
Jiang Li masuk ke kamar dan melihat Xin Qian sedang berdiri di depan jendela. Jiang Li menghampiri Xin Qian dan berdiri di belakangnya.
Xin Qian tidak sadar jika Jiang Li sedang berada di belakangnya. Jiang Li hendak menyentuh pundak Xin Qian, tapi kemudian ia menarik kembali tangannya.
Xin Qian menoleh dan terkejut karena melihat Jiang Li yang tiba-tiba berada di depannya.
"K-kau? Sejak kapan kau berada di sini?" tanya Xin Qian.
"Aku sudah di sini sejak tadi," balas Jiang Li dengan lembut.
"Tidak biasanya kau berbicara lembut kepadaku. Maksudku, malam ini sikapmu berbeda dari biasanya. Apa yang terjadi denganmu?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu."
"Apa itu?"
"Apakah selama ini sikap ku terlalu buruk kepadamu?"
"Untuk apa kau menanyakan hal itu?"
"Aku hanya ingin mengetahuinya."
Xin Qian membalikkan tubuhnya dan kembali menatap ke luar jendela.
"Jiang Li, untuk apa kau menanyakan hal yang sebenarnya kau sendiri telah mengetahui jawabannya?"
"Aku tahu jika selama ini aku telah melakukan hal yang buruk kepadamu. Tapi aku--"
"Wah, Jiang Li. Drama apa lagi yang akan kau lakukan? Kau berpura-pura mengakui kesalahanmu, lalu kau akan kembali memberikan penderitaan kepadaku?" Xin Qian menyeringai.
"Sampai kapan kau akan melakukan hal itu, Jiang Li?" tanya Xin Qian dengan ketus.
Xin Qian perlahan meneteskan air matanya, kemudian Jiang Li menariknya. Mereka berdua kini saling menatap satu sama lain.
Jiang Li mengusap air mata Xin Qian dengan pelan.
"Aku sadar dengan kesalahan yang telah aku perbuat selama ini kepadamu. Dan aku sadar jika sekarang aku mulai jatuh cinta kepadamu."
Jiang Li mengungkapkan perasaannya tepat di hadapan Xin Qian. Entah dengan sadar ataupun tidak, ia telah mengatakan jika dirinya mulai jatuh cinta kepada Ratunya.
Xin Qian tertawa kecil. " Jiang Li, omong kosong apa ini? Jangan pikir dengan kau mengatakan hal ini, aku akan jatuh cinta denganmu dan kau akan dengan mudah menguasai diriku juga negeri ini. Bukankah itu yang kau inginkan?"
"Mengapa kau tidak mempercayai ku, Xin Qian?"
"Karena aku pernah sangat mempercayaimu, tetapi apa yang kau lakukan? Kau sendiri yang telah menghancurkan kepercayaan itu, Jiang Li. Jadi jangan berharap kali ini dan seterusnya aku akan mempercayaimu! Itu tidak akan pernah terjadi!"
Xin Qian melalui Jiang Li begitu saja, tetapi Jiang Li tidak terima dengan sikap Xin Qian yang tidak mau mempercayainya. Jiang Li menarik tangan Xin Qian dan menidurkannya di atas ranjang.
Xin Qian terus mendorong Jiang Li agar menjauh darinya, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Jiang Li.
__ADS_1
"Jiang Li, menjauhlah dariku!" seru Xin Qian.
"Aku mencintaimu, Xin Qian! Aku mencintaimu!" Jiang Li menegaskan.
"Aku tidak mencintaimu dan tidak akan pernah! Kau dengar itu?"
"Kau sudah sangat menghancurkan hidupku, Jiang Li. Kau adalah pria yang sangat kejam, bahkan kau tidak pantas mendapatkan maaf dari siapapun."
Jiang Li sangat kesal dengan ucapan yang dilontarkan oleh Xin Qian, tetapi di lain sisi ia juga merasa sangat bersalah.
Xin Qian berhenti meronta-ronta karena melihat raut wajah Jiang Li yang kini terlihat sedih.
"Apa ucapanku telah menyakiti perasaannya?" batin Xin Qian.
"Aku tidak seharusnya berkata seperti itu kepadanya. Bagaimanapun juga dia adalah manusia yang setiap saat bisa berubah sikapnya."
"Aku tahu kau tidak akan pernah memaafkanku, tapi aku ingin membuktikan jika aku benar-benar mencintaimu," ucap Jiang Li.
