
Zhang Pei masih berfokus kepada air yang sedang ia bentuk menjadi sebuah patung macan. Paman Yu menghampiri Zhang Pei dan kagum dengan kemampuan Zhang Pei.
Tetapi belum selesai Zhang Pei membuat patung tersebut, tiba-tiba airnya menyembur kemana-mana.
"Ahh, aku tidak bisa menyelesaikan patung itu."
"Setidaknya kau telah berusaha, Zhang Pei."
"Paman Yu?"
"Jika aku perhatikan, kau adalah seseorang yang tekun dan gigih. Kau membuat patung itu berkali-kali, walaupun gagal tetapi kau terus mencobanya."
"Tapi aku tidak bisa menyelesaikannya, Paman. Mungkin memang hanya yang mulia ratu yang dapat melakukan hal itu."
"Kau salah, Zhang Pei. Kau juga bisa melakukannya seperti yang mulia ratu lakukan. Kau hanya perlu sedikit lagi usaha, maka kau akan berhasil seperti yang mulia ratu."
Zhang Pei tertawa kecil mendengar ucapan dari paman Yu.
"Mengapa kau tertawa? Aku telah mengatakan hal yang benar."
"Yang Paman katakan memang benar, tetapi tidak ada seorangpun yang dapat menyamai yang mulia ratu bahkan diriku sekalipun. Yang mulia ratu adalah seseorang yang sangat istimewa, semua keindahan ada pada dirinya."
"Kau selalu memujinya. Apa kau menyukai yang mulia ratu?"
"Apa maksud, Paman menanyakan hal itu?"
"Paman dapat melihatnya dari matamu. Kau selalu tersenyum bahagia ketika mendengar ataupun menyebut nama yang mulia ratu."
"Paman, yang mulia ratu adalah wanita yang sangat baik. Dia juga cantik, anggun dan lemah lembut. Siapapun yang berada di sampingnya pasti akan langsung dibuat jatuh cinta."
"Dan itu artinya kau juga jatuh cinta dengannya?"
Zhang Pei tidak dapat berkata-kata, karena ia tidak mungkin menceritakan hubungannya dengan yang mulia ratu kepada orang lain.
"Ada apa, Nak? Mengapa kau tidak menjawab pertanyaan dari Paman?"
"Bukankah aku juga keluargamu? Ceritakan saja apapun yang ingin kau ceritakan, Paman berjanji tidak akan menceritakannya kepada siapapun."
Zhang Pei kemudian membelakangi paman Yu dan menceritakan semuanya.
"Paman, aku memang sangat mencintai yang mulia ratu. Yang mulia ratu juga memiliki perasaan yang sama terhadapku. Kami berdua saling mencintai, Paman."
"Tapi kami terpaksa harus menyembunyikan perasaan kami karena Jiang Li. Dia telah merebut satu-satunya wanita yang sangat aku cintai, dan sekarang aku masih tidak percaya jika yang mulia ratu sedang mengandung anak dari Jiang Li."
Paman Yu melangkahkan kakinya dan menepuk pelan pundak Zhang Pei.
"Kau adalah pria yang baik. Kau pasti akan kembali mendapatkan wanita yang sangat kau cintai itu."
__ADS_1
"Tapi itu tidak akan mungkin, Paman. Yang mulia ratu telah menjadi milik Jiang Li seutuhnya."
"Zhang Pei, apakah kau benar-benar mencintai yang mulia ratu?"
"Aku sangat mencintainya, Paman. Aku bahkan rela menyerahkan nyawaku untuknya."
"Zhang Pei, percalah kepada takdir. Kau dan yang mulia ratu saling mencintai bukan? Jika langit telah menuliskan nama kalian berdua, maka kalian akan di persatuan dalam suatu ikatan cinta."
"Paman, aku selalu percaya kepada takdir. Takdir pasti akan menyatukan aku dengan yang mulia ratu. Aku aku sungguh tidak rela melihat yang mulia ratu selalu dekat dengan Jiang Li, Paman."
"Tetapi yang mulia raja Jiang Li juga seorang pria yang baik, walaupun dulunya dia adalah orang yang sangat kejam. Aku merasa kasihan kepadanya, karena batinnya pasti terluka mengetahui istri yang sangat ia cintai malah mencintai pria lain," batin paman Yu.
"Zhang Pei, jangan pikirkan hal yang lain. Jika ikatan cinta diantara kalian berdua itu sangat kuat, walaupun yang mulia ratu telah menjadi istri dari yang mulia raja, tetapi hatinya akan selamanya untukmu."
