
"Huh...huh...huhh...!!! Capek sekali..." ujar Bima nggos-nggosan, sembari mendudukan tubuhnya di sofa. Saking bahagianya tidak hanya pelayan saja yang ia beri tahu, namun juga para penjaga di depan sana tidak luput ia beri tahu. Sungguh random people sekali dia.
"Hehehe...maaf tadi ada iklan sebentar. Baiklah sekarang kita lanjut," Ujar Bima sambil cengengesan, sembari mengedipkan sebelah matanya menggoda Dewi, sontak hal itu membuat wanita itu bersemu merah.
"Ingat, jangan sekali-kali kamu berani menyakiti Dewi. Jika itu terjadi aku sendiri yang akan membuat perhitungan padamu...!!"Peringat Dewa dengan tegas, ia tidak akan pernah membiarkan seseorang menyakiti adiknya walaupun itu sahabatnya sekalipun.
Dewi sangat terharu mendengar ucapan Kakaknya itu, walaupun selalu menyebalkan ternyata Kakaknya itu sangat menyayanginya.
"Jelek-jelek begitu dia adalah Adiku..."Lanjutnya dengan tertawa mengejek Dewi.
"Sial aku tidak jadi terharu...!!" Gumam Dewi kesal.
"Kamu tenang saja, aku akan dengan sepenuh hati mencintai dan menyayangi Dewi. Aku kan bukan dirimu yang suka menyakiti hati wanita apalagi itu pasangan sendiri, dengan dalih trauma."Bima berkata dengan gamblang sambil matanya terus menatap ke arah Dewi, dan tidak tau saja karena ucapanya itu membuat sosok pria tampan terlihat marah, matanya menatap tajam seakan hendak menelan Bima hidup-hidup.
"Bima mau ku bunuh kau sekarang...!!!" Sentak Dewa dengan mata melotot tajam, dengan rahang yang mengeras. Sungguh ia merasa sangat tersindir sekali mendengar perkataan sahabatnya itu, seolah-olah dia bukanlah sosok laki-laki yang mencintai dan menyayangi wanitanya, dan hanya bisa menyakiti saja.
Tetapi kenyataan memang seperti itu, mungkin Dewa sekarang mendadak amnesia dengan kelakuannya terhadap istrinya sendiri.
Glugg
Bima menelan salivanya dengan susah payah, saat ia baru menyadari ucapanya tadi secara tidak langsung menyinggung sahabatnya itu."Alamak matilah aku, ni mulut kenapa bisa lemas sekali seperti mulutnya si Dewa saja..." Ucapnya dalam hati, seraya menoleh perlahan ke arah Dewa dengan wajah takut-takutnya.
"Kamu sihh..."Cicit Dewi pelan, sembari menyikut lengan Bima.
"So-sorry Wa...aku tidak bermaksud begitu, aku hanya--"
"Hanya apa ha...!! Hanya mau menyindir ku begitu. Belum sehari kamu menjadi pacar Adik ku, kamu sudah berani berkata lancang kepadaku...!!!" Potong Dewa dengan suara meninggi, dia sangat tidak suka ada orang yang berani menyinggung hubungannya dengan sang istri. Apalagi sampai menggungkit-nggungkit tentang perlakuannya yang lalu. Membuat rasa bersalahnya semakin menumpuk, apalagi mengingat sikap istrinya yang tidak seperti dulu, dia takut istrinya itu akan pergi meninggalkannya.
"Maaf Dewa...sumpah aku tidak bermaksud menyindirmu. Aku tadi hanya khilaf saja, tolong jangan di ambil serius perkataan ku tadi, aku sungguh minta maaf..." Ujar Bima tidak enak hati, dia sangat menyesali ucapanya tadi. Ia sangat paham sahabatnya itu sekarang agak sensitif jika membahas hal itu.
__ADS_1
Veli dan Dewi yang menyaksikan itu tampak ikut tegang, tidak menyangka ternyata Dewa marah beneran mendengar perkataan Bima yang memang suka ceplos ceplos saat bicara.
Dewa menghembuskan nafasnya dengan berat, lalu mengangguk perlahan. Dewa memilih memaafkan sahabatnya itu, ia tau Bima memang tidak bermaksud menyinggung tadi, hanya dirinya saja yang sedikit sensitif.
"Kamu sih suka sembarangan kalau bicara, lain kali di biasakan jangan suka ceplas ceplos, kalau perlu kamu lem sekalian biar tidak bicara sembarangan lagi..."Omel Dewi, pada Bima dengan suara pelan.
"Iya...iya..."Ujar Bima dengan wajah memelas, sungguh ia merasa tidak enak sekali kepada Dewa yang terlihat masih memasang wajah dingin.
"Sudah lah Mas, Mas Bima tadi tidak bermaksud menyinggung Mas. Jadi jangan di ambil hati ya..."Ujar Veli dengan lembut, sembari mengusap punggung tangan suaminya. Saat melihat Dewa tampak terdiam melamun.
Dewa tersenyum tipis mendengar ucapan istrinya serta usapan lembut di tangannya.
