The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 42


__ADS_3

Pagi pun tiba, terik matahari memberikan sedikit kehangatan bagi negeri Peacelavia. Tanah dan pepohonan telah tertimbun salju, badai salju pun masih belum berhenti.


Para warga desa menutup pintu juga jendela rumah mereka. Mereka sangat takut jika badai salju tidak juga berlalu, maka mereka akan kesulitan dalam mengelola ladang dan sawah yang merupakan sumber pangan bagi mereka.


Sedangkan di istana, Jiang Li sangat marah kepada semua orang. Ia berkata jika badai salju ini turun karena seseorang yang memiliki elemen utama air dan angin.


"Katakan siapa yang telah menurunkan badai salju di bulan ini?" tanya Jiang Li dengan nada tinggi.


"Mohon ampun, Yang Mulia. Tetapi tidak ada seorangpun dari kami yang sengaja menurunkan badai salju tersebut," ucap master Feng.


"Jika tidak ada seorangpun dari kalian yang menurunkan badai salju, lalu siapa? Tidak mungkin Ayahandaku ataupun Lui Wei," balas Jiang Li.


"Yang Mulia, mengapa kau tidak menanyakan hal itu kepada Yang Mulia Ratu? Bukankah hanya Yang Mulia Ratu di sini yang memiliki kekuatan salju?" Lui Wei menatap Xin Qian. Tatapannya seolah menuduh jika Xin Qian yang telah melakukan hal itu.


"Lui Wei, jaga ucapanmu! Aku tidak mungkin melakukan hal itu," balas Xin Qian.


"Apa buktinya jika kau tidak melakukannya, Yang Mulia Ratu?" tanya Lui Wei kepada Xin Qian.


"Bagaimana bisa aku melakukan hal yang akan membuat rakyatku menderita?"


"Itu hanya alasanmu saja, Yang Mulia. Kau ingin kami merasa kedinginan dan perlahan hancur, bukan?"


"Tidak, Lui Wei. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Jiang Li, kau percaya kepadaku, bukan?"


"Tidak, Yang MBulia. Jangan pernah percaya kepada ucapan Yang Mulia Ratu, dia berbohong."


"Diamm kalian!!" teriak Jiang Li.


"Yang Mulia, sang Ratu yang telah melakukan semua ini. Dia tahu jika kau belum mempersiapkan sesuatu untuk menghadapi badai salju yang akan datang. Itu sebabnya dia menurunkan badai salju saat ini juga," ucap Lui Wei yang mencoba untuk meyakinkan Jiang Li.


"Itu benar, Putraku. Hanya Yang Mulia Ratu yang memiliki kekuatan es, dia pasti telah bekerja sama dengan semua orang untuk menurunkan badai salju," balas raja Wang Shu.


Xin Qian menatap Wang Shu alih-alih menatap Jiang Li dan menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak melakukannya, Jiang Li. Tolong percaya kepadaku." Xin Qian memohon.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ayahanda. Tetapi tadi malam Xin Qian berada di dalam kamar bersamaku, dia juga tidak memiliki cukup kekuatan untuk menurunkan badai salju," balas Jiang Li kepada Wang Shu.


Lui Wei memasang wajah marah karena Jiang Li malah lebih percaya kepada Xin Qian dan membelanya dibandingkan dengan dirinya.


"Kurang ajar! Mengapa Jiang Li lebih percaya kepada Xin Qian dibandingkan denganku?" batin Lui Wei sambil menatap Xin Qian.


"Sepertinya Jiang Li mulai memiliki rasa kepada Xin Qian. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, karena jika Jiang Li jatuh cinta dengan Xin Qian maka semua akan sia-sia saja. Jiang Li tidak akan lagi mengikuti perintahku, karena dia akan mengutamakan perasaannya," batin Wang Shu.


"Tidak biasanya dia mengatakan hal yang benar tentangku. Apakah dia perlahan telah berubah?" batin Xin Qian. Ia merasa bingung dengan sikap Jiang Li kepadanya.


"Sebaiknya kalian segera siapkan hal-hal yang kita butuhkan untuk menghadapi badai salju ini!" seru Jiang Li.