"Paman, kau memberikan kenyamanan tersendiri bagiku. Ketika aku tidak mampu menceritakan hal ini kepada siapapun, kau datang dengan banyak kasih sayang. Terima kasih, karena Paman telah mendengarkan ceritaku."
"Tidak masalah, Zhang Pei. Sejujurnya, Paman merasa sangat senang jika berada di dekatmu dan membicarakan suatu masalah denganmu. Paman merasa jika Paman sedang bersama putra Paman sekarang."
Paman Yu perlahan mengeluarkan air matanya lalu mengusapnya.
"Paman, untuk apa Paman bersedih? Bukankah aku juga putra Paman?"
"Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama seperti yang Paman rasakan. Aku merasa saat ini aku sangat dekat dengan Ayahandaku."
"Aku sangat merindukannya. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya dan aku juga tidak tahu apakah Ayahandaku masih hidup atau telah tiada. Tapi yang pasti setiap kali aku melihat Paman tersenyum kepadaku, aku seperti melihat Ayahanda sedang tersenyum kepadaku."
"Master, aku membawakan minuman dan juga buah-buahan untukmu."
"Terima kasih, Dayang. Letakkan saja nampannya di sana."
"Baik, Master. Kalau begitu hamba permisi.
"Paman, kemarilah! Kau harus mencoba buah ini. Paman pasti belum pernah melihatnya."
Zhang Pei mengambil segerombol buah yang bentuknya hampir seperti buah jeruk dan berwarna kuning. Kemudian ia memberikan buah itu kepada paman Yu.
"Buah apa ini?"
"Paman, ini adalah buah biwa."
"Buah biwa? Dari mana asalnya? Paman baru pertama kali mendengar namanya."
"Buah ini asli dari Peacelavia, Paman. Buah ini tumbuh setelah yang mulia ratu menanam sebuah batu di dalam pot bunga."
"Ini sungguh luar biasa, hanya yang mulia ratu yang dapat melakukan hal ini."
"Paman, duduklah dan nikmati buah itu."
__ADS_1
Saat paman Yu hendak duduk, tiba-tiba kakinya terasa sangat sakit seperti tertancap sebuah duri.
"Paman, apa yang terjadi?"
"Sepertinya aku tidak sengaja menginjak duri."
"Paman, aku akan mengambil duri itu sekarang."
"Baiklah."
Zhang Pei jongkok dan sedikit mengangkat kaki paman Yu agar dia melihat letak duri tersebut. Dan setelah duri itu berhasil dicabut, ia melihat tanda lahir yang sama seperti yang ada di telapak kakinya.
"Paman!"
"Ada apa, Zhang Pei? Apakah masih ada duri yang tertinggal di dalamnya?"
"Tidak, Paman. Tetapi aku sangat bingung mengapa Paman memiliki tanda lahir yang sama seperti tanda lahir yang aku miliki?"
"Tanda lahir?"
"Aku akan menunjukkannya kepada Paman."
Zhang Pei menunjukkan tanda lahir yang ada di telapak kakinya kepada paman Yu. Paman Yu pun sangat terkejut karena yang memiliki tanda lahir sepertinya hanyalah kedua putra kembarnya.
"Zhang Pei, tanda lahir itu sama persis seperti yang putra kembarku miliki. Apa mungkin kau adalah putraku?"
"Jadi paman Yu adalah Ayahandaku? Paman Urong mengatakan jika salah satu orang tuaku pasti memiliki tanda lahir yang sama seperti yang aku miliki."
"Zhang Pei, Putraku."
"Ayahanda."
"Putraku, Ayahanda sangat merindukanmu. Ayahanda telah berusaha untuk mencarimu dan juga saudaramu, tetapi Ayahanda tidak juga menemukan kalian."
"Ayahanda, aku juga sangat merindukan Ayahanda. Aku bahagia ternyata Ayahanda masih hidup dan selama ini mengenal yang mulia ratu."
Para master datang dan bingung melihat Zhang Pei dan paman Yu berpelukan seperti itu.
"Zhang Pei, apa yang terjadi?"
"Master, paman Yu adalah Ayahandaku. Aku memiliki tanda lahir yang sama sepertinya di telapak kaki kami. Dan aku juga selalu merasa sedang bersama Ayahandaku ketika paman Yu bersamaku."
"Syukurlah, Zhang Pei. Aku sangat senang kini kau telah bertemu Ayahandamu."
"Master, terima kasih atas kebaikan kalian yang telah menjadikan putraku murid di istana ini."
"Jangan berbicara seperti itu, paman Yu. Kita semua adalah keluarga, kita memang harus saling membantu satu sama lain."
__ADS_1