The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 24


__ADS_3

Dalam permainan bola ini, tim Ji Nian berhasil mengalahkan tim Zhang Pei. Tim Zhang Pei kalah karena Shishi terus membuntuti Zhang Pei dan hal itu membuat Zhang Pei merasa tidak nyaman. Master Lin meminta mereka untuk kembali ke istana dan membersihkan diri mereka.


"Zhang Pei, maafkan aku. Tim kita kalah karenaku."


"Bagus jika kau menyadarinya. Seharusnya kau tidak ikut bermain denganku."


"Hey, siluman! Jika kau kalah kalah saja, tidak usah menyalahkan orang lain. Dasar siluman aneh!"


"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Dan kau Shishi, jangan pernah mengikutiku lagi!"


Zhang Pei meninggalkan mereka dengan wajah datar. Shishi hendak mengikutinya, tetapi Ji Nian malah menariknya.


"Untuk apa kau mengikuti siluman itu? Bukankah dia telah mengatakan bahwa dia tidak ingin kau mengikutinya lagi?"


Shishi menghentakkan kakinya karena kesal dan pergi meninggalkan Ji Nian juga teman-temannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Wanita itu sangat aneh," ucap Ji Nian.


"Ketua, aku rasa dia sangat terobsesi dengan master Zhang Pei," balas Junqing.


"Kau benar, dan siluman itu merasa tidak nyaman dengan kehadiran Shishi di hidupnya. Itu sangat menyenangkan."


"Apanya yang menyenangkan?"


"Ah, sudahlah. Kita bersihkan diri kita sekarang."


"Baiklah."


Di kamarnya, Zhang Pei melihat Lani yang sedang bermain bersama Zhulong. Ia kemudian menghampiri mereka.


"Zhulong, kau di sini?" tanya Zhang Pei. Tetapi Zhulong tidak menjawabnya sama sekali.


"Mengapa kau terlihat sedih Zhulong?" Zhang Pei kembali bertanya, tetapi tidak ada jawaban apapun darinya.


"Dimana putri Xin Qian?"


"Zhang Pei, Xin Qian memintaku untuk meninggalkannya sendiri."


"Dimana?"


"Di taman belakang istana."


"Mengapa Xin Qian memintamu untuk meninggalkannya?"


"Dia bersedih, karena dia telah menolak Jiang Li."


"Jiang Li?"


"Benar. Jiang Li mencintai Xin Qian, tetapi Xin Qian tidak mencintainya. Xin Qian bilang dia tidak ingin menaruh harapan kepada seseorang, karena seseorang adalah penyebab sakit hati."


"Jadi maksudmu Jiang Li menyatakan perasaannya kepada Putri?"


"Benar. Setelah itu Xin Qian bersedih dan memintaku untuk meninggalkannya."

__ADS_1


"Zhulong, kau harus memahami perasaan putri Xin Qian."


"Aku sudah memahami perasaannya, Zhang Pei."


"Kalian tunggu di sini, aku akan pergi menemui putri Xin Qian."


"Jangan! Jika kau menemuinya sekarang, Xin Qian tidak akan berbicara kepadamu."


"Kau benar. Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Kau bermain saja di sini bersama kami."


"Benar, Master."


"Baiklah. Aku akan bermain bersama kalian di sini."


*******


Jiang Li sedang mondar-mandir di dalam kamarnya.


"Tidak mudah untuk menaklukkan hati putri Xin Qian." Jiang Li meletakkan kedua tangannya di atas meja.


"Jika aku tidak bisa menaklukan hati putri Xin Qian, aku harus menaklukkan hati Ayahnya. Pria tua itu pasti dapat dengan mudah ditaklukkan."


"Jika aku sudah mendapatkan hatinya, dia akan sangat dekat denganku. Dan kemungkinan besar dia akan memintaku untuk menjadi pendamping hidup Putri tercintanya, karena usianya yang sudah tua dia tidak mungkin selalu ada untuk sang Putri. Dengan begitu, batu permata dan juga negeri ini akan menjadi milikku." Jiang Li mengepalkan tangannya dan tersenyum licik.


"Tunggu dulu! Tapi bagaimana jika putri Xin Qian tidak mau menuruti permintaan Ayahandanya? Itu tidak mungkin, putri Xin Qian sangat menyayangi Ayahandanya. Dia pasti akan melakukan apapun agar Ayahandanya bahagia."


"Yang harus aku lakukan saat ini adalah mendekati raja Arlo untuk mendapatkan hatinya." Jiang Li tersenyum licik.


