
Saat dalam perjalanan pulang, Xin Qian merasa sedikit gelisah. Ia memikirkan tentang bagaimana jika nanti ia menjadi seorang Ratu.
Apakah semuanya akan tetap seperti ini, atau lebih baik, atau bahkan lebih buruk dari ini. Ia benar-benar merasa bahwa dirinya belum siap jika harus memimpin negeri Peacelavia.
"Putri, apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada, Ji Nian."
"Jangan melamun saat sedang menunggang kuda. Kau bisa saja terjatuh jika kau tidak berhati-hati."
Sesaat kemudian kuda yang ditunggangi Xin Qian tergelincir oleh sebuah batu yang tajam dan hampir membuat Xin Qian terjatuh. Ji Nian memegang tangan kiri Xin Qian agar dia tidak terjerumus ke tanah. Kuda itu terluka dan tidak bisa membawa Xin Qian untuk kembali ke istana.
Ji Nian mengajak Xin Qian untuk menunggang kuda bersamanya, tetapi saat itu Xin Qian menolak dan memutuskan untuk berjalan kaki. Tetapi para Prajurit membujuk Xin Qian agar mau kembali ke istana bersama Ji Nian, sementara para Prajurit akan mengurus kuda itu.
Xin Qian mengiyakan ajakan Ji Nian dan duduk di depan, sementara Ji Nian akan menggiring kuda itu dan duduk di belakang Xin Qian. Ji Nian meminta Xin Qian untuk berpegangan erat, kemudian kuda itu berjalan menuju istana.
Xin Qian senang dengan sikap Ji Nian yang selalu perhatian kepadanya. Tetapi ia merasa sedikit gugup saat dada Ji Nian menempel di punggungnya. Ji Nian juga merasakan hal yang sama, tetapi ia bersikap seolah biasa saja.
Sesampainya di istana, Ji Nian turun lalu membantu Xin Qian untuk turun. Xin Qian berterima kasih kepada Ji Nian karena telah mengajaknya menunggang kuda bersama. Master Lin melihat kedatangan mereka dan menyambutnya dengan gembira.
"Putri! Kau dan Ji Nian sudah kembali?"
"Kakek Guru!"
"Master!"
"Dimana para prajurit dan kuda yang kau tunggangi, Putri?"
"Kakek Guru, kuda yang aku tunggangi sempat tergelincir oleh batu tajam, sehingga tidak dapat berjalan. Jadi aku kembali bersama Ji Nian dan para Prajurit sedang mengurus kuda itu."
"Apa kau terluka?"
"Tidak, Kakek Guru."
"Kalian masuklah, aku akan menemui sang Raja."
"Baik."
"Ji Nian, aku akan pergi ke kamarku."
"Baiklah."
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Xin Qian membaringkan tubuhnya di atas kasur. Kemudian Zhulong naik ke atas perut Xin Qian dan duduk diatasnya. Zhulong bercerita betapa ia sangat merindukan Ayahnya yang sudah meninggal.
"Zhulong, aku ada di sini bersamamu. Aku akan selalu menjadi tempat untukmu pulang." Xin Qian memegang kedua pipi Zhulong dan menggoyangkannya.
"Tapi, aku ingin melihat wajah Ayahku saat ini." Zhulong menundukkan pandangannya.
"Apa kau tahu, Zhulong? Saat aku sangat merindukan Ibundaku, aku selalu melihat bulan. Di sana aku pasti melihat wajah Ibunda yang sedang tersenyum kepadaku." Xin Qian mengelus bulu Zhulong lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Apa saat ini kau sedang merindukannya?"
"Aku selalu merindukannya, Zhulong. Setiap saat, setiap waktu, Ibunda selalu ada dalam pikiranku."
"Ratu Lieng pasti sangat baik, sehingga memiliki Putri yang baik sepertimu."
"Apa kau lapar? Aku akan membawakan makanan untukmu."
"Tidak, aku sangat lelah. Aku ingin tidur siang ini, Xin Qian."
"Tidurlah."