"Iya sayang..."Ucap Dewa, sembari mencium kening istrinya dengan dalam.
"Kamu beneran memaafkan ku kan? Kamu tidak memisahkan ku dengan Dewi kan?" Tanya Bima, ia takut karena permasalahan tadi membuat Dewa tidak jadi memberi restu padanya, dan menyuruhnya berpisah dengan Dewi.
"Ini tidak ada kaitanya dengan Dewi, jadi untuk apa aku memisahkan kalian? Sudahlah jangan di bahas..." Jawab Dewa, yang engan membahas itu lagi.
Bima dengan semangat memutar kembali botol minuman itu, dan ternyata berhenti tepat di depan Veli.
"Aku yang bertanya!" Seru Dewa cepat dengan suara datar, laki-laki itu sebenarnya sudah tidak mood untuk melanjutkan permainan ini.
"Enak saja, Kak Dewa tadi sudah mengajukan pertanyaan, sekarang giliranku dong. Aku kan belum sama sekali..." Protes Dewi.
"Ck, nanti saja sekarang biarkan aku bertanya pada istriku!" Seru Dewa tidak mau mengalah.
"Pokoknya tidak boleh. Sekarang giliran aku yang bertanya, setelah itu Kak Veli, lalu baru Kak Dewa lagi biar adil. Jangan rakus jadi orang...!!"Ujar Dewi yang tidak mau kalah juga, dia kan juga ingin bertanya.
"Baiklah...baiklah..." Dewa pun mengalah, jika ia terus mendebat adiknya pasti ujung-ujungnya dia sendiri yang bakal kalah, karena Dewi adalah batu jadi percuma mendebatnya, yang ada kesal sendiri.
__ADS_1
"Siapa cinta pertama Kak Veli?" Tanya Dewi dengan semangat, dia suka sekali mendengar cerit-cerita yang berbau romantis.
Mendengar pertanyaan Adiknya, membuat Dewa yang tadinya kesal sekarang malah tersenyum-senyum sendiri. Dari cerita Mamanya dulu, Veli tidak pernah berpacaran tentu saja pasti dirinyalah cinta pertama dari istrinya itu. Begitu saja pakek di tanya, itulah pikirnya.
"Emm...cinta pertamaku na-namanya adalah Vario. Dia Kaka kelasku dulu pas SMA," Jawab Veli dengan sedikit gugup, mengingat cinta pertamanya itu.
"VARIO...!!!" Pekik Dewa dengan mata melotot.
"Iya, Vario dia adalah cinta pertamaku..."
"Itu nama, apa merk motor? Pasti dia dulu lahirnya di atas motor itu, brojol di jalan. Makanya namanya adalah Vario hahaha..." Celetuk Bima yang tidak memahami kondisi, dia malah tertawa bengek.
"Iya betul, pasti sudah nggak keburu makanya brojolnya di atas motor Vario hahahaha, kreatif banget Maknya..." Timpal Dewi, lalu mereka tertawa bengek berdua.
"Diam kalian...!!!" Bentak Dewa, yang geram dengan tingkah gesrek pasangan baru itu. Sontak mereka berdua langsung terdiam kaku, mendapat bentakan yang cukup nyaring dari Dewa.
"Jadi cinta pertama kamu bukanlah aku?" Tanya Dewa dengan suara beratnya, sembari menatap tajam istrinya.
"Bukanlah...Kak Vario lah cinta pertamaku. Kita berdua sebenarnya saling menyukai dulu, tapi karena orangtua kita sama-sama melarang, dan menyuruh kita untuk fokus sekolah. namun, juga tidak melarang kita buat tetap dekat. Tapi setelah Kak Vario lulus, dia pindah entah kemana dan kita tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang. Dia dulu pergi juga tidak pamitan denganku, padahal ak---"
BRAK
Dewa mengebrak meja dengan tangannya yang sedari tadi mengepal, membuat Veli yang asik bercerita seketika diam dan terkejut, Begitupun Bima dan Dewa. Entah sudah berapa kali jantung mereka di buat terkejut oleh Dewa, mulai dari bentakan sekarang gebrakan mejam.
"Santai dong Wa...!" Seru Bima, saat melihat Dewa berdiri dengan menatap tajam istrinya.
"Mas? kamu kena---"
Veli tidak melanjutkan ucapanya, kala Dewa lebih dulu pergi melewatinya begitu saja dengan amarah yang tertahan. Entah kenapa hatinya begitu sakit dan tidak terima, saat mengetahui dari bibir istrinya jika bukan dia lah sosok laki-laki yang pertama kali mengisi hati istrinya. Padahal dirinya dulu juga memiliki cinta pertama dan bukan Veli lah orangnya, namun tetap saja hatinya tidak bisa menerima itu.
__ADS_1
"Marah terus...nanti cepat tua...!!!" Teriak Dewi pada Dewa yang berjalan menaiki tangga, namun sama sekali tidak di gubris oleh laki-laki yang sedang marah itu.
TBC.