Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 119


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Dewa kini telah tiba dihalaman rumah megah milik keluarga Raharja. Di sisi rumah megah itu terdapat rumah megah lainnya, tentu saja itu semua milik keluarga Raharja yang lainnya, lebih tepatnya kerabat keluarga dari Ayah Dewa.


Seorang pelayan langsung membukakan pintu saat mendengar suara bel berbunyi. Pelayan itupun langsung mempersilahkan masuk saat melihat anak dari majikannya sudah tiba. Dia juga membawakan koper milik Dewa dan Bima untuk ia taruh di kamar mereka.


"Anak nakal, kenapa kamu tidak pulang terlebih dahulu menemui Mama, hah?" Seru Mama Arumi yang melihat anak laki-lakinya datang dan langsung memeluknya dengan erat sambil mengomelinya.


"Maaf Ma. Dewa tidak mau bolak-balik jika harus pulang terlebih dahulu..." ujar Dewa dengan membalas pelukan ibunya itu, sembari memberikan kecupan hangat dikening sang ibu.


Melihat pemandangan didepannya, hati Bima seakan tercubit. Sudah sangat lama rasanya ia tidak pernah merasakan lagi pelukan hangat dari sosok ibu.


"Bima...Apa kabar kamu?" Seolah paham dengan apa yang dirasakan calon menantunya itu. Mama Arumi pun langsung memeluk Bima setelah melepaskan pelukan dari Dewa.


"Baik Tante...Tante sendiri bagaimana kabarnya, sehat?" jawab Bima dengan membalas pelukan Mama Arumi yang terasa hangat.


"Sehat. Jangan panggil Tante dong. Panggilan Mama, sebentar lagi kan kamu juga akan menjadi anak Mama..." ujar Mama Arumi dengan melepas pelukannya.


Hati Bima terasa hangat mendengar ucapan Mama Arumi. Ia sangat terharu saat ini.


"Baiklah Mama..."


"Sudah sana kalian bersih-bersih. Habis itu langsung turun makan lalu baru istirahat, pasti kalian lapar kan? Mama sudah masak banyak hari ini. Sebentar lagi Papa juga sudah pulang."


Dewa dan Bima bergegas menuju kamarnya masing-masing untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Dewa juga akan menghubungi istrinya yang sedari tadi sangat sulit dihubungi bahkan pesannya belum juga dilihat. Begitupun dengan Dewi. Entah apalagi yang akan dilakukan kedua wanita itu.


Dewa sering kali dibuat kalang kabut dengan tingkah istrinya setelah kedatangan Dewi. Entah mengapa ia merasa adiknya itu membawa dampak buruk pada istrinya yang masih sangat polos itu. Semoga saja setelah menikah nanti adiknya itu bisa lebih dewasa dan bijak. Kerena kehidupan rumah tangga tidak semudah yang dibayangkan. Kecuali rumah tangganya dengan Mami kesayangannya itu, terasa begitu indah dan menyenangkan.


*


Sementara disisi lain. Terdapat dua orang wanita yang tengah berbaring diatas karpet berbulu diruangan santai. Kedua wanita itu terlihat begitu kelelahan dengan terdapat banyak kantong belanjaan yang berjejeran disampingnya.


"Huhhh...capek banget seharian keliling Mall. Maafin Mami ya sayang. Pasti kamu kelelahan," ucap Veli yang tengah berbaring dengan mengusap lembut perut buncitnya. Ya, seharian ini Veli ikut dengan Dewi berbelanja di Mall dan lagi-lagi ia melupakan untuk izin pada suaminya seperti yang sudah-sudah. Wanita itu keasyikan berbelanja hingga melupakan suaminya sendiri.


"Akhirnya puas banget, sudah beli printilan-printilan untuk nonton konser nanti. Beruntung tidak kehabisan ya Kak? Andai kita tidak belanja tadi, pasti aku udah tidak kebagian. Terimakasih Kak Veli, udah sabar banget nungguin aku belanja tadi. Maafin aunty ya, udah buat kamu lelah..." ujar Dewi dengan bahagia sembari ikut mengusap perut buncit Veli.

