
Di sisi lain, Dewa tengah melangkah masuk menuju ruangannya dengan langkah yang tergesa-gesa, setelah mendengar dari resepsionis jika ada seorang wanita yang sudah menunggunya dan katanya sudah membuat janji dengan Dewa, padahal Dewa jelas-jelas tidak punya janji dengan siapapun apalagi itu seorang wanita.
Pria itu lantas memarahi resepsionis tersebut karena sudah lancang memasukkan orang asing sembarangan, terlebih yang membuat geram dan kalang kabut adalah ada istrinya juga yang sudah datang kekantor dan juga sudah menunggu di ruangannya.
Dewa takut istrinya itu akan salah paham dengan kedatangan wanita asing yang Dewa sendiri belum melihat wanita itu, entah siapa wanita yang sudah berani-beraninya datang kekantornya dan mengaku sudah membuat janji dengannya. Semoga istrinya itu tidak salah paham dengannya dengan kedatangan wanita asing itu, ia menebak jika sang istri pasti sudah bertemu wanita itu dan entah apa yang sudah terjadi sekarang.
Ceklek
Dewa membuka pintu ruangannya dengan kasar, setelah pintu terbuka matanya langsung melotot seketika saat melihat ada seorang wanita yang sangat dikenalnya tengah berdiri dari duduknya dan tersenyum manis padanya.
__ADS_1
Jantungnya berdetak tak karuan, ketika matanya mengedar dan tidak mendapati keberadaan sang istri dan hanya ada wanita itu yang duduk di sofa. "Kemana Mami?" batin Dewa bertanya-tanya.
"Apa yang kamu lakukan di ruangan saya?!!" Pekik Dewa dengan suara meninggi serta menatap tajam wanita itu.
"Dewa akhirnya kamu datang juga, aku sudah lama menunggu. Gimana kab---"
"Saya tanya apa yang kamu lakukan di sini, kalau tidak ada keperluan silakan pergi. Saya sedang banyak pekerjaan dan tidak ada waktu untuk berbincang dengan orang asing...!!!" Pontong Dewa yang tidak ingin mendengarkan ocehan wanita di depannya itu.
"Saya tidak berniat menjadi relawan yang tugasnya nolong-nolong orang, apalagi menolong orang sepertimu. Jadi silakan kamu pergi, saya tidak ada urusan dan tidak mau berurusan dengan wanita seperti mu...!!!" Dewa sedikitpun tidak ingin berurusan dengan Jeenika atau wanita manapun. Bukan dia tidak memiliki sifat dermawan dan suka menolong, hanya saja Dewa tidak mau berusaha dengan mantan kekasih itu. Ia hanya akan fokus dengan keluarga kecilnya tanpa ada bayang-bayang masa lalunya.
__ADS_1
"Aku mohon Dewa...kali ini hanya kamu yang bisa menolongku. Aku tidak tahu pada siapa aku meminta tolong, karena hanya kamu yang aku kenal di Jakarta. Kamu tahukah semua keluargaku ada di Semarang..." ujarnya mengiba, berharap dengan membawa-bawa keluarganya Dewa mau menolongnya. Dan ia akan menjerat laki-laki itu kembali.
Dewa terdiam sejenak, sedikit penasaran apa masalah wanita itu hingga meminta tolong padanya. Dan memang setahu Dewa semua keluarga Jeenika ada di Semarang karena memang Jeenika bersalah dari Semarang.
"Memangnya apa masalahmu, sampai-sampai meminta tolong padaku...!!!" Ketus Dewa yang sedikit pun tidak ingin bersikap lembut seperti dulu saat mereka masih menjalin hubungan.
Wanita itu lantas menangis sembari memperlihatkan luka-luka memar diarea wajah, lengan atas bawa dan juga pahanya. Seperti biasa Jeenika memakai pakaian yang terbuka jadi dengan mudahnya ia menunjukkan luka-luka pada Dewa, dengan tidak tahu malunya. Dewa sampai memalingkan wajahnya ketika Jeenika menunjukkan memar yang ada di pahanya yang tercetak jelas warna kebiruan itu.
Dewa sangat kaget saat melihat memar-memar di tubuh wanita itu, apa yang sudah terjadi hingga Jeenika sampai luka-luka seperti itu, begitulah pikirannya.
__ADS_1
TBC.