
Di Negeri Peacelavia
"Jadi, ini adalah negeri Peacelavia?" tanya Zhang Pei terkagum dengan keindahan Peacelavia.
"Kau bertanya seakan kau belum pernah melihat negeri ini," jawab Ji Nian ketus.
"Kau benar. Aku memang belum pernah melihat negeri ini, tapi aku pernah mendengar nama putri Xin Qian sebelumnya," balas Zhang Pei tersenyum menatap Ji Nian.
"Ah, sudahlah. Cepat ikut denganku!" seru Ji Nian.
Mereka sampai di depan istana dan masuk dengan diikuti dua prajurit di belakang mereka. Semua orang senang dengan kehadiran mereka.
"Ji Nian, kau sudah membawa tabib Urong?" tanya raja Arlo.
"Mohon ampun, Raja. Tabib Urong tidak dapat datang kemari, tetapi hamba membawa keponakannya yang juga memiliki kemampuan untuk menarik racun dari tubuh seseorang."
"Anak muda, siapa namamu?"
"Yang Mulia Raja, namaku Zhang Pei."
"Apa kau yakin kau bisa mengobati putriku Xin Qian?"
"Hamba yakin, Yang Mulia."
"Baiklah, Zhang Pei. Cepat lakukan tugasmu!"
"Baik, Yang Mulia."
Zhang Pei memandang wajah Xin Qian dengan kagum karena kecantikannya. Zhang Pei memegang leher Xin Qian yang terdapat bekas gigitan, lalu mengeluarkan mantra untuk menarik racun dari tubuh Xin Qian.
Xin Qian sempat mengalami kejang-kejang, tetapi Zhang Pei meyakinkan pada semua orang bahwa itu hanyalah efek dari mantra yang digunakan.
Sesaat kemudian Xin Qian sadar dan raja Arlo membantunya untuk bangun. Zhang Pei terkejut melihat Xin Qian menatapnya dengan mata yang berwarna ungu terang.
"Mata itu? Bukankah itu adalah mata dari siluman ular berkepala lima penjaga gunung langma? Tapi bagaimana bisa mata itu ada pada putri Xin Qian?" Zhang Pei membatin.
"Xin Qian, bagaimana keadaan mu?" tanya Arlo sambil mengelus rambut panjang putrinya.
"Aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, Ayahanda."
"Syukurlah. Dayang, segera beritahu Kakek Guru jika putri Xin Qian telah sadar!"
"Baik, Yang Mulia Raja."
"Xin Qian, ini adalah Zhang Pei. Dia menggantikan tabib Urong untuk mengobatimu."
"Terima kasih, Zhang Pei karena kau telah menolongku."
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih kepada ku, Putri. Sudah menjadi tugasku untuk menolong orang lain."
"Putri, kau sudah siuman? Bagaimana keadaanmu?" Master Lin Yang datang dengan tergesa-gesa.
"Aku baik-baik saja, Kakek Guru."
"Terima kasih, tabib Urong. Kau telah menyelamatkan putri Xin Qian."
"Sebelumnya aku minta maaf, Paman. Tapi aku bukanlah tabib Urong."
"Jika kau bukan tabib Urong, lalu siapa kau sebenarnya?"
"Namaku Zhang Pei, keponakan dari paman Urong."
"Lalu, mengapa bukan tabib Urong datang ke istana?"
"Paman Urong sudah tua, aku tidak bisa membiarkannya pergi ke tempat yang jauh dari rumahnya. Lagipula, tidak ada bedanya paman Urong ataupun aku yang mengobati sang Putri."
"Kau memang pemuda yang baik."
"Orang aneh itu pandai sekali mencari alasan," gumam Ji Nian yang memalingkan wajahnya.
"Kondisi putri Xin Qian masih sangat lemah. Kita harus membiarkannya untuk istirahat."
"Putri, beristirahatlah."
*****
"Hey kau!" panggil Ji Nian dengan suara keras.
"Kau memanggilku?" Zhang Pei menoleh dan bertanya dengan nada rendah.
"Bertarung lah denganku dan tunjukkan kemampuan berpedang yang kau miliki!" seru Ji Nian yang di tangan kanannya memegang sebilah pedang.
"Aku tidak bisa membuang-buang waktu hanya untuk meladenimu. Aku harus segera pergi." Zhang Pei tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi sebelum kau bertarung denganku!" Ji Nian menyerang Zhang Pei dengan pedangnya.
