The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 09


__ADS_3

Xin Qian tidak yakin bisa memurnikan energi para siluman, karena ia tahu jika dirinya sendiri baru saja sembuh dan tidak mampu mengeluarkan kekuatan dalam bentuk yang besar.


"Tolong jangan tidur. Aku akan mencoba untuk memurnikan energi mu" ucap Xin Qian memegang batang pohon sakura yang rindang.


Pohon sakura itupun tersenyum kepada Xin Qian. Tetapi senyum itu berubah menjadi tangis ketika ia melihat Xin Qian terjatuh dan sulit untuk berdiri kembali. Semua siluman menghampiri Xin Qian untuk membantunya walaupun mereka sendiri harus berjalan sempoyongan.


"Xin Qian! Apa yang terjadi?" Siluman kelinci membantu Xin Qian untuk duduk dan bersandar dibawah pohon sakura.


"Kami sangat sedih melihat mu seperti ini." Siluman rubah memegang kedua pipi Xin Qian.


"Aku tidak bisa membantu kalian. Maafkan aku." Xin Qian perlahan meneteskan air mata.


"Xin Qian ...."


Air mata Xin Qian mulai berjatuhan mengenai batang pohon bunga sakura. Para siluman juga ikut menangis melihat teman mereka menangis. Air mata Xin Qian mengalir dengan cepat menuju akar pohon sakura dan hal yang tidak pernah diduga terjadi.


Pohon sakura itu merasa jika tubuhnya sudah lebih baik dari sebelumnya, ia merasa bahwa akarnya menjadi lebih segar dan kuat. Bunga sakura di pohon itupun kembali bermekaran dan lebih indah.


Para siluman juga merasakan energi didalam tubuh mereka yang sudah kembali murni. Tumbuhan di sana kembali segar dan hijau, tetapi sungainya tetap surut dan berwarna sedikit kecoklatan.


Para siluman sangat bahagia dan berterima kasih kepada Xin Qian. Tetapi tidak ada balasan apapun dari Xin Qian. Matanya tertutup dan wajahnya sangat pucat.


"Tidak. Apa yang terjadi?" ucap pohon sakura bingung.


"Xin Qian, bangunlah! Xin Qian, bangun!"


Xin Qian sedikit membuka matanya dan meminta para siluman agar menidurkannya di tengah-tengah sungai. Para siluman pun menuruti ucapannya dan mereka berdiri memutari sungai itu.


Setelah cukup lama mereka menunggu Xin Qian menampakkan dirinya ke permukaan air, ternyata Xin Qian tidak menampakkan diri sedikitpun dan air sungai itu tetap berwarna kecoklatan juga surut. Para siluman itupun menangis kembali.


"Xin Qian, kau telah berjanji akan selalu ada untuk kami. Kita juga telah berjanji akan saling membantu satu sama lain. Apa kini kau telah melupakan janji itu?" teriak siluman tupai dengan histeris.


Tetapi tidak ada balasan apapun dari Xin Qian. Mereka benar-benar merasa putus asa dengan kehidupan yang mereka jalani.


"Bagaimana bisa kita hidup jika orang yang telah memberikan energi murni kepada kita sudah tidak ada?" tanya seekor kuda menatap tengah-tengah sungai.


"Tidak! Xin Qian akan segera kembali. Dia tidak akan mengingkari janjinya begitu saja," nalas siluman tupai menghadap teman-temannya.


Tidak lama kemudian air sungai perlahan berubah warna menjadi jernih dan ikan-ikan didalamnya kembali hidup. Para siluman itu senang melihat warna sungai yang berubah menjadi jernih. Lalu Xin Qian terbangun dan menampakkan dirinya ke permukaan sungai.


"Xin Qian! Itu Xin Qian. Aku sudah mengatakan jika Xin Qian akan segera kembali. Dia tidak mungkin mengingkari janjinya," ucap siluman tupai bersemangat.


"Xin Qian, terima kasih kau tidak menepati janjimu," ucap salah satu siluman.


"Aku juga berterimakasih kepada kalian karena kalian telah percaya kepada ku," balas Xin Qian memeluk teman-temannya.


"Xin Qian, setelah ini bolehkah kami ikut denganmu keluar dari tempat ini?"

__ADS_1


"Apa kalian tidak suka dengan tempat ini?"


"Bukan begitu. Kami hanya ingin selalu bersamamu agar kami bisa melindungimu."


