
"Enggak kok, saya malah seneng. Itung-itung nambah teman, ayo..." tutur pria itu seraya melangkah masuk ke gerbang ruamahnya.
"Udah ikut aja, Rezeki nomplok nih. Dapet mangga muda di rumah duda muda dan mengoda," seloroh Dewi seraya berjalan mengikuti Rendy dengan menarik tangan Veli yang tampak ragu-ragu untuk menerima tawaran Rendy.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kalian semua silakan pesan sepuasnya, biar gue yang bayar," ujar Dewa santai kepada para sahabatnya.
Mereka semuapun lantas menatap pada Dewa dengan pandangan heran, tidak biasanya seorang Dewa mendadak seroyal ini. Biasanya dia harus dirayu dan dipaksa dulu baru mau mentraktir mereka, itupun dengan mengerutu tidak ikhlas.
Saat ini, Dewa beserta ketiga sahabatnya tengah makan siang bareng di restoran bar langganan mereka. Tentu saja Dewalah yang mengagendakan pertemuan ini, namun tanpa kehadiran dari Bima. Pria itu lebih mementingkan pekerjaannya di bandingkan yang lainnya, apalagi sebentar lagi ia akan menikah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Tumben lo Wa? kesambet apaan? biasanya kita paksa dulu baru mau traktir," ujar Diki menatap Dewa heran.
Dewa menyunggingkan senyum tipisnya.
"Gue lagi bahagia. Udah sono panggil pelayan, pesen aja apa yang kalian mau."
Walaupun dilanda rasa penasaran kenapa Dewa mendadak sebaik ini. Mereka semua tentu dengan senang hati memesan semua makanan yang mereka inginkan, tanpa harus menguras dompetnya, apalagi makanan di sini lumayan mahal harganya. Walaupun mereka kaya dan seorang bos, entah kenapa mereka sangat suka dengan hal-hal yang gratis.
__ADS_1
"Tiap hari kek, kayak gini. Biar duit gue aman, buat jajan anak bini gue," ujar Firza dengan cengengesan.
"Yeee, itu sih mau lo..." ucap Dewa seraya menoyor kepala Firza.
Firza lantas terkekeh, lalu memerintah Diki untuk memanggil pelayan. " Panggil pelayan sono, suara lo kan mirip toa..." titah Firza pada Diki.
Diki menatap Firza jengkel selalu dia yang di suruh-suruh. "Ck! ini serius boleh pesen apa aja? nggak bakalan nyeselkan lo?" tanya Diki sekali lagi, sebelum memanggil pelayan.
Dewa lantas mengangguk dengan jengkel, " iya! sana pesen sebelum gue berubah pikiran, karena lo banyak tanya!"
Diki lantas bersorak senang dan langsung memanggil pelayan, untuk memasan segala jenis makanan. Diki dan Firza, meraka berdua memesan paling banyak. Sengaja memang mereka memanfaatkan momen langka ini, sedangkan Gery memesan secukupnya saja, tidak ikut-ikutan kalap seperti kedua temannya yang tidak tau malu itu.
"Roman-romannya bahagia banget lo, sampai tidak marah kedua curut itu memeras lo," ujar Gery yang ikut merasa penasaran juga seperti Diki dan Firza.
Dewa yang tengah asik memandangi ponselnya, menunggu balasan chat dari istrinya lantas menatap ke arah Gery.
"Iya...Gue bahagia banget. Sebentar lagi gue bakalan jadi Papi," ucap Dewa dengan berbinar-binar saat mengatakannya.
"Istri lo hamil?" tanya Gery dan Dewa mengangguk semangat. Gery pun lantas terdiam dengan tersenyum miris, manakala mengingat dirinya yang sangat ingin sekali memiliki anak namun sang istri justru selalu menolak dengan berbagai alasan dan malah berselingkuh di belakangnya dan akhirnya mereka bercerai setelah membinah rumah tangga kurang lebih 4 tahun.
__ADS_1
"Serius lo Wa? Veli hamil anak lo...?" tanya Diki dengan melotot ke arah Dewa.
"Ya iyalah hamil anak gue, gue kan suaminya," jawab Dewa dengan sedikit emosi kurang suka dengan pertanyaan Diki tentang kehamilan istrinya.
"G-gue udah ngga ada harapan lagi buat jadi suaminya Veli dong..." ujar Diki dengan dramatis. Sumpah demi apa, pria itu akan dengan senang hati mengejar Veli, jika saja Dewa tetap tidak bisa menerima Bel melepaskan wanita itu. Namun saat mendengar wanita itu tengah hamil, membuat harapannya itu pupus dan harus ia kubur dalam-dalam. Nasip-nasip menyukai istri orang.
"Buang jauh-jauh niat busuk lo itu! Veli istri gue, tidak sepantasnya lo suka sama istri gue. Untung mood gue lagi bagus, kalau enggak sudah gue pastikan kursi itu bakalan melayang ke kepala eloh, biar lo amnesia sekalian...!!!" pekik Dewa dengan kesal, sahabatnya yang satu ini memang telah mengincar istrinya sejak dulu, saat ia sering menjelek jelekankan Veli dihadapan teman-temannya Diki adalah orang yang selalu mendebatnya dan membela istrinya dihadapan teman-temannya. Tak jarang mereka berdua ribut soal Veli, belum lagi Firza yang selalu memojokanya dan juga ikut-ikutan membela istrinya.
Namun saat ini Dewa sangat bersyukur memiliki teman seperti mereka yang tidak menyesatkan walaupun menjengkelkan, tidak seperti teman-teman yang lainnya yang menyodorkan wanita lain untuk Dewa dan menyarankan Dewa untuk berselingkuh saja seperti mereka dikala bosan dengan pasangannya, untung Dewa tidak pernah terpengaruh sama sekali.
"Santai wa! nggak lagi kok sumpah..." ujar Diki menatap Dewa ngeri, membayangkan kepalanya bocor ditimpuk kursi oleh Dewa, alamat tidak bisa bersenang-senang dengan para wanitanya. Dewa hanya menatap Diki dengan sinis.
"Selamat Dewa...sebentar lagi status kita sama udah jadi bapak-bapak..." ujar Firza seraya memeluk Dewa ala laki-laki, begiutup Diki dan Gery yang turut mengucapkan selamat dan memeluk Dewa dengan suka cita, mereka turut bahagia mendengar kabar ini.
Akhirnya telinga mereka tidak akan panas lagi mendengar ocehan Dewa yang terus menjelekkan istrinya disetiap mereka nongkrong. Semoga dengan kehadiran malaikat kecil di antara mereka, membuat ikatan pernikahan Dewa dan Veli makin harmonis dan dilimpahkan kebahagiaan yang utuh sampai maut memisahkan.
Hai hai....akhirnya aku bisa balik lagi setelah sekian abad hiatus, semoga masih ada yang berminat membaca kisah Veli dan Dewa.
Sebelumnya aku minta maaf sudah tiba-tiba menghilang tanpa jejak dan membuat kalian kecewa, aku harap kalian masih mau membaca cerita ku. LOVE YOU ALL 🖤🖤🖤🤗🤗🤗🤗
__ADS_1