__ADS_1


"Sama-sama aunty," jawab Veli dengan menirukan suara anak kecil.


Saat belanja di Mall Dewi membeli berbagai macam barang yang nantinya akan ia pakai saat nonton konser, dia juga membeli lightstick dari idol KPop yang akan konser di Jakarta nanti. Veli tidak ikut membeli printilan seperti Dewi. Selain mahal, Veli juga tidak yakin akan ikut pergi nonton konser mengingat dirinya tengah hamil dan suaminya pasti tidak akan mengijinkannya pergi, meskipun sebenarnya ia juga ingin menonton. Wanita itu hanya membeli beberapa baju dan pakaian dalam, karena beberapa baju dan pakaian dalam yang ia miliki sudah tidak muat lagi, efek dari kehamilan yang membuat tubuhnya semakin berisi.


"Kak Veli jadi ikut nonton konser kan? Soal tiket, temenku sudah mengaturnya. Jadi kita tinggal berangkat saja, bagaimana?" tanya Dewi.


"Aku tidak tau. Sepertinya nonton konser untuk ibu hamil itu sangat rawan sekali, aku tidak ingin bayiku kenapa-napa karena nonton konser. Apalagi Mas Dewa pasti akan menentang keras..." jawabannya.


Dewi mendesah berat. Benar, menonton konser sangat tidak aman untuk ibu hamil. Pasti di sana nanti akan berdesakan dengan banyak orang. Bagaimana kalau Kakak iparnya itu terjatuh dan bayinya kenapa-napa, pasti ia akan dipengal oleh Kakaknya. Apalagi ia lah yang mengajak Veli untuk ikut dengannya.


"Kak sepertinya kita melupakan sesuatu?" Celetuk Dewi yang tiba-tiba mengingat sesuatu.


Veli lalu memandang mata Dewi, begitupun dengan Dewi yang juga tengah menatap Veli. Mata kedua wanita seketika melotot dan langsung memekik bersama.


"Kak Dewa...!!!"


"Mas Dewa...!!!"


Teriak kedua wanita itu dengan wajah panik. Veli dengan cepat bangkit dari rebahan nya lalu mencari ponsel dalam tasnya. Namun sepertinya ia akan sial hari ini, ternyata ponselnya kehabisan daya sedari tadi, ia lupa tidak mengisi daya ponselnya.


Sementara Dewi hanya bisa melongo melihat Veli yang tampak tergesa-gesa entah apa yang terjadi.


"Hati-hati Kak...! Jangan lari-lari...!!!" Teriak Dewi yang ngeri sendiri melihat Veli tampak berlari menaiki tangga.


Setelah sampai didalam kamarnya, Veli dengan cepat mengcharger ponselnya. Sembari menunggu ponselnya terisi dayanya, Veli menyempatkan diri untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket itu.


Selang beberapa menit, wanita hamil itu terlihat sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai bathrobe dan handuk yang melilit rambutnya yang basah sehabis keramas.


Tanpa mengganti baju terlebih dahulu, Veli segera menghampiri ponselnya yang ia charger di atas nakas sebelah ranjangnya. Menghembuskan nafasnya sejenak sebelum mengaktifkan kembali ponselnya. Wanita itu mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang dengan mata yang terus menatap ponsel yang ia genggam.


Mata wanita itu seketika melotot kala melihat 58 panggilan tak terjawab dan juga panggilan video call belum lagi beberapa pesan yang berjejeran.


Dengan sedikit gemetaran Veli memberanikan dirinya untuk melakukan video call dengan suaminya. "Semoga Mas Dewa tidak marah. Maafin istri mu ini, Mas."

__ADS_1


Panggilan pertama dan kedua tidak kunjung diangkat, hati Veli semakin dag-dig-dug saja dibuatnya. Setelah panggilan ke-tiga baru diangkat oleh suaminya. Dewa terlihat segar, ia baru saja mandi dan menganti bajunya dengan baju santai.


