
Sekitar pukul 11:35, Veli dan Dewi terlihat tengah duduk bermalas-malas di ruang keluarga sambil menonton televisi.
Sebenarnya hanya Veli saja yang tampak menikmati acara di televisi, sedangkan Dewi dia tampak bosan dan jengah. Saat sedang asik nonton, tiba-tiba Veli rasanya ingin sekali memakan buah mangga muda yang di petik langsung dari pohonnya, entah tiba-tiba rasa itu muncul di benaknya padahal ia tidak kepikiran buah mangga sama sekali.
Wanita itu sampai menelan salivanya, membayangkan bagaima potongan demi potongan buah mangga yang akan masuk kedalam mulutnya, pasti sangat nikmat dan segar sekali.
"Gluk... Dewi!" Veli memanggil Dewi yang duduk di sebelahnya, namun dia tidak menoleh sama sekali.
"Hemm..." sahut Dewi dengan malas, lantaran gadis itu sudah merasa sangat kebosanan berdiam terus di dalam rumah, biasanya jika tidak kuliah dia akan nongkrong dengan teman-temannya.
"Kenapa tiba-tiba aku ingin makan buah mangga, ya? Mangga muda yang di petik langsung dari pohonnya, hmmm pasti nikmat sekali..." ujar Veli, dengan membayangkan buah mangga muda.
Dewi sontak menatap kakak iparnya, ia terdiam sejenak mendengar keinginan kakaknya itu. Apa mungkin itu efek dari kehamilan?
"Mangga muda? Jangan-jangan kak Veli ngidam lagi. Tapi, kita cari dimana? Di sinikan tidak ada pohon mangga."
"Seperti iya, gimana dong aku ingin banget. Kita cari yuk..." keinginan itu seakan menyeruak untuk segera di turuti, rasanya lidahnya ingin segera merasakan rasa asam dari buah itu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita nyari di rumah tetangga? Siapa tau ada yang punya, sekalian jalan-jalan. Bagaimana?" saran Dewi, sebenarnya ia malas. Namun, demi keponakannya mau tidak mau dia harus pergi mencari, dari pada keponakannya nanti ileran, kan nggak lucu. Masak auntynya cantik membahana keponakannya ileran?
"Boleh...yaudah sekarang kita cari. Aku sudah tidak sabar ingin memakan mangga muda." Veli yang memang tidak sabar, langsung menarik tangan Dewi keluar dari rumah, dan mencari pohon mangga di rumah tetangga.
"Iya, iya, sabar. Kak Veli tidak minta izin dulu kek kak Dewa?" seru Dewi, sembari berjalan keluar dengan tangan yang di geret oleh Veli.
"Nggak usah, lagian kita cuman keluar di sekitar rumah. Bukan jalan-jalan ke Ancol," jawab Veli dengan enteng.
"Terserah..."
"Duhhh...semoga kak Dewi tidak tau kita keluar rumah. Bisa-bisa aku nggak dapet uang jajan tambah..." harap Dewi dalam hati. Bukan apa, hanya saja Dewi sangat tau sifat kakanya yang berubah menjadi lebay semenjak mengetahui istrinya hamil, kakak iparnya dilarang ini itu, yang sebenarnya masih aman dilakukan oleh Veli. Namun, Dewa akan mengomel saat perkataannya tidak di turuti oleh istrinya. Dewa tidak akan berhenti mongoceh, bahkan para pelayan yang tidak ada sangkut pautnya juga terkena imbas dari kerempongan pria yang sebentar lagi akan menjadi Ayah itu.
Para pelayan pun, langsung merasa ketakutan saat Dewa marah dan mengancam hendak memecatnya. Dirasa para pelayan itu malas bekerja, sehingga membiarkan istrinya yang tengah hamil muda itu melakukan tugas yang seharusnya di lakukan oleh pelayan yang ia gaji.
Menurut orang itu terdengar lebay. Namun, bagi Dewa itu adalah hal yang wajar bagi seorang suami berusaha menjaga istrinya yang tegah hamil muda.
Veli dan Dewi berjalan kaki, menelusuri setip rumah-rumah tetangga. Namun nihil, tidak ada sataupun tampak pohon mangga, yang ada hanyalah bunga-bunga mahal kecintaan para ibu-ibu.
__ADS_1
"Duhhh...kok nggak nemu-nemu sih?!" keluh Veli yang mulai merasa kesal, lantaran ia tidak kunjung menjumpai pohon mangga yang ia inginkan.
"Sabar kak...kalau nggak ada kita cari di supermarket atau di pasar..." ujar Dewi berusaha menenangkan wanita hamil itu.
Tak sengaja mata Dewi melihat beberapa ibu-ibu sedang mengerumuni seseorang, lebih tepatnya mereka sedang berdesak-desakan seperti hendak berfoto dengan seseorang itu. Terlihat tangan ibu-ibu itu sedang memegang ponselnya masing-masing.
"Ehh, ehhh, Kak Vel. Lihat tuh, ibu-ibu itu pada ngapain sih? Kok kayak berebut foto gitu?" Dewi menujuk gerombolan para ibu-ibu. Matanya memincing saat melihat seorang laki-laki yang sedang di kerumuni oleh ibu-ibu itu. Para ibu-ibu pakainya terlihat glamor, belum lagi semua perhiasan yang mereka pakai, sudah seperti toko emas berjalan saking banyaknya perhiasan yang menempel di tubuh mereka, maklum ibu-ibu sosialita.
"Jangan-jangan itu artis lagi," ujar Veli, yang juga melihat sosok laki-laki tampan dan keren di kerumunan ibu-ibu itu.
"Samperin yuk...! Dia kayak artis Verrel Bramasta yang ganteng itu loh..." ajak Dewi dengan heboh, kala melihat sosok laki-laki itu seperti artis ganteng ibu kota.
"Tapi mangganya---"
"Udah itu nanti saja, Kita lihat cowok ganteng itu dulu..." potong Dewi, sembari berjalan menghampiri kerumunan ibu-ibu itu.
"Dih... udah punya calon suami masih saja ganjen tuh anak..." Meskipun mendumel, namun Veli tetap mengikuti Dewi. Karena ia juga penasaran, heheheh.
__ADS_1
TBC.