
Siangnya setelah melakukan meeting Bima dibuat hampir gila oleh tingkah Dewa. Bagaimana mana tidak, Dewa yang terus marah-marah tidak jelas kepada para staf kantor yang melakukan meeting, alhasil meeting tersebut ditutup dengan keputusan yang masih belum jelas, lantaran yang berwewenang mengambil keputusan sedang tekanan batin dan tidak bisa mengambil keputusan dengan baik dan benar.
Bima memutuskan keluar dari ruangan Dewa dengan mengacak-acak rambutnya frustasi, bisa gila lama-lama ia menghadapi tingkah bossnya itu.
Bagaimana tidak frustasi. Setelah keluar dari ruangan meeting, bukanya menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai, Dewa justru menangis dengan menelungkupkan tubuhnya diatas sofa. Meraung-raung memanggil nama Mami, membuat Bima begitu ingin melempar sahabatnya itu dari lantai atas. Sumpah demi apapun Dewa lebih baik bersikap arogan seperti biasanya dari pada menangis seperti bocah yang ditelantarkan oleh orang tuanya.
Namun tiba-tiba Bima dikagetkan dengan teriakan seseorang, sontak ia langsung menatap orang tersebut, lalu ia kembali menghela nafasnya dengan kasar. Bertambah lagi personil orang gila di kantor ini. Lihat saja sebentar lagi pasti suasana ruang kerja Dewa akan bertambah ramai dengan kedatangan orang-orang itu.
"Hayy...what's up bro...! What's up bro...!!!" Teriak Diki dengan keras, Bima hanya menampilkan senyum sekilas nya untuk menjawab sapaan Diki. Bukan ia tidak suka dengan kedatangan ketiga sahabat Dewa itu, hanya saja ia sering merasa jengkel dengan Dewa yang pasti akan mengabaikan pekerjaannya dan lebih memilih bergosip dengan ketiga sahabatnya itu, berbincang ngalor ngidul tidak jelas dan tidak tau waktu.
"Lo kenapa Bim? Kusut banget perasaan..." tanya Firza yang melihat penampilan Bima yang acak-acakan dan seperti orang sedang terlilit utang besar.
"Kalian lihat sendiri saja di dalam. Gue mau menyelesaikan pekerjaan gue yang sudah menggunung..." seru Bima lalu meninggalkan Diki, Firza dan juga Gery ke ruang kerjanya. Biarlah mereka melihat sendiri tingkah sahabat tercintanya itu.
"Kenapa tuh orang?" tanya Diki menatap aneh Bima. Firza dan Gery menggedikan bahunya tanda tidak tahu.
Ketiga orang itu lantas langsung memasuki ruangan Dewa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, memang sudah menjadi kebiasa mereka main nyelonong seperti itu.
Samar-samar mereka mendengar orang menangis. Ketiganya saling pandang kala tidak mendapati seorang pun diruangan Dewa. Bagaimana mereka akan melihat, jika Dewa meringkuk diatas kursi yang membelakanginya, sehingga tidak terlihat dan hanya mendengar suara isak tangisan.
Dengan langkah cepat ketiga orang itu lantas mendatangi sumber suara yang mereka denganr.
__ADS_1
Ketiga orang itu sontak kaget bukan main kala melihat Dewa meringkuk dan menangis seraya memanggil-manggil nama Mami.
Ini adalah kali pertama ketiga orang itu melihat Dewa yang menangis menyedihkan seperti itu. Diki dengan kurang ajarnya langsung terbahak-bahak melihat Dewa yang menangis seperti itu.
"Buahahah...Dewa Lo kangen sama Emak Lo ya... sampai nangis seperti itu...hahahh...sumpah lucu banget Lo...!!"ujar Diki dengan tertawa terbahak-bahak yang mengira Dewa kangen dengan ibunya sampai menangis kejer seperti itu, memang mereka belum mengetahui panggilan sayang Dewa dan Veli. Firza dan Gery hanya menatap Dewa bingung, mengabaikan Diki yang tertawa seperti orang gila.
Dewa yang mendengar suara Diki seketika ia bangkit dan segera menghapus airmata nya. Sumpah demi apapun Dewa merasa malu bukan main, ketiga temannya itu memergokinya menangis seperti ini.
"Kalian ngapain disini...?"Ketusnya dengan masih sesenggukan. Wajah pria itu terlihat pucat dan berantakan.
"Wa...! Wajah Lo pucet banget, Lo kena tipes?" Diki langsung menghentikan tawanya dan menjadi khawatir saat melihat wajah Dewa yang terlihat begitu pucat.
"Wa! Lo demam, panas banget ini..." ujar Gery dengan panik.
"Gue gak papa..." lirih Dewa dengan wajah pucat yang semakin terlihat jelas dan membuat ketiga orang itu langsung panik.
Firza langsung keluar memanggil Bima, untuk menanyakan ada apa sebenarnya dengan Dewa.
"Dewa, sebaiknya kita ke rumahsakit..." ujar Diki menatap serius Dewa.
"Enggak mau, Gue cuma mau Mami..." sahutnya lirih. Dengan wajah yang sudah keluar keringat dingin dan tubuhnya yang gemetaran menggigil kedinginan.
__ADS_1
Bima langsung berlari kedalam ruangan Dewa ketika mendengar sahabatnya itu sakit.
"Ya ampun Dewa, kamu kenapa..." Bima tertegun saat merasakan suhu tubuh Dewa yang begitu panas, belum lagi keringat dingin yang terus keluar dengan tubuh yang menggigil.
"Gu..gue ma..mau Mami..." lirih Dewa yang langsung tidak sadarkan diri. Keempat orang langsung berteriak serentak memanggil nama Dewa.
Bima mencoba menguncang-guncang tubuh Dewa, mencoba membuat pria itu sadar. Namun, nihil, tubuh Dewa tidak bergerak sedikitpun. Dengan cepat mereka membawa Dewa ke rumahsakit terdekat. Keempat orang itu begitu khawatir dengan kondisi Dewa, pasalnya mereka tidak pernah mendapati Dewa seperti ini.
Gery menyetir mobil dengan kecepatan sedikit tinggi, ia begitu mengkhawatirkan keadaan Dewa yang tidak sadarkan diri itu.
"Bim sebaiknya kita hubungi Maminya dia, dari tadi Dewa manggil-manggil Maminya terus. Siapa tahu Dewa kangen dengan Maminya di Bandung..." ujar Diki yang duduk disebelah Gery. Ia masih mengira jika Dewa merindukan ibunya.
Bima langsung tersadar ia dengan cepat langsung menghubungi Maminya Dewa, namun buka ibunya Dewa. Tetapi Mami kesayangan Dewa tak lain adalah istri tercintanya.
Namun ponsel milik Veli tidak bisa dihubungi, sepertinya ponsel Veli tidak aktif. Bima memutuskan menghubungi kekasihnya untuk menjemput Veli ketempat kerjanya. Dewi yang mendengar kakaknya sakit sampai tidak sadarkan diri langsung syok dan panik, tanpa memikirkan kuliahnya yang masih belum selesai Dewi langsung mendatangi Veli ketempat kerja kakak iparnya itu.
"Mami yang dimaksud Dewa itu bukan Tante Arumi. Tetapi itu panggilan untuk Veli..." jelas Bima ketika Diki menatapnya.
"Buset...Gue kira Emaknya..."
Selang beberapa menit, mobil mereka sudah sampai di rumahsakit. Dewa langsung dimasukkan keruang UGD untuk diperiksa. Sedangkan keempat laki-laki tampan itu menunggu di depan ruangan UGD dengan resah.
__ADS_1