
Ji Nian melihat bekas cakaran di lengan Xin Qian, ia khawatir dan langsung meraih tangan Xin Qian.
"Apa yang terjadi dengan lenganmu, Putri?"
"Tidak apa-apa. Ini hanyalah luka kecil."
"Apakah Rong Peng yang telah melakukan ini kepadamu?"
"Benar."
"Sebenarnya apa yang dia inginkan?"
"Ji Nian, dia dulu pernah sangat mencintai Ayahandaku, tetapi tidak dengan Ayahanda. Ayahanda mencintai Ibunda dan menjadikannya seorang Ratu."
"Jadi, Rong Peng datang kemari untuk membalas dendam?"
"Benar. Dia mungkin tidak ada lagi di sini, tetapi dia mengatakan bahwa dia akan kembali."
"Putri, apapun yang terjadi aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu melindungimu."
Ji Nian kembali meraih tangan Xin Qian dan meletakkan di dadanya. Zhang Pei melihat momen romantis itu ketika ia tidak sengaja melewati kamar Ji Nian yang sedikit terbuka.
"Putri, apa kau merasakannya?"
Xin Qian merasakan jantung Ji Nian yang berdetak kencang. Xin Qian dengan cepat melepaskan tangannya dari dada Ji Nian.
"Ji Nian, k-kau harus beristirahat. Aku akan keluar."
Saat membuka lebar pintunya, Xin Qian berhadapan langsung dengan Zhang Pei. Raut wajah Ji Nian pun langsung berubah ketika ia melihat Zhang Pei dan Xin Qian saling menatap.
"Zhang Pei, sejak kapan kau di sini?"
"Aku baru saja lewat dan aku melihat mu di sini."
"Kau tidak ingin menjenguk Ji Nian?"
"Dia bahkan tidak suka melihat wajahku. Aku rasa aku tidak perlu menjenguknya."
"Aku ingin berterima kasih kepadamu, karena kemarin kau telah membantuku."
"Aku senang bisa membantumu, Putri."
"Kau membawa panah. Apakah kau akan berlatih untuk memanah?"
"Ya. Apa kau suka memanah?"
__ADS_1
"Sebenarnya aku belum pernah mencobanya."
"Benarkah?"
Xin Qian mengangguk.
"Bagaimana jika aku mengajarkanmu cara memanah?"
"Aku ...."
"Tidak perlu khawatir, ini tidak terlalu sulit."
"Baiklah. Aku akan ikut denganmu untuk belajar memanah."
Zhang Pei menutup pintu kamar Ji Nian dan menatap Ji Nian dengan tersenyum dingin. Senyumannya seolah mengejek Ji Nian yang tidak dapat pergi bersama putri Xin Qian.
Zhang Pei mengajak Xin Qian ke tempat latihan yang di sana terdapat banyak busur dan anak panah. Zhang Pei mengambil salah satu busur dan anak panah tersebut lalu memberikannya kepada Xin Qian.
"Putri, apa lenganmu sudah membaik?"
"Lenganku sudah lebih baik."
"Maaf jika aku telah memaksamu untuk mengikuti latihan ini."
"Baiklah kalau begitu."
Zhang Pei memberikan contoh bagaimana cara melesatkan anak panah dengan busur. Xin Qian kagum karena anak panah Zhang Pei menancap tepat di angka sepuluh. Zhang Pei lalu meminta Xin Qian untuk mencobanya.
Zhang Pei melihat posisi tangan Xin Qian salah, ia kemudian mendekati Xin Qian dan berdiri dibelakangnya.
Zhang Pei memegang kedua tangan Xin Qian dan menarik anak panahnya. Xin Qian merasa sedikit canggung karena saat itu posisinya sangat dekat dengan Zhang Pei.
"Mengapa jantungku selalu berdenyut kencang ketika aku dekat dengan sang Putri?" batin Zhang Pei.
Anak panah itupun melesat dan menancap di angka 8. Posisi mereka masih tetap sama, kemudian Xin Qian sedikit mendorong Zhang Pei.
"M-maafkan aku."
"Tidak apa-apa. Kita lanjutkan saja latihannya."
*****
Raja Arlo dan para prajuritnya telah sampai di pedesaan. Mereka menurunkan makanan yang mereka bawa dan membagikan kepada para rakyat.
