
Saat itu seorang pria tua yang merupakan warga desa datang menghampiri Jiang Li dan Xin Qian yang sedang duduk di sebuah tahta. Ia membawa seikat bunga dan diberikannya bunga itu kepada Xin Qian.
Pria tua itu sangat bahagia melihat sang Ratu kini telah resmi menikah. Xin Qian menerima bunga dari pria tua tersebut dengan senang hati, lalu pria tua itu membisikkan sesuatu kepadanya.
"Yang Mulia, ada sebuah rahasia besar yang harus kau ketahui. Pergilah ke hutan es, di sana kau akan bertemu dengan seorang pria tua. Pria tua itu akan memberitahukan segalanya kepadamu," ucap pria tua tersebut kepada Xin Qian.
Jiang Li merasa ada hal aneh yang sedang dibicarakan oleh pria tua itu kepada Xin Qian. Kemudian ia menarik pria tua tersebut dan memasang wajah marah.
"Apa yang kau bicarakan kepadanya?" tanya Jiang Li kepada pria tua tersebut.
"T-tidak, Yang Mulia. Hamba hanya memberikan selamat kepada sang Ratu," balas pria tua itu.
"Benar, Jiang Li. Dia hanya memberikan selamat kepadaku," ucap Xin Qian membela pria tua itu.
"Jangan sesekali kau berani untuk meracuni pikirannya! Karena aku tidak akan tinggal diam jika sampai kau melakukan hal itu," bisik Jiang Li ke telinga pria tua itu.
"B-baik, Yang Mulia Raja. Kalau begitu kami permisi," balas pria tua itu dengan sangat takut.
"Jiang Li, kau tidak seharusnya bersikap seperti itu kepadanya. Dia adalah orang tua yang seharusnya kita hormati."
"Katakan kepadaku, apa yang telah dia katakan kepadamu!"
"Aku sudah mengatakannya kepadamu, Jiang Li jika dia hanya--" ucapannya tiba-tiba terhenti karena Jiang Li menutup mulutnya.
"Jangan sesekali kau berani membohongiku! Jika kau berani melakukannya, maka aku akan secepatnya membunuh para siluman itu!' ucap Jiang Li pelan tapi sangat menekan.
Jiang Li lalu melepaskan tangannya dari mulut Xin Qian.
"Aku akan berusaha untuk melawanmu, Jiang Li. Karena kau telah membuat hidupku menjadi menyedihkan," batin Xin Qian.
*******
Malam harinya, Xin Qian pergi ke perpustakaan dan mencari buku tentang sejarah negeri Peacelavia. Tetapi setelah ia mengambil buku tersebut, ia juga tidak sengaja menjatuhkan sebuah buku yang lumayan tebal.
__ADS_1
Xin Qian membuka dan membaca buku tersebut satu persatu halaman. Sampai akhirnya ia menemukan gambar sebuah pedang, pedang itu bernama pedang damaskus. Pedang damaskus adalah pedang terkuat di dunia, kekuatannya sama besar dengan batu permata.
"Pedang ini? Ini adalah pedang damaskus yang dapat mengeluarkan batu permata dari tubuhku," gumamnya.
Xin Qian pun teringat dengan kata-kata pria tua yang menghampirinya tadi.
"Apa maksud pria tua tadi? Mengapa ucapannya sama seperti yang diucapkan oleh Ibunda di dalam mimpiku tadi malam?" Xin Qian bertanya pada dirinya sendiri.
Ia kemudian membalikkan satu halaman lagi dan membaca halaman itu.
Di dalam buku itu terlulis jika pengendali pedang damaskus yang terakhir adalah keturunan manusia dan siluman.
Pedang damaskus dulu diciptakan oleh dewa kematian yang bernama Thanos untuk membunuh monster iblis, tetapi saat itu dewi kematian yang bernama Ker malah melindungi monster iblis karena ia jatuh cinta dengan monster iblis.
Thanos dan Ker pun terlibat perselisihan, Thanos berhasil dikalahkan oleh Ker karena Ker adalah kekuatan dan kelemahan Thanos.
Pedang damaskus itupun dibuang oleh Ker dari langit dan jatuh ke bumi. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang telah menemukan dan menggunakan pedang itu, tetapi yang pernah para master ceritakan kepada Xin Qian, pedang itu terakhir kali digunakan oleh paman Yu.
Istrinya meninggal karena dibunuh oleh monster iblis, sedangkan ia tidak tahu di mana keberadaan kedua Putranya saat ini.