Jiang Li pergi untuk mencari Zhulong, ia menutup pintu kamarnya. Saat ia berbalik, ia tidak sengaja menabrak Shishi.


"Ahh, apa kau tidak melihat ku disini?" Shishi memarahi Jiang Li.


"Tubuhmu sebesar ini, tetapi otakmu sangat kecil," ucap Ji Nian.


Shishi melebarkan mata dan juga membuka mulutnya.


"Kau mengatakan otakku kecil?"


"Benar. Otakmu memang kecil. Kau melihatku ada di sini, seharusnya kau menyingkir."


"Tidak sopan sekali kau berbicara seperti itu kepadaku. Kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah keponakan dari raja Arlo, dan aku yang akan menjadi Ratu penerus negeri ini."


"Apa maksudmu?"


"Putri Xin Qian tidak pantas mendapatkan gelar seorang Ratu. Dia juga tidak pantas bersanding dengan master Zhang Pei."


"Ternyata dia menyukai Zhang Pei, dan dia juga ingin menyingkirkan Xin Qian. Tapi aku tidak ingin melibatkan wanita ini dalam rencanaku, karena bisa saja dia berkhianat," batin Jiang Li.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Mengapa kau sangat ingin tahu? Menyingkirlah!" Jiang Li meninggalkan Shishi.

__ADS_1


"Hehhh! Kurang ajar!"


Jiang Li mencari Zhulong di dalam istana, tetapi tidak juga ia temukan. Akhirnya ia berjalan melewati kamar sang Raja yang sedikit terbuka. Jiang Li yang melihat pintu kamar Raja terbuka, ia langsung mendekatinya.


"Mengapa banyak sekali orang di dalam? Apakah raja Arlo sedang sakit? Tapi bukankah tadi raja Arlo tidak apa-apa?" batin Jiang Li.


Raja Arlo yang melihat Jiang Li sedang berdiri di depan pintu kamarnya, ia langsung memanggil Jiang Li dan memintanya untuk segera masuk.


"Yang Mulia, maafkan aku. Aku tidak sengaja melihat pintu kamarmu terbuka dan aku melihat banyak orang di sini." Jiang Li terlihat gugup dan mencari alasan.


"Yang Mulia Raja, apa kau sedang sakit?" Jiang Li mendekati sang raja. Ia kini sangat dekat dengan Xin Qian yang sedang menangis dan duduk di samping sang Raja.


"Tidak, Jiang Li. Aku hanya sedikit lelah." Sang raja menjawab dengan wajah yang pucat.


"Lalu mengapa putri Xin Qian menangis?" tanya Jiang Li.


"Dia sangat takut jika Ayahandanya pergi meninggalkannya," balas sang raja sambil tersenyum.


"Ayahanda ...." Xin Qian memegang lengan Ayahandanya. Ia tidak ingin Ayahandanya mengatakan hal seperti itu.


"Tidak, Xin Qian. Ayahanda hanya bergurau."


"Yang Mulia, putri Xin Qian masih sangat membutuhkanmu. Jadi kau harus lekas sembuh."


"Kau benar."


"Jiang Li, bagaimana hari-harimu di istana ini? Apa kau senang?"


"Tentu saja, Yang Mulia. Tapi ada sesuatu yang membuatku tidak merasa senang."


Xin Qian yang mendengar ucapan Jiang Li pun langsung menoleh ke arah Jiang Li.


"Apakah dia tidak senang karena tadi aku mengatakan hal itu kepadanya? Maafkan aku jika aku telah menyakiti hat mu, Jiang Li," batin Xin Qian sambil menunduk lalu menatap Jiang Li kembali.


"Tidak senang? Memangnya apa yang membuatmu tidak senang di sini?"


"Yang Mulia, aku hanya sedang merindukan keluargaku, Yang Mulia."


"Jiang Li, semua orang di sini adalah keluargamu. Kau tidak perlu bersedih."


"Terima kasih, Yang Mulia karena telah menganggapku sebagai keluarga."


Sang Raja dan semua orang di sana tersenyum.


Xin Qian keluar bersama Jiang Li dan menutup pintu kamar Ayahandanya.


"Putri, kau mau kemana?" Jiang Li memegang tangan Xin yang hendak pergi.


"Aku ingin pergi ke kamar. Ada apa, Jiang Li? Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Xin Qian dengan nada rendah.


"Tidak."


"Baiklah, kalau begitu lepaskan tanganku!"

__ADS_1


"Maafkan aku."


Xin Qian tersenyum lalu meninggalkan Jiang Li.


__ADS_2