
Saat Xin Qian hendak masuk ke istana, Zhulong menghampirinya dengan tubuh yang basah kuyup. Xin Qian pun sangat terkejut dan langsung menggendong Zhulong.
Jiang Li menghampiri Xin Qian yang masih berdiri menggendong Zhulong. Alangkah terkejutnya Jiang Li saat mendengar Xin Qian membalas ucapan kucing tersebut.
"Zhulong, apa yang terjadi?" tanya Xin Qian.
"A-aku tidak sengaja menceburkan diriku ke dalam kolam saat sedang berjalan." Zhulong berbicara dengan terbata-bata karena tubuhnya menggigil.
"Aku tidak percaya jika kau berjalan sampai tercebur seperti ini. Kau pasti melompat-lompat bukan?"
Jiang Li menoleh ke arah Xin Qian dengan tatapan yang tidak percaya.
"Kau dapat berbicara dengan seekor kucing?"
Zhulong mengendus-endus ke arah Jiang Li kemudian ia berhenti.
"Jiang Li, ini adalah temanku Zhulong."
"Zhulong?"
"Benar."
"Tapi, bukankah kau adalah manusia murni? Kau sama sekali tidak memiliki darah siluman dalam tubuhmu."
"Jiang Li, aku memang tidak memiliki darah siluman dalam tubuhku. Aku juga tidak tahu mengapa aku dapat berbicara dengan hewan, tapi aku senang karena aku dapat mengerti perasaan mereka."
"Ini sangat aneh. Tidak ada darah siluman di dalam tubuhnya, lalu mengapa dia dapat berbicara dengan hewan?" batin Jiang Li.
"Jiang Li, aku harus pergi mengeringkan tubuh Zhulong. Dia sangat kedinginan."
"Aku ingin ikut denganmu."
"Baiklah."
Xin Qian membawa Zhulong ke kursi panjang di belakang istana dan mengambil sebuah handuk. Xin Qian mengeringkan bulu Zhulong dengan penuh kasih sayang.
Jiang Li menatap Xin Qian alih-alih menatap Zhulong. Ia merasa tersentuh saat melihat Xin Qian benar-benar menyayangi kucing tersebut. Jiang Li tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
"Aku harus fokus dengan tujuanku, aku tidak boleh termakan oleh tipu muslihat wanita ini," batinnya.
"Zhulong, lain kali jangan seperti ini. Aku sangat menghawatirkanmu."
"Baiklah, Xin Qian. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku."
"Zhulong, kau sangat beruntung memiliki teman yang sangat peduli kepadamu seperti putri Xin Qian."
"Kau juga akan sangat beruntung jika kau menjadi teman Xin Qian."
"Zhulong, semua murid dari Kakek guru adalah temanku. Dan aku peduli kepada mereka semua."
"Xin Qian, apa kau tidak ingin memberitahu Jiang Li juga tentang dunia para siluman?"
Xin Qian terkejut karena Zhulong telah mengatakan hal itu kepada Jiang Li.
"Apa maksudmu? Dunia siluman apa?"
"Jiang Li, maksud Zhulong adalah negeri Longyou. Bukankah para siluman hidup di negeri itu?"
"Kau benar."
Jiang Li merasa ada yang aneh dengan Xin Qian. Ia merasa bahwa Xin Qian sedang menyembunyikan sesuatu.
"Jiang Li, mengapa kau tidak ikut bermain bola dengan Ji Nian dan teman-teman lainnya?"
"Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan permainan bola."
__ADS_1
"Lalu apa yang kau sukai?" Xin Qian masih mengeringkan bulu Zhulong.
"Kau," balas Ji Nian dengan mantap.
Xin Qian langsung terdiam, ia dan Zhulong saling menatap. Kemudian ia menatap wajah Jiang Li.
"Aku memang menyukaimu, Putri." Jiang Li meyakinkan. Ia menatap wajah Xin Qian sangat dalam.
"Aku tahu, kau menyukaiku seperti aku menyukaimu sebagai seorang teman."
"Tidak! Aku menyukaimu lebih dari itu. Aku mencintaimu, putri Xin Qian."
"Jiang Li, maafkan aku. Tapi aku tidak bisa menganggapmu lebih dari teman."
"Tapi apa alasannya?"
"Entahlah, aku hanya sedang tidak jatuh cinta kepada siapapun. Aku tidak ingin menaruh harapan kepada seseorang, karena sesungguhnya manusia adalah penyebab munculnya sakit hati. Mereka sering datang dan pergi sesuka hati, mereka tidak memikirkan perasaan seseorang yang mencintainya. Aku hanya tidak ingin tujuanku untuk melindungi negeri ini hancur hanya karena cinta."
"Putri ...."
"Jiang Li, tinggalkan aku sendiri! Aku mohon."
"Baiklah, aku akan pergi dari sini."
Jiang Li berjalan meninggalkan tempat itu, lalu ia berhenti dan kembali menatap Xin Qian.
"Aku akan menunggu sampai kau mencintaiku, putri," ucap Jiang Li, lalu pergi.
Xin Qian menoleh ke arah Jiang Li yang berjalan meninggalkannya.