"Aku harus mencari di mana keberadaan paman Yu. Aku harus meminta bantuannya untuk mengeluarkan batu permata dari tubuhku. Karena jika batu permata ini tetap di dalam tubuhku, aku tidak akan bisa menggunakan kekuatanku. Totokan ini tidak akan bisa dibuka oleh siapapun kecuali Jiang Li dan Wang Shu," gumamnya.
Ia pun dikejutkan dengan suara seseorang yang sedang membuka pintu perpustakaan. Xin Qian yang merasa takut langsung segera menutup buku tersebut dapat menyembunyikannya ke bawah meja.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jiang Li kepada Xin Qian.
"A-aku hanya ingin membaca beberapa buku," jawab Xin Qian dengan tubuh yang gemetaran.
Jiang Li berjalan mendekati Xin Qian, Xin Qian hendak berjalan keluar dari perpustakaan itu. Tetapi Jiang Li malah menarik tangannya dan menyenderkan tubuh Xin Qian ke rak buku.
Jiang Li menatap Xin Qian dan menyentuh pipinya. Jiang Li ingin mencium bibir Xin Qian, tetapi Xin Qian malah mendorongnya. Jiang Li marah kepadanya, tetapi marahnya kali ini seperti seseorang yang sedang mabuk.
Jiang Li kembali menarik tangan Xin Qian dan Xin Qian kembali mendorong tubuh Jiang Li hingga terjatuh dan tidak dapat bangun.
__ADS_1
"Xin Qian, mengapa kau selalu mendorongku ketika aku mencoba untuk mendekatimu? Memangnya apa yang salah denganku?" tanya Jiang Li dengan keadaan mabuk.
"Kau adalah Ratuku, dan aku berhak atas dirimu," ucap Jiang Li dengan nada rendah.
"Mengapa dia bisa mabuk seperti ini? Aku harus membawanya ke kamar," batin Xin Qian.
Xin Qian mencoba untuk membantu Jiang Li berdiri dengan meletakkan tangan Jiang Li ke lehernya.
"Xin Qian ...." ucap Jiang Li.
"Jiang Li, diamlah! Aku akan membawamu ke kamar agar kau dapat beristirahat," balas Xin Qian.
Walaupun sangat sulit untuk membawa Jiang Li ke kamar seorang diri, tetapi Xin Qian tetap berusaha untuk membawa Jiang Li.
Xin Qian hendak melepaskan tangan Jiang Li agar Jiang Li dapat berbaring di atas ranjang, tetapi malah Xin Qian ikut terjatuh ke atas ranjang dengan posisi Jiang Li memeluknya.
Xin Qian pun meronta-ronta melepaskan tangannya Jiang Li yang memeluknya, tetapi pelukan Jiang Li sangat erat.
"Jiang Li, bangunlah! Aku tidak bisa bernapas jika kau terus memelukku seperti ini," ucap Xin Qian yang masih dipeluk oleh Jiang Li.
"Xin Qian, aku mencintaimu," balas Jiang Li dengan kedua mata yang telah tertutup.
Seketika itu Xin Qian menoleh ke arah Jiang Li dan melihat Jiang Li telah menutup kedua matanya.
"Apakah aku sedang bermimpi? Bukankah dia sangat membenciku? Lalu mengapa dia mengatakan bahwa dia mencintaiku? Bukankah dia menikahiku hanya agar dia dapat menjadi seorang Raja di negeri ini?" batin Xin Qian.
"Jiang Li, lepaskan tanganmu dariku! Aku tidak ingin kau seperti ini," seru Xin Qian.
Xin Qian pun terlepas dari pelukan Jiang Li, kemudian ia menaikkan kaki Jiang Li ke atas kasur. Ia juga menyelimuti tubuh Jiang Li dengan selimut.
"Seharusnya aku membencinya, tapi entah mengapa setelah dia mengatakan bahwa dia mencintaiku, hati ku jadi tersentuh. Aku merasa telah dicintai olehnya, tapi Jiang Li hanya sedang mabuk. Dia sangat membenciku, dia tidak mungkin mencintaiku. Dia sendiri yang mengatakannya, bahwa dia tidak akan pernah jatuh cinta kepada ku," batin Xin Qian.
Xin Qian kini pun mengambil satu bantal dan ia letakkan bantal itu di lantai. Ia tidur di bawah sedangkan Jiang Li tidur di ranjang, karena itu sudah menjadi perjanjian yang dibuat oleh Jiang Li setelah mereka menikah.
__ADS_1