The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 72


__ADS_3

Seorang pria tampan datang menghampiri Rong Peng yang sedang duduk di tahta dan memberikan hormat.


"Yang Mulia Ratu." Pria tersebut membungkukkan tubuhnya.


Pria tersebut bernama Allen, ia adalah seorang panglima perang dari kalangan iblis. Ia merupakan kekasih Rong Peng.


"Allen? Kau di sini?" tanya Rong Peng dengan senang.


"Sesuai janjiku kepadamu, Yang Mulia. Aku akan kembali menjelang malam ritual gerhana bulan."


Rong Peng beranjak dari tahta lalu menghampiri Allen dan memeluknya.


"Aku sangat merindukanmu, Allen. Apa kau juga merindukanku?"


"Bagaimana bisa aku tidak merindukanmu? Setiap detik aku selalu memikirkanmu."


"Allen, ucapanmu selalu membuatku bahagia."


"Mengapa kau tetap terlihat cantik meskipun kita sudah lama tidak bertemu?"


"Allen, aku adalah Ratu kegelapan. Kecantikan memanglah hal yang utama bagiku."


Allen kemudian menatap Lian yang sedang bermain dengan seekor naga di luar istana.


"Siapa anak kecil itu? Apakah dia adalah anak dari manusia yang menjadi pelayanmu?"


"Allen, dia adalah anak dari musuhku."


"Lalu mengapa kau malah membiarkannya bermain dengan senang di luar istana?"


"Lalu aku harus bagaimana? Aku mulai menyayanginya."


"Tapi dia adalah anak dari musuhmu. Kau seharusnya menyiksa dirinya."


"Allen, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Dia sekarang akan menjadi sumber kekuatan utama kita."


"Apa maksudmu?"


"Batu permata Peacelavia ada di dalam tubuhnya."


"Jadi kau memanfaatkannya?"


"Aku memiliki rasa sayang kepadanya, tetapi aku juga harus memanfaatkannya."


Mereka berdua berjalan mendekati Lian dan To Mu.


"Lian, Bibi ingin mengenalkanmu dengan seseorang."

__ADS_1


"Ini adalah paman Allen, dia adalah kekasih Bibi."


"Tapi mengapa aku tidak pernah melihat Paman ini sebelumnya?"


"Lian, paman Allen memang sudah lama tidak datang ke sini."


"Ada apa, Lian? Mengapa kau terlihat sangat sedih?"


"Paman, aku sangat merindukan Ibunda. Aku ingin sekali bertemu dengan Ibunda."


"Lian, dengarkan Bibi. Jika Ibundamu memang menyayangimu, Ibundamu pasti datang ke tempat ini untuk menjemputmu. Tapi kau lihat sendiri, bukan? Ibundamu tidak datang ke sini untuk menemuimu. Itu artinya Ibundamu sudah tidak lagi menyayangimu."


"Bibi berbohong, Ibunda tidak mungkin seperti itu."


"Lian, Bibi tidak pernah berbohong kepadamu."


"Tapi aku tidak percaya dengan ucapan Bibi. Apakah selama ini Bibi sengaja membawaku ke tempat ini agar Ibunda tidak dapat bertemu lagi denganku? Apakah Bibi memiliki niat untuk menyakiti hati Ibundaku?"


Rong Peng langsung menampar wajah Lian karena mendengar ucapan yang tidak enak darinya.


"Itu artinya Bibi memang tidak ingin Ibunda menemukanku. Bibi sengaja membawaku ke tempat ini agar aku jauh dari Ibunda."


Lian kemudian naik ke punggung To Mu dan terbang meninggalkan Rong Peng juga Allen.


"Kau tidak seharusnya menampar wajahnya," ucap Allen.


"Rong Peng, kau harus berbicara dengan lembut kepadanya. Kau harus membuatnya merasa jika kau benar-benar menyayanginya. Kau harus buktikan kepadanya jika kau juga bisa menjadi seorang Ibu baginya." Allen memegang kedua pundak Rong Peng.


"Tapi anak itu terus menanyakan Ibunya Ibunya dan Ibunya. Setiap hari yang dia ingat hanyalah Ibunya. Aku merasa muak dengan hal itu." Rong Peng membelakangi Allen.


"Bukankah hal itu sangat menguntungkan bagi kita?"


"Apa maksudmu?"