"Aku sangat menghawatirkan keselamatan kalian. Aku takut jika orang lain di istana ini mengetahui keberadaan kalian, maka mereka akan menangkap dan membunuh kalian."


"Jika begitu, bisakah kau menghabiskan satu malam disini bersama kami?"


"Tapi bagaimana jika ada yang mencariku di istana?"


"Aku mohon!!"


"Baiklah. Tapi hanya satu malam."


"Terima kasih, Xin Qian."


*****


Hari sudah semakin gelap, sinar terang matahari kini telah digantikan oleh sinar terang rembulan. Zhang Pei menatap wajahnya di cermin, tiba-tiba dia melihat wajah Xin Qian sedang tersenyum di samping kanannya. Tetapi saat ia melihat ke samping kanannya tidak ada siapapun.


"Aku baru saja bertemu dengannya, mengapa tiba-tiba aku melihat wajahnya di cermin?" gumamnya sambil tersenyum.


Sedangkan di kamar, Ji Nian sedang berbaring dan memikirkan tentang putri Xin Qian yang membuatnya jatuh cinta.


"Tok ... tok ... tok ...." Suara ketukan dari luar jendela.


"Kau? Apa yang kau lakukan di sana malam-malam begini?" tanya Ji Nian heran dengan sikap temannya.


"Ketua, kemarilah! Ada yang harus kau ketahui," ucap Junqing.


"Tentang apa?"


"Aku akan memberitahu mu jika kau sudah kemari."


"Baiklah, tunggu aku. Aku akan menyusulmu."


"Aww ...." Ji Nian melompat dari jendela dan terjatuh dihadapan Junqing.


"Ketua! Kau tidak apa-apa?"


"Jangan berdiri saja, cepat bantu aku!"


Saat hendak membantu Ji Nian untuk berdiri, tiba-tiba Junqing menarik kembali Ji Nian sehingga membuat Ji Nian jatuh untuk kedua kalinya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Ssttt! Ketua, lihatlah itu. Sejak tadi aku melihat Zhang Pei berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri."

__ADS_1


"Apa maksudmu menuduh siluman itu sebagai seorang pencuri?"


"Kau harus melihat itu. Zhang Pei menyembunyikan sesuatu di balik hanfu nya. Apa kau melihatnya?"


"Lalu apa? Sebaiknya kita menghampirinya agar kita tahu apa yang sebenarnya dia lakukan."


"Tidak sekarang. Kita harus mengikutinya terlebih dahulu."


"Apa lagi ini?"


"Ayolah!"


Zhang Pei melewati beberapa Prajurit istana dengan menyembunyikan siluman katak dibalik hanfu yang ia kenakan.


"Dengar siluman katak! Dari manapun kau berasal, kau harus segera kembali ke tempatmu. Jika para manusia melihatmu, maka mereka tidak akan membiarkanmu tetap hidup," bisik Zhang Pei kepada siluman katak itu.


"Terima kasih, teman," balas siluman katak.


"Zhang Pei? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Xin Qian penasaran.


"Putri?" Zhang Pei menoleh, di tangan kirinya terdapat siluman katak yang ketakutan melihat Xin Qian.


"Zhang Pei, kau?" Xin Qian terkejut melihat siluman katak yang seharusnya berada di tempat yang ia lindungi malah kini berada di tangan Zhang Pei.


Xin Qian mendengar ada langkah kaki seseorang yang sedang menuju ke tempat mereka. Kemudian Xin Qian menarik tangan kanan Zhang Pei untuk diajak pergi menggunakan ilmu teleportasi. Ji Nian dan Junqing sampai di tempat itu, tetapi mereka tidak melihat siapapun di sana.


"Dimana dia? Aku rasa tadi dia pergi ke arah sini," ucap Ji Nian.


"Aku juga melihatnya pergi ke arah sini," balas Junqing.


"Ketua, apa yang sedang kau cari?" tanya seorang Prajurit penjaga istana.


"Apa kau melihat Zhang Pei lewat sini?"


"Tidak, Ketua. Aku tidak melihat siapapun lewat sini."


"Baiklah kalau begitu, kau boleh pergi."


"Baik, Ketua."


"Aku yakin sekali jika Zhang Pei pergi ke arah sini. Tapi mengapa tidak ada siapapun disini?" batin Ji Nian.


"Ketua, apa sebaiknya kita mencari Zhang Pei ditempat lain?"


"Tidak perlu. Ini sudah malam, sebaiknya kita kembali ke kamar masing-masing untuk tidur."


"Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2