The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 50


__ADS_3

Semua orang berkumpul di kamar raja Arlo, wajah mereka terlihat sedih kecuali Lui Wei.


"Yang Mulia Ratu, hamba mohon maaf. Tetapi dengan berat hati hamba harus mengatakan jika yang mulia raja telah tiada," ucap seorang Tabib.


Xin Qian terdiam dan matanya mulai mengeluarkan air mata.


"Jangan berbicara omong kosong kepadaku! Ayahandaku pasti selamat, Ayahanda tidak mungkin tiada." Xin Qian menatap Tabib tersebut dengan tatapan wajah marah.


"Yang Mulia, hamba tidak berbicara omong kosong. Racun itu telah mengalir bersama darah dan merusak sistem saraf pusat Yang Mulia Raja," jelas Tabib itu.


"Dan --" Tiba-tiba ucapan Tabib tersebut terputus.


"Aku tidak ingin mendengarkan omong kosongmu lagi! Kau telah salah memeriksa Ayahandaku, Ayahanda pasti masih hidup." Xin Qian mendekati sang raja dan perlahan menyentuh tangannya.


"Ayahanda, tolong bangunlah. Aku sangat merindukan Ayahanda, aku rindu suara Ayahanda, dan aku juga rindu senyuman Ayahanda," ucap Xin Qian dengan wajah yang dipenuhi air mata.


"Ayahanda ...." Suara Xin Qian perlahan mengecil.


"Mengapa Ayahanda tidak bangun? Apa Ayahanda tidak merindukanku?" Xin Qian terus berharap sang Raja akan bangun.


"Master Lin, aku tidak tega melihat Yang Mulia Ratu seperti ini. Apa yang harus kita lakukan?"


"Kehilangan seorang Ayah adalah keadaan paling sedih yang dialami oleh seorang Putri. Kita tidak bisa melakukan apapun, langit telah memanggil Yang Mulia Raja."


"Ayahanda, bangunlah!"


Jiang Li menarik tangan Xin Qian yang sedang menangis di hadapan raja Arlo.


"Kau adalah seorang Ratu, kau tidak boleh terlihat lemah dihadapan orang lain!"


"Kau mengatakan hal itu karena kau senang bukan, melihat Ayahandaku kini sudah tidak bernyawa? Kau senang karena kini aku telah sangat menderita."


"Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini Jiang Li. Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang yang sangat berarti dalam hidupmu, karena yang ada dalam pikiranmu hanyalah kekuatan dan kekuasaan."


Tanpa banyak bicara, Jiang Li langsung memeluk Xin Qian. Pelukannya terasa sangat hangat, sehingga Xin Qian tidak melepaskan pelukan itu.


"Aku tidak ingin melihatmu menangis. Ini semua adalah takdir, langit memanggil seseorang yang sangat berarti dalam hidupmu karena langit ingin kau menjadi seseorang yang lebih kuat."


Semua orang pun dibuat terkejut oleh ucapan Jiang Li.


"Aku tidak percaya dia mengatakan hal ini. Dia pasti hanya ingin mencari perhatian dari semua orang," batin Ji Nian dengan kesal.

__ADS_1


"Mengapa Jiang Li memeluk Xin Qian dan mengatakan hal itu kepadanya? Seharusnya ini menjadi hari yang berbahagia untukku, tapi aku malah melihat pemandangan seperti ini," batin Lui Wei.


"Master, mengapa tiba-tiba Yang Mulia Raja Jiang Li peduli kepada Yang Mulia Ratu?" tanya master Pin kepada master Feng.


"Aku rasa Yang Mulia Raja Jiang Li sudah mulai jatuh cinta dengan Yang Mulia Ratu. Itu sebabnya ia terlihat sangat peduli kepada Yang Mulia ra Ratutu, dia tidak tega jika harus melihat wanita yang dia cintai bersedih," balas master Feng.


*******


Semua anggota istana menghadiri acara pemakaman Raja termasuk para rakyat. Mereka semua terlihat sangat sedih melihat kepergian sang Raja.


"Ayahanda, aku akan sangat merindukan Ayahanda. Aku tidak tahu apakah setelah ini aku masih bisa bertahan hidup tanpa Ayahanda," gumam Xin Qian sambil menangis.