Jiang Li perlahan mencium kening Xin Qian, kemudian turun ke bibirnya. Ia melepas ***** kepada wanita yang dicintainya.
Xin Qian tidak dapat melakukan apapun, karena Jiang Li telah memegang kedua tangannya.
Malam itu berjalan cukup singkat, dan kini telah digantikan dengan pagi.
Xin Qian membuka kedua matanya, lalu ia melihat ke samping kanannya. Jiang Li dan dirinya sama-sama tidak mengenakan hanfu, dan tubuhnya hanya tertutup oleh selimut juga pakaian dalam.
"Aku tahu kau tidak akan pernah memaafkan ku, tapi aku ingin membuktikan jika aku benar-benar mencintaimu."
"Jiang Li telah melakukan hal itu kepadaku," batinnya.
Xin Qian menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, lalu perlahan ia menangis. Jiang Li pun langsung terbangun mendengar suara tangisan dari Xin Qian.
Jiang Li menyentuh lengan Xin Qian, tetapi Xin Qian melepaskannya.
"Aku tidak melakukan sebuah kesalahan. Justru hal yang telah aku lakukan adalah suatu kebaikan." ucap Jiang Li.
"Kau sekarang milikku seutuhnya," bisik Jiang Li.
*******
Xin Qian menghampiri Zhang Pei yang sedang melatih beberapa murid master Lin yang akan menjadi seorang ksatria.
"Zhang Pei!"
"Yang Mulia Ratu?"
Semua orang di sana membungkukkan tubuh mereka dan memberikan hormat kepada Xin Qian.
"Yang Mulia, apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" tanya Zhang Pei.
__ADS_1
"Zhang Pei, aku--" ucapan Xin Qian terpotong.
"Mohon ampun, Yang Mulia Ratu. Master Lin memanggilmu di belakang istana." Seorang prajurit tiba-tiba datang dan menyela pembicaraan mereka.
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
"Baik, kalau begitu hamba permisi."
"Yang Mulia, mengapa master Lin memintamu untuk menemuinya?"
"Aku tidak tahu, Zhang Pei. Aku harus pergi menemui Kakek Guru."
"Baiklah."
"Lanjutkan latihan kalian!"
"Baik, Master."
Xin Qian menemui master Lin dan kini wajah master Lin terlihat sangat cemas.
"Kakek Guru, Kakek Guru memanggilku?"
"Xin Qian, aku harus mengatakan hal ini kepadamu."
"Apa yang ingin Kakek Guru katakan kepadaku?"
"Ayahandamu tidak akan bertahan dalam waktu yang lama."
"Apa maksud Kakek Guru? Mengapa Kakek Guru mengatakan hal itu kepadaku?"
"Xin Qian, tidak ada obat apapun yang dapat menyembuhkan sang Raja."
"Mengapa Kakek Guru tega mengatakan hal seperti itu? Kakek Guru tidak yakin jika Ayahanda dapat selamat?"
"Tidak seperti itu, Kakek Guru hanya mengatakan hal yang sebenarnya kepadamu. Kakek Guru tidak ingin kau mendengar hal ini dari orang lain."
"Bukankah sama saja jika aku mendengar hal ini dari orang lain? Hal ini sama-sama akan menyakiti perasaanku, Kakek Guru. Putri mana yang tidak menangis jika mengetahui usia Ayahandanya tidak akan lama lagi?"
"Kakek Guru sangat mengerti perasaanmu, tapi--"
"Tapi mengapa Kakek Guru tidak melakukan apapun? Jika ada obat yang harus aku cari, aku akan mencarinya untuk Ayahanda. Kakek Guru katakan saja kepadaku."
Master Lin memeluk Xin Qian, Xin Qian menangis tanpa mengeluarkan suara di pelukan Kakeknya.
"Aku tidak ingin kehilangan Ayahanda, Kakek Guru. Aku tidak ingin hidup tanpa Ayahanda. "
"Tenanglah, Xin Qian! Jangan menangis seperti ini! Jika orang lain melihat Ratunya lemah seperti ini, mereka juga akan lemah. Kau adalah kekuatan bagi semua orang di istana ini."
"Tapi Ayahanda adalah sumber kekuatan bagiku, bagaimana aku bisa melihatnya tidak berdaya seperti itu?"
__ADS_1