The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 13


__ADS_3

Tidak lama kemudian, seorang wanita berambut panjang mengenakan hanfu berwarna merah muncul dan mendobrak pintu ruangan itu.


"Senang sekali bertemu dengan kalian," ucapnya pelan sambil tersenyum dan membungkuk dihadapan mereka.


"Rong Peng? Bagaimana bisa kau ada disini?" tanya raja Arlo bingung.


"Aku adalah Rong Peng. Aku dapat melakukan hal apapun yang aku mau," balasnya sambil tertawa kecil.


"Rong Peng, apakah kau yang telah mengirimkan badai itu untuk menghancurkan negeri ini?" tanya master Lin Yang.


"Benar sekali, master Lin. Dugaan mu memang tidak pernah salah," balas Rong Peng tersenyum licik.


"Rong Peng, apa sebenarnya tujuanmu menyerang negeri ini? Bukankah ini adalah negeri yang sangat kau cintai?"


"Kau benar, Arlo. Ini adalah negeri yang sangat aku cintai, tapi tidak lagi untuk saat ini. Aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan didalamnya. Dan sekarang aku akan mengambil batu permata, karena dengan begitu aku akan menjadi orang terkuat di muka bumi ini. Aku akan menghancurkanmu dan juga seluruh penghuni istana ini."


"Rong Peng, kejadian itu sudah lama sekali. Biarlah semua berlalu dan kita hidup dengan damai."


"Bagaimana bisa aku melupakan kejadian yang telah membuatku hampir tidak waras?? Bagaimana bisa??"


"Ayahanda, siapa Bibi ini?" tanya Xin Qian dengan polosnya.


"Kau tidak mengenalku? Aku adalah Rong Peng, orang yang pernah sangat mencintai Ayahandamu. Tetapi cinta itu kini berubah menjadi rasa benci. Dia lebih memilih Ibumu yang jauh di bawahku. Dan kau adalah gadis dari keturunan Lieng, aku sangat membenci Ibumu." Rong Peng mengangkat pedangnya dan mencoba untuk membunuh Xin Qian.


Xin Qian bergegas mundur dan mengeluarkan pedang yang biasa ia gunakan. Terjadilah perang diantara keduanya, mereka saling beradu kekuatan berpedang.


Hingga akhirnya Xin Qian terpojok tepat di depan batu permata itu disegel. Rong Peng berniat untuk membelah tubuh Xin Qian dengan pedangnya, karena ia pikir Xin Qian saat itu sedang lemah.


Xin Qian berniat untuk keluar dari ruangan itu, tetapi Rong Peng menarik tangan Xin Qian dan berusaha untuk menusuknya.


Raja Arlo menarik tangan Rong Peng dan berusaha untuk merebut pedangnya, lalu Xin Qian memanfaatkan kesempatan itu untuk meloloskan diri.


Rong Peng mengejar Xin Qian dan mencekiknya menggunakan sihir. Xin Qian pun melayang dan menjerit kesakitan.


Ji Nian dan Zhang Pei mendengar suara Xin Qian kemudian masuk ke istana dan menyerang Rong Peng. Sihirnya pun hilang dan membuat Xin Qian terjatuh, tetapi Ji Nian langsung menangkap Xin Qian.

__ADS_1


Rong Peng kembali menyerang Xin Qian, tetapi Zhang Pei menyerang balik dan membuat Rong Peng tersungkur. Rong Peng tidak menyerah begitu saja, ia mengeluarkan pedangnya dan membacakan sebuah mantra kepada pedang itu.


Kemudian pedang itu berubah menjadi pedang api yang akan melelehkan segala benda yang disentuhnya.


"Putri, kau mundur lah! Aku dan ketua Ji Nian akan menyerangnya," ucap Zhang Pei meyakinkan.


Xin Qian mengangguk dan perlahan ia melangkahkan kakinya mundur. Rong Peng melawan dua ksatria itu seorang diri, tapi tidak merasa takut sedikitpun.


Mulai dari Ji Nian kemudian Zhang Pei, satu persatu berhasil Rong Peng jatuhkan.


"Aku akan membunuhmu," ucap Rong Peng.


Xin Qian mengamati langkah Rong Peng dengan sangat teliti. Tanpa ia sadari, kekuatan mata siluman ular berkepala lima ada pada dirinya. Ia dapat membuat seseorang merasa sakit tanpa harus menyentuhnya.


