
Sore kini telah berganti malam, sinar terang rembulan menerangi langit Peacelavia. Xin Qian sedang berjalan melewati kamar Ji Nian, ia hendak menyusul para prajurit yang telah menunggunya didepan istana.
Xin Qian berpapasan dengan Ji Nian yang memang sedang mencarinya.
"Ji Nian, apa yang kau lakukan? Kau seharusnya beristirahat di kamarmu." Xin Qian kaget melihat Ji Nian yang berjalan dengan memegang perutnya.
"Putri, aku sedang mencarimu." Ji Nian menyandarkan bahunya ditembok dan masih memegang perutnya.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" Xin Qian memegang lengan kiri Ji Nian.
"Putri, aku hanya ingin ...." Ji Nian meletakkan dagunya di bahu kiri Xin Qian dan memeluknya.
Suasana seketika menjadi sangat hening, Shishi yang sedang berjalan keluar dari kamarnya melihat pemandangan itu. Ia kemudian bersembunyi di belakang sebuah pot bunga yang besar dan menguping pembicaraan mereka.
Xin Qian hanya terdiam, ia seperti ingin membalas pelukan Ji Nian tapi ia ragu.
"Putri, mengapa kau tidak membalas pelukanku? Padahal aku berharap kau akan memelukku dengan sangat erat," batin Ji Nian.
"Apa yang terjadi dengan Ji Nian? Apa keadaannya sekarang menjadi lebih buruk?" batin Xin Qian.
Setelah beberapa saat Xin Qian terdiam, ia langsung mengangkat dagu Ji Nian dari bahunya agar berdiri tegak.
"Ji Nian, apa yang terjadi?"
"Putri, apakah kau ingin aku sembuh?"
"Tentu saja. Kau adalah seorang ketua, semua orang di sini menghawatirkanmu."
"Apa kau juga menghawatirkan keadaanku?"
"Ji Nian, mengapa kau menanyakan hal itu? Kau terluka seperti ini karena menyelamatkanku, sudah pasti aku sangat menghawatirkanmu."
"Putri, maukah kau menemaniku melihat bulan?"
"Maafkan aku, Ji Nian. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa menemanimu."
"Mengapa?"
"Ayahanda memintaku untuk menyebarkan kunang-kunang di wilayah pedesaan sebagai penerangan."
"Tapi, bukankah seharusnya aku yang melakukan hal itu?"
"Kau benar. Tapi keadaanmu tidak memungkinkan untuk pergi keluar istana."
__ADS_1
"Putri, aku sudah merasa lebih baik. Biarkan aku yang pergi menyebarkan kunang-kunang."
"Tidak, Ji Nian. Ayahanda telah mengambil keputusan ini, lagipula aku juga tidak pergi sendirian. Master Yibo, Zhang Pei dan beberapa prajurit akan menemaniku."
"Siluman itu? Aku juga ingin pergi menemanimu."
"Tidak bisa! Keadaanmu belum pulih sepenuhnya, aku tidak mungkin membiarkanmu ikut."
"Putri, aku ...."
"Ji Nian, tolong dengarkan aku. Kesehatanmu adalah hal yang terpenting saat ini. Aku akan menemanimu melihat bulan setelah aku kembali."
"Baiklah, aku akan menunggumu."
"Terima kasih, kau telah menuruti perkataanku."
"Siapa laki-laki yang bersama putri Xin Qian? Dan apa yang sedang mereka bicarakan? Aku sama sekali tidak mendengar percakapan mereka," gumam Shishi yang masih bersembunyi di belakang pot bunga.
Zhang Pei datang menghampiri Xin Qian dan juga Ji Nian. Ji Nian yang melihat kehadiran Zhang Pei langsung memasang wajah datar dan berdiri di depan Xin Qian.
"Aku memang tidak bisa ikut bersama sang Putri, tetapi jangan sampai kau gunakan kesempatan ini untuk mendekatinya," ucap Ji Nian kepada Zhang Pei.
Zhang Pei menghela napas.
"Berani sekali kau??"
"Sudahlah! Aku tidak ingin melihat kalian bertengkar hanya karena masalah kecil."
"Ji Nian, masuklah ke kamarmu dan beristirahat. Dan kau Zhang Pei, kita harus pergi sekarang."
