
Di Negeri Longyou
Ji Nian berjalan melewati hutan lebat yang sangat luas. Ia melihat sebuah sampan di pinggiran sungai lalu menggunakan sampan tersebut untuk menyebrangi sungai.
Setelah menyebrangi sungai, ia sempat diserang oleh beberapa siluman penjaga hutan itu. Tetapi untungnya ia berhasil membuat mereka mundur.
Ji Nian pun sampai di depan sebuah jembatan yang sangat panjang. Jembatan itu adalah jalan satu-satunya untuk menuju negeri Longyou.
Tidak mudah untuk melewati jembatan itu, ia pun menggunakan beberapa mantra sihir agar dapat melewatinya. Jembatan itu sangat besar dan panjang, di bawahnya terdapat jurang yang sangat dalam dan mengerikan. Ia berhasil melewati jembatan itu dan ia melihat banyak sekali siluman hidup dengan damai di sana. Ji Nian berjalan melewati kerumunan itu dan mencari tempat tinggal tabib Urong.
Di tengah-tengah jembatan, ada siluman kera yang tidak sengaja menabrak Ji Nian. Siluman itu telah meminta maaf kepada Ji Nian, tetapi Ji Nian malah mengeluarkan pedangnya dan menyodorkan ke wajah siluman kera itu. Semua siluman yang melihatnya langsung berlarian untuk meninggalkan tempat itu.
Sedangkan siluman kera mengangkat kedua tangannya karena takut dengan Ji Nian. Dari belakang ada seorang laki-laki yang mengenakan hanfu berwarna putih yang juga menyodorkan pedangnya ke punggung Ji Nian.
Ia adalah Zhang Pei, laki-laki tampan yang merupakan keponakan dari tabib Urong. Kedua orangtuanya telah meninggal dan ia dibesarkan di negeri para siluman.
Ia juga memiliki kemampuan seperti Xin Qian, yaitu dapat memahami dan berbicara dengan hewan. Hal itu karena ia memiliki darah setengah manusia dan setengah siluman.
Ji Nian langsung menangkis pedang Zhang Pei dan terjadilah peperangan diantara keduanya. Hingga akhirnya Ji Nian berhasil dijatuhkan oleh Zhang Pei.
"Kau? Mengapa kau menghalangi ku untuk menyerang siluman itu? Aaa ... aku mengerti, jangan-jangan kau adalah raja dari para siluman itu." Ji Nian bertanya lalu menebak dengan sedikit cengengesan.
"Namaku Zhang Pei dan aku bukanlah raja dari para siluman itu!" Zhang Pei menegaskan kepada Ji Nian dengan santainya.
"Benarkah? Lalu mengapa kau malah menghalangiku untuk menyerang siluman itu?" Ji Nian berdiri dan bertanya dengan tatapan sinis.
"Para siluman itu telah menyelamatkanku dan juga Pamanku. Mereka membawa kami ke tempat ini saat kedua orang tuaku meninggal. Mereka sudah menjadi keluarga bagiku, jadi aku tidak akan membiarkan siapapun menyerang mereka."
"Sudahlah! Aku tidak ingin mendengar omong kosongmu, mari selesaikan pertarungan kita."
"Bukankah aku telah membuatmu kalah dalam pertarungan ini? Aku tidak ingin membuang-buang waktu berhargaku untuk meladenimu."
"Kau??"
Zhang Pei meninggalkan Ji Nian di tempat itu sendiri. Ji Nian berpikir jika Zhang Pei dapat membantunya untuk mencari tempat tinggal tabib Urong, karena Zhang Pei tadi mengatakan bahwa ia merupakan keponakan dari tabib Urong.
"Hey, tunggu!!"
Ji Nian berlari dan melewati kerumunan para siluman, tetapi ia tidak juga menemukan Zhang Pei.
"Kemana perginya orang aneh itu?" gumamnya dengan sedikit ngos-ngosan.
Setelah lama berputar-putar mencari Zhang Pei di tempat itu, akhirnya mereka bertemu kembali.
"Mengapa kau menghilang begitu cepat?" tanya Ji Nian dengan kesal.
"Kau saja yang berjalan begitu lambat."
__ADS_1
"Kau mengejekku?"
"Sudahlah, aku tidak ingin beradu mulut denganmu. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku di perintahkan oleh Raja untuk menemui tabib Urong."
"Untuk apa kau ingin bertemu dengan paman Urong?"
"Ada hal yang harus aku sampaikan kepada tabib Urong."
"Hal apa itu?"
"Putri Xin Qian telah terkena racun dan racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Tabib istana mengatakan bahwa hanya tabib Urong yang dapat menarik racun itu dari tubuh sang Putri."
"Putri Xin Qian? Aku seperti pernah mendengar nama itu, tapi dimana?" batin Zhang Pei.
"Ikutlah denganku! Aku akan mengantarmu ke tempat paman Urong."
Setelah lama berjalan menaiki tangga, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah. Zhang Pei membukakan pintu dan mempersilahkan Ji Nian untuk masuk. Ruangan itu dipenuhi dengan barang antik, artefak dan seni kuno Tiongkok.