Zhang Pei dan Ji Nian kebingungan melihat Rong Peng yang tiba-tiba merasakan sakit pada bagian dadanya. Mereka semua menatap ke arah Xin Qian.


"Kau? Kekuatan apa itu?" Rong Peng bingung.


Rong Peng berlari membawa pedangnya dan menuju ke arah Xin Qian. Master Chen datang dan mengeluarkan gelombang air dari tangannya, lalu menarik pedang api yang dibawa oleh Rong Peng.


Rong Peng terbang dan menyerang master Chen dari atas, tetapi untungnya master Chen dapat menghindari serangan itu. Master Lin dan raja Arlo saat itu datang dan ikut menyerang Rong Peng. Rong Peng menyebarkan abu yang menyebabkan mata mereka menjadi perih.


Saat melihat semua orang di sana sedang lengah, ia mengambil pedang apinya dari tangan master Chen. Xin Qian yang melihat hal itu langsung mengeluarkan kekuatan es yang ia miliki dan membuat pedang api Rong Peng menjadi beku.


Rong Peng yang mengetahui jika pedangnya mulai membeku, ia langsung menyebarkan abu lagi ke arah Xin Qian dan hendak menusuk perut Xin Qian. Tetapi Ji Nian malah berdiri di depan Xin Qian, sehingga pedang api itu tepat mengenai perut Ji Nian.


"Ji Nian!!" teriak Xin Qian.


Rong Peng tersenyum licik dan pergi menuju ruangan disimpannya batu permata, abu itu pun perlahan hilang.


"Ji Nian! Kau tidak seharusnya melakukan hal ini."


"Putri, melindungimu bukan hanya sekedar tugas bagiku, tetapi juga hal yang ingin selalu aku lakukan. Aku tidak mungkin membiarkanmu terluka."


Semua orang menghampiri Ji Nian yang di perutnya sudah berlumuran darah.

__ADS_1


"Ji Nian..."


"Kejarlah wanita itu! Kau harus selamatkan batu permata, Putri."


"Tapi, kau ...."


"Cepat pergi, Putri!"


Xin Qian mengejar Rong Peng agar tidak masuk ke ruangan itu.


"Ji Nian, bertahanlah! Aku akan mengobatimu." Master Lin membopong Ji Nian dan membawanya ke kamar untuk diobati.


Rong Peng sampai di depan ruangan itu dan dapat membuka pintu dengan sangat mudah.


"Tidak ku sangka, kekuatan penjaga batu permata sangatlah lemah." Rong Peng tertawa.


Ia masuk dengan perlahan dan mendekati tempat disegelnya batu permata. Batu permata itu sekarang berada tepat di depan matanya.


"Arlo!! Dengan batu permata ini aku akan menjadi penguasa di dunia. Tidak ada siapapun yang dapat menghentikanku."


"Tidak! Kau tidak akan pernah mendapatkan batu permata itu. Batu permata itu adalah milik Peacelavia, kau tidak bisa mengambilnya."


"Jangan pikir kau telah membuat setengah pedang api ku membeku, aku menjadi takut denganmu."


Rong Peng menggenggam erat pedangnya dan perlahan pedang yang setengah membeku itu berubah menjadi pedang api seluruhnya.


"Xin Qian! Kau mungkin lupa bahwa aku adalah pengikut monster iblis, penguasa kegelapan. Menghabisimu bukanlah hal yang sulit bagiku."


Mereka saling menyerang, tetapi kali ini Rong Peng yang terpojok. Kemudian ia kembali menyerang Xin Qian dan membuatnya jatuh tersungkur. Rong Peng langsung membuat segel pelindung batu permata meleleh secara perlahan.


Segel pelindung itu hampir meleleh seluruhnya dan hanya menyisakan sedikit segel yang masih membeku. Xin Qian mengarahkan seluruh kemampuannya untuk membuat segel pelindung itu tetap membeku.


"Batu permata itu tidak boleh jatuh ke tangan orang yang salah." Xin Qian membatin.


"Dengan kekuatan empat penjaga langit, berilah aku kekuatan untuk melindungi batu permata. Bekukanlah! Bekukanlah!" Xin Qian melafalkan sebuah mantra.

__ADS_1


__ADS_2