The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 35


__ADS_3

Jiang Li bangun dari tidurnya, ia melihat dirinya telah berada di atas ranjang dan terdapat selimut ditubuhnya. Ia ingat jika tadi malam dirinya sengaja meminum minuman yang memabukkan, karena ia sangat bingung dengan perasaannya sendiri.


Ia melihat ke sekelilingnya, tetapi ia tidak melihat Xin Qian di sana. Ia kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencari Xin Qian, tetapi Xin Qian juga tidak ada di dalamnya.


"Ini masih sangat pagi, tetapi ia sudah tidak ada di dalam kamar. Kemana dia pergi?" ucap Jiang Li pada dirinya sendiri.


Jiang Li keluar dari kamarnya lalu bertemu dengan seorang Dayang, ia menanyakan keberadaan Xin Qian kepada Dayang tersebut.


"Di mana Xin Qian?" tanya Jiang Li kepada Dayang tersebut.


"Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak melihat Yang Mulia Ratu keluar dari kamarnya," jwab Dayang tersebut.


"Dasar tidak berguna!" balas Jiang Li marah.


Jiang Li kemudian pergi menemui Prajurit penjaga istana dan menanyakan Xin Qian.


"Prajurit!" panggil Jiang Li.


"Hamba, Yang Mulia," ucap salah satu Prajurit.


"Kemana Xin Qian pergi?" tanya Jiang Li kepada mereka.


"Mohon ampun, Yang Mulia. Tetapi kami tidak melihat Yang Mulia Ratu sejak tadi," jawab Prajurit yang satunya.


"Bagaimana semua orang tidak melihatnya? Apa yang kalian lakukan sampai-sampai dia pergi kalian tidak tahu?" tanya Jiang Li dengan nada marah.


Lui Wei menghampiri Jiang Li dan sengaja mengatakan kepada Jiang Li tentang apa yang dilihatnya, dengan alasan agar Jiang Li semakin marah dengan Xin Qian.


"Yang Mulia Raja, aku melihat ratu Xin Qian pergi keluar istana dengan tergesa-gesa. Dan aku pikir sang Ratu telah meminta izin kepadamu, tapi ternyata tidak." Lui Wei mencoba untuk membuat Jiang Li marah kepada Xin Qian.


"Berani sekali dia keluar tanpa izin dariku? Kemana dia pergi?"


"Aku tidak tahu pasti, Yang Mulia. Tapi aku sangat yakin jika dia pergi untuk mencari seseorang yang dapat membuka totokannya. Dia sangat membencimu, dia pasti ingin menggunakan kekuatannya dan membalas dendam kepadamu."


Lui Wei sebenarnya tidak tahu Xin Qian pergi kemana, tetapi ia sengaja mengatakan hal itu agar Jiang Li marah kepada Xin Qian.


"Kurang ajar! Prajurit, bawa pasukan untuk mencari keberadaan Xin Qian! Temukan dia secepatnya!"


"Baik, Yang Mulia."

__ADS_1


"Xin Qian, aku tidak sabar melihat Jiang Li marah besar kepadamu. Aku sudah mengatakan jika Jiang Li hanyalah milikku, aku tidak akan membiarkan mu hidup bahagia bersamanya," batin Lui Wei.


*******


Xin Qian kini telah keluar dari negeri Peacelavia, ia berjalan menyusuri setiap hutan seorang diri. Ketika ia sampai di sebuah hutan yang sangat lebat, ia dihadang oleh dua roh penjaga hutan tersebut.


"Siapa kau berani sekali masuk ke hutan ini?"


"Aku Xin Qian, aku adalah Ratu penguasa negeri Peacelaviala."


"Aku tidak peduli meski kau adalah seorang Ratu. Jika kau telah memasuki hutan ini tanpa izin, itu artinya kau menyatakan perang dengan kami."


Kedua roh penjaga itupun langsung menyerang Xin Qian. Xin Qian tidak bisa menggunakan kekuatannya secara keseluruhan, tetapi ia tidak punya pilihan lain selain bertarung dengan mereka.


Xin Qian memang tidak bisa menggunakan kekuatannya, tetapi ia memiliki ilmu beladiri yang cukup mengagumkan. Xin Qian terbang dan menggerakkan bebatuan dan melemparkannya kepada dua roh penjaga itu.


Salah satu roh penjaga sengaja membuat salah satu pohon besar tumbang agar menimpa Xin Qian yang berada di bawahnya, tetapi hal itu gagal dan Xin Qian selamat.


Kedua roh penjaga itu berlari ke arah Xin Qian dan hendak menyerangnya. Xin Qian mencoba untuk membekukan tanah yang mereka pijak agar kedua roh penjaga itu membeku.