"Yang Mulia Ratu, kami juga merasakan hal yang sama denganmu. Jangan pernah menganggap bahwa kau sendiri, kami akan selalu ada untukmu," ucap salah satu rakyat.


"Benar, Yang Mulia Ratu. Kami tidak akan membiarkanmu merasa sedih meski telah kehilangan Yang Mulia Raja," ucap rakyat yang lain.


Master Lin membantu Xin Qian berdiri dan mengajaknya untuk segera kembali ke istana.


Sesampainya di istana, seorang Dayang datang ke kamar Xin Qian dan memberikannya makanan. Xin Qian hanya diam dan tidak mau berbicara kepada Dayang tersebut.


"Ada apakah ini?" tanya Jiang Li yang tiba-tiba datang.


"Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu tidak mau memakan makanannya," balas Dayang tersebut sambil menundukkan kepalanya.


"Dayang telah membawakan makanan untukmu, setidaknya kau makanlah walau hanya sedikit."


Xin Qian tidak menjawab ucapan dari Jiang Li, ia juga bahkan tidak mau menoleh ke arah Jiang Li.


"Dayang, berikan makanannya kepadaku!"


"Ini, Yang Mulia."


Saat Jiang Li berdiri di samping Xin Qian dengan membawa makanan itu, tiba-tiba Xin Qian merasa sangat mual.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Jiang Li dengan panik.


"Yang Mulia Ratu ...." ucap Dayang tersebut.


Xin Qian terus merasa mual, kemudian ia berlari ke kamar mandi dan muntah. Jiang Li dan Dayang tersebut sangat cemas. Jiang Li memberikan makanannya kembali kepada Dayang tersebut lalu pergi menghampiri Xin Qian.


"Apa yang terjadi denganmu?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Aku merasa sangat mual dan kepalaku terasa sakit."


"Dayang, cepat panggil Tabib kemari!"


"Baik, Yang Mulia."


Dayang itu pun pergi untuk mencari Tabib di istana. Dayang itu berjalan dengan cepat karena khawatir dengan keadaan sang Ratu.


"Dayang, mengapa kau terlihat sangat terburu-buru?" tanya Zhang Pei yang sedang berkumpul dengan para master juga ketua Ji Nian.


"Master Zhang Pei, Yang Mulia Ratu tiba-tiba merasa mual. Aku harus memanggil Tabib untuk memeriksanya," balas Dayang itu.


"Bagaimana bisa Yang Mulia Ratu mual?"


"Hamba tidak tahu, Master."


"Master, kita harus menemui Yang Mulia Ratu.


"Benar, Zhang Pei."


Sang Tabib memeriksa Xin Qian dan setelah itu sang Tabib pun tersenyum.


"Tabib, apa yang terjadi dengannya? Mengapa dia mual-mual seperti itu?" tanya Jiang Li dengan panik.


"Yang Mulia Raja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Justru hamba ingin menyampaikan kabar yang baik."


"Kabar baik apa, Tabib?"


"Yang Mulia Ratu sedang mengandung, Yang Mulia Raja. Itu sebabnya Yang Mulia Ratu mual-mual dan merasa pusing."


Semua orang gembira dengan kabar baik ini, tetapi tidak dengan Xin Qian, Zhang Pei juga Ji Nian.


"Tabib, bagaimana aku bisa hamil? Aku --" ucapan Xin Qian tiba-tiba terhenti dan ia mengingat jika jika Jiang Li yang telah membuatnya hamil.


"Apakah Yang Mulia Ratu sedang mengandung anak dari Jiang Li? Tapi bagaimana bisa mereka melakukan hal itu?" gumam Shishi yang mengintip dari luar pintu kamar.


"Tabib, kau pasti salah memeriksanya. Coba periksa kembali," ucap Ji Nian.


"Tidak Ketua, aku tidak mungkin salah. Karena aku telah memeriksa Yang Mulia Ratu dengan baik."


Zhang Pei tidak senang dengan kabar gembira tersebut, hal itu terlihat dari raut wajahnya. Zhang Pei pun pergi meninggalkan kamar Xin Qian.

__ADS_1


"Zhang Pei, kau pasti sangat kecewa denganku. Tapi aku juga tidak pernah berpikir jika hal ini akan terjadi," batin Xin Qian.


__ADS_2