
Ji Nian membawa Xin Qian ke tempat yang sepi dan melihat ke sekelilingnya jika tidak ada seorangpun yang melihat mereka.
"Ji Nian, apa yang ingin kau katakan?" tanya Xin Qian sambil melihat ke sekelilingnya.
"Yang Mulia, aku tadi mendengarkan pembicaraan Jiang Li dengan kepala desa. Kepala desa itu mengatakan jika mereka kekurangan bahan makanan dan meminta Jiang Li untuk memberikan bahan makanan dari istana, tetapi Jiang Li tidak mau memberikan sedikit bahan makanan untuk mereka." Ji Nian menjelaskan.
"Ji Nian, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus bicara kepada Jiang Li." Xin Qian hendak pergi menemui Jiang Li, tetapi Ji Nian menahannya.
"Tidak, Yang Mulia. Jiang Li tidak akan mendengarkan ucapanmu."
Xin Qian terdiam sebentar dan berpikir.
"Kau benar, Ji Nian. Dia tidak akan mendengarkan ucapanku. Kalau begitu kita harus memberikan bahan makanan kepada para rakyat, walaupun tanpa meminta izin dari Jiang Li."
"Kau benar, Yang Mulia. Kita harus membantu para rakyat, tidak penting jika Jiang Li tidak memberikan izin kepada kita."
"Ji Nian, perintahkan beberapa Prajurit untuk pergi ke desa dan membawa bahan makanan dalam upeti. Aku juga akan ikut dengan menunggang kuda, tetapi kita harus pastikan Jiang Li ataupun Wang Shu tidak melihat ini."
"Baik, Yang Mulia."
Ji Nian meminta kepada beberapa Prajurit untuk memasukkan bahan makanan ke dalam upeti, juga meminta prajurit menyiapkan dua kuda untuk ditungganginya dan untuk Xin Qian.
"Maaf, Ketua. Tetapi untuk siapa dua kuda itu? Dan kemana bahan makanan ini akan dibawa pergi?" tanya salah satu prajurit.
"Bahan makanan itu akan dibawa ke pedesaan dan dibagikan kepada warga desa. Dua kuda itu akan aku tunggangi dengan Yang Mulia Ratu," balas Ji Nian.
"Tapi, Ketua. Aku takut jika Yang Mulia Raja Jiang Li mengetahui hal ini, dia tidak akan mengampuni ku," ucap Prajurit tersebut dengan menundukkan pandangannya.
"Kau jangan pikirkan hal itu. Kita hanya perlu memastikan jika tidak ada seorangpun yang melihat kita membawa bahan makanan ini keluar istana."
"Baiklah, Ketua. Aku akan meminta yang lain untuk berhati-hati."
Xin Qian menghampiri Ji Nian dan beberapa Prajurit.
"Yang Mulia Ratu." Semua orang membungkukkan tubuhnya memberikan hormat kepada Xin Qian.
"Ji Nian, apa semuanya telah siap?"
"Semuanya sudah siap. Kita bisa pergi sekarang, Yang Mulia"
"Baiklah."
*******
Dayang itupun berjalan dengan cepat dan tidak sengaja menabrak Shishi. Dayang tersebut meminta maaf kepada Shishi, tetapi Shishi tidak berhenti memarahinya.
"Mengapa kau tidak menggunakan matamu saat berjalan?" bentak Shishi.
__ADS_1
"Maafkan aku, Nona. Aku sedang terburu-buru, jadi aku tidak melihat jika nona Shishi berada di depanku." Dayang tersebut menunduk dan tidak berani menatap wajah Shishi.
"Oo, kau sedang terburu-buru ya? Mengapa sangat terburu-buru seperti itu? Apa kau sedang dikejar oleh iblis jahat?"
"Benar."
"Apa??"
"Tidak, Nona. Aku sedang terburu-buru karena ingin menyampaikan sesuatu kepada master Zhang Pei."
"Apa yang ingin kau sampaikan?"
"Aku hanya akan mengatakannya kepada master Zhang Pei saat aku bertemu dengannya nanti."
"Kau berani menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Nona, maafkan aku. Tetapi aku sedang terburu-buru, aku harus pergi."
Dayang itu meninggalkan Shishi begitu saja tanpa menatapnya. Shishi pun merasa sangat kesal dengan sikap dayang tersebut.
