The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 26


__ADS_3

Pagi ini langit terlihat sangat cerah, bunga-bunga bermekaran dengan indah. Seolah mereka mendukung hari penobatan Xin Qian menjadi seorang Ratu. Kicauan burung yang hinggap di jendela, kini meramaikan acara penobatan itu.


Xin Qian masih berada di atas dan mengenakan jubah merah, ia terlihat sangat cantik seperti seorang Ratu. Para rakyat dan anggota istana telah berkumpul untuk menunggu kedatangannya.


"Ini adalah takdirku. Takdir seorang Putri menuju tahta dan menyandang gelar sebagai seorang Ratu. Akulah yang akan memimpin negeri ini, aku akan berkorban demi kedamaian di negeri ini," batin Xin Qian.


Ia kemudian menginjakkan kakinya satu persatu menuruni anak tangga.


"Putri Xin Qian telah datang. Mari kita berikan hormat kepada sang Putri," seru salah seorang prajurit.


Seketika semua orang tersenyum lalu menundukkan kepala mereka. Xin Qian berjalan melewati mereka dengan sangat anggun. Ia sampai tepat di depan Ayahandanya, mereka berdua saling tersenyum.


Raja Arlo kini tidak lagi memakai mahkotanya. Ia mengambil mahkota Ratu yang dibawa oleh master Lin yang berada di sampingnya. Xin Qian menunduk dan raja Arlo memakaikan mahkota tersebut ke atas kepala Putrinya.


"Putriku, hari ini aku serahkan tanggung jawab atas negeri ini kepadamu. Ayahanda yakin kau dapat menjadi seorang Ratu yang adil dan bijaksana."


Xin Qian membungkukkan tubuhnya memberikan hormat, lalu tersenyum.


Raja Arlo memundurkan langkahnya, lalu Xin Qian berdiri di tempat yang raja Arlo pijak sebelumnya. Ia menghadap ke semua orang yang ada dalam acara itu.


Mereka semua memberikan tepuk tangan kepada Xin Qian termasuk Shishi, walaupun ia melakukannya dengan sangat terpaksa.


"Mulai saai ini, aku adalah Ratu pemimpin negeri Peacelavia. Aku berjanji akan menjaga dan melindungi negeri ini dengan baik. Dan aku mohon kepada kalian semua, jika aku melakukan kesalahan maka tegurlah aku," ucap Xin Qian melalui pidato singkatnya.


"Kau adalah Ratu kami, kami akan mengabdi kepadamu hingga akhir hayat kami," balas salah satu rakyat.


"Hidup ratu Xin Qian!"


"Hidup ratu Xin Qian!"


"Hidup ratu Xin Qian!"


"Terima kasih semuanya. Sekarang nikmatilah pesta ini, buat diri kalian merasa senang."


Semua orang menikmati pesta yang diadakan dalam acara penobatan itu. Dan tanpa mereka sadari, ada dua iblis jahat yang telah bangkit. Kedua iblis tersebut menghampiri Jiang Li yang tengah menyendiri dari kerumunan orang.


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita menyerang mereka saat ini juga?"

__ADS_1


"Tidak. Aku masih ingin menikmati permainan ini."


"Lalu bagaimana dengan batu permata?"


Jiang Li baru ingat jika tujuannya selain merebut kekuasaan Peacelavia adalah mengambil batu permata.


"Yaa, aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil batu permata. Kalian berdua hancurkan dinding pelindung langit agar Ayahanda dan pasukannya dapat masuk dengan mudah."


"Baik, Tuan."


Jiang Li tersenyum lalu meninggalkan acara itu, ia pergi mencari tempat di simpannya batu permata. Ia membuka setiap ruangan yang ia lewati, sampai akhirnya ia melihat dari kejauhan ruangan yang pintunya digembok.


Jiang Li mendekati ruangan tersebut, tetapi belum sampai didekat pintu ia malah terpental dan jatuh.


"Ahhh, kurang ajar! Pasti raja Arlo dan para Master yang telah mengunci ruangan ini menggunakan sihir. Aku harus menggunakan sihirku untuk membukanya," ucap Jiang Li.


Ia kemudian menggunakan kekuatan sihirnya yang berupa elemen api untuk membuka gembok, tetapi Jiang Li tetap saja gagal. Ia mencoba sekali lagi untuk membuka gembok tersebut, kemudian ia berhasil dan gembok itu terbuka.