Zhulong berbaring di samping Xin Qian dan memejamkan kedua matanya. Xin Qian menghela napas dan menatap wajah Zhulong sesaat, kemudian ia pun ikut memejamkan kedua matanya.
Beberapa jam kemudian...
Xin Qian lagi-lagi melihat ke arah jendela, yang ternyata banyak dedaunan pohon yang gugur dari batangnya. Ia lalu membukakan pintu karena mendengar ada seseorang yang mengetuk.
"Putri, aku memanggilmu dari tadi. Mengapa kau tidak membukakan pintu?" tanya seorang Dayang dengan cemas.
"Apa yang sedang terjadi?" Xin Qian melihat sekelilingnya.
"Putri, di luar sedang ada badai menyerang negeri ini. Sang Raja memerintahkanku untuk memastikan bahwa Putri baik-baik saja."
"Badai?"
"Benar, Putri."
*****
Di depan istana master Feng dan semua muridnya berkumpul. Ia memerintahkan muridnya untuk menahan badai hitam itu agar tidak menuju istana. Tidak lama setelah itu, Xin Qian datang menghampiri master Feng.
"Master, bagaimana bisa badai itu masuk ke negeri ini?"
__ADS_1
"Putri, itu bukanlah badai biasa. Itu adalah badai kiriman dari monster iblis. Badai itu disebut badai sunhai."
"Tetapi, Master. Bagaimana cara badai itu masuk? Sedangkan dinding pelindung langit tidak ada yang tergores sedikitpun."
"Aku berpendapat bahwa ada pengikut monster iblis yang berada di dalam negeri ini. Karena dinding pelindung langit tidak rusak, sudah pasti pelakunya berasal dari dalam."
Master Chen, master Yibo dan master Pin datang menghampiri mereka.
"Master Feng, bukankah itu badai sunhai? Badai itu adalah badai kiriman monster iblis," ucap master Pin.
"Benar, master Pin," balas master Feng.
"Kita tidak bisa tinggal diam. Kita juga harus membantu murid kita untuk mencegah badai itu," ucap Master Yibo.
"Aku akan ikut dengan kalian."
"Tidak, Putri! Kau tidak akan ikut dengan kami." Master Chen mencegah Xin Qian agar tidak ikut.
"Tapi mengapa?"
"Badai itu sangat berbahaya, kami tidak akan membiarkanmu pergi dengan kami," balas master Pin.
Para master meninggalkan Xin Qian seorang diri. Ia mencari Ayahandanya dan juga master Lin, karena ia tidak melihat mereka dari tadi.
"Ketua, badai ini sulit sekali untuk dikendalikan," ucap salah satu teman Ji Nian yang berusaha menahan laju badai.
"Kita harus bisa menahan badai ini, jika tidak badai ini akan menghancurkan kehidupan Peacelavia." Ji Nian juga berusaha menahan badai yang hampir sampai di depan gerbang istana.
Kekuatan badai itu semakin besar dan membuat mereka semua terjatuh. Badai itupun berjalan menuju pintu istana dan membuat benda-benda disekitarnya seketika terbang.
Xin Qian melihat benda-benda di luar jendela terbang dan terombang-ambing, ia langsung teringat dengan batu permata.
Ia berpikir bisa saja badai sunhai ini sengaja dikirim agar orang di istana lengah dan orang yang mengirim badai ini dapat mengambil batu permata dengan leluasa.
Xin Qian langsung menuju ruang disimpannya batu permata. Di sana ternyata sudah ada raja Arlo dan master Lin yang sedang memperkuat segel pelindung batu permata.
"Ayahanda! Kakek Guru!"
"Xin Qian, apa yang kau lakukan di sini?"
"Ayahanda, aku yakin sebentar lagi akan ada seseorang yang masuk ke ruangan ini untuk mengambil batu permata."
__ADS_1
"Kakek Guru juga berpikir demikian. Xin Qian, Kakek Guru dan Ayahanda mu harus memperkuat segel pelindung batu permata."
"Aku akan ikut membatu memperkuat segel batu permata."