
Sorenya, Shishi keluar dari kamar. Ia ingin melihat-lihat isi istana dan juga menemui Zhang Pei. Ia memastikan di sekelilingnya jika tidak ada orang lain.
Ia melihat sebuah ruangan yang pintunya sedikit berbeda dengan pintu kamar lain, lalu ia memasuki ruangan tersebut dengan sangat lancang.
Ruangan yang dimasukinya adalah kamar putri Xin Qian. Shishi dibuat iri dengan kehidupan mewah yang dimiliki putri Xin Qian.
Ia mendekati cermin dan mengambil tiara putri Xin Qian yang berada di dalam kotak di atas meja. Shishi kemudian memakai tiara itu di atas kepalanya.
"Tiara ini sangat indah dan aku terlihat lebih cantik daripada putri Xin Qian," ucapnya sambil memegang tiara yang berada di atas kepalanya.
Shishi berjalan mendekati lemari pakaian yang terbuat dari perak. Ia membuka pelan lemari tersebut, alangkah terkejutnya ia ketika melihat jubah merah yang sangat indah tergantung didalamnya.
Shishi mengenakan jubah itu tanpa meminta izin dari sang Putri, Shishi kemudian bercermin dengan mengenakan jubah tersebut dan tiara di atas kepalanya.
"Aku benar-benar terlihat seperti seorang Ratu," gumamnya.
Zhulong datang dan melihat ke arah cermin, ia seperti pernah melihat wanita itu sebelumnya. Ia pun menyadari bahwa wanita itu telah memakai jubah milik sang Ratu dan juga tiara milik Xin Qian. Zhulong kemudian melompat ke arah Shishi dan menarik tiara itu dengan mulutnya.
Xin Qian dan master Lin tiba-tiba datang dan melihat kejadian tersebut.
"Jubah itu?" Xin Qian terkejut karena melihat jubah milik Ibundanya dikenakan oleh Shishi.
"Shishi!!" teriak Xin Qian.
Shishi dan Zhulong menoleh ke arah pintu karena kaget.
"P-putri??" Shishi melebarkan matanya karena terkejut.
Xin Qian menghampiri Shishi dan memintanya untuk segera melepaskan jubah Ibundanya.
"Shishi, tidak sopan sekali kau mengenakan jubah ini? Cepat lepaskan sekarang juga!" Xin Qian melepaskan jubah milik sang Ratu yang dipakai Shishi dengan paksa.
Shishi berpura-pura merasa kesakitan agar master Lin membelanya, tetapi rencananya gagal dan master Lin malah memarahinya.
"Shishi, mengapa kau lancang mengenakan jubah merah itu?"
"Master, aku hanya ingin mencoba jubah ini. Jubah ini sangat indah dan aku hanya ingin mengenakanya sebentar."
"Lancang sekali kau masuk ke kamarku!! Kau juga telah lancang mengenakan tiaraku dan juga jubah milik Ibundaku. Apa kau tidak memiliki sopan santun sedikit pun?"
Zhang Pei masuk ke kamar Xin Qian karena ia mendengar suara Xin Qian yang sedang marah.
"Master, ada apa ini?" tanya Zhang Pei yang tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
Melihat kedatangan Zhang Pei, Shishi berpura-pura menangis agar Zhang Pei simpati kepadanya.
"Zhang Pei, putri Xin Qian memarahiku karena aku hanya ingin mencoba jubah dan tiara miliknya."
"Shishi, aku tidak pernah melihat putri Xin Qian semarah ini. Apa yang kau lakukan adalah salah, kau telah masuk ke kamar orang lain tanpa permisi dan kau telah mengenakan jubah sang Ratu tanpa meminta izin dari sang Putri."
"Tapi aku hanya ingin mencobanya."
"Dengarkan aku, Shishi! Aku bisa saja menjadi orang yang sangat lembut, tetapi aku juga akan menjadi sangat jahat jika kau berani menyentuh sesuatu yang hanya menjadi milikku," bentak Xin Qian.
Semua orang merasa takut dengan ucapan Xin Qian termasuk master Lin sendiri. Karena itu adalah kali pertama dia melihat Xin Qian marah.
Zhulong pun berjalan mundur dan bersembunyi di bawah meja sambil membawa tiara milik Xin Qian di mulutnya.
"Sekarang juga lepaskan jubah milik Ibundaku!" seru Xin Qian pelan tapi memaksa.
