Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 123


__ADS_3

Dewa dan Bima akhirnya kembali lagi ke perusahaan setelah kejadian yang membuat keduanya mual. Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan dengan sopir yang mengendarai mobilnya.


"Benar-benar hewan dua makhluk hidup itu!"Rutuk Bima yang masih merasa tidak percaya dengan kelakuan anak dan ayah itu.


"Benar. Bagaimana bisa seorang ayah sanggup melakukan hal begituan pada anaknya sendiri. Sungguh miris sekali, seperti tidak ada perempuan lain saja..."ujar Dewa.


"Jadi wanita itu yang menjadi senjata pamungkasnya Pak Surya. Cih... bentukan begitu sudah sering aku lihat di klub malam. Si Toni sangat berlebihan sekali mendefinisikan wanita itu. Apa jangan-jangan si Toni pernah terggoda dengan wanita itu ya? Sok-sokan sekali dia menasehati ku tadi. Dia kira aku ini cowok apaan yang akan tergoda dengan wanita modelan begitu..."gerutu Dewa yang masih saja menyimpan kekesalan pada Toni. Baperan sekali rupanya calon bapak ini.


"Ya...ya...yang menarik menurut mu kan hanya Veli. Dasar bucin, dulu saja sok-sokan tidak mau menerima Veli. Eh giliran Veli udah cantik dan menarik langsung ketar-ketir. Dasar edan..." cibir Bima dalam hati.


"Bima cepat kamu hubungi Toni si paling setia itu. Suruh mengumpulkan staf yang terlibat dalam pembangunan hotel, untuk berkumpul di meeting room. Kita adakan rapat hari ini. Akhirnya tidak sampai seminggu masalah di sini sudah clear. Aku sudah sangat merindukan Mami dan Beby ku. Kangen banget..." Dewa begitu merindukan istrinya itu meskipun ia melakukan video call setiap detik dan menit, namun itu semua tidak cukup untuk membuat kerinduannya terobati.


Bima hanya bisa memutar bola matanya malas. Sangat lebay sekali sahabatnya itu.


*


*


*


Hari sudah beranjak sore. Akhirnya semua urusannya di kantor cabangnya ini telah selesai. Dewa memutuskan untuk mengunjungi rumah mertuanya terlebih dahulu sebelum pulang. Dia merasa menjadi menantu durhaka, bagaimana tidak jika ini adalah kedua kalinya ia mengunjungi rumah orang tua istrinya, padahal ia menikah sudah hampir satu tahun lebih.


Dewa sangat merasa gugup saat ini. Sebelum itu Dewa menyempatkan untuk membeli buah tangan yang nantinya akan ia bawa saat berkunjung. Dewa yang sama sekali tidak mengerti dengan makanan kesukaan mertuanya, akhirnya pria itu memborong berbagai jenis makanan.


Selang beberapa jam, akhirnya mobil Dewa tiba disebuah pelataran rumah yang terlihat tidak terlalu mewah seperti rumah Dewa. Namu cukup megah juga.


Bunda langsung menyambut dengan hangat kedatangan menantunya itu. Bahkan ia merangkul lengan Dewa saat mengajaknya masuk dan duduk diruang tamu. Dewa tentu saja sangat bahagia mendapatkan sambutan hangat dari mertuanya itu.

__ADS_1


"Bunda apa kabar? Ayah juga sehat Bun?" Tenya Dewa dengan tersenyum hangat.


"Sehat nak. Ayah juga sehat. Sebentar lagi Ayah turun, sudah dipanggil pelayan tadi," Jawa wanita baru baya itu.


"Syukurlah..."


Lalu tatapan Bunda beralih pada Bima yang tengah duduk dengan sopan.


"Calon pengantin, apa kabarnya sehat?" Tanya Bunda pada Bima.


"Sehat Tante," jawab Bima dengan canggung karena sebelumnya belum pernah berinteraksi langsung dengan mertua sahabatnya itu.


"Panggilan Bunda saja Nak. Sebentar lagi kamu kan akan menjadi Adik iparnya Veli..."


"Baiklah Bunda," Sungguh Bima sangat merasa bahagia sekali, akhirnya setelah menikah ia akan memiliki keluarga dan tidak hidup sebatang kara lagi.


Taklama terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Terlihat Ayah turun dengan diikuti laki-laki tampan dibelakangnya dengan wajah yang terlihat datar.