Tetapi kekuatan esnya berjalan sangat lambat, sehingga kedua roh itu berhasil menyerang Xin Qian dan membuatnya jatuh tersungkur.


Kedua roh penjaga itupun hendak membunuh Xin Qian, tetapi tiba-tiba datang seseorang yang menolongnya. Orang itu adalah Zhang Pei, Zhang Pei melawan kedua roh penjaga tersebut sampai kedua roh penjaga itu musnah.


"Yang Mulia, untuk apa kau pergi ke tempat ini? Apa yang sedang kau cari di sini?" tanya Zhang Pei.


"Kau tidak perlu tahu. Kembalilah ke istana, Zhang Pei! Aku tidak membutuhkan bantuanmu," balas Xin Qian membelakangi Zhang Pei.


"Aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian di tempat seperti ini, Yang Mulia," ucapannya membuat Xin Qian terdiam.


"Mengapa? Kau takut jika aku tidak akan kembali lagi? Sudahlah, Zhang Pei! Kembalilah ke istana sekarang!" Xin Qian membalikkan tubuhnya ke arah Zhang Pei.


"Yang Mulia, mengapa kau jadi seperti ini? Apa kau marah karena aku tidak melakukan apapun saat pernikahanmu dengan Jiang Li berlangsung? Aku minta maaf kepadamu, tapi aku melakukan semua itu demi keselamatanmu dan para siluman."


"Apa maksudmu, Zhang Pei?"


"Yang Mulia, Jiang Li mengancam akan membunuh para siluman jika aku mengganggu pernikahan kalian. Dan aku tahu jika kau sangat menyayangi para siluman itu layaknya keluarga, itu sebabnya aku tidak melakukan apapun untukmu."


"Yang Mulia, sekali lagi maafkan aku. Aku benar-benar tidak rela jika kau menikah dengan Jiang Li. Tapi semuanya sudah terjadi dan aku tidak dapat melakukan hal apapun."

__ADS_1


"Zhang Pei, kau telah melakukan yang terbaik. Aku yang terlalu egois, aku tidak memikirkan bagaimana jika aku berada diposisimu saat itu."


"Tidak, Yang Mulia. Semua orang tahu, jika menjadi sepertimu bukanlah hal yang mudah. Kau tidak egois, kau selalu memikirkan nasib kami."


Xin Qian lalu tersenyum dan memeluk erat Zhang Pei. Zhang Pei ikut tersenyum dan membalas pelukan itu.


"Zhang Pei, aku mungkin telah menikah dengan Jiang Li. Tapi percayalah, hatiku hanya akan menjadi milikmu, Zhang Pei."


"Aku percaya kepadamu, Yang Mulia. Kau adalah satu-satunya wanita yang aku cintai, hatiku juga selamanya akan menjadi milikmu. Aku akan melakukan apapun agar bisa melihat mu tersenyum bahagia," batin Zhang Pei.


"Zhang Pei, bagaimana kau tahu jika aku di sini?"


"Aku mengikutimu."


"Yang Mulia, katakan padaku apa tujuanmu datang ke tempat ini!"


"Zhang Pei, kemarin malam Ibunda datang dalam mimpiku. Dan Ibunda mengatakan bahwa ada sebuah rahasia yang harus aku ketahui, dan aku sangat bingung mengapa aku bisa bermimpi seperti itu."


"Yang Mulia, mimpi hanyalah bunga tidur. Kau tidak perlu terlalu memikirkannya."


"Itu benar, Zhang Pei. Tetapi saat pernikahanku dengan Jiang Li kemarin, ada seseorang pria tua yang mengatakan hal sama seperti yang Ibunda katakan dalam mimpiku. Dan pria tua itu meminta ku untuk pergi menemui pria tua di hutan es."


"Mengapa bisa kebetulan seperti itu?"


"Entahlah."


"Zhang Pei, sebenarnya selain hal itu tujuanku adalah untuk mencari tahu di mana keberadaan paman Yu saat ini."


"Paman Yu?"


"Benar."


"Untuk apa kau mencarinya?"


"Aku membutuhkan pedang damaskus untuk mengeluarkan batu permata dari tubuhku. Jika batu permata ini tidak segera keluar, maka selamanya tubuh akan terjebak di dalamnya dan bukan batu permata yang terjebak di dalamku."


"Tapi, Yang Mulia. Bukankah dengan begitu kau akan kekal abadi?"


"Itu benar. Tapi apalah arti kekal jika kita tidak dapat memerangi kejahatan. Totokan ini tidak akan bisa dibuka, dan selama itu aku tidak akan bisa menggunakan kekuatanku."

__ADS_1


"Aku sangat mengerti, Yang Mulia. Aku berjanji aku akan membantumu."


"Terima kasih, Zhang Pei


__ADS_2