Shishi ketakutan dan membuka jubah yang dikenakannya. Ia lalu memberikan jubah merah itu kepada Xin Qian. Xin Qian langsung merebut jubah merah itu dan memasukannya ke dalam lemari dan menguncinya menggunakan sihir.
"Shishi, kau harus meminta maaf kepada putri Xin Qian," ucap master Lin.
"Putri, aku minta maaf. Aku berjanji aku tidak akan mengulangi perbuatanku."
Xin Qian memasang wajah datar dan membelakangi Shishi.
"Putri, aku sudah meminta maaf kepadamu, bolehkah aku pergi sekarang?"
"Putri, aku sudah meminta maaf kepadamu. Aku rasa masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi."
"Kau berbicara seolah-olah kau tidak melakukan kesalahan yang besar, Shishi."
"Xin Qian, tenanglah! Dia sudah meminta maaf kepada mu, biarkan saja dia pergi," ucap master Lin.
"Shishi, Aku memang menerimamu untuk tinggal di istana ini, tapi bukan berarti kau dapat keluar masuk ke kamar orang lain seenaknya. Sekarang pergilah dari kamarku dan jangan berani kembali ke kamar ini ataupun menyentuh barang-barang yang bukan milikmu!!"
"B-baik, Putri."
Xin Qian duduk di atas kasurnya dan merasa ia baru saja mengeluarkan energi yang sangat banyak sehingga dia kelelahan.
"Xin Qian, kendalikan amarahmu!"
"Kakek Guru, dia telah memakai jubah merah itu tanpa meminta izin dariku. Apakah itu hal yang pantas dia lakukan?"
"Aku mengerti, Xin Qian. Aku akan menasehati Shishi agar tidak melakukan hal seperti itu lagi."
__ADS_1
Master Lin meminta Zhang Pei untuk membawakan segelas air dan memberikannya kepada Xin Qian. Master Lin meminta Xin Qian untuk meminum air dalam gelas tersebut, tetapi anehnya air satu gelas tersebut langsung habis diminumnya.
"Xin Qian, kau tidak biasanya menghabiskan air satu gelas dalam waktu sekejap. Apa yang terjadi denganmu?"
"Aku tidak tahu, Kakek Guru. Aku merasa sangat lelah dan juga haus."
Master Lin memegang dahi Xin Qian dengan kedua jarinya dan membacakan sebuah mantra.
"Master, mantra apa yang kau bacakan kepada putri Xin Qian?"
"Zhang Pei, ini adalah mantra penenang jiwa. Tubuh Xin Qian sedang dikuasai oleh kekuatan api."
"Bagaimana bisa?"
"Ketika Xin Qian merasa sangat marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya, maka kekuatan api dalam tubuhnya akan menguasai dirinya."
"Tapi, Master. Apakah ini memang pertama kalinya putri Xin Qian sangat marah?"
"Benar, Zhang Pei. Sebelumnya aku tidak pernah melihat Xin Qian marah bahkan sampai semarah ini."
"Zhang Pei, aku akan pergi keluar. Jika kau mau kau boleh menemani Xin Qian di sini."
"Baik, Master."
Zhang Pei duduk di samping Xin Qian, lalu mengajak Xin Qian berbicara.
"Putri, jika aku boleh tahu mengapa Putri sangat menyayangi jubah merah itu?"
"Jubah merah itu adalah jubah milik Ibundaku. Ibunda memberikan jubah itu kepadaku saat detik-detik meninggalnya. Ibunda berharap aku yang merupakan anak semata wayangnya akan mengenakan jubah merah itu disaat penobatanku menjadi seorang Ratu."
"Pantas saja jika Putri sangat marah ketika Shishi mengenakan jubah merah itu."
Zhulong yang melihat kamar Xin Qian sudah sepi, ia keluar dari bawah meja dan duduk di pangkuan Xin Qian. Zhulong memberikan tiara milik Xin Qian yang ia bawa.
"Xin Qian, aku sangat takut melihatmu marah-marah seperti tadi. Aku telah membawa tiaramu kembali, Xin Qian. Aku berjanji akan menjaga barang-barangmu agar tidak ada orang lain yang menyentuhnya, aku tidak ingin kau menjadi sangat marah."
"Terima kasih, Zhulong."
"Putri, aku dengar besok adalah hari penobatanmu menjadi seorang Ratu. Apakah itu benar?"
"Itu benar."
"Putri, aku ucapkan selamat kepadamu."
__ADS_1
"Terima kasih, Zhang Pei."
"Sama-sama."