"Apa yang membawamu datang kemari? Dan dimana Adikku?"Tanya Kakak Veli yang bernama Satria. Satria merasa tidak suka dengan Dewa, ia masih ingat betul bagaimana tatapan merendahkan Dewa pada Adiknya. Pada awal rencana perjodohan itu Satria langsung saja menentang keras rencana konyol itu, apalagi setelah bertemu langsung dengan Dewa, yang pada saat itu bersikap sombong dan juga arogan. Namun ia juga tidak bisa menentang keputusan yang dibuat oleh sang Ayah. Dengan tidak ikhlas ia melepaskan Adik tersayangnya yang selalu ia jaga sedari kecil.


Dewa menelan ludah nya dengan kasar ketika mendapat tatapan tajam dan tidak suka dari Kakak Iparnya itu. Dari dulu laki-laki itu memang sudah tidak menyukainya, bahkan ia adalah orang yang menolak dengan tegas saat orang tuanya melamar Veli untuk dirinya. Sedangkan saat itu dirinya hanya bersikap acuh tak acuh dan tidak menghargai Veli. Pantas saja jika Kakak iparnya itu tidak menyukainya.


"Mami...tidak ikut Bang..."karena merasa gugup Dewa keceplosan memanggil Veli dengan sebutan Mami. Karena memang selam ini Dewa tidak pernah menyebutkan Panggilan kesayangannya itu pada orang lain.


Satria dan Ayah langsung menaikan alisnya saat mendengar kata 'Mami' yang laki-laki itu ucapkan.


"Siapa yang kau sebut Mami? Veli atau perempuan lain?" Tanya Satria dengan nada curiga.

__ADS_1


Dewa yang memang mengklaim dirinya sebagai pria paling setia, tentu saja langsung merasa tidak suka dengan pertanyaan Kakak iparnya yang terkesan menuduhnya memiliki perempuan lain.


"Tentu saja istriku! Mana mungkin aku memiliki perempuan lain. Jika saja ada nominasi tujuh pria setia di dunia pasti aku sudah masuk dalam jajarannya,"sungut Dewa menatap sinis Kakak iparnya.


Bima seketika ingin menabok kepala Dewa yang sedari tadi sangat sensitif jika menyangkut pria setia.


Ayah dan Satria saling pandang merasa aneh dengan kelakuan seorang Dewa.


"Cih kekanak-kanakan sekali..." cibir Satria.


"Lantas, kenapa istrimu tidak kamu ajak kesini Nak?" Tanya Ayah yang merasa aura tatapan dingin Dewa pada Satria. Satria sendiri juga menatap Dewa tidak kalah sinis nya.


"Ayah kan tahu istriku tengah hamil. Dewa tidak akan tega membiarkan istriku ikut ke sini. Takut Veli kelelahan nantinya..."jelas Dewa.


"Takut kelelahan atau malu?"Sindir Satria.


"Bedebah ini!" umpat Dewa dalam hati. Lama-lama ia merasa kesal sendiri dengan Kakak istrinya itu.


"Satria!" Tegur Ayah.


"Tolong kamu jaga dan sayangi putri Ayah satu-satunya itu. Jika nanti kamu sudah tidak menginginkan Putriku, bilang pada Ayah. Ayah akan dengan senang hati menerima kembali Putri Ayah. Tetapi Ayah selalu berdoa semoga kalian selalu bersama sampai tua nanti..." ujar Ayah dengan sungguh-sungguh.


"Hiks...iya Ayah. Dewa bahkan tidak sanggup untuk melepaskan Mami, meski dalam bayangan sekalipun...hiks..." Dewa yang merasa terharu dan sedih secara bersamaan ketika membayangkan Istrinya diambil kembali oleh Ayah mertuanya. Tidak terasa sampai membuat airmata nya terjatuh tanpa sadar.


Ayah langsung menatap heran pada menantunya yang tiba-tiba menangis seperti itu. Pria paruh baya itu hanya bisa terkekeh geli melihat kelakuan menantunya.


"Apakah dia sudah gila?"bisik Satria pada Bima. Dengan menatap geli Dewa.

__ADS_1


"Saya rasa juga begitu..." jawab Bima. Ia merasa malu sendiri melihat kelakuan Dewa yang makin hari makin kesana.


TBCJangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...


__ADS_2