
Sesampainya di istana, Jiang Li langsung mendorong Xin Qian dihadapan semua orang hingga jatuh tersungkur.
"Jiang Li, apa yang kau lakukan? Jangan berani memperlakukan sang Ratu seperti itu!" ucap master Chen.
"Dia pantas mendapatkannya, karena dia telah berani melanggar perintahku," balas Jiang Li dengan nada marah.
Ji Nian yang tidak terima karena sang Ratu diperlakukan seperti itu, ia pun menyerang Jiang Li dengan kekuatan yang dimilikinya. Tetapi Jiang Li selalu berhasil untuk menghindar dan menyerang Ji Nian kembali. Kemudian Ji Nian menarik pedang dari salah satu Prajurit yang berada di sana.
Jiang Li juga menarik salah satu pedang dari Prajurit dan menyerang Ji Nian. Mereka berdua saling menyerang satu sama lain, semua orang sangat takut jika salah satu dari mereka ada yang terluka. Tetapi Wang Shu malah tersenyum senang melihat Jiang Li dan Ji Nian bertarung seperti itu.
"Bagus, Jiang Li. Tunjukkan kepada semua orang siapa dirimu yang sebenarnya! Tunjukkan jika kau adalah seorang yang kuat dan kau pantas menjadi seorang Raja. Tidak ada seorangpun yang boleh menentang perintahmu," batin raja Wang Shu.
"Master, bagaimana jika Yang Mulia Raja Jiang Li berhasil mengalahkan ketua Ji Nian? Dia pasti akan membunuh ketua, Master," ucap salah satu murid kepada master Yibo, karena yang berada disampingnya saat itu adalah master Yibo.
"Jiang Li tidak akan membunuh Ji Nian," balas master Yibo tanpa menoleh ke arah murid tersebut.
"Apa yang membuat Master sangat yakin dengan hal itu?"
"Jiang Li juga seorang siluman, dan siluman tidak akan tega jika harus membunuh seorang manusia. Apalagi didalam tubuhnya juga mengalir darah manusia."
"Tapi aku tidak yakin, Master. Karena Ayahandanya sendiri adalah seorang monster iblis, dia mungkin tidak akan melihat siapa yang sedang berhadapan dengannya."
"Kita akan melihatnya nanti."
Pertarungan itupun masih berlangsung hingga beberapa saat, sampai akhirnya pedang yang dibawa oleh Jiang Li berhasil membuat tangan kanan Ji Nian tergores dan membuat pedang yang dibawanya terjatuh.
"Kau tidak sekuat diriku, Ji Nian. Jadi jangan sesekali kau berani melawanku!" ucap Jiang Li, kemudian ia tertawa.
Kemudian terlihat raja Arlo berjalan dengan cepat menuruni anak tangga. Raja Arlo menghampiri Xin Qian lalu membantunya untuk berdiri. Jiang Li terus menatap ke arah Xin Qian dan raja Arlo dengan tatapan tajam.
"Xin Qian, apa yang terjadi denganmu? Mengapa lenganmu berdarah seperti ini?" Raja Arlo memegang kedua siku putrinya.
Jiang Li yang mendengar ucapan raja Arlo pun langsung teringat jika lengan Xin Qian terluka.
"Lengannya terluka karena aku memerintahkan Bingjie untuk membawanya kepadaku," batin Jiang Li.
"Xin Qian, jawab Ayahanda, Xin Qian!"
__ADS_1
"Ini hanyalah luka kecil, Ayahanda."
"Apa Jiang Li yang telah melakukan hal ini kepadamu?"
Xin Qian terdiam sebentar lalu menatap Jiang Li yang menatapnya dengan wajah datar.
"Tidak, Ayahanda."
"Lalu kemana kau pergi tadi? Ayahanda sangat mencemaskanmu."
"Ayahanda, aku--"
"Dia ingin mencari paman Yu dan meminta bantuan untuk mengeluarkan batu permata dari tubuhnya. Karena dia tahu jika paman Yu adalah orang terakhir yang mengendalikan pedang damaskus." Jiang Li menyela pembicaraan.
"Xin Qian, apa itu benar?"
"Ayahanda ...."
"Itu benar, Yang Mulia. Dia juga pergi bersama dengan Zhang Pei tanpa meminta izin dariku."
