Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 102


__ADS_3

Setelah tiba di depan rumah, Veli langsung keluar dari dalam mobil dan tanpa menunggu suaminya. Bahkan ia langsung masuk ke dalam rumah, mengabaikan teriakan sang suami yang meminta menunggunya.


"Mami tungguin Papi dong...!! Kok Papi ditinggal sih...!!!" Teriak Dewa dengan keras seraya tergesa-gesa keluar dari mobil dan menyusul istrinya itu.


Veli terlihat berlari-lari kecil saat mendapati Dewi yang tengah berjalan menaiki tangga dengan tangan yang membawa segelas air putih, rupanya Dewi baru saja dari dapur untuk mengambil segelas air putih. Setelah pergi kekantor untuk meminta maaf pada Bima dan sempat bergulat dengan Jeenika tadi, perempuan itu cepat-cepat untuk kembali kerumah, takut Dewa mengetahui ia berkeliaran setelah pulang dari kampus, mengingat ia masih dalam masa hukuman.


"Dewi, kamu mau kemana...?" Tanya Veli dengan memeluk lengan Dewi seraya mengikuti langkah Dewi menaiki tangga.


"Mau kekamar lah..." jawab Dewi menatap bingung kakak iparnya yang tampak sedikit aneh.


"Boleh aku ikut kekamar mu," pinta Veli dengan tersenyum semanis mungkin.


"Kekamar ku? Ngapain?" Bukanya tidak boleh, hanya saja Dewi sedikit bingung biasanya kakak iparnya itu akan terus ditempeli olah kakaknya dan berakhir keduanya tidak kunjung keluar-keluar dari kamar, entah apa yang membuat suami istri itu betah di dalam kamar.


Belum sempat Menjawab Veli dibuat kalang kabut ketika mendengar teriakkan dari arah pintu, siapa lagi kalau bukan suaminya.


"Mami...!!!"


Dengan panik Veli menarik lengan Dewi untuk melangkah lebih cepat menuju kamar perempuan itu. Dewi yang masih bingung dengan tingkah kakak iparnya itu hanya menurut saja.

__ADS_1


"Kak Vel, itu kak Dewa manggil loh..." ujar Dewi yang mengira Veli tidak mendengar panggilan dari Dewa.


"Biarin saja. Udah cepat kunci pintunya..." Titah Veli setelah keduanya masuk kedalam kamar milik Dewi. Dewi lagi-lagi hanya bisa menurut dan langsung mengunci pintu kamarnya.


"Kenapa? Lagi berantem sama Kak Dewa?" Tanya Dewi, seraya mengikuti Veli duduk di atas ranjangnya. Setelah sebelumnya meletakkan segelas air putih yang ia bawa di atas nakas.


Veli menghela nafasnya sejenak, ia sendiri juga bingung kenapa bisa sekesal itu pada suaminya. Ia sebenarnya sudah tidak marah dan percaya kepada suaminya, tetapi entah mengapa ia menjadi kesal kembali jika menatap wajah suaminya. Apa ini bisa juga disebut ngidam? Tapi mana ada ngidam yang seperti itu, pikirnya.


"Enggak juga sih. Tapi aku lagi kesel aja sama Mas Dewa..." jawab Veli dengan cemberut.


"Kenap?" Tanya Dewi lagi yang masih kepo dengan kedua pasutri aneh itu.


"Ya ampun, Kak Veli. Masak Kak Veli lebih percaya sama omongan Jeenika daripada Papi kesayangan Kak Veli sendiri sih...!!" Sambar Dewi yang agak kesal dengan kakak iparnya itu yang meragukan kesetiaan Dewa.


"Aku jamin seratus persen, kak Dewa nggak bakalan mungkin selingkuhin kak Veli dengan wanita iblis itu. Kak Veli seharusnya percaya dong sama Kak Dewa..." Lanjutnya lagi dengan menggebu-gebu. Veli hanya bisa menunduk mendapatkan Omelan dari adik iparnya itu, ia sendiri merasa bingung dengan sikapnya. Walaupun Dewi masih kesal dan marah kepada Dewa karena menghukumnya namun ia tidak ingin kakaknya itu dituduh yang tidak-tidak.