"Master Lin, berapa lama badai salju ini akan berlangsung?" tanya Jiang Li.


"Menurut perkiraan hamba dan juga Master lainnya, badai salju ini mungkin tidak akan berlangsung lama, Yang Mulia," balas master Lin.


"Baiklah, kalian semua bisa pergi."


"Baik, Yang Mulia."


"Jiang Li, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu," ucap raja Wang Shu.


"Apa yang ingin Ayahanda tanyakan?" tanya Jiang Li penasaran.


"Jiang Li, Ayahanda ingin kau berkata jujur kepada Ayahanda. Apa kau mulai memiliki rasa kepada Xin Qian?"


Jiang Li terdiam sebentar mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh raja Wang Shu.


"Ayahanda, apa maksud Ayahanda bertanya seperti itu?" Jiang Li memasang wajah datar.


"Jiang Li, kau harus ingat jika kau adalah putra Ayahanda. Kau adalah Putra dari pengikut monster iblis, dan Ayahanda tidak ingin kau jatuh cinta dengan seorang wanita! Karena perasaan cinta itu akan mengalahkan tujuanmu untuk menguasai dunia."


Jiang Li hanya diam mendengarkan ucapan dari Ayahandanya.


"Kau mengerti maksud Ayahanda, bukan?" tanya raja Wang Shu.

__ADS_1


"Aku mengerti, Ayahanda," balas Jiang Li.


"Baiklah, Ayahanda pergi dulu." Raja Wang Shu menepuk pundak Jiang Li.


*******


Saat Xin Qian hendak menemui para Master, tiba-tiba Lui Wei menarik lengan Xin Qian. Kemudian Lui Wei menatapnya dengan tatapan tajam.


"Apa yang telah kau lakukan kepada Jiang Li hingga Jiang Li kini lebih membelamu?" tanya Lui Wei dengan nada tinggi.


"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apapun kepada Jiang Li, lagipula apa yang aku katakan adalah benar dan dia sendiri melihatnya. Itu sebabnya dia membelaku," balas Xin Qian.


"Aku tidak yakin dengan alasanmu. Kau pasti telah meracuni pikiran Jiang Li agar kini dia melupakan tujuannya dan jatuh cinta kepadamu, bukan?" Lui Wei mulai marah kepada Xin Qian.


"Lui Wei, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mu. Mengapa kau terus saja mengejar Jiang Li yang jelas-jelas tidak mencintaimu? Dan kau menyalahkanku seolah aku yang telah membuat Jiang Li tidak menyukaimu." Xin Qian tersenyum.


"Lihat saja Xin Qian, aku akan membuat hidupmu menderita karena kau telah berani mendekati Jiang Li." Lui Wei mengancam.


Tapi bukannya takut, Xin Qian malah tersenyum. Kemudian ia menatap kedua mata Lui Wei.


"Apa yang akan kau lakukan? Kekuatanmu tidak sempurna selama badai salju masih berlangsung, Lui Wei. Dan aku tekankan sekali lagi jika aku tidak mencintai Jiang Li, aku tidak jatuh cinta dengannya. Walaupun kini aku telah menjadi istrinya, tetapi aku tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadapnya." Xin Qian pun langsung melangkah meninggalkan Lui Wei.


"Lalu siapa lelaki yang kau cintai? Apa itu Zhang Pei?" tanya Lui Wei.


Langkah kaki Xin Qian tiba-tiba terhenti.


"Mengapa kau tidak menjawabku, Xin Qian?"


Xin Qian kemudian membalikkan tubuhnya dan kembali menatap Lui Wei.


"Ya, aku mencintai Zhang Pei. Apa itu menjadi masalah bagimu?"


Lui Wei tersenyum lalu berjalan pelan menghampiri Xin Qian.


"Tentu saja tidak. Ya, aku hanya merasa kasihan kepadamu. Kau mencintai Zhang Pei tetapi kau malah menikah dengan Jiang Li."

__ADS_1


"Lui Wei, yang pantas dikasihani adalah kau, bukan aku." Xin Qian lalu meninggalkan Lui Wei.


__ADS_2