Mereka semua berterima kasih kepada sang raja, tetapi mereka juga mengeluh karena sebagian rumah yang mereka tinggali roboh akibat badai.
__ADS_1
Raja Arlo meyakinkan mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja, ia akan membantu rakyatnya untuk kembali membangun tempat tinggal mereka.
"Yang Mulia Raja, bagaimana bisa iblis Rong Peng masuk ke dalam negeri ini? Bukankah para Master telah melindungi langit menggunakan mantra pelindung?" tanya salah satu rakyat.
"Lihatlah ke atas kalian! Di langit itu masih terdapat mantra pelindung, mantra pelindung itu tidak rusak sama sekali. Kemungkinan besar Rong Peng telah bersembunyi di negeri ini sebelum kami memberikan mantra pelindung pada langit." Sang Raja menjelaskan.
"Yang terpenting saat ini kita harus selalu waspada. Jika ada seseorang yang mencurigakan, segera beritahu kami," balas master Lin Yang.
DI NEGERI HAVOCIA
Seorang laki-laki bertubuh tinggi dan mengenakan hanfu berwarna hitam sedang bersandar di sebuah pohon. Ia adalah Jiang Li, putra angkat raja Wang Shu yang terkenal tampan tetapi sangat kejam. Ia memiliki darah setengah manusia dan setengah siluman.
Setiap siluman baik yang berada di negeri tersebut akan ia jadikan sebagai pelayan. Ia juga memperlakukan mereka dengan sangat buruk.
Ia bahkan pernah memperkerjakan para siluman baik untuk membangun sebuah danau didekat istana dalam waktu 20 hari tanpa ia beri makanan maupun minuman.
Meski terkenal sangat kejam, Jiang Li juga pernah meneteskan air mata ketika salah satu pelayannya meninggal. Semua siluman baik menangis melihat kematian teman mereka.
Wang Shu yang menggantikan Ayah Jiang Li. Wang Shu mengajarkan betapa pentingnya kekuatan dan kekuasaan. Wang Shu terus meracuni pikiran Jiang Li hingga ia menjadi orang yang sangat kejam.
Wang Shu sebenarnya tidak terlalu peduli dengan hidup Jiang Li, ia hanya memanfaatkan Jiang Li untuk membantunya mencapai tujuan.
Tetapi Jiang Li percaya dengan kebohongan Wang Shu. Ia berpikir Wang Shu sangat menyayanginya sebagai seorang anak.
Ia selalu menuruti setiap perintah yang diberikan oleh Wang Shu, karena menurutnya semua yang dilakukan Wang Shu adalah untuk kebaikannya.
"Jiang Li!" panggil Wang Shu yang berdiri di depannya.
"Ayahanda?" Jiang Li membungkuk memberikan hormat.
"Jiang Li, Bibimu Rong Peng telah kalah melawan seorang ksatria dari Peacelavia ketika berusaha untuk mengambil batu permata."
"Kurang ajar! Bagaimana bisa Bibi Rong Peng dikalahkan oleh ksatria itu? Memangnya seberapa kuat dia?"
"Ayahanda, aku akan mendatangi negeri itu dan menghancurkan segala sesuatu yang ada di dalamnya."
"Jiang Li, aku yakin bahwa kau tidak akan tinggal diam setelah mendengar hal ini. Tetapi kau tidak bisa gegabah seperti ini."
"Tetapi Ayahanda, Bibi Rong Peng telah gagal mengambil batu pertama itu. Aku harus pergi dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita."
"Jiang Li! Sebelum kau pergi ke negeri Peacelavia, kau harus mempersiapkan dirimu dengan baik. Ksatria Peacelavia sangatlah kuat, dan Putri mahkota itu adalah sasaran utama kita. Kita harus melumpuhkannya terlebih dahulu."
"Mengapa harus dia dan bukannya Arlo, Ayahanda?"
"Dengarkan aku, Jiang Li! Xin Qian adalah calon penerus kepemimpinan Arlo. Dia terkenal sebagai gadis yang pandai dalam taktik dan sihir. Aku juga pernah mendengar dia dapat membuat seseorang merasakan sakit tanpa harus menyentuhnya."
__ADS_1