The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAb 64


__ADS_3

Di suatu tempat, terlihat seorang pria yang tampan sedang memainkan seruling dengan sangat indah. Semua hewan berdiri di depannya, seolah mereka sangat menikmati suara indah dari seruling itu.


Pria tersebut bernama Lu Xiang. Ia adalah seorang ksatria yang memiliki darah setengah manusia dan siluman. Wajahnya terlihat sangat mirip dengan master Zhang Pei, kekasih hati Ratu Xin Qian.


Suasana yang awalnya tenang kini berubah menjadi menyeramkan ketika datang gerombolan iblis ke negeri Peacelavia yang menyebabkan langit menjadi gelap.


Semua hewan berlarian untuk mencari tempat perlindungan. Sedangkan Lu Xiang masih tetap meniup seruling miliknya dengan santai.


Kemudian turunlah seorang pemimpin dari para iblis yang bernama Rong Peng. Ia adalah wanita yang memiliki ambisi untuk menguasai dunia dan menjadikan dunia sebagai tempat kegelapan.


Ia datang kembali ke negeri Peacelavia untuk menepati janjinya beberapa tahun yang lalu kepada Ratu Penguasa Peacelavia.


Rong Peng memerintahkan pasukannya untuk mengobrak-abrik rumah yang mereka lalui dan juga membunuh semua orang yang mereka temui.


"Xin Qian, kehancuran akan datang kembali untuk menghancurkanmu. Kau tunggu saja, aku akan segera menghancurkanmu beserta keturunanmu," gumamnya.


Di lain tempat, Lian yang sedang bermain dengan teman-temannya tiba-tiba merasakan sesak napas. Batu permata yang berada di dalam tubuhnya seolah merasakan bencana yang besar akan kembali mengancam Peacelavia.


"Lian, apa yang terjadi denganmu?"


"Aku tidak apa-apa. Hanya saja dadaku terasa sedikit sesak."


"Lihat itu! Mengapa banyak sekali awan hitam di langit? Apa hari ini akan segera turun hujan?"


"Itu bukanlah awan hitam pembawa hujan."


"Darimana kau tahu jika itu bukanlah awan hitam pembawa hujan?"


"Ibundaku pernah berkata kepadaku, jika ada banyak awan hitam seperti ini bukanlah pertanda akan turun hujan, tetapi para iblis datang untuk menyebarkan kegelapan."


"Dari mana ibundamu mengetahui hal itu?"


"Aku tidak tahu."


"Anak-anak! Kalian harus cepat pulang, hari ini akan turun hujan!" ucap seorang Ibu dari salah satu teman Lian.


"Ibu, tapi Lian mengatakan jika bukan hujan yang akan turun, tetapi para iblis yang akan datang kemari."


"Apa maksudmu berbicara seperti itu?"


"Aku tidak berbohong. Ibu tanyakan saja kepada Lian."


"Lian, awan hitam itu menandakan akan turun hujan. Mengapa kau mengatakan jika para iblis akan datang kemari?"


"Bibi, aku tidak berbohong. Ibunda sendiri yang mengatakannya kepadaku. Ibunda memintaku untuk berhati-hati saat muncul awan hitam."


"Baiklah, Lian. Kalau begitu kau harus pulang sekarang. Kalian semua harus pulang, orang tua kalian pasti sangat mencemaskan kalian."

__ADS_1


"Baik, Bibi."


Semua anak bubar dan pulang ke rumahnya masing-masing, begitupun dengan Lian. Tetapi saat di perjalanan, ia kembali merasakan sesak napas.


Ia terlihat tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan pulang, walaupun rumahnya tidak terlalu jauh dari sana.


"Ibunda, dadaku terasa sangat sesak," gumamnya.


Tidak lama setelah itu, Ji Nian yang memang sedang mencari Lian melihat Lian sedang menahan rasa sakit di dadanya.


"Lian!"


"P-paman?"


"Apa yang terjadi denganmu?"


"A-ku ti-dak bisa ber-napas dengan lan-car."


"Lian, bertahanlah! Paman akan segera membawamu pulang."


Ji Nian langsung menggendongnya dan membawanya pulang. Sesampainya di rumah, Xin Qian langsung menggendong putranya yang sedang sesak napas.