"Ya kan kita nggak tau didalam hati seseorang itu seperti apa kan. Aku sebenarnya percaya, hanya saja aku perlu bukti untuk membuat hati aku percaya sepenuhnya pada Mas Dewa. Jujur aku sakit hati banget dengan ucapan Jeenika, apalagi dia juga mendoakan aku keguguran, Dewi..." ungkap Veli apa adanya. Ia sebenarnya percaya hanya perlu bukti untuk lebih membuatnya yakin seyakin-yakinnya.


"Apa...!! Mendoakan kak Veli keguguran? Dasar wanita ular itu, nggak punya adab. Seharusnya tadi aku habisi aja dia sekalian ...!!" Geram Dewi yang merasa Jeenika sungguh keterlaluan. Tega sekali dia mendoakan seseorang dengan keburukan seperti itu. Diakan juga wanita, tetapi kenapa mulutnya itu bisa berkata menyakitkan pada sesama wanita.

__ADS_1


"Maksudnya, habisi?" Veli tidak mengerti maksud 'habisi' yang diucapkan Dewi, pasalnya tadi ia tidak mengetahui jika Dewi datang kekantor Dewa dan sempat berkelahi dengan Jeenika.


"Sepulang kuliah aku mampir kekantor untuk menemui kak Bima. Eh...Aku malah melihat Jeenika berantem dan menghina kak Bima, aku tidak terima dong dia menghina calon suamiku, lalu aku hajar si Jeenika sampai pingsan..." Jelas Dewi dengan semangat, rasanya tangannya gatal kembali ingin menjambak dan menghajar wajah Jeenika. Setelah mendengar cerita Veli.


"Astaga... seharusnya aku ikut join tadi, pasti sangat seru..." ujar Veli yang merasa menyesal melewatkan momen menyenangkan itu.


"Tenang... lain kali kalau dia berulah lagi kita sikat sama-sama..."


"Sudahlah...kak Veli nggak usah marah lagi sama kak Dewa, biar aku saja yang marah sama dia. Kak Veli jangan ikut-ikutan..." imbuh Dewi. Walaupun sebenarnya ia begitu senang melihat kakaknya itu menderita karena dicueki oleh istrinya.


"Tapi...aku kalau melihat wajah Mas Dewa bawaannya kesel banget. Rasanya denger nafas dia aja tuh gedek banget..." ujar Veli mengungkapkan isi hatinya betapa jengkel dia melihat wajah suaminya sendiri.


"Masak sih? Jangan-jangan itu bawaan bayi lagi." Menurut pengalamannya tentang ngidam sepupunya di Bandung membuat Dewi sedikit mengerti tentang ngidam yang dialami para ibu hamil.


"Dulu waktu kak Dina hamil, kak Bram sampai pakai topeng karena kak Dina selalu muntah-muntah saat melihat wajah kak Bram. Aneh banget sumpah..." lanjutnya dengan terkekeh lucu mengingat momen ngidam sepupunya yang begitu aneh itu.


"Hahahaha... Aku juga berfikir ini semua bawaan bayi. Tapi kasian juga Papi, pasti dia sedih banget saat ini, tadi aja di mobil Papi sampai nangis aku cuekin..." Veli yang tertawan seketika terhenti dan menjadi sedih dan khawatir memikirkan suaminya saat ini. Mendadak Veli merasa kangen pada suaminya itu, padahal baru beberapa menit ia merasa jengkel pada suaminya. Sungguh cepat sekali perubahan mood ibu hamil itu.


Dewi yang mendengar ucapa Veli langsung tertawa keras rasanya lucu sekali mendengar panggilan saya pasangan suami istri bucin ini.

__ADS_1


__ADS_2