Di belakang pot bunga, Shishi merasa kesal dan melampiaskan emosinya kepada bunga yang berada di dalam pot besar hingga jatuh.
Pot bunga tersebut pecah dan mengenai kaki Shishi. Xin Qian dan Zhang Pei mendengar jika ada sesuatu yang pecah, kemudian mereka pergi sumber suara tersebut.
"Shishi!" Xin Qian terkejut melihat Shishi yang berdiri menggunakan satu kaki karena kaki yang satunya terkena pecahan pot.
"Bagaimana bisa pecahan pot ini mengenai kakimu?" Xin Qian memegang kedua tangan Shishi dan membantunya untuk berjalan.
Shishi berpura-pura tidak bisa berjalan agar Zhang Pei mau menggendongnya, tetapi Zhang Pei hanya diam dan bersikap dingin terhadap Shishi.
"Putri, kepalaku sedikit sakit dan aku berjalan dengan sempoyongan, lalu aku tidak sengaja menabrak pot bunga ini," ucap Shishi sambil memegang kepalanya.
"Shishi, aku akan membantumu berjalan."
__ADS_1
"Putri, aku tidak bisa berjalan, kakiku sangat sakit. Ahhh ...."
"Zhang Pei, bisakah kau menggendong Shishi dan mengantarkannya ke kamar?"
"Baiklah. Aku akan melakukannya untukmu."
Shishi tersenyum senang meskipun Zhang Pei melakukannya karena Xin Qian. Ketika dirinya digendong oleh Zhang Pei, ia terus tersenyum dan memandangi wajah Zhang Pei. Zhang Pei merasa risih dengan sikap Shishi yang terus-menerus menatapnya.
Sesampainya di kamar, Zhang Pei langsung menurunkan Shishi di atas kasur dengan sedikit kasar. Shishi sangat heran dengan sikap Zhang Pei yang begitu dingin kepadanya.
Kemudian Xin Qian datang dan membawa seorang Dayang istana. Xin Qian meminta Dayang untuk mengobati kaki Shishi yang terluka. Saat diobati, Shishi berpura-pura merasa sangat kesakitan.
Shishi berharap Zhang Pei akan peduli kepadanya, tetapi Zhang Pei tetap saja bersikap dingin bahkan tidak mau menatap Shishi. Setelah luka di kaki Shishi diobati, Xin Qian meminta Shishi untuk beristirahat.
"Putri Xin Qian, master Yibo telah menunggu Putri dan master Zhang Pei di depan istana," ucap seorang Dayang yang menghampiri mereka.
"Baiklah. Kami akan segera menyusul," balas Xin Qian.
"Baik, Putri."
"Shishi, kami akan keluar agar kau dapat beristirahat."
"Tunggu! Kau dan master Zhang Pei hendak pergi kemana?"
"Kami akan pergi ke pedesaan untuk menyebarkan kunang-kunang."
"Bolehkah aku ikut dengan kalian?" tanya Shishi bersemangat.
"Tidak!" balas Zhang Pei dengan ketus.
"Shishi, kakimu sedang terluka. Akan lebih baik jika kau tetap di kamarmu dan beristirahat." Xin Qian menatap kaki Shishi yang telah diperban.
"Tapi aku sudah tidak apa-apa." Shishi menggerakkan kakinya yang diperban.
"Aku rasa kau mendengar apa yang dikatakan putri Xin Qian," ucap Zhang Pei. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan kamar itu.
Shishi merasa kesal dengan Zhang Pei dan berpura-pura untuk bersikap biasa saja. Xin Qian dan Zhang Pei meninggalkan Shishi sendirian dikamar. Setelah melihat mereka berdua pergi, Shishi berdiri dan marah-marah.
"Heeehh! Sulit sekali mendapat perhatian dari master Zhang Pei. Aku sudah melakukan semua yang aku bisa, tetapi tetap saja aku gagal membuatnya peduli kepadaku," gumam Shishi.
Tanpa Shishi sadari, ternyata Zhulong berada di depan kamarnya dan melihat bahwa Shishi bisa berdiri dan berjalan dengan tegak. Zhulong kini tahu bahwa Shishi hanya berpura-pura sakit agar ia mendapatkan perhatian lebih.
"Berani sekali wanita itu membohongi Zhang Pei dan juga Xin Qian? Awas saja dia!" ucap Zhulong.
__ADS_1