"Untuk apa kau mengajakku ke galeri seni?" tanya Ji Nian menatap sinis wajah Zhang Pei.
"Ini bukanlah galeri seni, ini adalah rumah paman Urong. Dia memang suka mengoleksi barang-barang kuno," balas Zhang Pei yang sedang duduk di atas kursi.
"Lalu dimana paman Urong?"
"Paman, aku adalah Ji Nian dari negeri Peacelavia. Raja Arlo memerintahkan ku untuk membawamu ke istana, agar kau dapat mengobati putri Xin Qian."
"Raja Arlo??"
"Paman, apa kau mengenal raja Arlo?"
"Tentu saja. Dahulu manusia dan siluman hidup dengan damai dan berdampingan di Peacelavia. Tapi ketika penobatan Arlo menjadi Raja, salah satu teman seperguruannya yang bernama Wang Shu menentang hal itu."
"Bagaimana paman mengetahui cerita itu?"
"Aku dulu tinggal di Peacelavia sebagai seorang Tabib dan aku meninggalkan Peacelavia untuk melindungi diri dari Wang Shu saat dia kembali. Tetapi saat aku sedang dalam perjalanan, salah satu siluman jahat pengikut Wang Shu menghadangku dan dia hampir membunuhku. Tapi untungnya aku diselamatkan oleh beberapa siluman baik dan dibawa ke tempat ini."
"Lalu apa yang terjadi, Paman?"
"Wang Shu pernah memerintahkan siluman jahat untuk menghancurkan negeri ini, tetapi kami berhasil menghalangi mereka untuk masuk. Setelah kejadian itu, kami memutuskan untuk membuat jembatan menuju Longyou tidak terlihat. Dan hanya orang-orang tertentu yang dapat melewati jembatan itu."
"Itu artinya aku adalah salah satunya?"
"Benar."
"Kau tidak seharusnya membenci para siluman, karena tidak semua siluman itu jahat seperti yang kau pikirkan." Zhang Pei menyela pembicaraan.
__ADS_1
"Tidak sopan sekali kau menyela pembicaraan orang!" balas Ji Nian marah.
"Sudahlah, kalian tidak seharusnya bertengkar." Paman Urong melerai.
"Paman, bersediakah engkau ikut denganku ke negeri Peacelavia?"
"Maafkan aku, anak muda. Tetapi aku sudah berjanji tidak akan meninggalkan negeri ini."
"Tapi, paman. Putri Xin Qian sangat membutuhkan bantuanmu."
"Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak bisa membantumu."
"Aku bisa saja membantumu, itupun jika kau mau" ucap Zhang Pei yang berjalan mengelilingi Ji Nian.
"Tidak. Aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu," balas Ji Nian ketus sambil berjalan meninggalkan Zhang Pei.
"Aku tahu kau sangat membutuhkan bantuanku. Menarik racun dari tubuh seseorang bukanlah hal yang sulit bagiku, karena aku adalah murid dari paman Urong." Zhang Pei mengambil pedangnya lalu berjalan mendahului Ji Nian.
"Anak muda, biarkan Zhang Pei ikut denganmu. Dia yang akan menggantikan ku untuk mengobati putri," ucap paman Urong.
Ji Nian menghela nafas mengiyakan tawaran dari Zhang Pei karena ia tidak ingin memperlambat waktu.
Mereka berjalan beriringan dengan membicarakan tentang perselisihan antara siluman dan manusia. Zhang Pei juga memiliki tujuan lain yaitu mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi antara manusia dan siluman di masa lalu.
*****
Saat hendak menyebrangi jembatan, salah satu siluman menghampiri mereka.
"Master Zhang Pei, kau mau pergi kemana?" tanya siluman kelinci.
"Hah?? Jadi manusia aneh seperti mu adalah seorang master?" Ji Nian bertanya dan menertawakan Zhang Pei seolah tidak percaya jika Zhang Pei adalah seorang master.
"Aku harus pergi ke negeri Peacelavia untuk mengobati seorang Putri," jawab Zhang Pei dengan lembut dan mengabaikan ucapan Ji Nian.
"Apakah putri yang akan kau obati adalah putri Xin Qian?" tanya siluman kelinci.
"Bagaimana bisa dia tahu?" Ji Nian heran.
"Aku hanya menduganya, karena yang aku tahu di negeri Peacelavia hanyalah putri Xin Qian." Siluman kelinci meyakinkan.
"Bagaimana bisa kau mengenal putri Xin Qian?" Zhang Pei mengerutkan alisnya.
"Master, aku pernah bertemu dengannya ketika dia masih kecil. Dia sangat manis dan lucu." Siluman kelinci sedikit tersenyum.
"Wajah manis putri Xin Qian memang tidak pernah memudar hingga saat ini. Bisakah kita pergi sekarang?" Ji Nian memalingkan wajahnya.
"Siluman kelinci, kami harus segera pergi."
__ADS_1
"Baiklah. Berhati-hatilah kalian.