
Setelah sampai di pedesaan, Xin Qian melihat keadaan di sana benar-benar menghawatirkan. Tidak ada seorangpun yang membuka pintu maupun jendela rumah mereka.
Para warga juga tidak tahu jika sang Ratu kini berada di depan rumah mereka dengan membawa upeti berisi bahan makanan.
"Badai salju ini benar-benar merugikan semua orang. Jika badai ini terus berlanjut, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti." Xin Qian membatin.
"Yang Mulia, apa yang kau pikirkan?" tanya Ji Nian kepada Xin Qian.
Xin Qian pun menoleh ke arah Ji Nian dengan sedikit terkejut.
"Ji Nian, aku berpikir kalau semua orang tidak akan mengetahui keberadaan kita di sini jika mereka semua menutup pintu juga jendela mereka."
"Yang Mulia, apakah kita harus memasuki rumah mereka satu persatu untuk membagikan bahan makanan ini?"
"Tapi hal ini akan memakan banyak waktu, Ji Nian."
"Lalu bagaimana? Kita tidak memiliki cara lain."
Setelah cukup lama berpikir, tiba-tiba Xin Qian menghilangkan semua bahan makanan yang berada di dalam upeti hanya dengan menatapnya.
"Yang Mulia, kemana kau memindahkan semua bahan makanan itu?"
"Ke rumah para warga. Mereka telah mendapatkan bahan makanan dengan rata."
Tidak lama setelah itu, salah satu warga mengintip dari dalam dan membuka pintu rumahnya. Dari sana keluarlah seorang anak laki-laki yang menuntun seorang Kakek tua.
Mereka berdua menghampiri Xin Qian juga Ji Nian dan mengucapkan terima kasih kepada keduanya.
"Yang Mulia Ratu, hamba sangat tahu jika kau yang telah melakukan hal ini. Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih, ketua Ji Nian," ucap Kakek tua tersebut.
"Tidak perlu berterima kasih, Kakek. Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami sebagai anggota istana. Kepentingan rakyat adalah hal yang paling utama bagi kami," balas Xin Qian dengan lembut.
"Benar, Kakek. Lebih baik Kakek masuk sekarang, karena udara di luar sangat dingin, dan ini tidak baik untuk kesehatan Kakek dan juga anak kecil." Ji Nian mengelus rambut anak kecil tersebut.
"Maukah kalian mampir ke rumah kami? Kami akan sangat senang jika anggota istana mau bertamu kedalam rumah kami," bujuk anak kecil tersebut.
"Benar, Yang Mulia. Mampirlah sebentar ke rumah kami, aku akan membuatkan teh hangat untuk kalian. Jika kalian kembali ke istana saat ini juga, hawa dingin ini pasti akan menusuk tulang kalian." Kakek tua itu menambahkan.
"Kakek, tidak usah. Kami tidak ingin merepotkan kalian."
"Yang Mulia, aku selalu berharap dapat menghabiskan beberapa saat bersamamu. Dan sekarang kau telah berada di depanku, apa kau tidak mau meluangkan sedikit waktu untukku?"
__ADS_1
Xin Qian sangat tidak tega melihat anak kecil yang begitu ingin menghabiskan waktu bersamanya. Ia menatap Ji Nian, lalu Ji Nian mengangguk seolah mengatakan jika mereka harus meluangkan sedikit waktu untuk anak kecil itu.
"Jangan bersedih! Aku akan mampir ke rumahmu sekarang." Xin Qian jongkok dan mengelus kedua pipi anak kecil itu.
"Benarkah?" Anak kecil itu sangat bahagia mendengar ucapan Xin Qian.
Xin Qian tersenyum lalu mengangguk.
Anak kecil itu menggandeng tangan Xin Qian lalu mengajaknya masuk, sedangkan Ji Nian masuk bersama Kakek tua.
Sesampainya mereka di dalam, Xin Qian langsung dihadapkan dengan seorang Nenek yang terbaring di atas ranjang. Xin Qian dan anak kecil itu saling menatap.
"Itu Nenenkku. Dia sakit selama bertahun-tahun, jadi aku yang harus merawatnya dan juga Kakek," ucap anak kecil itu dengan suara seperti orang yang ingin menangis.