Wajah tampan Dewa terpampang jelas diponselnya, laki-laki itu hanya diam saja dengan wajah datarnya menatap sang istri. Taklama suara kaki-kaki itu terdengar diseberang sana.


"Kemana saja? Sampai tidak mengangkat panggilan telepon dari Papi. Apa yang Mami lakukan seharian ini ?" Cecar Dewa dengan tegas. Kali ini ia tidak ingin bersikap manja-manja lagi, meskipun ia ingin sekali.


"Maaf...tadi ponsel Mami mati. Jadi tidak tau jika Papi telepon," jawab Veli dengan menampilkan wajah menyesalnya.


"Kenapa tidak dicharger? Memangnya Mami ngapain aja, sampai tidak sempat mengcharger ponselnya? Mami juga belum jawab pertanyaan Papi. Mami ngapain aja seharian ini? Seperti yang sibuk saja..." Dewa memberondong Veli dengan banyak pertanyaan, ia begitu sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh istrinya sampai-sampai tidak mengingat dirinya.


"Mami hari ini pergi ke Mall dengan Dewi, Pih. Mami keasikan belanja sampai lupa ponselnya kehabisan baterai. Mami juga minta maaf, karena pergi tidak izin dulu sama Papi," jawab Veli dengan mengigit bibirnya ketika melihat Dewa menatapnya dengan tajam.


"Mami...! Mami kebiasaan, pergi-pergi seenaknya saja tanpa izin dulu sama suami. Mami tahu, Papi disini itu menghawatirkan Mami. Mami malah dengan mudahnya melupakan Papi. Mami itu bukan gadis lagi yang bisa pergi dengan sesuka hati. Mami adalah seorang istri, istri itu jika pergi-pergi harus dengan sepengetahuan dan izin dari suaminya, paham?" Omel Dewa dengan panjang lebar. Dirinya sangat kesal sekali dengan tingkah istrinya itu, ini bukan pertama kalinya istrinya itu pergi dengan seenaknya tanpa meminta izin dulu padanya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Veli dan Dewa sama sekali tidak mengetahuinya, pasti ia akan merasa menjadi suami yang buruk.


"Iya..." jawabannya dengan mata yang berkaca-kaca karena mendapatkan omelan dari suaminya.


"Jangan hanya iya...iya saja. Tapi dilakuin..."


Dewa menghela nafasnya sejenak saat melihat mata istrinya yang sudah terlihat basah, meskipun Veli sudah mencoba menghapus airmata nya.


"Sudah makan dan minum susu?" Tanya Dewa dengan lembut dan raut wajahnya yang semula datar saat menatap Veli kini sudah berganti dengan pandangan hangat dan penuh cinta seperti biasanya. Veli hanya mengangguk saja menjawabnya, ia masih tidak berani untuk mengeluarkan suara.


"Bagus. Jaga diri Mami dan baby kita baik-baik. Kalau mau pergi, beritahu dulu pada Papi. Jangan langsung pergi sesuka hati. Bukan apa-apa, tapi Mami kan sedang hamil. Papi tidak ingin Mami kenapa-napa."


"Iya Pih. Mami minta maaf, Mami memang salah. Papi sudah sampai dirumah ya?" Tanya Veli ketika matanya melihat dekorasi kamar yang pernah ia tempati dulu.


"Iya sayang. Ini baru saja selesai mandi dan habis ini mau makan. Mami segera ganti baju sana, takut masuk angin. Habis itu langsung istirahat, pasti Mami capek seharian ini jalan-jalan di Mall..."


"Iya, Papi juga. Habis makan langsung istirahat, jangan terlalu diforsir kerjanya. Ingat selalu jaga mata, jaga hati. I love you Papi..."


"Siap Mami. I love you more sayang ..." balas Dewa dengan tersenyum lebar. Sebelum panggilan video mereka terputus.


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...


DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERHARGA BAGI KU....


__ADS_2