
Lu Xiang terbang dan menghadang Xin Qian dari depan. Xin Qian pun sangat kesal dengan sikap Lu Xiang yang selalu menghalanginya untuk mencari Lian.
"Lu Xiang, jika kau tidak ingin membantuku untuk mencari Lian, lebih baik kau pergi dari sini. Jangan pernah menghalangiku untuk mencari keberadaan Putraku!"
Lu Xiang menarik lengan Xin Qian. "Aku akan membantumu untuk mencari Lian, tapi kau tidak boleh gegabah seperti ini."
"Lu Xiang, Putraku telah diculik oleh iblis jahat. Apakah aku harus berdiam diri di sini dan tidak melakukan hal apapun?"
"Xin Qian, kita tidak bisa melawan para iblis itu dan membawa Lian kembali begitu saja. Karena kita bukanlah mengambil permen dari seorang bayi."
"Tapi aku tidak bisa menunggu lama. Aku harus menyelamatkan Putraku."
"Tenanglah, Xin Qian. Aku akan meminta bantuan kepada para siluman untuk menyerang para iblis itu."
"Baiklah, Lu Xiang."
******
Di istana iblis ....
Rong Peng sedang duduk di tahta sambil tersenyum. Dia sedang menunggu kedatangan Xin Qian untuk menyelamatkan Lian dari sana.
"Yang Mulia Ratu, anak kecil itu sangat nakal. Dia menjatuhkan semua barang-barang yang berada di dalam kamar."
"Apa maksudmu?"
"Benar, Yang Mulia. Dia juga menjambak rambutku sampai kepalaku terasa sangat sakit."
"Ikut aku untuk menyusul anak kecil itu sekarang."
"Baik, Yang Mulia."
Saat Rong Peng sampai di kamar tempat ia menyekap Lian, ia melihat tubuh Lian bersinar dengan terang.
Rong Peng dan para iblis juga melihat batu permata sedang bergerak di dalam tubuh Lian.
"Yang Mulia, batu permata itu bergerak di dalam tubuhnya."
"Benar, Yang Mulia. Apakah hal itu tidak akan berbahaya bagi kita jika kita mendekatinya?"
"Dia tidak akan bisa menguasai kekuatan batu permata yang berada di dalam tubuhnya. Karena aku sangat yakin jika Xin Qian ataupun para Master belum mengajarkan hal itu padanya."
Lian dengan sengaja melemparkan pot bunga ke arah Rong Peng, untungnya saja Rong Peng dapat segera menghindar dari lemparan tersebut.
Rong Peng ingin sekali memukul anak kecil itu karena sudah sangat kurang ajar kepadanya, tetapi ia harus berpura-pura baik agar Lian luluh dengannya.
Rong Peng lalu mendekati Lian dan mengelus rambutnya.
"Lian, mengapa kau bersikap seperti itu kepada Bibi?" tanya Rong Peng dengan lembut.
"Aku sangat kesal dengan Bibi dan orang-orang itu. Bibi bilang akan membawaku ke suatu tempat yang di sana terdapat banyak mainan, tapi Bibi malah membawaku ke istana Bibi," balas Lian dengan wajah yang polos.
__ADS_1
"Aku juga tidak menyukai mereka." Lian menunjuk ke arah para iblis yang menjaganya.
"Mereka? Tapi apa alasannya? Mengapa kau tidak menyukai mereka?"
"Wajah mereka sangat menyeramkan tapi aku tidak takut dengan mereka. Aku hanya tidak suka karena mereka memintaku untuk diam dan tidur, padahal aku ingin sekali bermain."
"Kau ingin bermain?"
"Iya."
"Baiklah, kalau begitu mari kita bermain." Rong Peng menggandeng tangan Lian.
"Tapi, Bibi. Kita akan bermain apa hari ini?" Lian menghentikan langkahnya.
"Kau ingin bermain apa?"
"Aku ingin bermain kuda-kudaan."
"Baiklah, kita akan bermain kuda-kudaan di lantai bawah."
"Yeayy ...."
Mereka semua turun ke lantai bawah untuk menuruti permintaan dari Lian.