Xin Qian menghampiri Nenek tua itu dan duduk di sampingnya. Ia memegang tangan Nenek tersebut dengan sedikit menekannya.
"Di bagian tubuh mana Nenek merasakan sakit?" tanya Xin Qian.
"Yang Mulia, seluruh tubuhku terasa sangat sakit. Aku tidak dapat duduk ataupun berjalan, aku terjebak di atas ranjang selama bertahun-tahun tanpa melakukan apapun," balas Nenek tua tersebut dengan suara yang lemah.
"Apa Nenek ingin sembuh?"
"Semua orang pasti ingin sembuh dan melakukan kegiatan yang lain, Yang Mulia, termasuk aku. Sejak aku sakit, tidak ada yang mengurus suami juga cucuku. Aku hanya menyusahkan hidup mereka berdua."
"Nenek, kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri."
"Tapi, Yang Mulia. Mereka jadi susah karenaku, aku tidak tahu sampai kapan aku akan seperti ini. Aku lebih baik mati saja, daripada harus menyusahkan suami dan juga cucuku."
"Kau, siapa namamu?" tanya Xin Qian kepada anak kecil itu.
"Nama ku Qing Ming," balas anak kecil itu.
"Qing Ming, bisakah kau mengambilkan segelas air untukku?"
"Tentu saja. Aku akan mengambilkannya untukmu."
Qing Ming pun kembali dengan membawa segelas air dan memberikannya kepada Xin Qian.
"Ini untukmu."
"Terima kasih."
__ADS_1
Xin Qian membacakan sebuah mantra kepada air tersebut lalu meminta nenek tersebut untuk meminumnya. Ajaibnya, setelah meminum air tersebut tubuh nenek itu menjadi segar bugar. Nenek itupun langsung duduk dan mencoba untuk berjalan.
"Yang Mulia, terima kasih banyak. Kau telah membuatku dapat berjalan kembali, tubuhku tidak terasa sakit lagi sekarang."
"Sama-sama, Nenek."
"Kalian tunggulah di sini, aku akan membuatkan sup hangat untuk kalian."
"Nenek, aku ingin membantumu."
"Kemarilah, Cucuku!"
Xin Qian duduk di samping Ji Nian, kemudian Ji Nian menatapnya dengan tatapan takjub.
"Aku tidak tahu bagaimana kau melakukannya, tetapi kau sangat hebat," bisik Ji Nian di telinga Xin Qian.
"Jangan memujiku seperti itu," balas Xin Qian.
"Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya."
Xin Qian dan Ji Nian kemudian sama-sama tersenyum.
Setelah cukup lama menunggu dan berbincang-bincang dengan si Kakek, Nenek tua dan Qing Ming akhirnya datang dan mereka membawa beberapa mangkuk berisi sup hangat juga beberapa gelas berisi teh hangat.
"Yang Mulia Ratu, ketua Ji Nian. Makanlah sup hangat ini, rasanya sangat lezat. Kalian pasti menyukainya," ucap Nenek tua itu.
"Itu benar. Sup buatan Nenek memang sangat lezat, tetapi sudah sangat lama Nenek tidak memasaknya untuk kami," balas Qing Ming.
"Jangan bicara seperti itu, Qing Ming! Sekarang Nenekmu sudah sehat, kau bisa memakan sup buatan Nenekmu sepuasnya." Kakek tua menambahkan.
Semua orang tertawa sambil menatap anak kecil tersebut.
"Yang Mulia Ratu, ketua Ji Nian, makanlah selagi masih hangat."
"Baiklah."
Mereka menyantap dengan senang sup hangat yang telah Nenek tua itu siapkan.
"Nenek, sup ini memang sangat lezat. Aku belum pernah mencoba sup selezat ini," ucap Xin Qian.
"Itu benar, sup ini memang sangat lezat. Nenek sangat pandai membuatnya." Ji Nian menambahkan.
__ADS_1
"Terima kasih, Yang Mulia, ketua Ji Nian. Habiskan sup kalian! Jika kalian ingin lagi, aku bisa membuatkannya untuk kalian."