Zhang Pei selalu menghindar dari serangan Ji Nian tanpa membalasnya sekalipun.
"Mengapa kau terus menghindar? Apa kau tidak bisa melawanku? Aku dengar para siluman suka meminum darah manusia untuk memurnikan kekuatannya." Ji Nian memancing Zhang Pei agar mau menyerang balik.
"Selama siluman memiliki Master, maka mereka akan menjadi siluman yang baik dan tidak akan berkhianat. Aku adalah Master dari para siluman itu, dan mereka sama sekali tidak suka dengan darah manusia." Zhang Pei menegaskan ucapannya.
"Siluman pasti akan membela siluman." Ji Nian tersenyum licik.
Zhang Pei menarik pedang dari tangan salah satu Prajurit dan mereka berdua saling menyerang. Prajurit yang berada disana segera memberitahukan hal itu kepada master Lin Yang.
__ADS_1
Di taman depan kamarnya, Xin Qian sedang duduk di sebuah kursi dan meminum secangkir teh. Ia tersenyum melihat Zhulong yang melompat-lompat mengejar seekor kupu-kupu yang sedang terbang.
"Zhulong, apa kau pernah mendengar nama Zhang Pei sebelumnya?" tanya Xin Qian mengelus bulu halus kucing tersebut.
"Maksudmu Zhang Pei yang telah mengobatimu?"
"Benar. Apa kau mengenalnya?"
"Aku pernah mendengar namanya sebelumnya. Dia adalah seorang Master dari negeri Longyou. Salah satu temanku adalah murid dari Zhang Pei."
"Seorang master dari negeri Longyou? Zhulong, apakah itu artinya Zhang Pei adalah siluman?"
"Aku tidak tahu pasti tentang itu."
"Jika dia adalah siluman, lalu mengapa wujudnya persis seperti manusia? Siluman apa yang bisa mengubah wujudnya seperti itu?"
"Dia mungkin bukanlah siluman seutuhnya."
"Maksudmu?"
"Dia mungkin memiliki darah setengah manusia. Karena setahuku tidak ada siluman yang bisa mengubah wujud menjadi manusia."
"Kau benar."
"Xin Qian, apakah kau jatuh cinta dengan Zhang Pei?"
"Zhulong, aku akui dia memang laki-laki yang tampan dan lembut, tapi saat ini aku belum jatuh cinta kepadanya. Tidak tahu jika nanti."
"Xin Qian, aku sangat lapar. Bisakah kau mengambilkan makanan untuk temanmu ini?" Zhulong mengangkat tangan Xin Qian dan meletakkannya di atas perut buncitnya.
"Baiklah, tuan Zhulong. Aku akan membawakan makanan untuk mu." Xin Qian beranjak dari kursi meninggalkan Zhulong.
"Tapi, apakah kau sudah benar-benar sehat?" Zhulong menghentikan langkah Xin Qian.
"Aku sudah merasa sangat sehat sekarang. Kau dapat melihatnya sendiri." Xin Qian berhenti dan menghadap ke arah Zhulong.
Saat sedang berjalan menuju ke luar kamar, Xin Qian bertemu dengan Prajurit yang bersama dengan Ji Nian tadi. Prajurit itu mengatakan bahwa Ji Nian dan Zhang Pei sedang bertarung di luar istana.
Xin Qian berjalan cepat menuju tempat Ji Nian dan Zhang Pei bertarung. Xin Qian meminta mereka untuk menghentikan pertarungan itu, tetapi tidak ada yang menghiraukannya.
Master Lin Yang dan keempat master lainnya pun datang dan meminta Xin Qian untuk tenang. Master Lin Yang hanya memandangi Ji Nian dan Zhang Pei yang masih bertarung, lalu ia tersenyum.
"Master Lin, mengapa kita tidak menghentikan mereka?" tanya master Chen.
"Benar, master Lin. Kita tidak boleh membiarkan mereka bertarung seperti ini," ucap master Feng.
"Biarkan saja. Mari kita lihat siapa yang lebih kuat diantara mereka," balas master Lin tersenyum.
__ADS_1
Ji Nian dan Zhang Pei masih tetap bertarung tanpa memperhatikan jika para master dan putri Xin Qian sedang memperhatikan mereka. Hingga akhirnya Zhang Pei yang menjadi pemenang dalam pertarungan tersebut.
"Ah! Kurang ajar! Bagaimana bisa aku kalah melawan orang aneh itu?" Ji Nian terjatuh dan kesal.