"Kau! Sekarang jadilah kuda untuk anak kecil ini!" seru Rong Peng kepada salah satu iblis.
"Baik, Yang Mulia," balas iblis tersebut.
"Tapi aku ingin Bibi yang menjadi kudanya. Aku tidak ingin orang-orang nakal itu menjadi kudaku," ucap Lian.
"Bibi, mengapa Bibi hanya diam? Bibi mau kan menjadi seekor kuda?"
"Baiklah, Bibi akan menjadi seekor kuda untukmu."
"Yeayy ...."
Rong Peng kemudian jongkok dan Lian langsung berlari menghampirinya lalu naik ke punggungnya.
"Anak kecil ini benar-benar tidak bisa diam. Dia naik ke punggungku dan membuat punggungku seketika terasa sangat sakit," batinnya.
"Bibi, mengapa Bibi terlihat tidak bersemangat seperti itu?"
"Sudah cukup! Sekarang turun dari pungunggku!"
"Baiklah."
Lian pun memasang wajah murung karena Rong Peng telah membentak dirinya.
"Lian, maafkan Bibi ya. Punggung Bibi terasa sangat sakit, jadi Bibi memintamu untuk turun."
Rong Peng berusaha untuk membuat Lian tidak marah kepadanya. Tetapi Lian hanya menatap ke arah lantai dan tidak membalas ucapan Rong Peng.
__ADS_1
"Lian, apa kau marah kepada Bibi?"
"Lian, punggung Bibi terasa sangat sakit, jadi Bibi memintamu untuk turun. Kau mengerti?"
"Bibi, aku sangat merindukan Ibunda. Aku ingin pulang dan bertemu dengan Ibunda."
"Kau tidak akan pulang."
"Apa maksud Bibi berbicara seperti itu?"
"M-maksud Bibi, kau tidak akan pulang sebelum kau menghabiskan waktu di sini bersama Bibi."
"Tapi aku sangat bosan bermain di sini. Aku ingin bermain di luar."
"Baiklah. Kalau begitu kita akan bermain di luar."
Mereka semua pergi menuju danau di dekat istana. Di sana Lian melihat danau tersebut berwarna merah dan bukannya hijau atau biru.
"Bibi, mengapa danaunya berwarna merah? Di desaku danaunya berwarna biru dan di tempat lain aku melihat danau yang berwarna hijau," ucap Lian dengan heran.
Rong Peng tidak menjawab pertanyaan Lian karena ia bingung harus menjawab apa. Karena ia tidak mungkin menjawab yang sejujurnya jika air danau tersebut telah ia campur dengan darah para siluman dan manusia yang telah berani menentangnya.
"Apakah itu adalah darah manusia?"
"T-tidak. Bagaimana kau tahu jika itu adalah darah manusia?"
"Tapi warnanya seperti darah manusia."
"Ini adalah danau yang aku buat. Dan aku membuat warna airnya menjadi merah karena aku menyukai warna merah."
"Tapi mengapa aku merasa jika Bibi ini sedang berbohong kepadaku?" batin Lian.
"Lian, jika aku berhasil membunuh Ibumu, kau dan juga keluargamu, maka aku akan mengambil semua darah kalian dan masukannya ke dalam danau tersebut." Rong Peng membatin.
"Lian, kau ingin bermain apa sekarang?
Lian melihat seekor naga sedang terbang melintas di atasnya. Lian terlihat sangat ingin naik dan terbang bersama naga tersebut.
"Lian, apa kau ingin terbang bersama naga itu?"
Lian tersenyum dan menganggukkan kepalanya dihadapan Rong Peng.
"Baiklah. Kalau begitu Bibi akan meminta naga itu turun dan mengajakmu terbang."
Setelah Rong Peng memanggil naga tersebut dan naga tersebut turun, Lian langsung mendekati naga itu dan mengelus sayapnya.
Semua orang terkejut termasuk Lian sendiri, karena dengan sekali elusan dari Lian naga tersebut langsung menjadi menjadi dekat dengannya.
"Bibi, bolehkah dia menjadi temanku?"
"Tentu saja, Lian. Dia akan menjadi temanmu selama di sini."
__ADS_1
"Terima kasih, Bibi."
"Sama-sama."