Ia langsung mendorong pintunya menggunakan kaki, lalu masuk dengan sangat santai.


"Ini adalah hari keberuntungan bagiku, Xin Qian. Batu permata akan menjadi milikku dan aku akan menjadi orang terkuat di muka bumi ini. Aku akan menjadi abadi dan tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan ku." Jiang Li tertawa lepas.


"Apa lagi ini? Segel pelindung batu permata? Ini tidak akan sulit, aku hanya perlu mengeluarkan sedikit sihir untuk membuka segelnya."


Jiang Li lalu membaca sebuah mantra dan mengeluarkan sihir untuk membuka segel pelindung itu. Segel itupun perlahan meleleh dan Jiang Li berhasil mendapatkannya.


"Batu permata ini sekarang menjadi milikku. Aku akan menjadi penguasa dunia, tubuhku akan abadi dan aku akan menghancurkan orang-orang itu."


Seorang Prajurit yang sedang berjaga melihat pintu ruangan batu permata terbuka lebar. Ia sangat panik lalu masuk, ia melihat Jiang Li yang sedang membawa batu permata itu.


"Tuan, apa yang kau lakukan di sini? Mengapa kau mengambil batu permata itu? Aku harus memberitahukan hal ini kepada sang Ratu." Prajurit itu bergegas meninggalkan ruangan itu.


Jiang Li yang merasa sangat senang, ia sama sekali tidak menghiraukan ucapan Prajurit itu. Ia menarik masuk Prajurit itu dan mencekiknya menggunakan sihir, hingga prajurit itu kini tewas.


"Tidak ada siapapun yang akan memberitahukan hal ini kepada sang Ratu." Jiang Li menurunkan prajurit yang telah tewas tersebut lalu meninggalkan ruangan itu.


Xin Qian merasa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi, perasaannya tidak tenang. Zhang Pei pun menghampirinya dan mencoba untuk berbicara dengannya.

__ADS_1


"Yang Mulia, apa ada sesuatu yang kau pikirkan?"


"Zhang Pei, aku tidak tahu mengapa aku merasa sangat gelisah. Aku seperti merasa ada hal buruk yang sedang terjadi."


"Tenanglah, Yang Mulia. Mungkin kau hanya sangat gugup dengan penobatanmu ini."


"Tidak, Zhang Pei."


"Xin Qian, apa yang terjadi?"


"Ayahanda, aku tidak tahu. Tapi aku merasa ada hal buruk yang sedang terjadi."


"Xin Qian, tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Kemarin telah diadakan ritual menyembah langit, saat ini dinding pelindung langit bertambah kuat. Tidak ada siapapun yang dapat menghancurkan perlindungan ini dari luar, Xin Qian. Jadi kau tenang saja."


"Entahlah, Ayahanda. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku berharap semuanya akan baik-baik saja."


"Baiklah, kau tetaplah di sini. Ayahanda akan menemui para Master."


Jiang Li menghampiri Xin Qian dan juga Zhang Pei. Ia bersikap seolah tidak terjadi apapun.


"Jiang Li, dari mana saja kau? Aku tidak melihatmu sejak tadi," tanya Zhang Pei yang sedikit curiga dengan Jiang Li.


"Aku berada di kerumunan dari tadi, itu sebabnya kau tidak melihatku," balas Jiang Li dengan santainya.


"Apa yang kau lakukan di sini bersama sang Ratu? Mengapa kau tidak menikmati pesta bersama mereka?"


"Aku tidak terlalu suka dengan pesta, Jiang Li."


"Baiklah."


"Zhang Pei, Jiang Li, aku harus pergi untuk melihat batu permata."


"Tidak!" Jiang Li menahan Xin Qian agar tidak pergi.


"Mengapa?"


"E-e-e, maksudku seorang Ratu tidak boleh meninggalkan pesta saat acara penobatannya. Bagaimana jika orang lain berpikir buruk tentangmu saat kau tidak ada disini?" Jiang Li menjelaskan.

__ADS_1


"Itu benar, Yang Mulia. Orang lain akan berpikir buruk tentangmu. Lebih baik kau di sini saja, lagipula batu permata pasti mendapatkan penjagaan yang sangat ketat," balas Zhang Pei.


"Mungkin kalian benar."


__ADS_2