"Jika dia terus memikirkan Ibunya, dan pada kenyataannya Ibunya tidak juga menemukannya, dia pasti akan berpikir jika ucapanmu selama ini benar. Ibunya sudah tidak lagi menyayanginya, oleh karena itu Ibunya tidak juga mencarinya."


"Allen, kau benar. Bagaimana aku tidak terpikirkan dengan hal itu?"


"Itulah mengapa kau harus tetap bersikap baik dan sabar kepada anak itu."


*******


Lian dan To Mu kini duduk di tepian danau. Semakin dewasa, Lian semakin ingin tahu dengan dunia luar.


Sudah lama ia tidak keluar dari negeri iblis tersebut. Ia sangat merindukan Ibunya, Zhulong dan juga Ji Nian.


"Tuan, apa yang sedang Tuan pikirkan?"

__ADS_1


"To Mu, mengapa Bibi tidak mengizinkanku keluar dari tempat ini? Aku sangat merindukan dunia luar."


"Bukankah Yang Mulia Ratu telah mengatakan kepadamu jika di luar banyak sekali manusia, siluman dan juga iblis yang sedang mengincarmu?"


"Tapi aku tidak tahu, sebenarnya apa yang mereka inginkan dariku. Mengapa mereka semua mengincarku?"


"Tuan, mengapa dadamu mengeluarkan cahaya merah?"


Lian kemudian berdiri, dan tiba-tiba tubuhnya terasa sangat sakit. Rasanya seperti ada sebuah pedang yang ingin keluar dari dalam tubuhnya.


Lian terjatuh dan merasa sangat lemas karena batu permata keluar dari tubuhnya secara tiba-tiba.


"Benda apa itu? Mengapa benda itu bisa keluar dari dalam tubuhku? Apakah selama ini yang sering membuatku merasa sakit adalah benda itu?"


Rong Peng dan juga Allen pergi mendekati danau tersebut, karena mereka dapat merasakan jika batu permata telah keluar dari tubuh Lian.


"Allen, batu permata itu telah keluar dari dalam tubuhnya." Rong Peng tersenyum.


"Kau benar. Kita harus segera mengambil batu permata itu," ucap Allen.


Saat Allen hendak mengeluarkan kekuatannya untuk menarik batu permata itu, tiba-tiba batu permata itu menghampiri Lian.


Lian pun meraih batu permata tersebut dan menatapnya dengan tatapan yang bingung.


"Benda apa ini? Benda ini terlihat seperti batu permata. Tapi mengapa batu permata ini bisa berada di dalam tubuhku?" batinnya.


Seketika Lian pun teringat dengan ucapan master Lin saat mereka masih hidup bersama.


"Lian, kau adalah Putra dari Ratu terakhir Peacelavia. Di dalam tubuhmu terdapat sebuah benda yang memiliki kekuatan sangat besar. Para iblis dan siluman akan selalu mengincarmu selama benda itu masih berada di dalam tubuhmu."


"Benda apa itu, Master?"


"Jika kau sudah mulai dewasa, kau akan mengetahuinya sendiri. Benda itu mungkin akan keluar sendiri dari dalam tubuhmu untuk mengenalmu sebagai pengendali kekuatan yang berada di dalamnya."


Lian semakin bingung dengan ucapan yang dulu pernah disampaikan oleh master Lin kepadanya.


"Aku adalah Putra dari Ratu terakhir Peacelavia, dan ada kekuatan besar di dalam tubuhku. Benda itu akan keluar ketika aku sudah mulai dewasa untuk mengenalku sebagai pengendalinya."


"Itu artinya, batu permata ini adalah benda yang dimaksud oleh master Lin saat itu. Dan aku adalah Putra dari Ratu terakhir Peacelavia? Berarti selama ini, Ibunda adalah seorang Ratu yang telah menyamar menjadi rakyat biasa."


"Tapi mengapa tidak ada seorangpun rakyat yang mengenali wajahnya? Dan apakah paman Ji Nian dulunya adalah seorang panglima perang?"


"Aku baru menyadari hal ini ketika aku beranjak dewasa. Itu artinya, aku tidak perlu takut dengan manusia, siluman jahat ataupun iblis di luar sana."


"To Mu, aku sekarang ingin keluar dari sini. Aku ingin mencari Ibundaku. Apa kau ingin ikut denganku?"


"Tuanku, kemanapun engkau pergi aku pasti akan ikut denganmu. Karena sekarang Tuanku bukan lagi Yang Mulia Ratu Rong Peng, tetapi tuan Lian."

__ADS_1


__ADS_2