"Xin Qian, kau harus menerima nasibmu saat ini. Kau tidak dapat mengubahnya sesuai keinginanmu," ucap Jiang Li
"Tidak, Jiang Li. Putriku tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini," balas raja Arlo.
"Putrimu pantas mendapatkannya, raja Arlo. Dia telah melanggar perintah dari sang Raja penguasa Peacelavia. Dia bahkan pantas mendapatkan hukuman yang lebih berat," ucap raja Wang Shu.
"Tidak, Wang Shu. Dia adalah seorang Ratu, dan seorang Ratu memiliki kekuasaan juga kebebasan untuk dirinya sendiri. Dan kau Jiang Li, kau bukanlah satu-satunya pemimpin. Xin Qian adalah pemimpin yang sah di negeri ini, kau seharusnya tahu akan batasan mu." Raja Arlo menegaskan.
Setelah mendengar ucapan itu, Jiang Li pun mengangkat tangan kanannya dan hendak memukul raja Arlo. Tetapi Xin Qian menghalangi Jiang Li.
"Aku sudah mengatakannya kepadamu, Jiang Li. Sangat tidak pantas jika seorang anak memukul ataupun membentak orang tua, apalagi kau adalah seorang Raja. Kau seharusnya memberikan contoh yang baik untuk orang lain," ucap Xin Qian. Tanpa rasa takut ia mengatakan hal itu kepada Jiang Li dihadapan semua orang.
Jiang Li pun menurunkan tangannya dan menahan amarah. Ia kemudian menarik tangan Xin Qian dengan paksa, Xin Qian berteriak kesakitan. Tetapi Jiang Li tidak menghiraukannya.
Kemudian ia mengajak Xin Qian naik ke atas, entah apa yang ingin ia lakukan kepada Xin Qian. Tetapi saat hendak menaiki tangga, Zhang Pei menahan Jiang Li agar tidak membawa pergi Xin Qian.
Jiang Li menatap Zhang Pei dengan wajah yang penuh amarah, kemudian ia menghempaskan tangan Zhang Pei dari lengannya.
__ADS_1
Jiang Li kembali menarik tangan Xin Qian dengan paksa. Ia membawa Xin Qian pergi ke kamar dan mengunci pintunya.
Xin Qian duduk di atas ranjang dan hanya berdiam diri melihat perilaku Jiang Li kepadanya. Jiang Li pergi mengambil obat merah juga perban. Lalu ia menarik sebuah kursi dan duduk di depan Xin Qian.
Xin Qian sedikit memundurkan tubuhnya, tetapi Jiang Li malah memajukan kursinya. Jiang Li memasang wajah datar lalu kedua tangannya merobek lengan pakaian Xin Qian yang sebelah kiri.
Xin Qian pun langsung menampar wajah Jiang Li.
"Mengapa kau menamparku?" Jiang Li marah karena Xin Qian tiba-tiba menamparnya.
"Aku tidak terima karena kau telah merobek pakaianku," balas Xin Qian.
"Aku hanya ingin mengobati lengan kirimu, jadi jangan berpikiran seperti itu!" Jiang Li memegang lengan kiri Xin Qian lalu meneteskan obat merah pada lukanya.
Xin Qian memejamkan matanya karena menahan rasa perih pada lengannya.
"Tahanlah! Ini tidak akan terlalu sakit," ucap Jiang Li. Ia kemudian menatap wajah Xin Qian yang sedang menutup kedua matanya, Jiang Li pun tersenyum manis.
Jiang Li menutup luka Xin Qian menggunakan perban, ia meminta Xin Qian agar mengangkat sedikit lengannya agar ia dapat dengan mudah menutup lukanya.
"Aku telah mengobati lukamu, walaupun kau telah melanggar perintah dariku."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin kau menjauhi Zhang Pei dan berhenti berharap kepadanya!"
"Tidak, Jiang Li. Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu seperti itu."
"Mengapa? Apa kau mencintainya?"
"Benar, aku mencintai Zhang Pei."
"Apa yang membuatmu jatuh cinta dengannya?"
"Dia adalah pria sederhana yang selalu memperlakukanku dengan sangat baik. Dia sangat berbeda denganmu, Jiang Li."
Jiang Li pun memasang wajah marah, kemudian meninggalkan Xin Qian sendiri.
__ADS_1