"Lian, apa yang terjadi denganmu?" Xin Qian terlihat sangat khawatir.


"Yang Mulia, aku menemukannya terjatuh di jalan sambil memegang dadanya," balas Ji Nian.


"Lian ... jangan khawatir. Ibunda akan mengobati sesak napasmu," ucap Xin Qian.


"Lian, bagaimana? Apakah sesaknya sudah hilang?"


"Ibunda sangat hebat. Ibunda bisa menghilangkan sesak napas dengan sangat cepat."


"Lian, katakan kepada Ibunda. Mengapa kau bisa sampai sesak napas?"


"Aku tidak melakukan apapun, Ibunda. Saat aku bermain, aku hanya melihat banyak awan hitam yang datang. Setelah itu dadaku terasa sangat sesak."


"Apakah batu permata itu sudah mulai menguasai tubuh putraku? Aku tidak ingin hal itu terjadi," batin Xin Qian.


"Ibunda sedang memikirkan apa?"


"Tidak ada. Apa kau lapar? Ibunda telah menyiapkan makanan untukmu."


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi makan."


Setelah Lian pergi ke belakang, tiba-tiba angin bertiup dengan kencang hingga membuka jendela rumah Xin Qian. Xin Qian segera keluar rumah dan diikuti oleh Ji Nian.


"Yang Mulia, ini adalah pertanda para iblis sedang dalam perjalanan menuju negeri ini."

__ADS_1


"Ji Nian, apa harus kita lakukan sekarang? Aku sangat mencemaskan putraku."


"Yang Mulia, kau jangan khawatir! Batu permata itu akan melindungi Lian dari bahaya, karena batu permata itu berada di dalam tubuhnya sejak ia lahir."


"Ji Nian, para Master tidak ada bersama kita sekarang. Mereka semua pergi untuk menyempurnakan kekuatan mereka, bagaimana kita bisa menghadapi para iblis jika mereka datang untuk menyerang?"


"Yang Mulia, aku ada di sini bersamamu. Kita akan melawannya bersama-sama."


"Tetapi ...."


"Yang Mulia, percayalah. Kita pasti bisa melewati semuanya."


"Paman, Paman ingin pergi kemana dengan Ibunda?"


"Kami tidak akan pergi kemana-mana."


"Apa para iblis itu sudah datang? Aku ingin sekali bertarung dengan mereka."


"Lian, dengarkan ucapan Ibunda! Kau tidak boleh bertarung dengan para iblis! Mereka bukanlah tandinganmu, kau itu masih anak-anak."


"Tapi aku tidak mungkin membiarkan Ibunda dan Paman melawan para iblis sendirian."


Tidak lama setelah itu, terdengar sebuah ledakan yang sangat keras. Seketika semua orang berlarian keluar dari rumah.


Para iblis telah datang untuk menghancurkan rumah-rumah mereka. Ji Nian meminta Lian untuk segera masuk ke tempat lain yang telah Ji Nian siapkan menggunakan ilmu teleportasi.


"Lian, cepat masuklah!"


"Tapi, bagaimana dengan Ibunda dan Paman?"


"Lian, jangan pikirkan kami! Kami sudah dewasa, kami akan menjaga diri kami dengan baik. Ajaklah Zhulong pergi bersamamu."


"Tapi, Ibunda ...."


"Lian, dengarkan Ibunda! Bukankah kau sangat menyayangi Ibunda?"


"Aku menyayangi Ibunda lebih dari apapun di dunia ini."


"Kalau begitu buktikan ucapanmu kepada Ibunda. Masuklah bersama Zhulong ke sana, maka kau akan aman."


"Tapi ...."


Xin Qian mencium kening putranya dan juga kucing kesayangannya.


"Paman, tolong jaga Ibunda dengan baik. Aku akan meminta kepada langit untuk membantu Ibunda dan juga Paman."


"Baiklah."

__ADS_1


Ji Nian memindahkan Lian ke suatu tempat yang lebih aman dan jauh dari Peacelavia. Ia berharap Lian dapat menjaga dirinya dan juga Zhulong di sana.


Setelah itu, Xin Qian dan Ji Nian segera pergi untuk menyelamatkan negeri mereka dari para iblis yang membawa kegelapan.


__ADS_2