibo menjelaskan.
"Baik, Master. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih karena telah membantu kami."
Setelah cukup lama berbincang-bincang, master Yibo mengajak Xin Qian dan rombongannya untuk kembali ke istana. Mereka pun berpamitan dengan semua orang yang berada di sana.
Saat sedang dalam perjalanan untuk pulang, tiba-tiba ada seekor macan yang melintas di depan mereka. Sontak hal itu membuat orang yang menjalankan kereta istana menarik tali yang mengikat dua ekor kuda. Kereta istana mendadak berhenti dan membuat Xin Qian hampir saja terbentur.
Zhang Pei meminta izin kepada master Yibo untuk mengejar macan tersebut. Master Yibo pun mengizinkannya lalu Zhang Pei pergi mencari macan tersebut.
Ia melihat bercak darah yang berceceran di sana, kemudian ia mengikuti bercak darah tersebut. Setelah melewati semak-semak yang cukup lebat, akhirnya Zhang Pei bertemu dengan seekor macan.
__ADS_1
Zhang Pei sangat terkejut karena melihat macan yang ia cari mengalami luka yang parah dibagian kakinya. Macan tersebut juga telah melahirkan seorang bayi. Zhang Pei mendekati macan tersebut dan segera mengobatinya.
"Master, bisakah kau melakukan sesuatu untukku?"
"Apa yang kau inginkan?"
"Master, aku sudah tidak kuat menahan rasa sakit ini. Walaupun kau telah mengobatiku, tetapi tetap saja hari ini adalah hari terakhir aku hidup di dunia."
"Apa yang kau katakan? Kau harus tetap hidup, bayi ini masih sangat membutuhkan Ibunya."
"Master, tolong bawa bayiku ke istana dan jagalah dia dengan baik. Kelak ketika dia telah dewasa, dia akan mengabdi kepadamu."
Bayi macan tersebut tersenyum bahagia ketika Ibunya mencium wajahnya untuk pertama dan terakhir kalinya.
"Aku memberinya nama Lani, agar kelak dia menjadi macan betina yang dapat bermanfaat bagi mu dan juga orang lain."
Induk macan tersebut berjalan mendekati Zhang Pei dan mengeluarkan kristal dari kepalanya, lalu Zhang Pei mengambil kristal tersebut. Seketika induk macan tersebut terjatuh, Zhang Pei memeriksanya dan ternyata induk macan itu sudah tidak bernyawa.
Zhang Pei menghampiri Lani yang tersenyum kepadanya. Zhang Pei ikut tersenyum lalu membawa Lani kembali menyusul rombongannya.
Sesampainya di sana, master Yibo langsung turun dari kudanya ketika melihat pakaian Zhang Pei dipenuhi dengan darah.
Xin Qian yang mendengar jika Zhang Pei sudah kembali, ia langsung turun dari kereta. Ia sangat terkejut melihat pakaian Zhang Pei yang penuh darah dan menggendong seekor bayi macan.
"Zhang Pei, apa yang terjadi?"
"Ibu dari bayi ini telah mati dan dia memintaku untuk merawat bayinya."
"Kalau begitu kita harus segera kembali ke istana."
*****
Di dalam kamar, Shishi terlihat sedang duduk di kursi dan membaca buku, sesaat ia melihat ke arah luar jendela karena mendengar suara rombongan dari istana telah kembali. Shishi berjalan mendekati jendela dan membuka tirai yang menutupinya.
"Apa yang sedang dia bawa?" Shishi penasaran dengan sesuatu yang dibalut dengan kain dan digendong oleh Zhang Pei. Shishi kemudian pergi untuk menyusul Zhang Pei.
"Putri, aku akan membawa Lani ke kamarku."
"Kau memberinya nama Lani?"
"Bukan aku, tapi Ibunya yang memberikan nama itu."
__ADS_1
"Ibunya pasti ingin dia menjadi anak yang dapat bermanfaat untuk orang lain."
"Kau benar."
"Master, bolehkah aku menggendongnya? Bayi macan ini sangat lucu." Shishi meraih Lani dari Zhang Pei.
"Dimana Ibu dari bayi macan ini? Apa saat kau menemukannya dia sudah terlantar," tanya Shishi sambil menggendong bayi macan tersebut.
"Ibunya mati setelah melahirkannya," balas Zhang Pei.
"Sungguh malang nasibmu. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan membantu master Zhang Pei untuk merawatmu." Shishi mengelus bulu halus Lani, tetapi Lani malah menendang wajah Shishi dengan kedua kakinya.
Sontak hal itu membuat Zhang Pei dan Xin Qian tertawa. Zhang Pei meraih Lani dan menggendongnya.
"Aku rasa Lani tidak ingin jika kau yang menggendongnya." Zhang Pei tersenyum dan berlalu begitu saja.
"Shishi, jangan dengarkan ucapan Zhang Pei. Dia memang sering bergurau." Xin Qian meninggalkan Shishi sendirian.
"Menjengkelkan sekali," batin Shishi.
Xin Qian pergi ke kamar Ji Nian, tetapi saat itu ia tidak melihat Ji Nian di kamarnya. Xin Qian merasa ada seseorang yang sedang mendekatinya dari belakang, ia pun berbalik.
"Ji Nian!" Xin Qian terkejut melihat Ji Nian yang tiba-tiba berada di depannya.
Ji Nian tertawa bahagia karena berhasil membuat Xin Qian terkejut.
"Kau senang sekarang?" Xin Qian berjalan mendekati jendela.
"Putri, mengapa kau marah hanya karena hal kecil seperti ini?" Zhang Pei berdiri disamping Xin Qian.
"Ji Nian, aku tidak marah sama sekali." Xin Qian memandang langit.
"Bukankah malam ini bulan bersinar sangat terang?"
"Benar."
Ji Nian perlahan menyentuh tangan Xin Qian lalu menggenggamnya, Xin Qian terkejut kemudian menoleh ke arah Ji Nian.
"Putri, setiap detik yang aku habiskan bersamamu adalah suatu kebahagiaan bagiku." Ji Nian kemudian memejamkan matanya dan menghela napas panjang.
Xin Qian masih menatap Ji Nian lalu tersenyum.
__ADS_1