The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 61


__ADS_3

Saat Xin Qian sedang merapikan beberapa tanaman di depan rumahnya, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menghampirinya dan mengatakan jika Lian terjatuh saat sedang memanjat pohon.


Setelah itu Xin Qian pergi mengikuti anak kecil tersebut. Setelah sampai di tempat Lian terjatuh, Xin Qian sangat panik dan segera menghampiri putranya.


"Lian, kau tidak apa-apa?"


"Ibunda, lututku berdarah."


"Apa terasa sangat sakit?"


"Aku tidak merasakan apapun, Ibunda."


"Bagaimana bisa kau tidak merasakan sakit apapun? Apa kau sedang berbohong kepada Ibunda?"


"Aku tidak mungkin berbohong kepada Ibunda. Bukankah Ibunda sendiri yang mengajarkan kepadaku jika kita harus selalu berkata jujur?"


"Ya sudah, kalau begitu kita pulang. Ibunda akan mengobati lukamu."


"Teman-teman, aku harus pulang bersama Ibunda. Besok kita akan bermain bersama lagi."


"Baiklah, Lian. Tapi besok kau harus mengatakan rahasia besar itu kepada kami."


Lian dan beberapa teman lainnya sangat takut karena salah satu teman mereka tidak sengaja mengatakan hal itu.


"Lian, rahasia besar apa yang akan kau katakan kepada mereka?"


"Eee ... aku tidak memiliki rahasia apapun Ibunda."


"Benar, Bibi. Lian tidak memiliki rahasia apapun, aku hanya tidak sengaja bicara."


"Lian, Ibunda tidak ingin kau menyembunyikan rahasia apapun dari Ibunda. Kau mengerti?"


"Baiklah."


Saat Xin Qian membawa Lian kembali pulang, Lian menghadap ke arah teman-temannya dan mengedipkan satu matanya.


Sesampainya di rumah, Xin Qian langsung meminta Lian untuk duduk. Sedangkan ia masuk ke rumah dan mengambilkan obat.


"Lian, Ibunda akan masuk ke dalam untuk mengambil obat. Kau tetaplah di sini!"


"Baiklah."


Setelah Xin Qian masuk, Lian melihat seorang pria tampan lewat di depannya. Pria itu tidak sengaja menjatuhkan sebuah buku dari dalam tasnya.


"Paman, kau telah menjatuhkan bukumu," teriaknya.


"Paman itu tidak mendengarkanku. Lebih baik aku mengejarnya dan mengembalikan buku ini. Ibunda bilang kita tidak boleh mengambil barang milik orang lain," ucapnya.


Lian melihat ke arah pintu rumahnya, kemudian ia berjalan sambil jinjit agar Xin Qian tidak mendengarnya.


Setelah itu, Xin Qian keluar dengan membawa kotak obat ditangan kanannya. Tetapi ia sangat terkejut karena melihat putranya tidak ada di sana.


"Lian!!" panggilnya.


"Kemana anak itu pergi?" gumamnya.


"Lian!!"


"Xin Qian, apa yang kau lakukan?"


"Master Chen, aku tadi meminta Lian agar tetap di sini sementara aku mengambil kotak obat. Tapi setelah aku kembali, Lian tidak ada di sini."


"Xin Qian, tenanglah. Kita akan mencarinya bersama, mungkin Lian masih berada di sekitar sini."


Di tempat lain, Lian masih terus mengikuti pria yang ia lihat tadi. Lian sengaja tidak memanggil pria tersebut karena dia ingin mencari tahu kemana pria itu akan pergi.

__ADS_1


Pria tersebut berhenti karena merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya secara diam-diam. Kemudian Lian segera bersembunyi dibalik bebatuan yang besar.


Pria tersebut mendekati batu itu dan menghancurkannya, seketika batu besar itu langsung berubah menjadi abu.


Lian melihat pria itu berdiri tepat di depannya. Ia sangat terkejut dan ketakutan hingga menjatuhkan buku yang ia bawa.


"Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa kau mengikutiku?"


Pria tersebut melihat buku miliknya yang berada di samping Lian.


"Kau telah mencuri buku milikku?" tanya pria tersebut.


"Tidak. Aku tidak mungkin melakukannya, Ibunda bilang mencuri itu perbuatan yang tidak baik."


"Pria tersebut jongkok di depan Lian. "Siapa nama Ibumu?"


"Xin Qian."


"Sepertinya ibumu sangat menyayangimu. Dia sampai mengajarkan hal kecil yang bermakna seperti ini kepadamu."


