
Saat itu Jiang Li keluar dari kamarnya karena ia berniat untuk menyebarkan abu yang telah ia bawa dari Havocia. Ia melihat ke sekelilingnya untuk memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang melihatnya membawa abu.
Jiang Li berpapasan dengan Zhang Pei di depan istana, saat itu Zhang Pei ingin masuk ke istana. Zhang Pei tidak sengaja menyenggol Jiang Li dan membuat kantong berisi abu yang ia bawa terjatuh.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja menyenggolmu."
"Tidak apa-apa."
Jiang Li meraba hanfunya dan mencari kantong yang ia bawa.
"Apa kau kehilangan sesuatu?"
"Tidak."
"Aku seperti baru melihatmu, apa kau murid baru di sini?"
"Benar, aku baru datang hari ini."
"Siapa namamu?"
"Jiang Li."
"Namaku Zhang Pei."
"Zhang Pei?"
"Apa kau pernah melihatku sebelumnya?"
"Tidak. Aku hanya pernah mendengar bahwa kau juga memiliki darah setengah siluman sepertiku."
"Dari mana asalmu? Aku tidak pernah melihatmu di negeri Longyou."
"Aku memang tidak berasal dari negeri tersebut, aku berasal dari Peacelavia."
"Baiklah, Jiang Li. Senang bisa bertemu denganmu."
Jiang Li hanya tersenyum lalu Zhang Pei meninggalkannya.
Jiang Li mencari-cari kantongnya yang terjatuh, kemudian Ji Nian datang dan melihat sebuah kantong di depannya. Ji Nian mengambil kantong itu dan hendak membukanya.
"Tunggu!" Jiang Li mengehentikan.
"Jangan membukanya!"
"Mengapa aku tidak boleh membukanya?"
"Karena kantong itu milikku. Tidak sopan rasanya jika kau membuka kantong itu tanpa izin dari pemiliknya."
"Memangnya apa yang ada di dalam kantong ini?"
"Kau tidak perlu tahu!"
"Yaa, aku rasa hal ini tidak terlalu penting bagiku. Ambillah!" Ji Nian melemparkan kantong itu kepada Jiang Li.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Jiang Li?"
"Aku hanya sedang melihat-lihat istana ini. Jika aku boleh tahu dimana putri Xin Qian? Mengapa aku tidak melihatnya dari tadi?"
"Mengapa kau mencari putri Xin Qian?"
__ADS_1
"Aku telah bertemu dengan semua orang di istana ini, tetapi tidak dengan sang Putri."
"Putri Xin Qian memang sering menghabiskan waktunya sendirian, dia tidak terlalu suka dengan keramaian."
"Kau sepertinya tahu banyak tentang sang Putri."
"Tentu saja, karena aku dibesarkan di istana ini bersama sang Putri. Dia selalu membuat orang yang bersamanya tersenyum."
"Ji Nian, kau di sini?" Master Lin menghampiri mereka berdua.
Jiang Li yang takut jika rencananya diketahui oleh master Lin, ia langsung menyembunyikan kedua tangannya ke belakang.
"Master, maafkan aku jika aku membuatmu menunggu," ucap Ji Nian.
"Tidak apa-apa, Ji Nian. Jiang Li, ikutlah bersama kami untuk membuat sebuah patung," ajak master Lin.
"Tapi, Master. Aku--" ucapan Jiang Li terputus.
"Jiang Li, kau akan sangat senang dengan pekerjaan ini," ucap master Lin.
Jiang Li kemudian mengikuti master Lin dan juga Ji Nian, ia dengan diam-diam menyembunyikan kantong itu di dalam hanfunya.
Mereka sampai di sebuah tempat yang di tengahnya terdapat air mancur. Di sana juga banyak sekali murid yang sedang belajar membuat patung, para Master juga ikut membantu mereka.
"Kalian bisa belajar membuat patung sekarang," ucap master Lin.
Ji Nian duduk dan mulai membuat patung, sedangkan Jiang Li masih berdiri dan bingung karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Master, apakah tujuan dari latihan membuat patung ini?" tanya Jiang Li dengan polosnya.