"Xin Qian, aku tahu mengapa kau mengatakan hal itu kepada Jiang Li."
"Zhulong, bulumu sudah kering sekarang. Pergilah bermain bersama Lani, aku sedang ingin sendiri."
"Tapi ...."
*******
Di ruang tahta, raja Arlo dan keempat master sedang berkumpul. Tiba-tiba raja Arlo merasa dadanya sangat sesak, keempat master itupun menghampiri sang Raja.
"Yang Mulia, apa yang terjadi?" tanya master Chen dengan panik.
"Dad-da ku t-terasa sangat s-sesak," jawab sang Raja dengan napas yang terputus-putus.
"Prajurit! Cepat panggil Tabib istana untuk mengobati Raja!" seru master Pin.
"Aku akan memanggil putri Xin Qian," balas master Feng.
"Master, kita harus segera membawa sang Raja ke kamarnya," ucap master Yibo.
"Benar," balas master Chen.
Master Feng mencari keberadaan Xin Qian di luar istana, tetapi ia tidak menemukannya. Kemudian ia mencari Xin Qian di tempat Ji Nian bermain bola, tapi Xin Qian tidak ada juga. Master Feng pun terpikirkan sesuatu.
"Jika putri Xin Qian tidak ada bersama mereka, putri pasti berada di kamarnya."
Master Feng pun mencari Xin Qian didalam kamarnya.
"Putri juga tidak ada di dalam kamarnya, kemana lagi aku harus mencarinya?"
Master Feng pun dikejutkan oleh seseorang yang memanggilnya dari belakang, ternyata ia adalah Xin Qian.
"Master, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Xin Qian.
"Putri, kau dari mana saja?" Master Feng bertanya balik.
__ADS_1
"Aku dari taman belakang istana, Master. Apa ada masalah?"
"Yang Mulia Raja mengalami sesak napas. Prajurit sedang memanggil Tabib untuk mengobati Yang Mulia."
"Ayahanda?"
Xin Qian langsung meninggalkan kamarnya diikuti oleh master Feng. Sesampainya di kamar sang Raja, ia langsung duduk di samping Raja yang sedang terbaring. Xin Qian memegang tangan sang Raja.
"Tabib, bagaimana keadaan Ayahanda?"
"Putri, Yang Mulia Raja sekarang sudah lebih baik. Beliau hanya butuh istirahat dan jangan biarkan Yang Mulia Raja terlalu lelah, karena usianya yang sudah tua akan sangat mudah terjatuh sakit."
"Baiklah, Tabib."
"Ayahanda, maafkan aku karena tidak dapat selalu mendampingi Ayahanda."
"Putriku, kau pasti memiliki kesibukan tersendiri. Ayahanda juga sangat tahu kau adalah gadis yang sangat tertutup, kau tidak terlalu suka dengan keramaian. Ayahanda sangat mengerti, Xin Qian."
"Ayahanda ... hikss ...."
"Jangan menangis, Xin Qian. Apa kau berpikir Ayahanda akan pergi meninggalkanmu karena usia Ayahanda yang sudah tua?"
"Tidak, Ayahanda."
"Xin Qian, berhentilah menangis. Ayahanda ingin bertanya kepadamu."
"Apa itu?"
"Apa kau sangat menyayangi Ayahandamu yang sudah tua ini?"
"Tentu saja. Apa Ayahanda meragukan rasa sayangku?"
"Tentu saja tidak, Putriku. Ayahanda sangat yakin jika Putri Ayahanda sangat menyayangi Ayahanda."
"Lalu mengapa Ayahanda bertanya seperti itu?"
"Tidak ada. Ayahanda hanya ingin bertanya."
"Ayahanda, aku sangat menyayangi Ayahanda lebih dari apapun di dunia ini. Aku akan melakukan apapun agar Ayahanda bahagia."
"Kau sungguh akan melakukan apapun agar Ayahanda mu ini bahagia?"
Xin Qian mengangguk.
"Xin Qian, sebenarnya Ayahanda ingin penobatanmu sebagai seorang Ratu dilaksanakan besok."
"Ayahanda ...."
"Xin Qian, kau akan menurutinya bukan?"
"Tapi, Ayahanda ...."
"Xin Qian, menjadi seorang Ratu adalah takdirmu. Ayahanda sudah tua, maut bisa menjemput Ayahanda kapan saja."
Para master saling menatap satu sama lain, seakan sudah paham dengan maksud sang Raja.
"Ayahanda, jangan mengatakan hal seperti itu! Aku sangat menyayangi Ayahanda."
"Xin Qian, apakah kau menerima permintaan Ayahanda? Ini semua untuk kebaikanmu dan juga rakyat Peacelavia, Xin Qian."
"Baiklah, Ayahanda. Aku akan menerimanya."
"Terima kasih, Putriku."
"Jangan berterima kasih kepadaku, Ayahanda! Akulah yang seharusnya berterima kasih kepada Ayahanda, karena Ayahanda telah merawatku dengan penuh cinta."
__ADS_1
Xin Qian pun memeluk erat tubuh Ayahandanya, tidak ada pelukan yang lebih hangat daripada pelukan cinta pertama seorang Putri.