"Paman, ini buku milikmu. Kau tidak sengaja menjatuhkannya di depan rumahku."


"Mengapa kau tidak memanggilku?"


"Sebenarnya aku ingin tahu Paman akan pergi kemana."


"Mengapa kau sangat ingin tahu?"


"Karena aku melihat Paman membawa busur dan juga anak panah."


"Apa kau tertarik dengan memanah?"


"Tentu saja, aku sangat menyukainya. Ibunda juga ahli dalam memanah."


"Benar."


"Kalau begitu, ceritakan kepadaku siapa saja yang ada di dalam rumahmu."


"Di rumah ada ibundaku, paman Ji Nian, Kakek Guru, master Chen, master Yibo, master Feng dan juga master Pin."


"Lalu di mana ayahandamu?" tanya pria tersebut.


"Ayahanda sudah meninggal." Raut wajahnya berubah menjadi sedih.


"Apa yang menyebabkan Ayahandamu meninggal?"


"Aku tidak tahu. Ibunda mengatakan jika Ayahanda meninggal bersama kekasih Ibunda."


"Kekasih? Maksudmu ayahandamu dan kekasih Ibundamu itu berbeda?"


Lian mengangguk pelan, kemudian pria tersebut mengelus kepalanya.


"Mengapa kau terlihat sedih seperti itu?"


"Aku sangat merindukan Ayahandaku. Aku belum pernah bertemu dengan Ayahanda sebelumnya."


"Ayo, aku akan mengantarkanmu pulang."


"Tapi, bagaimana jika ibunda nanti memarahiku?"


"Kenapa?"


"Ibunda tadi memintaku untuk tetap duduk di rumah. Aku tidak boleh pergi sebelum Ibunda kembali dengan membawa kotak obat."


"Apa kau terluka?"

__ADS_1


"Lututku berdarah, tapi aku tidak merasakan sakit sedikitpun."


"Bolehkah aku melihatnya?"


"Tentu saja."


Lian menaikkan celananya dan menunjukkan luka di lututnya kepada pria tersebut.


"Luka ini sangat dalam, tetapi kau tidak merasakan sakit sedikitpun? Bagaimana bisa?"


"Aku tidak tahu."


Tanpa banyak bicara, pria tersebut langsung mengeluarkan kekuatannya.


"Paman, apa yang ingin Paman lakukan?"


"Aku akan mengobati lukamu. Kau duduk dan diam saja."


Setelah luka di lututnya diobati, Lian merasa sangat senang dan berterima kasih kepada pria tersebut.


"Baiklah. Sekarang aku akan mengantarmu pulang."


Setelah sampai di depan rumah, Lian memanggil nama Ibunya dan beberapa kelima master lainnya.


"Apa mereka tidak ada di dalam rumah?"


"Aku sudah mencarinya ke dalam, tetapi tidak ada seorangpun di sana."


Tidak lama setelah itu, Xin Qian dan kelima Master tiba di rumah.


"Lian!"


"Ibunda?"


"Kau dari mana saja? Ibunda sangat mencemaskanmu. Bukankah Ibunda tadi memintamu untuk tetap berada di sini? Mengapa kau tidak mendengarkan Ibunda?"


"Ibunda, mengapa setelah memiliki anak Ibunda menjadi banyak bicara?"


"Lian, mengapa kau berbicara seperti itu kepada Ibunda? Katakan kepada Ibunda, kau dari mana?"


"Aku melihat seorang Paman yang tidak sengaja menjatuhkan bukunya, jadi aku mengejar Paman itu untuk mengembalikan buku miliknya."


"Lalu, apakah kau sudah mengembalikan buku itu kepadanya?"


"Tentu saja. Paman itu juga telah mengobati luka di lututku."


Lian menunjukkan lututnya kepada Xin Qian, tetapi luka itu sudah tidak ada lagi.


"Lian, dimana Paman itu?"


"Paman itu ada di sana."


Lian menunjuk ke arah pria tadi berdiri, tetapi pria tersebut sudah tidak ada lagi di sana.


"Lian, apa kau berbohong kepada Ibunda?"


"Aku tidak berbohong. Paman tadi benar-benar ada di sana, dia yang telah mengantarkanku pulang."


"Mengapa aku merasa Zhang Pei berada di sekitar sini? Tapi itu tidak mungkin, Zhang Pei tidak akan pernah kembali," batinnya.


"Xin Qian, mengapa kau sangat bingung seperti itu? Bukankah Lian sudah berada di rumah sekarang?"


"Benar, Yang Mulia. Kau tidak perlu menghawatirkan pria yang telah mengantarkan Lian."


"Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2