"Berani sekali dia bersikap seperti itu kepadaku? Tapi apa yang ingin dia sampaikan kepada Zhang Pei? Aku harus mengikutinya," gumamnya.
Tidak lama setelah itu, Dayang tersebut bertemu Zhang Pei yang sedang minum ditemani oleh roh penjaga, tetapi Dayang tersebut tidak melihat roh penjaga tersebut. Dayang itupun langsung menghampiri Zhang Pei dan menyampaikan maksudnya.
"Master Zhang Pei!" panggil Dayang tersebut kepada Zhang Pei.
"Master, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
"Apa yang ingin kau katakan?"
Dayang itu sangat gugup dan takut jika Zhang Pei tidak akan percaya kepada apa yang dia katakan.
"Master, sebenarnya aku ingin mengatakan jika tadi aku tidak sengaja lewat di depan kamar nona Lui Wei dan aku mendengar nona Lui Wei ingin membunuh raja Arlo."
"Apa kau yakin dengan hal itu?"
"Aku sangat yakin, Master. Aku mendengar dengan jelas jika nona Lui Wei mengatakan hal itu."
"Lalu bagaimana dengan Yang Mulia Ratu? Apa kau telah memberitahukan hal ini kepadanya?"
"Master, seharusnya Yang Mulia Ratu telah mengetahui hal ini jika Yang Mulia Ratu tidak pergi dengan ketua Ji Nian."
"Pergi dengan ketua Ji Nian?"
"Benar, Master."
"Tapi pergi kemana?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Master. Tetapi ketua Ji Nian mengatakan jika ada hal yang penting yang ingin ketua katakan kepada Yang Mulia Ratu."
"Itu artinya nyawa Yang Mulia Raja sedang terancam dan Yang Mulia Ratu belum mengetahui hal ini."
Zhang Pei membelakangi Dayang tersebut sambil memikirkan sesuatu.
"Dayang, aku ingin kau tidak mengatakan hal ini kepada siapapun."
"Baiklah, Master."
Setelah Zhang Pei dan Dayang tersebut pergi meninggalkan tempat itu, Shishi pun keluar dari tempat persembunyiannya.
"Lui Wei ingin membunuh Yang Mulia Raja? Tapi apa masalahnya dengan Yang Mulia Raja? Bukankah dia sangat membenci Xin Qian?" gumam Shishi.
"Apakah Yang Mulia Raja hanya akan dijadikan pancingan agar Yang Mulia Ratu menjauhi Jiang Li?"
"Entahlah. Aku akan pikirkan hal itu nanti."
Dayang tersebut pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan, tetapi tanpa ia sadari ternyata Lui Wei berjalan pelan di belakangnya. Lui Wei juga membawa pisau tajam di tangan kanannya.
Lui Wei kemudian menarik tangan Dayang tersebut dan membawanya ke luar istana.
"Nona, tolong lepaskan aku! Kau ingin membawaku kemana?" Dayang tersebut meronta-ronta melepaskan tangannya dari genggaman Lui Wei.
"Diam kau! Aku akan membunuhmu karena kau telah mengetahui rencanaku." Lui Wei melebarkan matanya.
"Tidak, Nona. Tolong jangan lakukan itu."
Dayang itu terus memohon agar Lui Wei tidak membunuhnya, tetapi Lui Wei tidak mendengarkannya dan tetap menusukkan pisau tajam itu ke perut Dayang hingga berkali-kali.
Dayang itupun terjatuh dan mati. Lui membuang mayatnya ke hutan agar binatang buas memakannya dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya.
*******
Zhang Pei pergi menuju keluar istana dan menanyakan keberadaan Xin Qian juga Ji Nian kepada salah satu Prajurit.
"Prajurit, kemarilah!"
"Ada apa, Master?"
"Apa kau tahu kemana Yang Mulia Ratu dan ketua Ji Nian pergi?"
"Maafkan aku, Master. Tetapi aku tidak tahu kemana Yang Mulia Ratu juga ketua Ji Nian pergi. Aku sejak tadi berjaga di sini, tetapi tidak melihat seorangpun yang pergi meninggalkan istana."
"Baiklah kalau begitu. Kau bisa melanjutkan tugasmu."
"Baik, Master."
__ADS_1
"Kemana mereka pergi? Dan hal penting apa yang ingin ketua Ji Nian katakan kepada Yang Mulia Ratu?" batinnya.