"Jiang Li, ini hanyalah latihan biasa. Tujuannya agar kalian memiliki pengalaman dalam membuat patung. Apa kau tidak menyukai latihan ini?"
Semua Master menertawakan ucapan Jiang Li.
"Apa yang Master tertawakan?"
"Kau dan Zhang Pei sama-sama tidak menyukai latihan ini. Apakah sebenarnya kalian bersaudara?"
Jiang Li terkejut karena tiba-tiba master Lin bertanya seperti itu. Master Lin pun kembali tertawa.
"Jangan anggap serius ucapan ku tadi, Jiang Li. Jika kalian memang bersaudara, seharusnya kalian berasal dari negeri yang sama bukan?"
"Benar, Master."
*****
Xin Qian sedang berada di taman depan kamarnya, ia sedang menanam beberapa bunga yang cantik. Zhulong datang dengan sikap seperti biasanya, yaitu berjalan sambil melompat-lompat. Ia kemudian membawakan setangkai bunga mawar untuk Xin Qian tanam.
"Terima kasih, Zhulong."
"Xin Qian, apa kau tidak bosan jika harus berada di dalam kamar seharian?"
"Untuk apa aku bosan? Aku justru merasakan ketenangan di saat aku sedang sendirian. Jauh dari keramaian sangat membuatku senang, Zhulong."
"Xin Qian, apa kau ingin tahu sesuatu?"
"Apa itu?"
"Aku baru saja bermain bersama Lani di kamar Zhang Pei."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya."
"Kau tidak jahil kepada Lani bukan?"
"Tentu saja tidak. Kami akan menjadi teman baik dan kami akan menjadi sangat dekat seperti kau dan juga Zhang Pei."
Xin Qian berhenti sejenak lalu tersenyum mendengar ucapan Zhulong.
"Xin Qian!"
"Ada apa, Zhulong?"
"Aku tadi juga melihat seorang ksatria yang berjalan bersama master Chen. Aku rasa dia adalah murid baru di istana ini."
"Baguslah jika semakin banyak murid di istana ini. Itu artinya banyak sekali orang yang ingin berjuang bersama untuk melindungi Peacelavia."
"Tapi, Xin Qian. Apa kau tidak merasa khawatir?"
"Memangnya apa yang perlu dikhawatirkan?"
"Bagaimana jika salah satu dari mereka adalah seorang iblis yang sedang menyamar? Mereka akan menghancurkan negeri ini dengan perlahan."
"Itu tidak mungkin, Zhulong."
"Tapi, Xin Qian. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, kau sendiri yang mengatakannya."
Xin terdiam dan seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kalaupun itu benar, aku akan melawan siapapun yang ingin menghancurkan negeri ini. Aku lahir dan besar di negeri ini, kebahagiaan semua orang ada di sini. Aku tidak mungkin membiarkan kebahagiaan itu lenyap begitu saja."
"Xin Qian, aku akan melindungi negeri ini bersamamu."
"Terima kasih, Zhulong."
"Xin Qian!" panggil seseorang dari arah belakang.
Xin Qian berdiri lalu menoleh. Tangannya masih kotor dipenuhi dengan tanah, ia juga masih membawa sekop kecil dan setangkai bunga.
"Ayahanda?"
"Kau sedang berkebun?"
"Aku baru saja menanam beberapa bunga di dalam pot, Ayahanda."
"Xin Qian, Ayahanda kemari hanya ingin memberitahu bahwa besok adalah hari yang baik untuk melakukan ritual menyembah langit. Ayahanda ingin nanti malam kau dan semua orang berkumpul di ruang tahta."
"Baiklah, Ayahanda."
Zhulong menggesek-gesekkan bulunya di kaki sang Raja, kemudian sang Raja menggendong kucing tersebut dengan senang.
"Kau sedang menemani Putry berkebun sekarang?" Raja Arlo menciumi Zhulong.
"Zhulong, aku rasa Ayahanda sekarang semakin mencintaimu," ucap Xin Qian sambil tersenyum.
"Itu benar. Zhulong adalah teman dari Putriku, aku juga pasti menyayanginya," balas sang Raja.
Raja Arlo menurunkan Zhulong kembali dan meninggalkan kamar Xin Qian.
__ADS_1